|
|
Bulan April 2001
|
|
RAGAM ALAT UJI PRAKTIS:
DARI KEHAMILAN, NARKOBA, SAMPAI JANTUNG
Setidaknya ada dua kategori peralatan uji kesehatan atau alat diagnosa untuk
mengetahui kondisi kesehatan (penyakit) seseorang. Pertama, peralatan
canggih menggunakan mesin, biasanya dilakukan di laboratorium atau rumah
sakit. Kedua, peralatan uji cepat dan sekali pakai (rapid test).
Jenis perangkat uji instan, berdasarkan jenis sampelnya, bisa dibedakan atas
alat uji cepat dengan sampel serum, sampel darah, dan alat uji dengan sampel
urin. Alat uji sampel serum kebanyakan untuk penyakit "kelas
berat", seperti penyakit kelamin, penyakit yang ditularkan lewat darah,
penyakit infeksi, dan penyakit jantung. Uji dengan sampel serum inilah yang
mesti dilakukan di laboratorium klinik.
Sedangkan diagnosis cepat dengan sampel urin atau darah relatif lebih
sederhana, dan dapat dilakukan sendiri di rumah. Begitu pula perangkat
ujinya tidak rumit. Yang bisa didiagnosis memakai sampel urin, meliputi
kehamilan, kesuburan, gula darah (diabetes), dan penyalahgunaan obat. Untuk
mendeteksi penyakit diabetes ada pula alat uji menggunakan sampel darah.
Rapid test jelas tidak bisa disejajarkan dengan peralatan
laboratorium klinik. Pemeriksaan secara instan, lain dengan pemeriksaan
pakai mesin di laboratorium. "Tujuan rapid test, kata DR. Med.
Meissy Jap, konsultan berbagai produk kesehatan, "terutama untuk screening
test."
Sementara analisa dengan mesin yang complicated biasanya untuk
pemeriksaan lebih lanjut. Screening test penting untuk mengetahui
kondisi kesehatan secara cepat. Bila hasil rapid test positif, bisa
dilakukan pemeriksaan lanjut di laboratotium klinik.
Rapid test jelas mempermudah pemeriksaan atau diagnosa, meski
hasilnya cuma positif (+) atau negatif (-), dan tidak disertai angka
(nilai), seperti hasil pemeriksaan di laboratorium klinik. Tapi yang pasti rapid
test lebih murah daripada uji laboratorium klinik.
Sekaligus ber-KB alami
Kondisi kehamilan dan kesuburan bisa diketahui lewat uji cepat berdasarkan
kadar hormon dalam urin wanita, yakni hCG (human chorionic gonadotropin)
dan LH (luteotropic hormone).
Dibandingkan dengan alat uji lainnya, alat uji kehamilan/kesuburan relatif
lebih familiar dan banyak beredar di pasaran. Contoh, Onco B-hCG (uji
kehamilan), Onco LH (uji kesuburan), Sensitif (uji kehamilan), Ovutest (uji
ovulasi), hCG+ (uji kehamilan), Pregnancy-Test After 10 (uji kehamilan),
dll. Masing-masing ada yang berbentuk strip dan card.
Penggunaan keduanya (strip dan card) tergolong mudah. Alat uji
strip umumnya dicelupkan ke dalam wadah berisi air seni segar (urin
pertama pagi hari) dari wanita yang akan diperiksa. Pencelupan sebatas garis
di bawah tanda panah, kemudian diangkat setelah beberapa waktu (dari 2 - 30
detik). Hasilnya terlihat setelah beberapa menit (kurang dari 10 menit),
dibarengi munculnya garis merah pada alat uji.
Sedangkan pada bentuk card, contoh urin diteteskan 4 - 5 tetes ke
tempat urin pada card. Hasilnya bisa dibaca setelah 1 - 5 menit.
Baik yang strip maupun card, dinyatakan positif (+) jika
muncul dua garis berwarna merah (garis di bawah atau bertanda T (test)
lebih gelap daripada garis di atas atau bertanda C (control). Maka
ovulasi akan terjadi dalam waktu 24 - 48 jam ke depan.
Negatif (-), jika garis di bawah (T) berwarna lebih muda daripada garis di
atas (C), atau hanya muncul garis merah di atas (C). Kondisi ini menunjukkan
tidak terjadi ovulasi. Tes dianggap salah bila tidak muncul garis merah atau
hanya muncul satu garis merah di bawah (T). Sementara pada alat uji
kehamilan (Sensitif, Onco B-hCG), positif (+) berarti hamil. Negatif berarti
tidak hamil.
Tingkat kepekaan alat uji mencapai 25 mlU/ml (Sensitif strip, Onco
B-hCG card). Apa artinya? Menurut Dra. Dewi Purwaningsih MM, direktur
PT Oncoprobe Utama, distributor anekaragam produk rapid test , bila
memang positif hamil, sudah bisa ketahuan 3 - 4 hari sebelum terlambat haid.
Hormon hCG muncul seminggu setelah pembuahan. Jadi, begitu wanita terlambat
haid pada hari pertama, konsentrasi hCG sudah mencapai 100 mlU/ml. Padahal
sensitivitasnya 25 mlU/ml, berarti lebih cepat ketahuan kehamilannya.
"Ada yang mengklaim enam hari sebelum terlambat haid sudah ketahuan.
Itu tidak mungkin, karena belum tercapai konsentrasi sekian."
"Perlu diingat, tes hormon (B-hCG dan LH) bisa digunakan pada wanita
normal. Bagi penderita kanker rahim atau karsinoma, mungkin saja hasilnya
positif walau tidak hamil. Karena terjadi kelainan itu," tambah Dewi.
Dibandingkan dengan uji kehamilan (B-hCG), uji LH (ovulasi) relatif lebih
memerlukan perhitungan matang. Harus paham siklus menstruasi, yakni jumlah
hari mulai dari hari pertama menstruasi hingga hari sebelum menstruasi
berikutnya. Lalu mencocokkannya dengan tabel ovulasi (tertera pada kemasan
produk uji ovulasi), untuk menentukan kapan uji ovulasi (tes LH) mulai
dilakukan.
Untuk itu, Dewi Purwaningsih memberi gambaran. Misal, siklus haid 28 hari,
masa suburnya pada hari ke-14. Tes LH dilakukan dua hari sebelum hari ke-14.
Pertimbangannya, usia sel telur 1 - 2 jam, sementara umur sperma dua hari.
Kalau dua hari sebelum ovulasi sudah ada sperma dalam saluran organ wanita,
tetap bisa terjadi kehamilan.
"Kalau ingin mencegah kehamilan, pada hari ke-12 sudah dilakukan tes
LH. Sampai dua - tiga hari. Itu kalau hasilnya masih negatif. Begitu
positif, tes distop. Jadi, untuk tes kesuburan cukup 3 - 4 tes LH, yakni
mulai hari ke-12, 13, 14. Itu kalau siklusnya normal."
Hasil positif, berarti siap untuk hamil. Bila negatif, aman berasyik masyuk
tanpa kemungkinan terjadi kehamilan. Makanya, tes LH ini juga sekaligus bisa
berfungsi sebagai sarana ber-KB alami. Setidaknya uji LH bisa mendeteksi
ovulasi lebih akurat daripada menghitung hari menstruasi.
Pengambilan sampel urin sebetulnya tidak masalah pagi, siang, atau sore.
Tapi untuk uji kehamilan, disarankan urin pagi, karena masih pekat. Untuk
tes LH (pemeriksaan kesuburan) justru urin segar diambil pukul 10.00 pagi
hingga 20.00, agar diperoleh hasil terbaik.
Seberapa tingkat akurasi tes LH? Menurut hasil riset, tutur Dewi
Purwaningsih, kalau konsentrasi yang dideteksi samar-samar, akurasinya 25
mlU/ml. Untuk sampai muncul dua garis warna, perlu konsentrasi 50 mlU/ml.
Saat konsentrasi mencapai 50 mlU, dua hari kemudian akan keluar sel telur
(ovulasi). Tingkat akurasinya bisa mencapai sekitar 80 - 90 persen.
Uji narkoba di rumah
Untuk uji kecanduan obat terlarang, kini sudah beredar alat uji cepat
narkoba. Antara lain, Methamphetamin (uji mendeteksi shabu), Cocaine (uji
kokain), THC (uji marijuana), Morphine (uji putauw), Barbiturate (untuk
mendeteksi obat tidur), dan Benzodiazepine (uji deteksi valium).
Saat ini, menurut Dewi Purwaningsih, Metamphetamine dan Opiate paling banyak
dipakai. Barbiturate biasanya digunakan untuk menguji apakah bayi dicekoki
obat tidur oleh baby sitter-nya. Tetapi kasus ini jarang terjadi di
sini.
Selain alat uji narkoba yang spesifik untuk menguji zat kimia obat terlarang
tertentu, juga beredar produk narko-tes berbentuk card yang bisa
dipakai untuk mendeteksi lima macam narkoba sekaligus, yakni Metamphetamine,
Cocain, THC, Opiate/Morphin, dan Benzodiazaphine.
Berdasarkan bentuknya, peralatan uji narkoba dibedakan atas bentuk strip
atau card. Cara menggunakannya berbeda. Yang berbentuk strip
dicelupkan ke dalam wadah berisi urin, sebatas garis di bawah tanda panah.
Sedangkan yang berbentuk card, cukup meneteskan 3 - 4 tetes air seni.
Hasilnya bisa diketahui setelah 5 menit. Begitu muncul dua garis warna merah
pada bagian bertanda C dan T, berarti negatif (-). Sebaliknya, kalau muncul
satu garis merah pada tanda C, berarti positif (+). Uji dianggap tidak sah (invalid)
bila muncul satu garis warna pada tanda T atau tak muncul garis sama sekali.
Uji penyakit "kelas berat"
Alat uji dengan sampel serum terbagi atas kategori sexual transmission
(penyakit kelamin), blood transmission (penyakit yang ditularkan
lewat darah), infectious disease (penyakit infeksi), dan cardiac
markers (penyakit jantung). Jenis produk untuk mendeteksi penyakit
kelamin, meliputi Neisseria Gonorrhoeae Antigen Test, Syphilis
Antibody Test, Chlamydia Test, HSV I & II Antibody Test, dan Herpes
Simplex Virus I & II Antigen Test. Untuk uji GO (Gonorrhoe), selain
menggunakan sampel serum (yang dites antibodi), ada juga dengan sampel urin
(yang dites kumannya).
Produk blood transmission, al. HIV I & II Antibody Test, HBs
Antigen Test (untuk hepatitis B), HCV Antibody Test (untuk hepatitis C).
Infectious Disease Test, antara lain H. Pylori Test, Enterovirus 71 VP1-IgM
Test, Tuberculosis Antibody Test, Dengue Virus IgM/IgG Test, Dengue Virus
Antigen Test, dan Coxsackie Virus IgM Test. Cardiac Markers Test, meliputi
Troponin I Test, Troponin T Test, CK-MB Test, dan Myoglobin Test. Bentuk
kemasannya umumnya strip dan card.
Karena menggunakan sampel serum darah, pengujian hanya dapat dilakukan di
laboratorium klinik atau rumah sakit. Darah orang yang akan diperiksa (3 cc)
dimasukkan ke mesin pemusing untuk memperoleh serum darah. Lalu, serum itu
yang digunakan untuk materi uji.
Untuk tes jenis penyakit blood transmission, misalnya HIV atau
hepatitis, serum sampel dicampur dahulu dengan dilution buffer
(pelarut) (1:1). Campuran itu kemudian diteteskan 3 - 4 tetes ke perangkat
uji card. Setelah 5 menit, hasilnya bisa dilihat. Positif (+), bila
muncul dua garis merah pada bagian bertanda C dan T. Negatif (-), bila hanya
muncul satu garis merah pada bagian C. Tidak sah, bila tidak muncul garis
merah atau hanya muncul satu garis merah pada T.
Ada alat uji cepat yang tergolong baru. Enterovirus 71 IgM untuk mendeteksi
penyakit kaki mulut tangan (KMT) atau hand-foot-mouth diseases
(HFMD), yang sempat melanda anak-anak di Singapura, Taiwan, dan Malaysia.
Enterovirus 71 IgM diklaim dapat mendeteksi penyakit KMT secara cepat dan
spesifik, dalam waktu kurang dari dua jam. Hasil tes ditandai dengan
munculnya garis berwarna. Positif (+), bila muncul dua garis merah pada
bagian bertanda C dan T pada alat uji. Muncul satu garis pada tanda C,
berarti negatif (-). Tes ini bisa menggunakan serum darah segar atau serum
darah yang disimpan dalam lemari pendingin (2 - 8oC).
Diabetes dan kelainan jantung pun bisa
Ada juga alat diagnosa cepat untuk penyakit gula (diabetes). Antara lain,
DIATest, Glukotest. Hasil uji dapat menjadi petunjuk untuk pengobatan pasien
diabetes.
DIATest merupakan perangkat uji berbentuk strip untuk menganalisa
glukosa urin. Cara menggunakannya, ujung strip dicelupkan ke dalam
urin segar maksimal selama satu detik, kemudian diangkat. Setelah 60 detik,
perubahan warna yang terjadi pada strip dibandingkan dengan tabel
warna pada label botol dalam tempo 30 detik. Masing-masing warna pada tabel
dikonversikan ke dalam nilai nominal, mulai 0 mg/dl, 100 mg/dl, 250 mg/dl,
500 mg/dl, 1000 mg/dl, dan >2000 mg/dl. Konsentrasi 100 mg/dl, bila
ditemukan secara terus-menerus, dapat dianggap menyimpang dari normal.
Konsentrasi di bawah 100 mg/dl akan memberikan hasil negatif (-).
Sensitifitas strip test Glukotest diklaim 40 mg glukosa/100 ml urin
(40 mg/dl) atau 2,2 mmol/l, dan DIATest 100 mg/dl.
Kelainan jantung pun bisa dideteksi lebih awal. Produk alat uji jantung,
antara lain CK-MB, Troponin, dan Myoglobin.
Ingin diagnosis sendiri? Anda bisa memperoleh alat uji sekali pakai di
apotek. Tentu saja kemasan dan harganya bervariasi, tergantung merek dan
jenis produknya. |
|||||
|
|
|||||