|
|
Bulan Agustus 2001 Air dan Udara |
|
KEMBALIKAN SUMBER "VITAMIN UDARA"
Kalau mau itung-itungan cara pedagang, ruang terbuka hijau di tengah kota besar jelas tidak menguntungkan. Mungkin gara-gara dianggap nyaris tak punya nilai ekonomi, areal hijau seperti itu kini makin sulit dijumpai. Apalagi di Jakarta.
Lalu, apa yang mengubah itu semua? Pada tahun 1970-an itu ruang terbuka hijau masih relatif banyak. Taman-taman berfungsi semestinya. Jalur hijau masih banyak ditumbuhi pohon besar-besar. Jumlah kendaraan bermotor dan industri pun belum sebanyak sekarang. Namun semua itu kini sudah berubah sejalan dengan tuntutan kehidupan metropolitan. Jumlah penduduk Jakarta jauh lebih berlimpah. Alhasil, kebutuhan lahan untuk perumahan penduduk jadi membengkak. Belum lagi, kebutuhan lahan untuk kegiatan ekonomi. Penambahan jumlah kendaraan bermotor akibat bertambah padatnya penduduk pun menuntut penambahan kuantitas jalan. Semua itu akan mengubah fungsi sebagian lahan yang tadinya terbuka dan hijau menjadi hutan beton, perumahan, dan jalan. Maka lahan terbuka yang ditumbuhi berbagai tanaman, besar dan kecil, semakin berkurang. Padahal, ruangan terbuka dengan tetumbuhan menghijau sangat diperlukan bagi kehidupan itu sendiri. Yang termasuk ruang terbuka hijau itu di antaranya taman kota, hutan kota, jalur hijau, halaman rumah, perkantoran, dan pusat bisnis, serta kebun binatang. Ia berfungsi sebagai filter udara dan daerah tangkapan air. Daun-daun pepohonannya bertugas menyerap polutan-polutan di sekitarnya. Sebaliknya, dedaunan itu akan melepaskan oksigen (O2) yang membuat udara di sekitarnya menjadi segar. Ketika hujan turun, tanah dan akar-akar pepohonan itu akan "mengikat" air yang jatuh sehingga menjadi cadangan air. Kawasan hijau itu juga melepaskan anion (ion negatif) lebih besar ketimbang kawasan tanpa pepohonan. Data menunjukkan, konsentrasi anion terbesar bisa ditemukan di hutan rimba atau air terjun, yakni sebesar 50.000 ion per cc (sentimeter kubik) udara. Berikutnya di pegunungan dan pantai 5.000 ion per cc, pinggiran kota dan tempat terbuka 700 – 1.500 ion per cc, taman kota 400 – 600 ion per cc, jalur hijau di dalam kota 100 – 200 ion per cc, perumahan dalam kota 40 – 50 ion per cc, dan yang terkecil di dalam ruang ber-AC yakni 0 – 25 ion per cc. Anion memberi pengaruh baik bagi kesehatan sampai ada yang menyebutnya sebagai "vitamin udara". Manfaat lain, ion negatif itu dapat membunuh dan menghentikan aktivitas bakteri; mengurangi penyakit pernapasan lantaran berfungsi mengaktifkan gerakan bulu getar hidung, melebarkan saluran napas, menjaga peredaran darah normal, dan mengurangi kecepatan pernapasan; menaikkan kemampuan menyerap dan memanfaatkan oksigen, mengaktifkan pembaharuan sel dan meningkatkan fungsi pertahanan tubuh; serta menghilangkan kelelahan. Yang terakhir ini karena anion akan menguraikan asam laktat penyebab rasa lelah menjadi air dan ion laktat. Untuk kebutuhan menjaga kesehatan tubuh, diperlukan 1.000 – 2.000 ion per cc. Artinya, kebutuhan ini akan terpenuhi bila kita berada di pinggiran kota. Sebaliknya, secara fisiologis kita akan kekurangan anion bila konsentrasinya cuma di bawah 50 ion per cc udara.
Beralih fungsi Sayang sekali, ruang terbuka hijau di kota-kota besar macam Jakarta atau Surabaya sudah banyak berkurang. Kalau pun masih ada, makin sempit saja luasnya. Menyusutnya jumlah ruang terbuka hijau bisa terjadi lantaran sebagian dikalahkan oleh kebutuhan fasilitas sosial, seperti jalan raya misalnya. Sementara, yang bertahan pun semakin sempit gara-gara berubah fungsi, misalnya menjadi gedung sekolah, pos RT/RW, pompa bensin, pos polisi, atau tempat pedagang kaki lima.
Menurut Kepala Dinas Pertamanan dan Keindahan Kota Pemda DKI Jakarta, Dadang Ruskandar, seperti dikutip sebuah harian ibukota (6 Maret 2001), setidaknya di Jakarta ada 270 lokasi taman atau ruang terbuka hijau yang telah berubah fungsi. Kabarnya, perubahan fungsi itu tak lepas dari praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) yang dilakukan oleh oknum birokrasi pemerintahan. Di Jakarta yang luasnya sekitar 650 km2 idealnya terdapat sekitar 260 km2 ruang terbuka hijau atau 40% luas Jakarta. Namun, kenyataan yang ada cuma tinggal 13%-nya, atau cuma sekitar 84,5 km2. Sementara di Kota Surabaya ruang terbuka hijau yang tersisa cuma Taman Flora dan Fauna Bratang, Taman Surya, Taman Bungkul, dan Taman Ketabangkali. Itu pun tidak semuanya dalam kondisi baik. Keadaan menjadi lebih parah lagi karena ruang terbuka hijau ini sangat jarang ditemukan di pusat-pusat bisnis seantero Jakarta dan Surabaya. Lahan yang ada habis untuk gedung parkir atau areal parkir yang diaspal. Halaman rumah pun umumnya sangat sempit dan amat jarang yang dibiarkan terbuka dengan tumbuhan menghijau. Kebanyakan halaman yang ada justru diplester tanpa memberi kesempatan air meresap ke dalam tanah atau tanaman tumbuh menghijau. Padahal, sesuai aturan, setiap mendirikan bangunan, ada syarat yang mesti dipenuhi berkaitan dengan tata ruang terbuka ini. Syarat itu di antaranya garis sepadan bangunan (GSB), yakni jarak minimal dari jalan yang diizinkan untuk mendirikan bangunan. Atau, koefisien dasar bangunan (KDB), yaitu perbandingan tapak dasar bangunan terhadap luas lahan. KDB di daerah padat yang diizinkan maksimal 0,6. Artinya, maksimal 60% dari lahan boleh didirikan bangunan. Sisanya, minimal 40%, untuk ruang terbuka. Tujuannya agar tidak seluruh lahan tertutup bangunan. Masih ada lahan untuk penghijauan dan tempat air meresap ke dalam tanah sebagai cadangan air tanah. Sayang, persyaratan ini amat jarang dipenuhi, kecuali di kawasan perumahan mewah. Bahkan ada yang berpendapat, pepohonan hijau mengganggu penampilan gedung-gedung rumah, pusat-pusat bisnis atau perkantoran. Maka, wajar kalau masyarakat kota akan kehilangan fungsi ekologis, biologis, dan psikologis dari ruang terbuka hijau tadi. Jakarta misalnya, sering kali dilanda banjir. Suhu udara cenderung lebih panas. Udara terpolusi pun makin sedikit yang bisa disaring. Padahal, udara terpolusi ini cukup besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Penelitian di Sao Paolo Brasil, yang dilansir WHO, menunjukkan bahwa kenaikan konsentrasi nitrogen dioksida (NO2) 75 mikrogram/m3 akan meningkatkan kematian anak di bawah lima tahun akibat penyakit pernapasan sebesar 30%.
Tumbuhan penyerap polutan atau tanaman produktif Apa yang bisa diperbuat mengahadapi minimnya ruang terbuka hijau? Tentu saja pemerintah daerah harus berupaya mengembalikan fungsi taman yang telah berubah. Kabarnya, pemda DKI dalam tahun-tahun belakangan telah berhasil mengembalikan fungsi setidaknya 14 lokasi taman setiap tahunnya. Kalau saja upaya itu dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten, maka perlu waktu sekitar 19 tahun agar 270 taman, yang telah berubah fungsi, kembali menjadi taman. Keberhasilan berdirinya hutan kota di tengah Kota New York, yang dinamai Central Park, mungkin bisa dijadikan contoh bahwa mengembalikan fungsi taman bukan "hil" yang "mustahal". Pendirian kawasan terbuka hijau ini berkat "ngotot"-nya seorang arsitek lanskap setempat. Ia berhasil meluluhkan hati semacam Panitia Kota, yang menganggap taman tidaklah menguntungkan secara ekonomis, melalui suatu kampanye besar-besaran. Lahan yang sudah telanjur menjadi peruntukan lain pun berhasil dihutankan kembali meski harus dibeli dengan nilai mahal. Upaya pemulihan fungsi ruang terbuka hijau tadi akan lebih bermakna bila program Pemda DKI Jakarta membuat sekitar 70 taman interaksi sosial di lingkungan permukiman padat di lima wilayah DKI berhasil. Meski tidak dipadati pepohonan, lahan taman itu tidak diaspal. Maka, bila hujan sebagian air masih bisa meresap ke tanah taman itu untuk disimpan sebagai cadangan air.
Sementara itu Pemda Kota Surabaya menerapkan manajemen bisnis hijau sejak 1995 dalam upaya memperluas ruang terbuka hijau. Program ini berupa penghijauan di berbagai tempat, macam rumah penduduk, perkantoran, dan pertokoan. Penanaman pohon dinilai cocok untuk Surabaya yang kondisi alamnya cenderung gersang. Pohon yang ditanam ada 15 jenis pohon besar, termasuk tamanan produktif macam pohon buah-buahan. Akan lebih baik lagi bila ruang terbuka hijau ditanami pepohonan yang mampu mengurangi polusi udara secara signifikan. Dari penelitian yang pernah dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan, Departemen Pekerjaan Umum (kini Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah) di laboratoriumnya di Bandung, dan di berbagai tempat di Bogor, Bandung, dan Jakarta diketahui, ada lima tanaman pohon dan lima jenis tanaman perdu yang bisa mereduksi polusi udara (Kompas, 14 Juli 1997). Berdasarkan penelitian di laboratorium, kelima jenis pohon itu bisa mengurangi polusi udara sekitar 47 - 69%. Mereka adalah pohon felicium (Filicium decipiens), mahoni (Swietenia mahagoni), kenari (Canarium commune), salam (Syzygium polyanthum), dan anting-anting (Elaeocarpus grandiforus). Sementara itu, jenis tanaman perdu yang baik untuk mengurangi polusi udara adalah puring (Codiaeum variegiatum), werkisiana, nusa indah (Mussaenda sp), soka (Ixora javanica), dan kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis). Upaya yang sama bisa pula dilakukan oleh warga kota di halaman rumah masing-masing. Dengan penanaman pohon atau tanaman perdu tadi, selain udara menjadi lebih sejuk, polusi udara juga bisa dikurangi. Sementara, untuk menutupi kekurangan tempat menyimpan cadangan air tanah, setiap keluarga bisa melengkapi rumahnya, yang masih memiliki sedikit halaman, dengan sumur resapan. Dengan sumur resapan itu, air hujan yang turun tidak terbuang percuma, tetapi ditampung di tanah. Sumur resapan merupakan sistem resapan buatan yang dapat menampung air hujan, baik dari permukaan tanah maupun dari air hujan yang disalurkan melalui atap bangunan. Bentuknya dapat berupa sumur, kolam dengan resapan, dan sejenisnya. Pembuatan sumur resapan ini sekaligus akan mengurangi debit banjir dan genangan air di musim hujan. Nah, kalau pemerintah daerah dan warganya sama-sama peduli dengan lingkungannya, kota yang sejuk, bersih, dan sehat pasti akan terwujud. Kapan? Setelah semuanya melakukan tindakan konkret dengan menyediakan sebagian lahan untuk ruang terbuka hijau. (I Gede Agung Yudana) |
|||||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi -
Usut Asal |