|
|
Bulan November 2000
|
|
BOM
BOM BOM
Bom sebetulnya wadah berisi bahan peledak yang, tentu saja, dapat meledak
bila dihubungkan dengan sumbu atau pemicu. Dia bisa dijatuhkan (misalnya
dari pesawat terbang) atau diletakkan pada posisi dan dalam keadaan
tertentu.
Sedangkan bahan peledak merupakan zat yang menghasilkan ledakan akibat gas
yang mengembang dengan cepat (baca Intisari Juni 2000). Menurut
tingkat bahayanya, bahan peledak terbagi atas high explosive (berdaya
ledak tinggi/besar) dan low explosive (berdaya ledak ringan/rendah).
Contoh bahan berdaya ledak rendah adalah kembang api dan petasan. Sedangkan
bahan berdaya ledak besar misalnya dinamit, TNT, Semtex, PETN, RDX, dll.
Bahan peledak yang pertama sekali dikenal orang berupa bubuk hitam atau
sering disebut mesiu. Bahan ini ditemukan bangsa Cina abad X. Mula-mula
bubuk hitam itu dipakai untuk perlengkapan mercon atau sinyal bahaya. Dua
abad berikutnya Cina memanfaatkannya untuk senjata militer dengan
memasukkannya ke batang bambu sebagai peluncur proyektil.
Mesiu masih dipakai sebagai bahan peledak hingga tahun 1627. Catatan
menunjukkan pemakaiannya di daerah pertambangan Schemnitz, Hungaria.
Pada 1789 uranium ditemukan untuk pertama kali. Namun, potensi uranium
sebagai bahan peledak baru ditemukan tahun 1938 oleh dua ilmuwan Jerman,
Otto Hahn dan Fritz Strassman. Mereka berdua mendemonstrasikan fisi
(pembelahan) inti uranium guna dijadikan bahan utama bom atom.
Jauh sebelum demo Otto dan Fritz, yakni tahun 1846, ahli kimia Ascanio
Sobrero menemukan nitrogliserin. Bahan ini menjadi inspirasi bagi Alfred
Bernhard Nobel (1833-1896) untuk menciptakan dinamit tahun 1866.
Belakangan Nobel menemukan gelatinous dynamite, campuran antara
nitroselulosa dengan nitrogliserin. Malah kemudian, amonium nitrat
menggantikan nitrogliserin untuk menghasilkan daya ledak lebih tinggi.
Selama ini dinamit banyak dipakai untuk meledakkan gedung-gedung tua yang
sudah tak laik pakai.
Babakan penelitian dan pengembangan tentang bom atom dimulai ketika pada
tahun 1905 Albert Einstein mengumumkan teori tentang massa dan energi;
tersohor sebagai teori Relativitas. Sekitar tiga setengah dekade kemudian
dibuatlah beberapa bom atom pertama, bukan menggunakan uranium, melainkan
plutonium.
Selanjutnya berkesinambungan uji coba bermacam jenis bom baru dengan
kekuatan yang mengagumkan sekaligus mengerikan. Misalnya, tahun 1956 uji
coba bom Hidrogen pertama di pulau atol Bikini, Samudera Pasifik. Disusul
dua tahun kemudian uji coba peledakan nitrogen di Seymour Narrows, British
Columbia, Kanada. Ledakan ini merupakan ledakan bukan nuklir terdahsyat
dalam sejarah umat manusia.
Beberapa klaim terbaru bisa membuat kening berkerut. Pada 3 Februari 1998 AS
berhasil menciptakan bom bernama Advanced Unitary Penetrator (AUP) yang
mampu membongkar bunker. Atau 15 Juli 1999 Cina mengumumkan telah
berhasil merancang teknologi pembuatan bom neutron.
Kira-kira apa jadinya Bumi dan penghuninya ini bila jenis-jenis bom berdaya
ledak dan berdaya rusak tinggi itu benar-benar dipakai untuk berperang? |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||