|
|
Bulan
Agustus 2001
|
|
PENYEMBUHAN HOLISTIK BUKAN MISTIK ATAU KLENIK! Menjadi sehat jasmani, rohani, maupun sosial seperti dicita-citakan WHO, tentu idaman semua orang. Tapi, untuk mendapatkan ketiganya secara bersamaan, jelas bukan urusan gampang. Perlu pendekatan bersifat holistik. Raga dipulihkan, jiwa diputihkan, dan relasi sosial perlu ditumbuhsuburkan. Bagaimana caranya? Tentu tak cuma dengan menelan obat atau menusukkan jarum suntik berisi obat. Masih butuh "obat-obat" lain.
Sebagai makhluk, manusia memang kompleks. Saking
kompleksnya, urusan sepele bisa berbuntut panjang. Apalagi urusan kesehatan,
yang mestinya lebih penting dari sekadar berebut jabatan. Nah, untuk
mengantisipasi keluhan medis yang makin beragam, belakangan berkembang
metode penyembuhan yang melihat manusia secara komplet. Sebutannya
penyembuhan dengan pendekatan holistik (holistic approach).
Bukan mainan baru, memang. Karena cikal-bakalnya sudah ada berabad-abad
lalu. Tapi, seperti banyak metode pengobatan yang terlupakan, zaman jualah
yang kemudian mengangkatnya ke permukaan. Kedatangannya kali ini begitu pas,
saat banyak keluhan soal hubungan dokter - pasien kian singkat (bahkan tak
jarang pasien menuntut dokter ke pengadilan lantaran kurangnya informasi
yang diberikan).
Bukan sekadar jasad
Dr. H. Soesilo Wibowo, Sp.JP, seorang dokter yang sudah lama mempraktikkan
pendekatan holistik, dalam sebuah seminar di Jakarta beberapa waktu lalu,
menyebut pengobatan ini sebagai rantai ilmu kedokteran. Di mancanegara,
terutama Amerika Serikat, kadang dinamai juga patient centered approach.
Intinya, pasien dilihat bukan sekadar tampilan jasad yang harus dibebaskan
dari bakteri dan penyakit fisik lainnya.
Dasar pendekatan holistik adalah manusia tidak hanya punya raga, tapi juga
jiwa dan hubungan sosial alam semesta. Peran raga, misalnya berkaitan dengan
organ-organ nyata, seperti jantung, pembuluh darah, otak, saraf, hati, alat
pencernaan, panca indera, serta kelenjar. Sedangkan komponen jiwa terdiri
atas roh, akal, nafsu, hati nurani, dan banyak lagi. Sebagai makhluk sosial,
manusia juga selalu berinteraksi dengan lingkungannya.
Terganggunya fungsi organ dan hubungan-hubungannya, dipercaya bisa
mengundang penyakit. Sebaliknya, kalau organ bekerja optimal dan harmonis,
plus menjalankan fungsi "gaulnya" dengan baik, kebugaran dan
tingkat kekebalan tubuh bakal meningkat. Dijamin, virus dan bakteri pun
bakal jarang menyerang karena sering tak mempan.
Di Inggris Raya, British Holistic Medical Association bahkan melihat
pendekatan holistik, sesuai namanya, mirip kanvas kosong, yang siap dilukis
dengan beragam warna pendekatan. Tak hanya tergantung pada obat dan
pembedahan, tapi juga metode di luar itu, yang kerap dikenal sebagai
pengobatan komplementer dan alternatif.
Pengobatan komplementer merupakan upaya untuk melengkapi cara-cara
penyembuhan konvensional. Sedangkan alternatif, merujuk pada jenis
pengobatan selain konvensional, yang dipilih pasien untuk mengurangi
penderitaannya. Dua macam pengobatan ini, sepanjang manfaatnya bisa
dijelaskan secara ilmiah, masuk ke dalam kategori holistik.
Pendapat tadi diamini dr. Tb. Erwin Kusuma, psikiater yang juga praktik
pengobatan holistik di klinik Prorevital, bilangan Cempaka Putih, Jakarta
Pusat. Namun dia juga menambahkan, "Tak semua pengobatan alternatif
bisa dimasukkan dalam pendekatan holistik. Inilah yang banyak disalahpahami
masyarakat," ujarnya sembari mengingatkan banyaknya klinik holistik
yang sebenarnya mengusung pengobatan alternatif berbau mistik.
Erwin mencontohkan, sudah sejak lama dia mengimpor kapsul-kapsul bikinan
Jerman yang diramu dari tumbuh-tumbuhan. "Karena sudah diteliti, ramuan
yang tadinya alternatif itu akhirnya bisa diterima dunia kedokteran,"
sahutnya lagi. Atau kepandaian menghipnosis, yang sering diidentikkan dengan
kemampuan paranormal. Padahal, dalam ilmu kedokteran sendiri, hipnosis sudah
dikenal baik.
Pertolongan roh
Dengan definisi segamblang itu, toh masih banyak yang beranggapan,
pengobatan holistik masih saudaranya klenik. "Beberapa calon pasien
malah bertanya, roh jenis apa sih yang ngebantu?" ujar Janti
Atmodjo, Ph.D., MBA, konselor di Sanjiwani Holistic Therapeutic Health Care,
Menteng, Jakarta Pusat, tentu saja sembari terkekeh. Terpaksa, dia kudu
menjelaskan ulang prinsip kliniknya yang serbatransparan dan menjauhi unsur magic.
Tapi, seperti kata orang, apalah artinya kata-kata tanpa bukti nyata. Di
Amerika Serikat, Dr. Herbert Benson, MD, associate proffesor of medicine
Harvard Medical School menyadari benar hal ini. Dalam bukunya Timeless
Healing, sang kardiolog bersikeras mengampanyekan keyakinannya di tengah
skeptisnya masyarakat kedokteran konvensional lewat cara lebih bernas.
Dia paham betul, agar "dihitung" kedokteran Barat, temuan harus
serbaterukur, dapat diprediksi, serta bisa diulang kembali. Tradisinya,
simtom yang tidak dapat diukur kerap dianggap subyektif, bahkan divonis
nihil alias tidak ada. Belum lagi ketidakpercayaan para dokter terhadap
kemampuan pasien untuk merasakan perubahan di dalam tubuhnya. Rumit dah!
Itu sebabnya, Benson bertekad melawannya dengan riset, dan membiarkan hasil
riset bertutur sendiri. Modal awalnya, "rekaman" berbagai
peristiwa saat dia masih calon dokter. Kala itu, sebagai kelasi (dan
mahasiswa), dia sering dimintai obat oleh rekan-rekannya di kapal, hanya
karena mereka tahu, Benson punya cita-cita jadi dokter. Lucunya, meski dia
cuma mengoleh-olehi vitamin, kondisi kesehatan "pasiennya" selalu
membaik.
Bahkan Benson juga mendapati kasus dengan efek sebaliknya. Kali ini cerita
tentang Ny. Antonia Baguero, wanita yang harus dioperasi untuk membuang
benjolan, berupa endapan kalsium dari dadanya. Sebenarnya, benjolan itu
tidak terlalu berbahaya, tapi entah salah ucap, dokternya bilang kemungkinan
untuk berubah jadi ganas cukup besar. Meski operasi berjalan lancar, Ny.
Antonia telanjur takut setengah mati.
Saking stresnya, dia bela-belain terbang dari New York ke Boston
hanya untuk "curhat" pada Benson. Yang lantas mengajarinya teknik
untuk membuat tubuh lebih rileks. Benson juga menanamkan, latihan itu untuk
membuat tubuh tenteram, seraya melepaskan diri dari kondisi serbawaspada.
Perlahan-lahan, Ny. Baguero mulai merasakan tubuhnya santai.
Ny. Baguero memilih "mantra" yang dulu biasa diucapkan ibunya saat
melepas anak-anaknya ke sekolah. "Tuhan, tolong aku, lindungi aku, dan
sembuhkan aku." Ajaib, berbulan-bulan kemudian, kecemasan dan
ketegangan yang selama ini membebaninya bak terangkat. Dampaknya, bukan cuma
terjadi perubahan fisik dan kimiawi di dalam tubuh, emosinya pun mulai
terjaga.
Dua kasus tadi mengantar Benson pada pemahaman baru, yang dia sebut remembered
wellness. Artinya, kemampuan tubuh seseorang untuk ingat pada kondisinya
semasa sehat. Konon, inilah sumber kekuatan sejati yang berasal dari dalam
diri.
Tapi, hati Benson hancur berkeping-keping, bak satelit kena gesek atmosfer.
Lantaran saat kembali ke bangku kuliah, fenomena menarik tadi tidak mendapat
tanggapan serius dari dosen dan para mentornya. Dia mulai sadar, kekuatan remembered
wellness telah terlewatkan. Ironis, karena faktor motivasi yang berperan
besar dalam kehidupan manusia, justru bablas begitu saja. "Inilah titik
lemah ilmu kedokteran Barat," cetusnya gemas.
Terbukti dari hasil penelitiannya kemudian, antara persepsi pasien dengan
gejala fisis sering bertautan erat. Contohnya, kasus pengobatan angina
pectoris. Tahun 1979, Benson dan rekannya, Dr. David P. McCallie Jr.
mempelajari terapi terhadap kelainan jantung (sakit pada jantung dan lengan
yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke otot jantung). Salah
satunya, lewat penyuntikan bisa kobra.
Banyak yang menyebut terapi seperti itu sama sekali tak berdasar. Namun
Benson menyodorkan fakta, kalau dipercaya kebenaran dan kemanjurannya,
tingkat kesuksesan terapi-terapi ini ternyata bisa mencapai 70 - 90%. Tapi,
begitu para dokter meragukan keefektifannya, tingkat keberhasilannya anjlok
antara 30 - 40%.
Bersama Dr. Mark D. Epstein, Benson menyimpulkan tiga cara untuk memperoleh
hasil maksimal remembered wellness. Pertama, keyakinan dan harapan
pasien, lalu keyakinan dan harapan pihak dokter. Terakhir, keyakinan dan
harapan yang tumbuh dari hubungan antara pasien dan dokter.
Sejak itu, jadilah Benson pengusung pengobatan yang disebutnya sebagai kaki
ketiga (jika dunia kedokteran diibaratkan sebagai kursi berkaki tiga). Dua
kaki lainnya, melambangkan obat-obatan dan pembedahan.
Bukan ilmu baru
"Di mancenagera, khususnya negara-negara Eropa dan Amerika Serikat,
pengakuan terhadap manfaat holistik datang begitu cepat," ujar dr.
Husein Ahmad, MD, Ph.D., pemilik Indonesia Holistic Medical Centre,
Purwakarta, Jawa Barat. Lelaki yang mengaku memelopori masuknya penyembuhan
holistik ke Tanah Air (tahun 1993-an) ini bahkan menyatakan, lebih dari 50%
dokter di "Barat" (asal ilmu pengobatan konvensional yang
mengandalkan obat kimia dan pembedahan) beralih ke holistik.
"Idealnya, seorang dokter memang harus paham dan mempraktikkan
pendekatan ini. Karena mereka tak hanya bertugas mengobati gejala penyakit,
tapi juga membuat pasien sehat jiwa- raga," timpal Erwin Kusuma.
"Ingat, sebagai dokter, mereka dikontrak belajar seumur hidup lo,"
kata pria berkacamata ini.
Di Indonesia sendiri, penyembuhan holistik baru mulai ramai dikunjungi
pasien dalam sepuluh tahun terakhir. "Tapi sebagai bagian dari ilmu
kedokteran, keberadaannya sudah sangat tua," tambah Erwin. Jadi, sama
sekali bukan barang baru. Bahkan konsep remembered wellness-nya
Benson, merupakan pengembangan dari yang dulu dikenal sebagai efek plasebo.
Sayangnya, di kalangan kedokteran ada kecenderungan memandang plasebo
sebagai sesuatu yang bersifat kebetulan belaka. Jarang sekali yang
memperhatikan, jika pasien sembuh karena minum obat berisi gula (namun
diyakininya sebagai obat beneran), sebenarnya keyakinan si pasienlah
yang membuat plasebo ampuh.
Diyakini, tubuh manusia sanggup mengonversi keyakinan seseorang ke dalam
bentuk instruksi fisis. Ini dibuktikan ketika pertengahan 1970-an, Benson
dan beberapa koleganya menemukan betapa efektifnya efek plasebo ini, dengan
tingkat keberhasilan menakjubkan, 70 - 90%. Jauh lebih besar dari perkiraan
daya sembuh plasebo masa itu.
Buka juga file-file lama. Misalnya tahun 1964, saat Massachussetts
General Hospital mengadakan riset. Dua kelompok pasien peserta operasi yang
sama, diperlakukan berbeda oleh dokter ahli anestesinya. Kepada satu
kelompok, ia bicara seadanya, sementara ke kelompok lain bersikap hangat,
seperti duduk di tepi ranjang pasien, menjelaskan langkah-langkah yang bakal
diambil, serta menggambarkan sakit yang kira-kira bakal dirasakan. Hasilnya,
pasien kelompok kedua tinggal di rumah sakit rata-rata lebih cepat 2,7 hari
ketimbang kelompok pertama. Rasa sakit yang mereka derita juga lebih
sedikit.
Kalau mau data lebih kuno, ini dia. Hippocrates (bapak ilmu kedokteran,
hidup di Yunani abad ke-5 SM) mencatat 12 kasus yang disebut pseudocyesis.
Dia menemukan 12 wanita, karena keinginan hamilnya sangat besar, lantas
membayangkan dirinya hamil. Olala, haid pun langsung terhenti, disusul
menggembungnya kandungan. Bahkan, Ratu Mary Tudor yang memerintah Inggris
abad ke-16, beberapa kali mengalami hamil anggur sembilan bulan penuh. Dua
kali di antaranya sempat mengalami sakitnya proses melahirkan. Hanya saja,
tanpa satu jabang bayi pun yang mengoek.
Cerita berlanjut ke tahun 1951, masa Dr. Paul H. Fried dan rekan dari
Jefferson Medical College and Hospital, Philadelphia mencatat kasus serupa.
Selain terhentinya haid, membesarnya perut sesuai dengan bulan kehamilan
normal, payudara pun membesar dan makin peka, serta berubah ukuran dan warna
(maaf) putingnya. Ada juga lo yang sampai meneteskan air susu.
Anehnya, Dr. James A. Knight dari Baylor University juga mencatat seorang
pria korban hamil palsu ini. Wah, kalau sampai meneteskan air susu juga,
bisa-bisa nantinya ada istilah air susu bapak (ASB), 'kan?
Hampir seragam
Begitulah ceritanya, holistik memang beranjak dari empati terhadap diri
sendiri. Dengan mengandalkan relaksasi, penghargaan terhadap kekuatan bawah
sadar serta eratnya tautan jiwa-raga.
Karena menghindari penggunaan obat-obat kimia, pembedahan, dan pengobatan
konvensional lainnya, holistic approach lazimnya menawarkan berbagai
metode terapi, baik yang langsung ditujukan ke bagian yang sakit maupun
tidak. "Tapi kalau pasien yang datang masih dalam terapi dokter, kita
persilakan mereka tetap minum obat," ujar Janti Atmodjo dan Jeanny N.
Sugandi, dua punggawa Sanjiwani.
"Itu karena terapi kita memang bersifat melengkapi pengobatan medis. Wong
kita juga punya tenaga dua dokter, kok," tambah Janti, doktor
metafisika lulusan sebuah universitas di Alabama, AS. Ada beberapa terapi
alternatif andalan di Sanjiwani. Kalau satu jenis terapi tak mencukupi,
metode-metode tadi bisa digabungkan untuk mempercepat penyembuhan. Lantas,
bagaimana cara mengukur keberhasilan pengobatan? "Ada yang parameternya
subyektif, seperti perasaan atau tingkat kenyamanan pasien. Tapi bisa juga
dengan melihat perkembangan catatan medisnya," tutur Janti lagi, yang
rata-rata kebagian 100-an pasien per minggu.
Mengalirkan energi memang salah satu metode penyembuhan favorit, sekaligus
andalan klinik holistik. Tapi, buat yang lebih suka berkonsentrasi dalam
semedi, beragam cara, gaya, dan nama meditasi disediakan, mulai yoga hingga moving
meditation versi Prorevital. Konon, salah satu kata kunci dalam
pengobatan holistik adalah rileks. Dan sampai hari ini, meditasi masih jalan
tol termurah untuk sampai ke sana.
Selain yang seragam, lazimnya sebuah klinik punya layanan andalan.
Prorevital misalnya, berpengalaman mengusung terapi hipnosis untuk
menyembuhkan penyakit fisik yang dampaknya diduga menyentuh unsur kejiwaan.
"Kalau seorang pasien punya penyakit kambuhan yang selalu datang dan
pergi, padahal semua obat konvensional sudah ditelan, boleh jadi sumber
masalahnya bukan di badan," celoteh Erwin Kusuma.
Sedangkan Husein Ahmad, menyodorkan tak kurang dari 25 metode terapi. Tapi,
seperti diakuinya sendiri, penyedia 25 kamar inap di rumah sakitnya yang
megah ini tampak lebih fokus pada keseimbangan nutrisi sebagai obat alami.
Alasannya, "Hampir semua penyakit bersumber dari pola hidup dan pola
makan yang salah," yakin Husein. Itu sebabnya, kebanyakan gangguan
kesehatan selalu diiringi menurunnya selera makan. So,, jalan terbaik
untuk memperbaiki kerusakan tubuh adalah dengan melakukan perubahan pola
hidup dan pola makan. "Kalau Anda tanya soal obat, resep pertama saya
adalah nutrisi, bukannya obat-obatan kimia," tegas dokter yang kerap
dikunjungi pasien yang pejabat tinggi ini.
Lantas, penyakit apa saja yang bisa disembuhkan para dokter berpendekatan
holistik ini? "Hampir semua. Penyakit berat seperti stroke atau kanker
pun bisa," koor mereka senada. Malah, diam-diam, mereka kerap menerima
kiriman pasien dari dokter-dokter konvensional yang divonis tak lagi punya
peluang sehat. Setelah sembuh, pasien bisa langsung "putus
hubungan" dengan sang dokter holistik, atau meneruskan terapi guna
merawat kebugaran.
Lagi pula, "Kedokteran konvensional juga merupakan bagian dari
lingkaran holistik," bilang Husein Ahmad. Karena pada prinsipnya,
penyembuhan holistik bukan upaya secepat kilat, yang bisa langsung bikin
orang sehat dalam satu dua kali terapi. Itu sebabnya, seperti diakui Husein,
untuk penyakit tertentu semisal kanker stadium tinggi atau serangan jantung
mendadak, tambahan obat-obatan hingga pembedahan tetap diperhitungkan.
Satu-satunya gambaran kurang menguntungkan di tengah kompletnya layanan
klinik holistik, barangkali persepsi masyarakat. Terutama anggapan bahwa
ongkos berobat yang harus dikeluarkan di atas standar, kalau tak mau disebut
mahal.
"Kalau dijalani semua, memang mahal. Tapi 'kan tidak seperti itu
praktiknya," tegas Erwin Kusuma. Pasalnya, setelah dilakukan diagnosis,
lazimnya kemudian ditentukan kebutuhan utama pasien. "Sama seperti kita
melihat pemandangan, dari sekian banyak yang dilihat, pada akhirnya akan
tertuju ke tempat tertentu," tambah Erwin.
Di klinik holistik, perbedaan karakter pasien sangat diperhatikan.
"Kami percaya, jalan penyembuhan tiap orang dari sononya memang
berbeda-beda," ucap Janti Atmodjo. Meski penyakitnya sama, kombinasi
pengobatan bisa tak senada.
Misalnya, ada seorang pasien tidak bisa terlelap dalam gelap. Namun
sebaliknya, pasien lain malah bisa ngorok berjam-jam, justru kalau
lampunya dimatikan. Coba, kalau perlakuan terhadap mereka disamaratakan,
yang sehat bisa makin sehat, sementara yang sakit kian jadi pesakitan.
Banyak kacamata
Langkah serupa juga harus dilakukan sebelum melakukan pembedahan. Sebelum
membedah kaki seorang wanita contohnya, mesti dicari dulu latar belakang
wanita yang bakal masuk ruang operasi. Jika dia seorang peragawati, kaki nan
mulus tentu jadi harapan akhir. "Tapi kalau pekerjaan sehari-harinya
penjual sayur, kaki yang kuat jelas lebih dibutuhkan," tutur Erwin.
Selain perhatian lebih dari dokter, kompletnya pengobatan mendatangkan
keuntungan tersendiri buat pasien. Kalau mampir ke dokter konvensional,
keluhan sakit maag misalnya, boleh jadi ditanggapi sebagai gejala penyakit
yang menyerang lambung thok. Tapi di tangan dokter holistik, maag
tadi bisa dipandang dari berbagai kacamata, termasuk ilmu kejiwaan, dengan
harapan: sembuh total, tanpa pernah kambuh lagi.
Jadi, soal mahal atau murah memang relatif adanya. Pukul rata, tarif sekali
berkunjung antara Rp 25.000,- - Rp 75.000,-. Di Sanjiwani, umumnya frekuensi
kunjungan pasien (hingga sembuh) antara 6 - 10 kali. "Tapi, kita juga
mengajarkan metode terapi kita sebagai bekal, hingga setelah sembuh, bisa
dicoba sendiri di rumah," bilang Janti. Sedangkan di Prorevital, harga
paket kebugarannya antara Rp 500.000,- - Rp 1 juta. Pun termasuk bekal
pengetahuan menjaga kebugaran seumur hidup.
"Kalau dipikir-pikir, harusnya tarif kita malah lebih mahal dari dokter
spesialis, ya," canda Husein Ahmad. Sambil tetap terkekeh, dokter yang
pernah memperdalam filsafat kedokteran, yoga, homeopati, serta akupuntur di
mancanegara ini kemudian menambahkan, "Untuk sekarang ini, yang penting
misi health education-nya sampai dulu ke masyarakat," jelasnya.
Pernyataan Husein dikuatkan Erwin dan Janti. "Kami menyadari,
menjelaskan sesuatu yang tak kasat mata memang sulit," jelas mereka
senada. Tapi pelan-pelan, mereka mencoba membongkar persepsi-persepsi salah
masyarakat tentang pengobatan alternatif dan komplementer. Seperti pendapat
bahwa hanya penderita kelainan jiwa yang biasanya pergi ke psikiater.
Padahal, sebelum menyerang fisik, penyakit biasanya lebih dulu mengganggu
jiwa manusia.
Nah, masih dalam kerangka health education juga, upaya mereka
menjelaskan "pada dunia" bahwa metode pengobatan yang mereka usung
memang ilmiah dan ada dasarnya. "Lumayan, sekarang mulai jarang lagi
orang yang datang hanya untuk mencari jimat," ujar Janti melucu.
Praktiknya, mereka juga mencoba menanamkan kepada klien dan pasien agar
menyikapi hidup secara lebih positif, tanpa menimbulkan ketergantungan. Itu
sebabnya, terapi yang dijalani pada akhirnya akan menjurus pada kemampuan
memecahkan masalah sendiri. "Banyak pasien kami, dulunya datang dan
diobati pakai Reiki, sekarang malah jadi penyembuh di lingkungannya,"
cerita Jeanny, rekan Janti di Sanjiwani.
Upaya pemberdayaan ini juga termasuk mengganti pita "rekaman" masa
lalu yang sudah dianggap usang. Misalnya, banyak orang tua yang menanamkan
kepada anak-anaknya sejak kecil, bahwa makan buah di pagi hari bisa bikin
sakit perut. Kalau rekamannya terus berbunyi seperti itu, sampai tua pun
akan terus sakit perut. Mereka yang tak peduli pada rekaman seperti itu,
justru perutnya jarang kena gangguan. Maka, digantilah rekaman negatif
dengan "kaset" lebih positif.
Pemahaman tentang eratnya tautan jiwa-raga, juga membuat pendekatan holistik
menggelitik kalbu. "Bahkan kerap menggugah orang untuk berpikir bahwa
umur itu memang benar-benar ada di tangan Tuhan," tegas Janti.
Pasien yang telah divonis mati oleh dokter contohnya, bila diajak bicara
soal penyakitnya, dijamin langsung stres. Dunia rasanya sempit, pit, pit.
Tapi bagaimana jika diajak mengisi umurnya yang mungkin tinggal sekian itu
dengan hal-hal yang bermanfaat? "Sering kita dapati, kepasrahan seperti
itu malah menumbuhkan energi positif. Yang berdampak pada kebugaran
fisik," bilang Janti lagi.
Satu lagi harapan menyertai maraknya pendekatan holistik ini, yakni
merapatnya kembali hubungan pasien - dokter. Jika seorang Husein Ahmad bisa
meluangkan waktu 30 menit hingga 1 jam untuk menemani pasiennya, tentu
kualitas hubungan yang dibina tak bisa lagi dibilang rendah. Bahkan mereka
sepakat, kehangatan dan perhatian merupakan obat yang tak kalah mahal
dibanding pil dan jarum suntik.
Toh, di balik berbagai keuntungan tadi, Erwin dan Husein tetap mengingatkan
agar masyarakat tidak terjebak pada tawaran-tawaran klinik berbau holistik.
"Masyarakat harus selektif," pesan Husein. Jadi, kalau ada seorang
dokter berpraktik pendekatan holistik mengaku bisa mengeluarkan sesuatu dari
kepala hanya bermodalkan mantra, mirip adegan sulap, tentu bukan holistik
lagi namanya. "Secara logika, prosesnya tak bisa dijabarkan, kok."
Husein juga mencontohkan kemampuan yang mutlak dimiliki seorang dokter
holistik, yakni pengetahuan luas tentang pengobatan alternatif yang
diusungnya. Misalnya, metode akupuntur sangat cocok diterapkan untuk pasien
berpenyakit stroke. Tapi, jangan sekali-kali akupuntur atau pijat
refleksi untuk penderita kanker. "Metode-metode tadi berpotensi
mengaktifkan dan menstimulasi aliran darah, sementara kanker menyebar lewat
darah. Lha, penyakitnya nanti malah menyebar," tutup lelaki berkumis
tebal ini.
Hmm, tetap harus "teliti sebelum membeli", ya?(Muhammad
Zulhi/Lily Wibisono)
Baca juga: |
|||||
|
Advis Medis - Bahasa Kita - Cermin - Halaman Hijau - Kelirumologi - Usut Asal Air & Udara - Flona -
Infotekno - Langlang - Perkara -
Terapi - Terapi Alternatif - Terawang/Cukilan Buku
|