|
|
Bulan April 2001
|
|
BUNG KARNO dan SENI RUPA
Tiga puluh lima tahun lalu ia dicatat sebagai presiden yang paling banyak
memiliki koleksi lukisan di dunia. Seni lukis adalah gairah hidupnya. Itukah
sebabnya, setelah empat tahun "diasingkan" dan dipisahkan dari
seni lukis, Bung Karno meninggal?
Hubungan yang amat lekat antara Bung Karno dengan seni rupa, terutama seni
lukis, telah menjadi mitos. Namun sejauh ini orang lupa mempertanyakan hal
subtansial yang menjadi hulu dari semua itu: dari mana muasal kedekatan Bung
Karno dengan seni lukis? Lebih spesifik lagi, dari mana sumber bakat Bung
Karno atas seni lukis, sehingga ia sanggup muncul sebagai kreator, selain
sebagai kolektor? Bung Karno sempat mengungkapkan itu kepada pelukis Dullah.
"Ingat, aku adalah anak Ida Ayu Nyoman Rai, keponakan Raja Singaraja,
wanita dari pulau Bali".
Dari situ sebetulnya Bung Karno ingin mengungkapkan mengapa dirinya lekat
dengan kesenian. Seperti semua orang tahu, Bali adalah pulau seni. Di negeri
ini seni memang dicipta dalam kerangka filosofis yang berhubungan dengan
ritual, dengan religi. Sehingga kesenian, seperti seni rupa adalah sesuatu
yang niscaya untuk diciptakan. Semua seni dibikin untuk persembahan kepada
Sang Hyang Widhi. Hingga semua orang Bali yang membuka indera matanya
langsung bersentuhan dengan benda-benda upacara yang bersifat artistik
seperti cili, lamak, canang, sarad, ubag-abig, sampai lukisan dan
arsitektur.
Ida Ayu Nyoman Rai tentu menyimpan pengalaman estetik semacam itu ketika
mengandung Bung Karno. Persepsi mendalam tersebut merasuk ke dalam darah.
Dalam kata lain, bakat seni rupa memang sudah menggeliat sebelum Bung Karno
muncul di dunia, 6 Juni 1901 di Blitar, Jawa Timur.
Karena itu, apresiasi Bung Karno atas seni rupa tidak terbatas kepada
karya-karya yang tercipta belaka. Tetapi juga pada orangnya, atau
kreatornya. Karena ia merasa, dirinya adalah setara dan sedarah dengan para
kreator itu sendiri. Sitor Situmorang, budayawan dan penyair terkemuka
pernah mengungkap itu, "Perasaan kesetaraan menyebabkan Bung Karno
sangat menghormati ide-ide kesenian dari orang lain."
Hal yang sama juga dikisahkan oleh pelukis Hendra Gunawan. Peristiwa yang
terjadi tahun 1946 adalah sebuah amsal menarik. Indonesia merdeka baru
berusia setahun. Tapi Bung Karno
sudah ingin merayakannya dengan pesta seni lukis. Untuk
merealisasikan perhelatan itu, ia meminta Hendra Gunawan berpameran tunggal.
Lantas pagelaran pun diadakan di gedung KNI (Komite Nasional Indonesia) di
Jalan Malioboro, Yogyakarta. Untuk acara penting itu Bung Karno akan hadir
secara protokoler, sebagaimana mestinya pejabat negara.
Namun, Hendra agaknya ingin membuat sebuah upacara yang lain. Pelukis itu
diam-diam mengumpulkan puluhan gelandangan. Dengan "kostum" asli
kere para gelandangan disiapkan menjadi tuan rumah pameran. Tentu saja
protokol Presiden menolak gagasan itu. Namun Hendra bersikukuh. Ketika
pameran dibuka, sebuah drama terjadi. Bung Karno disambut para gelandangan.
Tentu saja Sang Pemimpin terperanjat luar biasa melihat kenyataan di
hadapannya. Namun, kemudian ia mengangguk-angguk. Hendra segera dipeluk.
Orang melihat Bung Karno menitikkan air mata.
"Setiap orang berhak melihat lukisan saya. Dan saya berhak
memperkenalkan karya-karya saya kepada siapa saja," kata Hendra. Bung
Karno amat menghargai gagasan "gila" itu. Menurut dia, setiap
gagasan seniman, apa pun bentuknya, dianggap menyimpan nilai-nilai
kemanusiaan. Bagi Bung Karno gagasan seniman adalah juga obsesi di benaknya
sendiri.
Pilihan kedua: jadi pelukis
Bung Karno berkali-kali berkata, apabila ia tidak menjadi politikus, pilihan
kedua adalah penjadi pelukis. Sebab tanpa seni lukis ia merasa akan hidup
pendek, akan cepat mati. Lantaran itu, ketika sebagai presiden ia akhirnya
disibukkan dengan seribu urusan negara, bakat melukisnya tak henti diasah.
Dalam berbagai kesempatan ia melukis, yang umumnya dikerjakan di atas kertas
dengan cat air. Ini meneruskan kegemarannya pada masa muda, yang suka
menciptakan karikatur untuk koran Pikiran Rakyat, Bandung. Ia
mendapat "bimbingan" dari Dullah, pelukis Istana Kepresidenan
1950-1960. Juga dari Lee Man-fong dan Lim Wasim, pelukis Istana periode
berikutnya.
"Meski sering kenyataannya berbalik. Acapkali Bapak
(Bung Karno, Adt) akhirnya lebih banyak membimbing yang
membimbing. Lha Bapak memang ngeyel-an (suka membantah-Red),"
kata Dullah.
Tapi Bung Karno tahu, hidupnya suatu ketika akan dipadati oleh urusan-urusan
sosial dan politik yang rumit, sehingga diyakini akan sulit mencari waktu
untuk melukis. Karena
itu ia segera memposisikan dirinya dengan strategis: sebagai
kolektor. Di tengah kunjungannya sebagai kepala negara di
manca benua, Bung Karno selalu "mencuri" kesempatan hunting
lukisan atau patung. Begitu juga bila ia berkunjung ke daerah-daerah di
Indonesia.
Di Yogyakarta ia menyempatkan diri ke Sanggar Pelukis Rakyat, atau ke
Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Di Bali ia menyelusup Ubud, menemui
Rudolf Bonnet, mengagumi lukisan Anak Agung Gde Sobrat, menghayati ulah Ida
Bagus Made Poleng, atau menyaksikan pameran di studio Walter Spies. Di Sanur
ia mampir di rumah seni Le Mayeur de Mefres. Dengan uang seadanya, bahkan
juga dengan mencicil, ia membeli lukisan-lukisan yang disukai.
Ketika lukisan-lukisan dan patung koleksinya mulai banyak hingga perlu
penataan serius di Istana, ia mencari seseorang untuk mengaturnya. Dengan
begitu ia memerlukan seniman, kurator, konservator, displayer andal.
Saat itulah Dullah ditunjuk.
Dullah berkenalan dengan Bung Karno pada 1944, lewat perantara pelukis S.
Sudjojono. Mendengar promosi Sudjojono,
Dullah diminta Bung Karno untuk bergabung dalam Putera (Pusat
Tenaga Rakyat) pimpinan Empat Serangkai (Bung Karno, Mohamad
Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Mansyur). Organisasi ini mendampingi pusat
kebudayaan Jepang kala itu, Keimin Bunka Sidhoso. Lima tahun setelah Putera
bubar, Dullah diboyong ke Istana.
Banyak publik umum menyebut, Basoeki Abdullah juga pelukis Istana Presiden.
Keliru, Basoeki Abdullah tidak pernah mendapat jabatan itu di Indonesia.
Stimulator
Tak dapat disangkal, aktivitas dan keseriusan Bung Karno
dalam mengoleksi seni rupa pada masa itu merupakan stimulasi para petinggi
negara yang lain. Bahkan juga bagi masyarakat luas.
Politikus Ali Sastroamidjojo misalnya, menyenangi lukisan
Untuk menghidupkan minat masyarakat umum, Bung Karno mengajak para pemilik
modal membuat studio-studio seni rupa. Di studio ini diharapkan para pelukis
atau pematung, yang kala itu umumnya tidak beruang, bisa berkarya. Lalu
terbilanglah nama Tjio Tek Djien, yang mendirikan studio di bilangan Cideng,
Jakarta, menjelang tahun 1960. Di sini banyak orang bergabung. Di antara
jajaran pelukis itu, terdapat nama Trubus dan Lim Wasim, yang di kemudian
hari dikenal sebagai pelukis andal. Mereka bekerja dengan gaji harian Rp
1.000,- dengan kewajiban menyelesaikan minimal sebuah lukisan dalam sehari.
Bayaran ini cukup besar. Bandingkan dengan gaji Pelukis Istana Presiden kala
itu yang "cuma" sekitar Rp 5.000,- per bulan.
Untuk distribusi, sosialisasi, dan merangsang market
seni rupa, Bung Karno juga mengharap pengusaha mulai mendirikan galeri. Maka
di Sanur berdiri Galeri Pandy milik James Pandy.
Galeri ini menjadi etalase seni lukis Indonesia modern bagi tamu
asing yang ke Bali. Di Jakarta Pusat dan Selatan juga berdiri
sejumlah galeri.
Sementara itu, di Istana Kepresidenan, Bung Karno tak lupa membawa
tamu-tamunya untuk menyaksikan koleksi lukisan atau patung yang terpajang.
Dari pejabat tinggi negara asing, sampai rombongan bintang film. Tak jarang
para diplomat berbagai negara diberi introduksi soal lukisan sebelum memulai
diplomasi politik. Di sini Sang Presiden bisa bercerita banyak ihwal tema
sebuah lukisan, lebih dari pelukisnya sendiri.
Di mata publik Bung Karno diidentikkan dengan perjuangan dan politik. Atau
segala sesuatu yang bersifat revolusioner. Sehingga publik juga dengan
gampang menafsir, pasti koleksi Bung Karno menyimpan paradigma "gelora
politik, perjuangan, dan revolusi". Lalu, karena Bung Karno telah
dianggap sebagai seorang patronis, paradigma itu diduga akan menular ke
segenap studio pelukis Indonesia.
Tafsiran itu ternyata sungguh keliru. Karena pilihan dan koleksi seni lukis
Bung Karno sangatlah beragam. Yang terbanyak justru lukisan tentang manusia
(wanita), lanskap, lingkungan, bunga, dan alam benda. Sementara yang bertema
"revolusioner" tak lebih dari 10 persennya belaka. Sehingga jauh
dari dominan.
Seperti dituturkan Sitor Situmorang, Bung Karno memakai "paradigma
estetik" dalam menilai sebuah lukisan. Ia melihat karya secara
"sastra", secara piktoral, tidak literer (menilai secara
keseluruhan, bukan detail satu per satu - Red). Bung Karno tidak
pernah terjebak kepada aspek tematik.
Pada bagian lain budayawan Ir. Haryono Haryo Guritno yang pernah jadi ajudan
Bung Karno mengisahkan, ada syarat akademis yang sungguh dituntut oleh
Presiden RI pertama itu dalam menghadapi presentasi seni lukis. Itu adalah
teknik. Dengan teknik, segala yang digubah akan hadir sebagai keindahan.
Bung Karno memang acap berujar, "A thing of beauty is a joy forever."
Atau, barang indah adalah kenikmatan yang kekal. Pepatah itu didekap sebagai
prinsip.
Guruh Sukarno Putra juga menuturkan itu. Gelora revolusi yang ada dalam diri
ayahnya, dan lukisan-lukisan yang menjadi koleksinya, tidak bisa mutlak
dikaitkan. Lukisan-lukisan revolusi yang ada dalam koleksi Bung Karno memang
ada, namun itu berkait dengan konteks, dengan situasi dan aspirasi bangsa.
Sementara keluasan jiwa estetik Bung Karno atas nama pribadi dalam
mengapresiasi semua jenis dan tema lukisan tiada berbatas. Sehingga, hanya
orang berpandangan sempit dan hiperbolik yang melihat nilai kesenilukisan
Bung Karno hanya pada lingkup "tema perjuangan". Begitu juga
sebaliknya, hanya orang berwawasan dangkal yang menatap dunia seni lukis
Bung Karno melulu pada wilayah "wanita cantik". Walau ihwal tema
wanita cantik sempat terbit berbagai cerita menarik, dan bahkan menonjol
dalam berbagai perbincangan. Karena memanggayeng (seru - Red)
untuk digunjingkan. Seperti tertulis dalam buku Lim Wasim, Pelukis Istana
Presiden.
Diceritakan, Wasim mendapat opdract (pesanan -Red) melukis
wanita telanjang, berdasarkan foto yang didapatkan Bung Karno. Setelah Wasim
menyelesaikan lukisan pesanan dijuduli "Hendak Mandi" tersebut,
Bung Karno meminta foto itu kembali. Foto itu kemudian diserahkan ke
pematung Sulistyo. Sang pematung diminta untuk menggubahnya dalam bentuk
patung seukuran tinggi orangnya, 167 cm. Patung tersebut diberi judul
"Bergaya". Kedua karya ini kemudian tertera dalam kitab
"Lukisan-lukisan dan Patung-patung Koleksi Presiden Sukarno".
Kenapa Bung Karno menginginkan seorang model dalam pose
yang sama digubah dalam lukisan dan patung sekaligus?
"Ini adalah keindahan abadi," katanya.
Bung Karno menolak keras bila gagasan itu dianggap pornografis. Ia
mengharap, agar orang tidak selalu melihat
keindahan tubuh wanita semata-mata dari pandangan moralistik,
tapi seharusnya juga dari aspek estetis. Lalu ia pun sering
mengutip kata-kata Kahlil Gibran, pujangga dan mistikus Lebanon
kenamaan, "Orang yang mengenakan moralitasnya melulu sebagai
pakaian, yang paling baik bagi dirinya justru adalah telanjang."
Ia juga acap mengurai kata-kata Palladas, pemikir Yunani tahun 400.
"Semua orang diangkat atau dilahirkan ke bumi dengan
keadaan telanjang, dan semua orang diturunkan ke bumi juga dalam keadaan
telanjang. Tuhan memberikan yang terbaik bagi orang yang diangkat dan
diturunkan."
Lantaran itu, menurut Wasim, Bung Karno pasti kecewa
ketika puluhan lukisan dan patung figur telanjang koleksinya
disekap dalam kamar khusus di Istana Bogor, pada masa Orde Baru
atas instruksi Ibu Tien Soeharto. Sehingga tidak bisa dinikmati
oleh publik umum.
Makhluk kelas satu
Namun, sebanyak-banyaknya peristiwa menarik yang timbul
dari jagad keseniannya, yang paling mengesankan dari kehidupan
seni Bung Karno adalah hasratnya untuk menyamakan kedudukan seniman dengan
profesi lain. Seniman disejajarkan dengan politikus, pengusaha, dokter,
insinyur. Sehingga dalam gelora membangun negara dan bangsa, seniman
dilibatkan. Maka, revolusi diimbuh kerja seniman. Diplomasi harus melibatkan
seniman. Mengatur rakyat harus dengan sentuhan seniman. Menata kota dan
lingkungan harus dengan visi seniman.
Sejarah mencatat, Bung Karno pernah mengangkat pelukis Henk
Ngantung sebagai Gubernur Jakarta. Seniman pun bisa keluar masuk
Istana Negara.
Sampai ujung tahun 1965, koleksi lukisan dan patung Bung Karno lebih dari
2.000 buah. Angka ini membawa Bung Karno tercatat sebagai Presiden yang
paling banyak memiliki koleksi seni rupa di seluruh dunia. Di dalamnya tak
hanya menyimpan nama para maestro Indonesia, tetapi juga tokoh besar seni
lukis dunia, seperti Diego Rivera, Ito Sinshui, William Russel Flynt, dan
sebagainya.
Koleksi itu telah disusun sebagai buku. Yang pertama
terbit tahun 1956 dalam 2 jilid. Tahun 1961 terbit 2 buku
selanjutnya, yang semuanya disusun oleh Dullah. Tahun 1964 muncul 5 jilid
lain yang merupakan pelengkapan, karena koleksi Bung Karno terus bertambah.
Buku ini disusun oleh Lee Man-fong. Semua kitab itu mencantumkan sekitar 500
lukisan pilihan. Tapi Bung Karno menilai masih ada sekitar 500 karya pilihan
lain yang
patut dibukukan. Maka tahun 1966, untuk merayakan ulang tahun ke-65,
direncanakan terbit jilid VI sampai X, susunan Lim Wasim. Namun, kerusuhan
politik meletus. Bung Karno pun lengser.
Bung Karno wafat pada 20 Juni 1970, setelah empat tahun
dalam "pengasingan". Kita tak tahu, Putra Sang Fajar ini redup
karena sekadar sakit, atau lantaran selama 40 bulan dipisahkan
dari dunia seni lukis yang sebelumnya memberinya gairah hidup dan napas
panjang. |
|||||
|
|
|||||