globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Agustus 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

TRANSAKSI KILAT PERBANKAN

Telepon dan Internet tidak melulu untuk ngobras alias ngobrol. Dua alat komunikasi itu ternyata mumpuni untuk mengakses jalur perbankan. Kilat, lagi. Ingin fasih memanfaatkannya? Tapi pihak YLKI belum menganjurkan. Lo?

banking nginternet Kota besar dengan kemacetannya membuat urusan sepele seperti membayar telepon atau mengirim uang melalui bank menjadi beban. Selain macet, mencari areal parkir pun bisa bikin senewen. Memang ada anjungan tunai mandiri (ATM) yang lebih praktis. Akan tetapi, tak jarang pula antrean di depan ATM juga panjang.

Melihat hal itu, beberapa bank mencoba memberi layanan yang memudahkan nasabah bertransaksi. Mengandalkan teknologi telekomunikasi, mereka menciptakan layanan phone dan internet banking. Beberapa bank menerapkan pelayanan itu, sebut misalnya BNI, Bank Niaga, BCA, BII, Bank Bali, atau Bank Panin. Dari sekian banyak bank itu, layanan PhonePlus dari BNI dan Internet banking-nya BII bisa mewakili gambaran kedua layanan ini.

Efisien

PhonePlus yang lahir pada 19 Februari 1998 pada awalnya hanyalah layanan ikutan produk BNI, yakni Taplus. Cakupan areanya pun masih terbatas di Jakarta yang sudah terkenal dengan kemacetannya, selain infrastruktur untuk layanan itu mendukung. Baru dua tahun kemudian layanan PhonePlus diperluas ke kota besar lainnya. "Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Semarang, Medan, Palembang, Banjarmasin, Makassar, dan Denpasar," sebut Retno Hesti M., deputy general manager Bank BNI.

Tahun ini cakupan itu akan diperluas ke Padang, Pakanbaru, Batam, Bandar Lampung, Balikpapan, Samarinda, Manado. Pertimbangan pembukaan layanan ke suatu kota, selain jumlah transaksi, juga ketersediaan teknologi pendukung. Untuk layanan PhonePlus, BNI menggandeng Lintas Artha sebagai penyedia teknologi seperti frame relay.

Mengacu ke kata efisiensi, layanan PhonePlus bisa dikatakan cukup lengkap. Mulai pembayaran Telkom, Ponsel, Ratelindo, kartu kredit, voucher isi ulang Mentari dan simPATI. Tak hanya soal pembayaran, demikian juga urusan kirim-mengirim uang ke Bank BNI dan transfer via kliring ke bank lain, mutasi rekening melalui faksimili, serta informasi produk/jasa atau lokasi cabang dan ATM BNI. Waktu yang dibutuhkan untuk setiap transaksi pun singkat. "Tak lebih dari 4,5 menit," tambah Retno.

Toh tawaran menggiurkan itu bukannya tanpa hambatan. "Tak sedikit nasabah sempat bingung, karena mereka tidak menerima slip lembar pembayaran usai bertransaksi. Mereka belum sepenuhnya memahami karakter phonebanking yang paperless." Untuk itu, kini Phoneplus mengeluarkan kebijakan baru mengirimkan bukti pembayaran yang terbatas memang betul-betul dibutuhkan oleh nasabah, seperti bukti pembayaran Telkom, Satelindo, dan Telkomsel. Sedangkan untuk transaksi lain, bila nasabah menginginkan, bisa diminta dengan dikenai biaya tertentu.

Hesti berharap, jika layanan seperti ini dilakukan oleh bank lain, proses pembelajaran masyarakat terhadap transaksi via telepon ini akan cepat terkerek naik. Oleh sebab itu Hesti tak melihat bank yang menawarkan layanan serupa sebagai pesaingnya.

Suka customer service

Berhubung namanya phone banking, transaksinya tentu saja diawali dengan memutar nomor tertentu. Pada masing-masing kota yang ada layanan PhonePlus, ada nomor telepon lokalnya. Jadi, seorang nasabah Jakarta ketika sedang berada di Yogyakarta bisa menelepon nomor lokal. Jika di kota tempat nasabah berada tidak ada nomor lokal, hubungi nomor telepon terdekat. "Misalnya di Kuta 'kan tidak ada. Ya, hubungi nomor Denpasar."

Sesudah terhubung, nasabah mempunyai dua pilihan pelayanan. Mau bicara dengan mesin atau minta dipandu customer service (CS). Di sinilah verifikasi dilakukan dengan menanyakan nomor kartu Phoneplus. "Nomor itu akan membuka akses di komputer," ujar Retno Hesti. Selanjutnya, si CS akan menanyakan beberapa data dalam komputer, dan yang terakhir menekan nomor personal identification number (PIN).

"Jangan khawatir, customer service tidak akan tahu nomor PIN nasabah, karena yang muncul di komputer hanya tanda bintang," tambah Retno Hesti. Soal menekan nomor PIN ini harus dilakukan dengan hati-hati. Soalnya, bila tiga kali salah, akses akan diblokade. "Ini sebenarnya untuk pengamanan. Masih untung kalau penyebabnya karena nasabah lupa. Takutnya, kartu Phoneplus hilang lalu dimanfaatkan oleh orang lain."

Jika nasabah menggunakan telepon seluler dan di tengah transaksi tiba-tiba drop, maka transaksi dianggap batal. "Nasabah pun diminta menelepon kembali. Takutnya, ia belum selesai membacakan semua amanat," tutur Retno Hesti yang menceritakan perilaku seorang nasabah yang dalam satu kali menelepon bisa melakukan 15 transaksi. Phoneplus menilai sah sebuah transaksi bila telah dilakukan konfirmasi, yakni CS membaca ulang semua amanat nasabah di akhir pembicaraan.

CS juga berperan menjaga gawang duit nasabah. Misalnya, jika ada transaksi di luar kebiasaan, pihak Phoneplus tak segan mengecek ulang. Pengecekan juga dilakukan jika selama dua bulan tidak ada kegiatan transaksi.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pihak bank menyimpan rekaman pembicaraan transaksi tadi sejak pertama kali nasabah membuka layanan ini. Sistem rekam suara itu terbukti sangat membantu manakala ada nasabah yang meragukan transaksi Phoneplus yang dilakukannya. Begitu pada nasabah diperdengarkan rekaman itu, biasanya masalahnya beres. "Yang terjadi selama ini nasabah lupa, atau Phoneplus-nya telah digunakan oleh keluarganya," ujar Retno Hesti yang mengingatkan agar kartu Phoneplus serta nomor PIN disimpan dengan hati-hati agar tidak disalahgunakan pihak lain.

Untuk menunjang kegiatan transaksi, Phoneplus dilengkapi 40 orang CS dan 59 mesin. Jumlah saluran ini dianggap memadai. Yang menjadi masalah, nasabah lebih suka berhubungan dengan CS. "Alasan mereka, takut salah pencet selain juga kalau ada apa-apa nasabah akan memegang janji operator." Akses telepon menjadi lebih sulit karena perilaku lain nasabah yang bareng-bareng (tanpa janji terlebih dulu) mengecek saldo setelah hari libur.

Kurangi beban lobi

Lain BNI lain BII, meski keduanya sama-sama punya tujuan akhir mengurangi deret antrean nasabah di depan meja teller. Bedanya, selain phone banking, BII juga menyediakan layanan internet banking sejak
September 1998. Lazim bila Rudy N. Hamdani, managing director Commercial, Consumer, & Electronic Banking BII, mengklaim BII sebagai pioner internet banking di Indonesia.

Gagasan itu muncul saat maraknya penggunaan Internet. "Kami berharap internet banking BII dapat menjadi satu cabang khusus yang mudah diakses para nasabah," ujar Rudi yang menduga usaha mengurangi antrean sebanyak 30 - 40% itu baru bisa terwujud dalam waktu 5 - 10 tahun sejak mulai diadakan.

Optimis? Tampaknya demikian, karena menurut Rudy, internet banking banyak menyediakan kemudahan, kenyamanan, dan efisiensi. Bagaimana tidak bila layanan ini sepertinya memindahkan cabang sebuah bank BII ke dalam sebuah komputer. Mulai pengecekan saldo, pindah buku, transfer dana antara bank lokal maupun luar negeri, pembayaran Telkom, Internet, asuransi, voucher ponsel, hingga membuka rekening.

"Bahkan untuk aplikasi membuka rekening bisa langsung dilakukan di situs BII," tambah Hanafi Himawan, vice president Commercial Banking Division BII. Karena ini dunia maya, sementara belum ada uang maya, tentu saja saat itu tidak terjadi penyetoran uang tunai. Maka yang dilakukan adalah dengan mendebet kartu kredit calon nasabah. "Yang penting kartu kredit itu Visa atau Master, tanpa mempersoalkan siapa bank yang menerbitkannya," ujar Rudy.

Layanan lebih internet banking BII adalah transfer ke luar negeri. "Namun, jasa itu belum banyak dimanfaatkan nasabah kami," ujar Rudy. Selama hampir tiga tahun beroperasi nasabah paling banyak mengakses untuk transaksi inquiry 50%, transfer antar-rekening 30%, sedangkan sisanya tentu untuk layanan lain semisal membuka rekening, dll.

Seperti tas terbuka

Soal risiko bertransaksi via Internet, Rudy berpendapat, "Sebenarnya, berbagai jenis layanan bank mengandung risiko. Yang paling penting, bagaimana cara meminimalkan risiko itu." Ini bukan berarti BII tidak peduli dengan keamanan. Pengamanan yang dilakukan BII tak kurang ketatnya, baik dari sisi nasabah maupun sisi bank. "Bahkan, nasabah kami pun tak sedikit yang protes saking ketatnya pengamanan itu," tutur Hanafi yang menambahkan Customer Call Centre siap bertugas 24 jam.

Wajar saja karena seorang nasabah internet banking dilengkapi dengan user ID yang terdiri atas delapan digit angka dan password delapan digit yang terdiri atas angka, satu huruf besar, dan satu huruf kecil. Bukan itu saja yang bikin repot nasabah, password harus diganti setiap dua bulan sekali. Meski sebenarnya, setiap saat nasabah bisa mengganti password-nya.

Di sisi bank, dipasang pengaman standar transaksi online. Ada dua firewall dan secure socket layer 128-bit encryption. Teknologi ini bisa mengacak password yang dikirim dengan peluang tertebak nomornya persis seperdua pangkat 128 (1/8,5x1037). Tak cukup di situ, setiap habis transaksi, nasabah akan mendapat email berupa "notice" angka kode tertentu.

Persoalan justru di pihak nasabah. Transaksi yang aman harus dilakukan di komputer sendiri yang tidak sembarangan orang memakainya. Jika dilakukan di tempat umum, warnet misalnya, mengandung risiko. Soalnya, transaksi seperti ini meninggalkan jejak yang bisa ditelusuri oleh orang yang ahli. Namun, anjuran itu agak sulit diikuti. Menurut catatan, dari 100 line yang disediakan BII akan penuh pada pukul 12.00, artinya saat istirahat makan siang. Nah, silakan mengartikan sendiri.

"Selain itu, nasabah perlu melakukan pengamanan sendiri dengan memperlakukan data-data sebagai barang amat pribadi. Kalau sembarang orang bisa tahu, sama halnya dengan tas yang terbuka," Rudy beribarat.
Untunglah, selama ini bank elektronik BII yang diawaki 3 - 9 orang dalam tim Information Technology (IT) belum menerima masalah cukup berat. "Kalaupun ada keluhan, biasanya hanya karena nasabah lupa telah bertransaksi," ujar Rudy. Lalu soal lambatnya mengakses situs BII (www.bii.co.id), Rudy menganjurkan untuk memilih provider yang bagus dengan jaringan akses cukup banyak.

Prospek menjanjikan

Untuk jangka panjang, Rudy melihat masih besarnya prospek electronic banking. "Untuk ukuran Indonesia yang sedang krisis pun sudah terdaftar sekitar 80.000 nasabah internet banking dari total dua juta nasabah BII dengan nilai transaksi mencapai Rp 150 miliar per bulan," papar Rudy yang menangkap adanya lonjakan peningkatan semenjak layanan itu dibuka.

"Bisa dibayangkan kalau Internet bisa diakses lewat TV, tentu akan lebih banyak lagi anggota masyarakat yang akan memanfaatkan layanan ini," ujar Rudy. Selama ini electronic banking BII merengkuh kaum eksekutif muda yang tidak gagap teknologi, dari kalangan menengah-atas, dan tidak punya hambatan isu keamanan. Namun, Rudy mengaku, BII mulai mengembangkan internet banking dengan nasabah perusahaan. Layanan yang dioperasikan pertengahan Juni 2001 dengan nama Cool Banking alias Corporate Online Banking itu tentu saja memiliki fitur yang sedikit berbeda dengan personal banking. Kabarnya lagi, baru dua minggu buka, sudah 80 - 100 perusahaan yang mengajukan permohonan menjadi nasabah.

Memang ya, rasa-rasanya teknologi yang baik begini perlu dimanfaatkan dengan baik. Tentu saja, dengan pertimbangan, agar kita tidak tua di jalan sekadar untuk mengurus berbagai tetek bengek urusan perbankan. (Shinta Teviningrum/Yds Agus Surono)

 

Artikel Warna lainnya:

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Advis Medis - Bahasa Kita - Cermin - Halaman Hijau - Kelirumologi - Usut Asal

Air & Udara - Flona - Infotekno - Langlang - Perkara - Terapi - Terapi Alternatif - Terawang/Cukilan Buku

Warna - Jeda

Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej