|
|
Bulan
Agustus 2001
|
|
HARBIN, KOTA PATUNG ES REKOR DUNIA Mau nonton patung-patung es raksasa? Harbin tempatnya. Kota di Cina ini telah melahirkan tujuh rekor dan masuk dalam Guinness Book lewat pameran lampion es di ruang terbuka terbesar, paling lama, dan paling luas cakupannya. Tapi, awas, jangan sampai menggigil kedinginan!
Untuk pergi ke Harbin yang terletak di Cina
sebelah utara, kami harus lewat Beijing. Cuaca ibu kota negeri tirai bambu
ini mulai dingin. Tapi kami masih bisa menahannya.
Di Beijing kami sempat mengunjungi kuil Lhama yang gedungnya berlapis-lapis.
Maksudnya, di belakang bangunan pertama terdapat lapangan terbuka dengan
bangunan-bangunan lain. Di salah satu bangunan berdiri tegak patung Buddha
setinggi 26 m dari kayu sandalwood putih asal Tibet. Menurut Guinness
Book of World Records, patung terbesar di dunia itu dipahat dari satu
batang pohon. Di sini ada yang terasa aneh: hio tidak boleh dibakar di dalam
ruangan, melainkan di udara terbuka.
"Mendayung" kereta
Setelah mengunjungi lapangan Tiananmen, siang berikutnya kami naik pesawat
ke Shenjang. Udara di Shenjang terasa lebih dingin. Kali itu saya mendapat
pengalaman baru, kesulitan berjalan di atas es dengan mengenakan sepatu
beralas kulit.
Salah satu objek wisata di Shenjang adalah sebuah bangunan kuno dengan kebun
luas di belakangnya. Udara yang amat dingin dan jalan yang tampak licin tak
menjadi pengalang untuk menyeberangi kebun itu. Usaha keras itu tak sia-sia,
dari atas atap gedung tampak bukit bulat yang menyembul, seperti makam-makam
raja di Korea Selatan.
Di tepi jalan di luar gedung banyak orang dewasa dan anak-anak berselancar
di atas es, mungkin sungai yang sedang membeku. Mereka duduk di atas semacam
kereta seluncur. Untuk bergerak maju dipakai tongkat yang ditancapkan di
atas es, serupa orang mendayung. Di sepanjang perjalanan di Shenjang telah
tampak patung-patung es, misalnya pahatan burung elang raksasa.
Di kompleks itu tersedia toko yang menjual barang keperluan cuaca dingin.
Saya membeli sepatu bot seharga 120 yuan (AS $ 1 sekitar 8,1 yuan) yang
bagian dalamnya dilapisi dakron. Sepatu itu terbukti amat berguna selama
perjalanan beberapa hari berikutnya. Esoknya kami mengunjungi istana kuno
sebelum terbang ke Harbin.
CD setebal 0,5 cm
Sekeluar dari lapangan terbang Harbin, pemandu wisata langsung menggiring
kami ke toko yang menjual pakaian hangat. Pasalnya, malam hari kami akan
menyaksikan Ice Lantern Art Show. Kami membeli keperluan tambahan yakni
celana dalam yang tebalnya 0,5 cm dan harus langsung kami kenakan.
Untuk mengenakan celana itu, bukan main susahnya, karena celana itu kecil,
padahal ukurannya all size. Berkat bantuan pramuniaga celana itu
berhasil dirangkapkan pada celana yang sudah kami kenakan. Hebatnya, celana
itu tidak sampai robek walau tidak terdapat ritsluiting atau kancing.
Saya pun membeli semacam kniedekker panjang seharga 20 yuan yang di
bagian dalamnya dilapisi kapas yang mudah lepas. Ini diperlukan karena baju
hangat saya terlalu pendek.
Pilar-pilar es menjulang
kokoh
Barang lain yang saya butuhkan adalah sarung tangan mirip kepunyaan pemain baseball
dan tutup kepala ala ninja yang dilengkapi klep. Mantel yang banyak dijual
di sana terbuat dari semacam kain parasut yang diisi sehingga menjadi serupa
kasur yang menggelembung.
Ini pelajaran baru. Pakaian dalam dan luar dari wol, sarung tangan kulit,
mantel pinjaman waktu main ski di Swis beberapa waktu lalu, dan sepatu
tertutup dengan dasar karet ternyata tak cukup memadai untuk melawan tusukan
hawa dingin Harbin.
Di malam hari pahatan es berbagai ukuran dengan lampu warna-warni di
dalamnya tampak indah sekali. Pahatan yang lebih kecil pun tampil tak kalah
cantiknya dengan yang besar.
Ice Lantern Art Show atau Pameran Seni Lampion Es di Harbin mulai diadakan
sejak 1963. Di kota ini pula lahir cikal bakal seni lampion es di Cina.
Hingga kini telah diadakan 26 kali di Taman Zhaolin dengan total pengunjung
26,18 juta orang! Termasuk di antaranya tentu tokoh terkenal di Cina,
seperti Jiang Zemin dan sejumlah pimpinan partai yang kerap mengunjungi
pameran itu.
Tema pada China Harbin International Ice and Snow Festival ke-17 serta Ice
Lantern Art Show ke-27 itu adalah New Century, Dream of Ice. Lebih
dari 2.000 pahatan es dipamerkan di sembilan tempat. Sedangkan jumlah es
yang dipakai, konon diambil dari sungai, mencapai 30.000 m3.
Jamak bila pameran kali ini disebut sebagai yang terbesar di abad baru ini
sejak pertama diselenggarakan.
Selain itu, tak heran bila kegiatan itu mampu merebut tujuh rekor dan
dimasukkan dalam Guinness Book dengan kriteria pameran lampion es
ruang terbuka terbesar, paling lama, dan paling luas cakupannya.
Setiap musim dingin di situ diadakan pula kompetisi membuat patung es, bukan
hanya di antara pemahat Cina, tetapi juga pemahat luar negeri. Bahkan kini
pameran es ini menjadi pameran tradisional. Terbukti dengan diadakannya
kompetisi untuk murid sekolah dasar dan menengah.
Indahnya pahatan es tak hanya dapat dinikmati dalam arena pameran. Bahkan di
sepanjang jalan, di depan setiap bangunan besar, serta lapangan pun berjajar
patung es. Hal itu benar-benar menambah marak suasana festival pahat es.
Cuaca yang amat dingin membuat kami sulit mengambil uang dari dompet untuk
membeli cenderamata, apalagi untuk mengganti film. Kacamata pun terus
berkabut dan muka laksana disayat-sayat. Bayangkan, tutup kepala ninja hitam
di bagian mulut pun sampai memutih, mungkin karena napas yang membeku.
Bahkan konon, seandainya meludah pun akan langsung menjadi beku.
Sayang kami tidak sempat memperhatikan berapa derajat suhu udara malam yang
amat menggigit itu. Tapi besok siangnya, saat menonton orang menyelam dalam
air dingin di tepi sungai yang lapisan esnya dilubangi, tampak termometer
menunjukkan angka minus 26oC. Bisa dibayangkan bagaimana malam
hari!
Di Matahari pun ada es
Tujuan selanjutnya adalah pameran pahatan salju di Pulau Matahari, pantai
utara Sungai Songhua, Harbin. Di pulau ini Snow Carving Fair pertama kali
diadakan pada musim dingin 1988. Selama ini Sun Island Snow Carving Art Fair
telah dilaksanakan 12 kali. Sedangkan kompetisi nasional dan internasional
membentuk salju mulai diadakan tahun 1994.
Teknologi, berupa mesin pembuat salju buatan, mulai dimanfaatkan pertama
kali pada Snow Carving Fair ke-5 tahun 1993. Sejak itu seni memahat salju
tidak lagi tergantung pada waktu dan tempat. Keuntungan lain adalah salju
buatan lebih mudah dibentuk, putih, terang, keras, serta bagus
penampilannya.
Jangan
lupa naik kereta ditarik anjing, hanya 10 yuan per orang.
Tema pameran pahatan es di Pulau Matahari kali itu New Century, Rhyme of
Snow. Lebih dari 300 pahatan yang total menggunakan 30.000 m3
salju. Jumlah itu tercatat sebagai yang terbanyak selama beberapa tahun
terakhir.
Ukuran patung-patung salju itu beragam, ada yang besar seperti Arc de
Triomphe di Paris, patung mirip Jailahud (orang gendut duduk), atau
tiang-tiang berjajar. Sedangkan yang lebih kecil memilih bentuk bunga, atau
serupa kue dengan selapis coklat. Konon, usai pameran, patung-patung es itu
akan dihancurkan dengan dinamit.
Di arena pameran terdapat kios minuman yang menjual kopi susu seharga 30
yuan dan teh jeruk 20 yuan. Selain itu ditawarkan juga berkeliling sebentar
naik kereta ditarik anjing dengan biaya 10 yuan per orang.
Istana sederhana Puyi
Esok harinya kami naik kereta api ke Chanchung. Di kereta api ada
pemberitahuan, kereta akan sampai di tempat tujuan pukul 12 lewat beberapa
menit. Ini perlu diketahui karena kereta api hanya akan berhenti selama lima
menit, sedangkan jinjingan kami cukup banyak.
Cara mengontrol karcis dalam kereta api agak unik. Begitu di atas kereta,
petugas meminta karcis penumpang untuk diganti dengan kepingan logam kecil.
Karcis kemudian diselipkan dalam map bersekat. Saat penumpang akan turun,
dilakukan hal sebaliknya, kepingan logam diminta kembali, lalu diselipkan
dalam map, ditukar kembali dengan karcis asli.
Menjelang tempat tujuan, ada pengumuman, kopor dan barang lain mulai boleh
dikeluarkan dari balkon. Penumpang lain banyak yang membantu menurunkan
kopor dari rak atas.
Sayang
benar bila patung-patung itu harus dihancurkan dengan dinamit.
Objek kunjungan di Changsun adalah Movie City. Tempat sederhana itu ternyata
hanya untuk membuat film dokumenter, misalnya cara membuat film mengenai
tabrakan kereta api. Kami sempat diajak menonton upacara perkawinan Cina.
Untung, upacara berlangsung singkat karena tontonan dilakukan di udara
terbuka dalam cuaca amat dingin.
Istana Puyi, kaisar terakhir Cina, menjadi pilihan wisata berikut. Istana
bertingkat dua itu sangat sederhana, karena saat itu ia sudah menjadi boneka
Jepang. Di dalam istana terdapat banyak foto kenangan, piano, kolam ikan
kecil, dan ikan koi milik permaisuri Puyi. Di luar istana tampak gundukan
bungker.
Karena penerbangan ke Beijing baru sore hari, kami berkesempatan ke Jinlin,
yang terkenal dengan embun membeku di daun pohon, yang sering disebut
sebagai salah satu keajaiban dunia. Sayangnya, keajaiban itu hanya bisa
dinikmati kalau cuaca betul-betul dingin dan tidak ada angin. Kami termasuk
yang tidak beruntung.
Setelah mengunjungi Sungai Sing Hua Siang, yang entah mengapa tidak turut
membeku, dan menonton bebek berwarna berenang-renang, kunjungan berikutnya
adalah peternakan rusa. Setiap Mei tanduk mereka dipotong untuk dibuat
afrodisiak bagi kaum pria. Selain rusa, ada beberapa binatang lain dalam
kandang-kandang kecil. Misalnya, mink hitam yang terkenal dengan
bulunya yang indah. Konon binatang yang sedikit lebih besar dari kucing itu
galak sekali.
Saat makan siang kami dilayani bak raja. Ada 28 hidangan, termasuk sarang
kodok yang dimasak manis yang konon membuat kulit halus. Setelah itu masih
ada waktu untuk mampir sebentar di suatu tempat lain di mana orang bisa naik
kereta ditarik anjing untuk jarak lebih jauh. Sayangnya, tidak ada waktu
untuk mencobanya.
Pengalaman kecil yang cukup menarik adalah saat seorang teman mendapat
masalah ketika ingin mencuci tangan setelah makan berondong jagung. Karena
airnya dingin bukan main, ia pun mencoba mencuci dengan salju. Herannya,
salju itu terasa seperti pasir.
Setiba di Beijing di malam hari deretan lampion di sepanjang jalan menuju
hotel marak menyambut. Wajar saja, karena saat itu menjelang Cap Go Meh (dua
minggu setelah perayaan Tahun Baru). Indah sekali. Esoknya suhu masih minus
6oC. Salju yang menyelimuti daun cemara persis membuat Beijing
tampak putih bersih. (I) |
|||||||||||||
|
Advis
Medis - Bahasa Kita - Cermin
- Halaman Hijau - Kelirumologi -
Usut Asal |