|
|
Bulan Agustus 2001 Cermin |
|
MAU MENANG MELULU Apakah manusia yang berseteru dengan sesamanya niscaya berdamai kembali? Mungkin tidak selalu. Namun kepada mereka yang berseteru perlu diimbau agar tidak saling meniadakan. Frasa "saling meniadakan" tidak hanya bermakna saling membunuh secara fisis, tapi bisa juga berarti saling menyingkirkan secara paripurna, seperti yang terjadi antara elite politisi di Indonesia. Dalam kondisi seperti itu nuansa kompromi sama sekali tidak ada.
Dengan kompromi, kecenderungan saling menghabisi harus diakhiri, kendati dengan pengorbanan yang mungkin cukup berat, semisal penyerahan sebagian kekuasaan oleh suatu pihak kepada pihak yang lain, kesediaan suatu pihak untuk menunda pengambilan kekuasaan, atau pengabaian gengsi pribadi. Semua bentuk pengorbanan itu akan sangat bernilai, karena akan menghindarkan manusia dari annihilation (peniadaan) oleh sesamanya. Dengan kata lain, pengorbanan itu menyelamatkan kehidupan dalam arti luas. Kendati kompromi tidak selalu baik dan terpuji, kadang dia muncul sebagai wujud solusi buat kebuntuan kehidupan manusia, sebagai akibat bercokolnya sumbatan besar yang terjadi karena perseteruan yang terus-menerus menebar dendam, kebencian, iri hati, dan frustrasi. Sebagai modus untuk menipiskan dan mengakhir dendam, kebencian, iri hati, dan frustrasi, kompromi bisa dianggap sebagai solusi kemanusiaan yang berharga. Namun acap kali manusia sangat sulit menggalang kompromi. Penyebabnya bermacam-macam. Salah satu yang terpenting adalah keangkuhan atau kesombongan. Tak bisa disangkal, manusia adalah satu-satunya makhluk di dunia yang punya kesombongan. Apakah Anda yakin, hewan punya kesombongan? Mungkin saja binatang tertentu punya kesombongan. Namun, dalam perebutan dominasi di dunia fauna, terdapat kaidah perilaku (rules of conduct) yang terjunjung tinggi. Pada dasarnya, perebutan dominasi ini tidak ditujukan untuk saling menghabisi. Ini terbukti dengan adanya surrender ritual, yaitu kebiasaan mengalah dalam pertarungan perebutan kekuasaan antarhewan. Kebiasaan mengalah ini adalah semacam kompromi naluriah yang sekaligus juga menunjukkan kurangnya kesombongan di tengah dunia fauna. Perkelahian dua hewan memperebutkan dominasi akan berakhir damai setelah salah satu menunjukkan sikap mengalah. Barangkali ini adalah representasi pelajaran untuk berdamai yang diajarkan oleh alam. Kita boleh terhenyak. Biasanya manusia selalu mengagungkan diri di hadapan alam semesta. Merasa sebagai makhluk yang jauh lebih beradab dan berbudaya, ketimbang binatang. Bahkan manusia dijuluki "hewan yang mampu berpikir". Artinya, kedudukan manusia di atas binatang, karena manusia memiliki kemampuan berpikir, kearifan, dan kebijaksanaan yang tidak dimiliki binatang. Namun, ketika manusia yang satu bertikai dengan manusia yang lain, tidak jarang mereka sulit berdamai, enggan berekonsiliasi dan tidak sudi berkompromi. Mereka mau menang sendiri. Kemenangan adalah tujuan akhir yang tidak bisa ditawar-tawar, bahkan seringkali dicapai dengan menghalalkan segala cara. Lihatlah ajang pemilihan umum di Indonesia. Untuk meraih kemenangan, cara apa pun ditempuh, bahkan cara yang tidak beradab pula, semisal menyogok para calon pemilih, dan memanipulasi data atau tata cara pengumpulan dan penghitungan suara. Para politisi yang berkuasa pada pemerintahan represif otoriter pun maunya menang sendiri. Untuk mempertahankan kekuasaan, mereka suka-suka saja merekayasa kerusuhan massa berdarah, yang memusnahkan banyak nyawa manusia dan harta benda. Mengapa mereka menghalalkan segala cara? Semua itu karena keangkuhan dan kesombongan. Mereka hanya mau menang, sama sekali tidak mau kalah. Pada perspektif demikian, mereka tidak pernah bisa berdamai, dan berkompromi. Karena perdamaian menuntut kesediaan pihak-pihak yang bertikai untuk sudi mengalah, setidaknya untuk tidak cuma mau menang melulu. Relasi antarinsan di negeri kita pun sedemikian buruk karena nafsu warganya untuk mau menang melulu. Politisi cuma mau menang melulu, pejabat cuma mau menang melulu, sementara rakyat pun cuma mau menang melulu. Mungkin pula orang tua cuma mau menang melulu, sementara anak juga cuma mau menang melulu. Kalau begini terus keadaannya, tak pelak relasi antarinsan semakin buruk, bahkan akan hancur tak terpulihkan. Akibat realisasi nafsu "cuma mau menang melulu" adalah peniadaan atau pemusnahan satu sama lain, yang sama sekali tidak menguntungkan siapa pun. Maka dari itu sebaiknya warga masyarakat berkaca pada surrender ritual dan kebiasaan kompromi dalam dunia fauna. Masa, manusia kalah dengan hewan. Kalau apa yang terjadi dalam dunia fauna itu baik, apa salahnya manusia justru belajar dari mahkluk yang hidup hanya dengan naluri-naluri. Namun pelajaran pertama yang harus ditangkap dengan baik adalah penundukan kesombongan dan penipisan keangkuhan. Mungkin dalam pelajaran pertama itu manusia akan disadarkan kembali, bahwa keangkuhan dan kesombongan perlu ditundukkan karena fakta kesaling-bergantungan antarmanusia. Tak ada seorang pun manusia di tengah dunia ini, yang sanggup dan mampu hidup seorang diri dengan melepaskan ketergantungannya dari orang-orang lain. Dalam pelajaran pertama itu, terlihat jelas bahwa bagaimanapun juga seorang manusia harus berhubungan dengan orang-orang lain. Konsekuensinya, manusia perlu berbagi dengan orang-orang lain. Kata "berbagi" dekat dengan "kompromi" maupun "rekonsiliasi". Makna yang terkandung dalam kata "berbagi" itu berlawanan yang terkandung dalam ungkapan "cuma mau menang melulu". Carut marutnya relasi antarinsan di Indonesia, mengundang semua warga untuk menundukkan kesombongan dan menipiskan keangkuhan pribadinya. Maukah mereka mengindahkan undangan itu? Ataukah memang mereka sudi kalah beradab ketimbang hewan? (dr. Limas Sutanto Sp. K.J., pengamat psikososial dari STFT Widya Sasana, Malang ) |
|||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi -
Usut Asal |