|
|
Bulan Agustus 2001 |
|
TRANSAKSI KILAT PERBANKAN
Telepon
dan Internet tidak melulu untuk ngobras alias ngobrol. Dua
alat komunikasi itu ternyata mumpuni untuk mengakses jalur perbankan.
Kilat, lagi. Ingin fasih memanfaatkannya? Tapi pihak
YLKI belum menganjurkan. Lo?
Melihat hal itu, beberapa bank mencoba memberi layanan yang memudahkan
nasabah bertransaksi. Mengandalkan teknologi telekomunikasi, mereka
menciptakan layanan phone dan internet banking. Beberapa bank
menerapkan pelayanan itu, sebut misalnya BNI, Bank Niaga, BCA, BII, Bank
Bali, atau Bank Panin. Dari sekian banyak bank itu, layanan PhonePlus dari
BNI dan Internet banking-nya BII bisa mewakili gambaran kedua layanan
ini.
Efisien
PhonePlus yang lahir pada 19 Februari 1998 pada awalnya hanyalah layanan
ikutan produk BNI, yakni Taplus. Cakupan areanya pun masih terbatas di
Jakarta yang sudah terkenal dengan kemacetannya, selain infrastruktur untuk
layanan itu mendukung. Baru dua tahun kemudian layanan PhonePlus diperluas
ke kota besar lainnya. "Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Semarang,
Medan, Palembang, Banjarmasin, Makassar, dan Denpasar," sebut Retno
Hesti M., deputy general manager Bank BNI.
Tahun ini cakupan itu akan diperluas ke Padang, Pakanbaru, Batam, Bandar
Lampung, Balikpapan, Samarinda, Manado. Pertimbangan pembukaan layanan ke
suatu kota, selain jumlah transaksi, juga ketersediaan teknologi pendukung.
Untuk layanan PhonePlus, BNI menggandeng Lintas Artha sebagai penyedia
teknologi seperti frame relay.
Mengacu ke kata efisiensi, layanan PhonePlus bisa dikatakan cukup lengkap.
Mulai pembayaran Telkom, Ponsel, Ratelindo, kartu kredit, voucher isi
ulang Mentari dan simPATI. Tak hanya soal pembayaran, demikian juga urusan
kirim-mengirim uang ke Bank BNI dan transfer via kliring ke bank lain,
mutasi rekening melalui faksimili, serta informasi produk/jasa atau lokasi
cabang dan ATM BNI. Waktu yang dibutuhkan untuk setiap transaksi pun
singkat. "Tak lebih dari 4,5 menit," tambah Retno.
Toh tawaran menggiurkan itu bukannya tanpa hambatan. "Tak sedikit
nasabah sempat bingung, karena mereka tidak menerima slip lembar pembayaran
usai bertransaksi. Mereka belum sepenuhnya memahami karakter phonebanking
yang paperless." Untuk itu, kini Phoneplus mengeluarkan
kebijakan baru mengirimkan bukti pembayaran yang terbatas memang betul-betul
dibutuhkan oleh nasabah, seperti bukti pembayaran Telkom, Satelindo, dan
Telkomsel. Sedangkan untuk transaksi lain, bila nasabah menginginkan, bisa
diminta dengan dikenai biaya tertentu.
Hesti berharap, jika layanan seperti ini dilakukan oleh bank lain, proses
pembelajaran masyarakat terhadap transaksi via telepon ini akan cepat
terkerek naik. Oleh sebab itu Hesti tak melihat bank yang menawarkan layanan
serupa sebagai pesaingnya.
Suka customer service
Berhubung namanya phone banking, transaksinya tentu saja diawali
dengan memutar nomor tertentu. Pada masing-masing kota yang ada layanan
PhonePlus, ada nomor telepon lokalnya. Jadi, seorang nasabah Jakarta ketika
sedang berada di Yogyakarta bisa menelepon nomor lokal. Jika di kota tempat
nasabah berada tidak ada nomor lokal, hubungi nomor telepon terdekat.
"Misalnya di Kuta 'kan tidak ada. Ya, hubungi nomor Denpasar."
Sesudah terhubung, nasabah mempunyai dua pilihan pelayanan. Mau bicara
dengan mesin atau minta dipandu customer service (CS). Di sinilah
verifikasi dilakukan dengan menanyakan nomor kartu Phoneplus. "Nomor
itu akan membuka akses di komputer," ujar Retno Hesti. Selanjutnya, si
CS akan menanyakan beberapa data dalam komputer, dan yang terakhir menekan
nomor personal identification number (PIN).
"Jangan khawatir, customer service tidak akan tahu nomor PIN
nasabah, karena yang muncul di komputer hanya tanda bintang," tambah
Retno Hesti. Soal menekan nomor PIN ini harus dilakukan dengan hati-hati.
Soalnya, bila tiga kali salah, akses akan diblokade. "Ini sebenarnya
untuk pengamanan. Masih untung kalau penyebabnya karena nasabah lupa.
Takutnya, kartu Phoneplus hilang lalu dimanfaatkan oleh orang lain."
Jika nasabah menggunakan telepon seluler dan di tengah transaksi tiba-tiba drop,
maka transaksi dianggap batal. "Nasabah pun diminta menelepon kembali.
Takutnya, ia belum selesai membacakan semua amanat," tutur Retno Hesti
yang menceritakan perilaku seorang nasabah yang dalam satu kali menelepon
bisa melakukan 15 transaksi. Phoneplus menilai sah sebuah transaksi bila
telah dilakukan konfirmasi, yakni CS membaca ulang semua amanat nasabah di
akhir pembicaraan.
CS juga berperan menjaga gawang duit nasabah. Misalnya, jika ada transaksi
di luar kebiasaan, pihak Phoneplus tak segan mengecek ulang. Pengecekan juga
dilakukan jika selama dua bulan tidak ada kegiatan transaksi.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pihak bank menyimpan
rekaman pembicaraan transaksi tadi sejak pertama kali nasabah membuka
layanan ini. Sistem rekam suara itu terbukti sangat membantu manakala ada
nasabah yang meragukan transaksi Phoneplus yang dilakukannya. Begitu pada
nasabah diperdengarkan rekaman itu, biasanya masalahnya beres. "Yang
terjadi selama ini nasabah lupa, atau Phoneplus-nya telah digunakan oleh
keluarganya," ujar Retno Hesti yang mengingatkan agar kartu Phoneplus
serta nomor PIN disimpan dengan hati-hati agar tidak disalahgunakan pihak
lain.
Untuk menunjang kegiatan transaksi, Phoneplus dilengkapi 40 orang CS dan 59
mesin. Jumlah saluran ini dianggap memadai. Yang menjadi masalah, nasabah
lebih suka berhubungan dengan CS. "Alasan mereka, takut salah pencet
selain juga kalau ada apa-apa nasabah akan memegang janji operator."
Akses telepon menjadi lebih sulit karena perilaku lain nasabah yang
bareng-bareng (tanpa janji terlebih dulu) mengecek saldo setelah hari libur.
Kurangi beban lobi
Lain BNI lain BII, meski keduanya sama-sama punya tujuan akhir mengurangi
deret antrean nasabah di depan meja teller. Bedanya, selain phone
banking, BII juga menyediakan layanan internet banking sejak
Gagasan itu muncul saat maraknya penggunaan Internet. "Kami berharap internet
banking BII dapat menjadi satu cabang khusus yang mudah diakses para
nasabah," ujar Rudi yang menduga usaha mengurangi antrean sebanyak 30 -
40% itu baru bisa terwujud dalam waktu 5 - 10 tahun sejak mulai diadakan.
Optimis? Tampaknya demikian, karena menurut Rudy, internet banking
banyak menyediakan kemudahan, kenyamanan, dan efisiensi. Bagaimana tidak
bila layanan ini sepertinya memindahkan cabang sebuah bank BII ke dalam
sebuah komputer. Mulai pengecekan saldo, pindah buku, transfer dana antara
bank lokal maupun luar negeri, pembayaran Telkom, Internet, asuransi, voucher
ponsel, hingga membuka rekening.
"Bahkan untuk aplikasi membuka rekening bisa langsung dilakukan di
situs BII," tambah Hanafi Himawan, vice president Commercial Banking
Division BII. Karena ini dunia maya, sementara belum ada uang maya,
tentu saja saat itu tidak terjadi penyetoran uang tunai. Maka yang dilakukan
adalah dengan mendebet kartu kredit calon nasabah. "Yang penting kartu
kredit itu Visa atau Master, tanpa mempersoalkan siapa bank yang
menerbitkannya," ujar Rudy.
Layanan lebih internet banking BII adalah transfer ke luar negeri.
"Namun, jasa itu belum banyak dimanfaatkan nasabah kami," ujar
Rudy. Selama hampir tiga tahun beroperasi nasabah paling banyak mengakses
untuk transaksi inquiry 50%, transfer antar-rekening 30%, sedangkan
sisanya tentu untuk layanan lain semisal membuka rekening, dll.
Seperti tas terbuka
Soal risiko bertransaksi via Internet, Rudy berpendapat, "Sebenarnya,
berbagai jenis layanan bank mengandung risiko. Yang paling penting,
bagaimana cara meminimalkan risiko itu." Ini bukan berarti BII tidak
peduli dengan keamanan. Pengamanan yang dilakukan BII tak kurang ketatnya,
baik dari sisi nasabah maupun sisi bank. "Bahkan, nasabah kami pun tak
sedikit yang protes saking ketatnya pengamanan itu," tutur Hanafi yang
menambahkan Customer Call Centre siap bertugas 24 jam.
Wajar saja karena seorang nasabah internet banking dilengkapi dengan user
ID yang terdiri atas delapan digit angka dan password delapan
digit yang terdiri atas angka, satu huruf besar, dan satu huruf kecil. Bukan
itu saja yang bikin repot nasabah, password harus diganti setiap dua
bulan sekali. Meski sebenarnya, setiap saat nasabah bisa mengganti password-nya.
Di sisi bank, dipasang pengaman standar transaksi online. Ada dua firewall
dan secure socket layer 128-bit encryption. Teknologi ini bisa
mengacak password yang dikirim dengan peluang tertebak nomornya
persis seperdua pangkat 128 (1/8,5x1037). Tak cukup di situ,
setiap habis transaksi, nasabah akan mendapat email berupa "notice"
angka kode tertentu.
Persoalan justru di pihak nasabah. Transaksi yang aman harus dilakukan di
komputer sendiri yang tidak sembarangan orang memakainya. Jika dilakukan di
tempat umum, warnet misalnya, mengandung risiko. Soalnya, transaksi seperti
ini meninggalkan jejak yang bisa ditelusuri oleh orang yang ahli. Namun,
anjuran itu agak sulit diikuti. Menurut catatan, dari 100 line yang
disediakan BII akan penuh pada pukul 12.00, artinya saat istirahat makan
siang. Nah, silakan mengartikan sendiri.
"Selain itu, nasabah perlu melakukan pengamanan sendiri dengan
memperlakukan data-data sebagai barang amat pribadi. Kalau sembarang orang
bisa tahu, sama halnya dengan tas yang terbuka," Rudy beribarat.
Prospek menjanjikan
Untuk jangka panjang, Rudy melihat masih besarnya prospek electronic
banking. "Untuk ukuran Indonesia yang sedang krisis pun sudah
terdaftar sekitar 80.000 nasabah internet banking dari total dua juta
nasabah BII dengan nilai transaksi mencapai Rp 150 miliar per bulan,"
papar Rudy yang menangkap adanya lonjakan peningkatan semenjak layanan itu
dibuka.
"Bisa dibayangkan kalau Internet bisa diakses lewat TV, tentu akan
lebih banyak lagi anggota masyarakat yang akan memanfaatkan layanan
ini," ujar Rudy. Selama ini electronic banking BII merengkuh
kaum eksekutif muda yang tidak gagap teknologi, dari kalangan menengah-atas,
dan tidak punya hambatan isu keamanan. Namun, Rudy mengaku, BII mulai
mengembangkan internet banking dengan nasabah perusahaan. Layanan
yang dioperasikan pertengahan Juni 2001 dengan nama Cool Banking alias
Corporate Online Banking itu tentu saja memiliki fitur yang sedikit berbeda
dengan personal banking. Kabarnya lagi, baru dua minggu buka, sudah
80 - 100 perusahaan yang mengajukan permohonan menjadi nasabah.
Memang ya, rasa-rasanya teknologi yang baik begini perlu dimanfaatkan dengan
baik. Tentu saja, dengan pertimbangan, agar kita tidak tua di jalan sekadar
untuk mengurus berbagai tetek bengek urusan perbankan. (Shinta
Teviningrum/Yds Agus Surono)
Artikel Warna lainnya: |
|||||
|
Advis Medis - Bahasa Kita - Cermin - Halaman Hijau - Kelirumologi - Usut Asal Air & Udara - Flona -
Infotekno - Langlang - Perkara -
Terapi - Terapi Alternatif - Terawang/Cukilan Buku
|