globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan April 2001

Telah Terbit Buku Kumpulan Artikel Kesehatan IV

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Kembalinya si Lambang Kebijaksanaan 

Sosok ini tiap Minggu malam menyapa pemirsa melalui sebuah stasiun televisi swasta. Dengan pengantar khasnya, "Mau tahu jawabannya," ia membawa kita ke pemahaman fenomena alam secara mudah. Image sosok pintar nan bijak pun melekat kepadanya. Tapi untuk sampai pada image seperti itu, jalan yang dilaluinya berliku. Ia sempat terjebak dalam mitos-mitos. Ia juga penuh dengan kontradiksi.

Tokoh yang akan kita bicarakan ini bukanlah seorang profesor atau cerdik cendekia lainnya. Ia hanyalah seekor burung, meski bukan sembarang burung. Namanya saja sudah "Oh, seram ...." Yah, sosok yang menjadi maskot sebuah kuis di stasiun televisi tadi adalah burung hantu.

Melalui sejarah dan melintasi budaya, burung hantu telah menggenggam manusia dalam pesona dan kekaguman. Soal burung hantu ini, beberapa kelompok masyarakat memiliki kepercayaan yang berbeda-beda, bahkan saling bertentangan. Burung bermata belok ini ditakuti sekaligus dimuliakan, dihina namun dihormati, dianggap bijaksana tapi juga bodoh, dan dihubungkan dengan ilmu sihir maupun pengobatan; juga iklim, kelahiran, dan kematian.

Semua pemikiran mengenai burung hantu ini bermula dari cerita purbakala, yang kemudian mengalir dari generasi ke generasi melalui getok tular (dari mulut ke mulut Red.). Hampir di setiap masa dan kebudayaan, sosok burung hantu selalu hadir dalam cerita rakyat. Dalam dongeng-dongeng dan kepercayaan Yunani, ia mewakili sosok bijak dan penolong. Tapi begitu memasuki Abad Pertengahan, ia berubah menjadi sosok yang diasosiasikan dengan tukang sihir. Karena muncul di malam hari, saat orang tak berdaya dan hanya bisa melihat secara samar-samar, wajar kalau pada masa itu ia dihubungkan dengan misteri. Suaranya yang terdengar agak ngeri itu membuat orang diliputi firasat dan ketakutan kalau-kalau sesuatu akan terjadi. Bisa-bisa sesaat lagi akan ada kematian atau setan-setan bergentayangan ....

Baru sepanjang abad XVIII, aspek kehewanan burung hantu diteliti secara lebih mendalam. Inilah yang kemudian menyibak kabut misteri di sekitarnya. Dengan sekaratnya takhayul di abad XX – setidaknya di dunia Barat – burung hantu kembali meraih posisinya sebagai simbol kebijaksanaan.

Pesek karena menabrak dinding

Dalam mitologi Yunani kuno, burung hantu dianggap sebagai simbol kebijaksanaan karena ia kesayangan Atena, Dewi Kebijaksanaan. Sang dewi sangat terkesan dengan mata belok dan mimik serius burung hantu. Jadilah ia diberi nama Athene noctua. Ia lalu dilindungi dan menjadi warga Acropolis. Lalu berkembanglah mitos, jika burung hantu ini terbang di atas pasukan Yunani sebelum perang, mereka akan memperoleh kemenangan.

Sebagai si pemberi firasat pun berkembang dalam mitologi Romawi. Tentara Romawi diperingatkan akan bencana yang akan terjadi oleh seekor burung hantu sebelum kekalahan mereka di Charrhea, daratan antara S. Efrat dan Tigris. Teriakan burung hantu, bagi orang Romawi, bisa dijadikan pertanda adanya kematian dalam waktu tak lama lagi. Dalam Julius Caesar karya Shakespeare, kematian Julius Caesar, Augustus, Commodus Aurelius, dan Agrippa difirasatkan oleh burung hantu.

Kepercayaan tentang burung hantu juga berkembang di suku-suku Indian Amerika. Indian Apache percaya, orang yang mimpi burung hantu pertanda kematiannya sudah dekat. Berbeda dengan Indian Dakota Hidatsa yang memandang burung hantu Athene cunicularia sebagai pelindung prajurit yang gagah berani. Malah Indian Kwagulth percaya, burung hantu adalah jiwa masyarakat sehingga tidak boleh diganggu. Jika seekor burung hantu dibunuh, maka orang yang jiwanya dimiliki burung hantu tadi akan ikut mati.

Yang lucu kepercayaan Indian Inuit soal asal-usul burung hantu bertelinga pendek Asio flammeus. Menurut mereka, burung hantu itu dulunya gadis cilik yang disihir menjadi burung berparuh panjang. Tapi karena takut, burung itu terbang dan menabrak sisi rumah sehingga muka dan hidungnya pesek. Ini mirip dengan kepercayaan di kawasan Artik sana. Hanya di sini si burung terbang kesetanan ke sana kemari hingga menabrak dinding. Hidung dan mukanya jadi pesek. Lalu terciptalah burung hantu.

Soal kenapa burung hantu keluar malam, Indian Menominee punya cerita. Alkisah, seekor burung hantu Aegolius sp. dan seekor kelinci (Wabus) mengadakan kontes. Yang menang bisa memilih hari keluyurannya, apakah siang atau malam. Nah, karena akhirnya kelinci yang menang dan memilih siang hari, maka burung hantu pun pasrah harus ngelayap di malam hari.

Mitos soal burung hantu juga menyebar ke seluruh pelosok Bumi. Di Wales, Inggris, konon teriakan burung hantu memastikan adanya seorang gadis yang kehilangan keperawanannya. Di Prancis ia menjadi pengganti alat ultrasonografi (USG); wanita hamil yang mendengar suara burung hantu dipercayai akan melahirkan bayi perempuan. Yang gawat, di Jerman jika burung hantu bersuara mengiringi lahirnya jabang bayi, kelak di kemudian hari si bayi akan hidup tidak bahagia. Ini bertentangan dengan mitos di Wales. Jika seorang wanita hamil sendirian mendengar teriakan burung hantu, si bayi malah diberkati!

India pun agak kaya dalam permitosan burung hantu. Di sana tumbuh kepercayaan, serangan jantung pada anak bisa diobati dengan air rebusan dari mata burung hantu. Sakit rematik bisa dilawan dengan gel dari daging burung hantu. Daging burung hantu juga bisa dimakan sebagai aprodisiak alami. Di India utara, orang percaya kalau makan mata burung hantu ia bisa melihat di kegelapan.

Namun di India selatan teriakan burung hantu bisa menjadi pertanda. Tapi tergantung berapa kali burung hantu bersuara. Satu kali pertanda sebentar lagi akan ada kematian. Dua kali akan ada kesuksesan di setiap hal yang kita lakukan. Tiga kali berarti akan ada gadis yang akan menikah di sebuah keluarga. Empat kali mengindikasikan adanya kekacauan. Lima kali menunjukkan datangnya perjalanan. Enam kali siap-siap saja kita akan kedatangan tamu. Tujuh kali pertanda gangguan mental. Delapan kali diramalkan ada kematian mendadak. Sembilan kali baru berarti keberuntungan.

Diusir dengan dikeroyok

Mitos-mitos tadi setidaknya membuat burung hantu berbeda dibandingkan dengan kaum burung lainnya. Meski diakui tanpa mitos pun burung hantu sudah unik. Matanya menghadap ke depan seperti manusia, tidak seperti burung kebanyakan. Keluarnya malam hari di kala burung lain sedang enak-enak tidur dalam sarang mereka. Suaranya yang kadang bersuit, kadang berteriak, kadang melengking, lain kali seperti teredam, tidak semerdu burung kelangenan. Kepala burung hantu juga luar biasa besar dibandingkan tubuhnya.

Toh seperti burung lainnya, salah satu bagian penting dalam siklus hidupnya adalah masa bertelur dan membesarkan anak. Bagi kaum hantu ini, masa perkembangbiakan terjadi pada musim semi.

Seperti sudah peraturan umum, burung hantu itu binatang monogami. Jadi disebut sepasang ya satu jantan dan satu betina. Karena relatif setia pada pasangan, ikatan mereka juga dalam waktu yang relatif lama. Meski beberapa spesies ada yang tergolong kaum bergajulan. Terutama mereka yang suka migrasi. Bagi jantan-jantan ini, usai membuntingi usai pula tugasnya.

Lain bagi spesies yang menetap seperti burung hantu kecil Athene noctua. Ikatan itu bisa berlangsung sepanjang tahun. Sedikit bertanggung jawablah. Yang patut dicontoh adalah burung hantu Strix sp.. Bagi spesies ini, ungkapan "kutunggu jandamu" benar-benar dilaksanakan.

Selama berkembang biak, khususnya, burung hantu adalah makhluk teritorial. Dengan semangat 45 mereka akan mempertahankan sarang sampai tetes darah terakhir. Mereka juga memberi batas secara jelas wilayah penyangga logistik mereka. Jika ada penyusup, langsung dihajar. Burung hantu Strix sp., misalnya, langsung membunuh burung hantu telinga panjang Asio otus yang berani masuk wilayah mereka.

Padahal mereka licik juga. Tak mau membangun sarang, tapi sok kuasa. Kalau dalam dunia politik ada oportunis-oportunis jabatan, burung hantu termasuk oportunis sarang. Dengan santainya mereka menempati sarang yang sudah jadi atau mengambil alih sarang burung lain. Kalau malas bikin sarang seperti spesies burung hantu yang berkembang biak di daerah terbuka, ya sarangnya tanah datar beratapkan langit saja.

Selain malas bikin rumah, betina kaum hantu ini buru-buru mengerami begitu telur keluar, dengan masa pengeraman sekitar 30 hari. Padahal rata-rata mereka mengeluarkan 3 – 4 telur dengan jarak antara bisa sampai beberapa hari. Akibat perilaku buru-buru mereka, burung hantu junior jadi tidak sama menetasnya. Jika makanan berlimpah tak jadi soal karena semua bisa kebagian jatah. Lha kalau makanan terbatas, kasihan si bontot. Ia sering kelaparan karena kalah gertak dengan kakak-kakaknya. Kadang malah si bontot ini dibunuh. Biar gak ngrecoki si junior yang nongol duluan. Brutal memang. Sang ortu cuma cuek bebek.

Tapi kebrutalan itu ternyata akan bermanfaat ketika mereka sudah menjadi bapak dan ibu. Meski mereka seperti tak "berperikebinatangan" dalam memberi makan anak-anaknya, soal menghadapi ancaman terhadap keturunannya, mereka tak ragu melawan. Tak peduli itu manusia yang mendekat, kaki dan kuku mereka akan menyerang wajah dan mata si pengacau. Banyak kasus orang kehilangan mata terkena serangan burung hantu Strix sp.. Bahkan keganasan great gray owl Strix nebulosa di sarang mereka sudah seperti legenda saja.

Keganasan yang membuat mereka ditakuti burung lain. Oleh sebab itu, jika mau melawan burung hantu, burung-burung itu suka main keroyok, mengajak etnisnya. Bahkan kalau pertarungan sudah mulai, etnis lain pun ikut nimbrung. Menariknya, burung hantu kadang tak menggubris. Mereka memilih mundur saja dari wilayah itu.

Bisa jadi indikator lingkungan

Keganasan burung hantu malah bisa dimanfaatkan manusia untuk membasmi hama tikus (Intisari Juli 1992). Adalah Ir. Mochamad Syaphon A.W. yang memperkenalkan burung hantu Tyto alba sebagai pemberantas tikus. Hasilnya ternyata mangkus! Dengan cepat tikus habis sampai Syaphon harus membeli tikus untuk memberi makanan si tyto yang dikembangbiakkannya. Selain itu, ia pun memperoleh anugerah Kalpataru pada 29 Juli 1991.

Tapi bukan itu saja manfaat burung hantu bagi manusia. USDA Forest Service telah mengidentifikasi Strix occidentalis caurina sebagai indikator pertumbuhan hutan pohon jarum (conifer forest).

Keponakan burung hantu ini bisa juga mengindikasikan kesehatan hutan purbakala yang sudah jarang di dunia. Burung hantu Strix leptogrammica, misalnya, paling banyak mendiami hutan sal (Shoria robusta) yang masih perawan atau sedikit terjamah. Di kawasan Himalaya ada Phodilus badius yang menjadi indikator kerapatan hutan cedar dan pohon jarum lainnya. Sementara burung hantu yang terancam punah di Rusia, Ketupa blakistoni hanya bisa ditemukan jika kerapatan hutan riparian yang berisi old fir (semacam pohon cemara), larch, cemara, dan hardwoods meningkat.

Di seluruh dunia, ada sekitar 82 spesies burung hantu yang erat kaitannya dengan hutan tua. Nah, apakah ditemukannya jenis burung hantu baru di hutan Sulawesi bisa mengindikasikan sesuatu terhadap hutan yang sekarang tertinggal di pucuk-pucuk gunung itu? (Dari pelbagai sumber/Yds)

Boks: Burung Hantu dari Gunung Ambang

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej