|
|
Bulan April 2001
|
|
Kembalinya si Lambang Kebijaksanaan Sosok
ini tiap Minggu malam menyapa pemirsa melalui sebuah stasiun televisi
swasta. Dengan pengantar khasnya, "Mau tahu jawabannya," ia
membawa kita ke pemahaman fenomena alam secara mudah. Image sosok pintar nan
bijak pun melekat kepadanya. Tapi untuk sampai pada image seperti itu, jalan
yang dilaluinya berliku. Ia sempat terjebak dalam mitos-mitos. Ia juga penuh
dengan kontradiksi.
Melalui sejarah dan melintasi budaya, burung hantu telah menggenggam manusia
dalam pesona dan kekaguman. Soal burung hantu ini, beberapa kelompok
masyarakat memiliki kepercayaan yang berbeda-beda, bahkan saling
bertentangan. Burung bermata belok ini ditakuti sekaligus dimuliakan, dihina
namun dihormati, dianggap bijaksana tapi juga bodoh, dan dihubungkan dengan
ilmu sihir maupun pengobatan; juga iklim, kelahiran, dan kematian.
Semua pemikiran mengenai burung hantu ini bermula dari cerita purbakala,
yang kemudian mengalir dari generasi ke generasi melalui getok tular
(dari mulut ke mulut Red.). Hampir di setiap masa dan kebudayaan,
sosok burung hantu selalu hadir dalam cerita rakyat. Dalam dongeng-dongeng
dan kepercayaan Yunani, ia mewakili sosok bijak dan penolong. Tapi begitu
memasuki Abad Pertengahan, ia berubah menjadi sosok yang diasosiasikan
dengan tukang sihir. Karena muncul di malam hari, saat orang tak berdaya dan
hanya bisa melihat secara samar-samar, wajar kalau pada masa itu ia
dihubungkan dengan misteri. Suaranya yang terdengar agak ngeri itu membuat
orang diliputi firasat dan ketakutan kalau-kalau sesuatu akan terjadi.
Bisa-bisa sesaat lagi akan ada kematian atau setan-setan bergentayangan ....
Baru sepanjang abad XVIII, aspek kehewanan burung hantu diteliti secara
lebih mendalam. Inilah yang kemudian menyibak kabut misteri di sekitarnya.
Dengan sekaratnya takhayul di abad XX – setidaknya di dunia Barat –
burung hantu kembali meraih posisinya sebagai simbol kebijaksanaan.
Pesek karena menabrak dinding
Dalam mitologi Yunani kuno, burung hantu dianggap sebagai simbol
kebijaksanaan karena ia kesayangan Atena, Dewi Kebijaksanaan. Sang dewi
sangat terkesan dengan mata belok dan mimik serius burung hantu. Jadilah ia
diberi nama Athene noctua. Ia lalu dilindungi dan menjadi warga
Acropolis. Lalu berkembanglah mitos, jika burung hantu ini terbang di atas
pasukan Yunani sebelum perang, mereka akan memperoleh kemenangan.
Sebagai si pemberi firasat pun berkembang dalam mitologi Romawi. Tentara
Romawi diperingatkan akan bencana yang akan terjadi oleh seekor burung hantu
sebelum kekalahan mereka di Charrhea, daratan antara S. Efrat dan Tigris.
Teriakan burung hantu, bagi orang Romawi, bisa dijadikan pertanda adanya
kematian dalam waktu tak lama lagi. Dalam Julius Caesar karya
Shakespeare, kematian Julius Caesar, Augustus, Commodus Aurelius, dan
Agrippa difirasatkan oleh burung hantu.
Kepercayaan tentang burung hantu juga berkembang di suku-suku Indian
Amerika. Indian Apache percaya, orang yang mimpi burung hantu pertanda
kematiannya sudah dekat. Berbeda dengan Indian Dakota Hidatsa yang memandang
burung hantu Athene cunicularia sebagai pelindung prajurit yang gagah
berani. Malah Indian Kwagulth percaya, burung hantu adalah jiwa masyarakat
sehingga tidak boleh diganggu. Jika seekor burung hantu dibunuh, maka orang
yang jiwanya dimiliki burung hantu tadi akan ikut mati.
Yang lucu kepercayaan Indian Inuit soal asal-usul burung hantu bertelinga
pendek Asio flammeus. Menurut mereka, burung hantu itu dulunya gadis
cilik yang disihir menjadi burung berparuh panjang. Tapi karena takut,
burung itu terbang dan menabrak sisi rumah sehingga muka dan hidungnya
pesek. Ini mirip dengan kepercayaan di kawasan Artik sana. Hanya di sini si
burung terbang kesetanan ke sana kemari hingga menabrak dinding. Hidung dan
mukanya jadi pesek. Lalu terciptalah burung hantu.
Soal kenapa burung hantu keluar malam, Indian Menominee punya cerita.
Alkisah, seekor burung hantu Aegolius sp. dan seekor kelinci (Wabus)
mengadakan kontes. Yang menang bisa memilih hari keluyurannya, apakah siang
atau malam. Nah, karena akhirnya kelinci yang menang dan memilih siang hari,
maka burung hantu pun pasrah harus ngelayap di malam hari.
Mitos soal burung hantu juga menyebar ke seluruh pelosok Bumi. Di Wales,
Inggris, konon teriakan burung hantu memastikan adanya seorang gadis yang
kehilangan keperawanannya. Di Prancis ia menjadi pengganti alat
ultrasonografi (USG); wanita hamil yang mendengar suara burung hantu
dipercayai akan melahirkan bayi perempuan. Yang gawat, di Jerman jika burung
hantu bersuara mengiringi lahirnya jabang bayi, kelak di kemudian hari si
bayi akan hidup tidak bahagia. Ini bertentangan dengan mitos di Wales. Jika
seorang wanita hamil sendirian mendengar teriakan burung hantu, si bayi
malah diberkati!
India pun agak kaya dalam permitosan burung hantu. Di sana tumbuh
kepercayaan, serangan jantung pada anak bisa diobati dengan air rebusan dari
mata burung hantu. Sakit rematik bisa dilawan dengan gel dari daging burung
hantu. Daging burung hantu juga bisa dimakan sebagai aprodisiak alami. Di
India utara, orang percaya kalau makan mata burung hantu ia bisa melihat di
kegelapan.
Namun di India selatan teriakan burung hantu bisa menjadi pertanda. Tapi
tergantung berapa kali burung hantu bersuara. Satu kali pertanda sebentar
lagi akan ada kematian. Dua kali akan ada kesuksesan di setiap hal yang kita
lakukan. Tiga kali berarti akan ada gadis yang akan menikah di sebuah
keluarga. Empat kali mengindikasikan adanya kekacauan. Lima kali menunjukkan
datangnya perjalanan. Enam kali siap-siap saja kita akan kedatangan tamu.
Tujuh kali pertanda gangguan mental. Delapan kali diramalkan ada kematian
mendadak. Sembilan kali baru berarti keberuntungan.
Diusir dengan dikeroyok
Mitos-mitos tadi setidaknya membuat burung hantu berbeda dibandingkan dengan
kaum burung lainnya. Meski diakui tanpa mitos pun burung hantu sudah unik.
Matanya menghadap ke depan seperti manusia, tidak seperti burung kebanyakan.
Keluarnya malam hari di kala burung lain sedang enak-enak tidur dalam sarang
mereka. Suaranya yang kadang bersuit, kadang berteriak, kadang melengking,
lain kali seperti teredam, tidak semerdu burung kelangenan. Kepala
burung hantu juga luar biasa besar dibandingkan tubuhnya.
Toh seperti burung lainnya, salah satu bagian penting dalam siklus hidupnya
adalah masa bertelur dan membesarkan anak. Bagi kaum hantu ini, masa
perkembangbiakan terjadi pada musim semi.
Seperti sudah peraturan umum, burung hantu itu binatang monogami. Jadi
disebut sepasang ya satu jantan dan satu betina. Karena relatif setia pada
pasangan, ikatan mereka juga dalam waktu yang relatif lama. Meski beberapa
spesies ada yang tergolong kaum bergajulan. Terutama mereka yang suka
migrasi. Bagi jantan-jantan ini, usai membuntingi usai pula tugasnya.
Lain bagi spesies yang menetap seperti burung hantu kecil Athene noctua.
Ikatan itu bisa berlangsung sepanjang tahun. Sedikit bertanggung jawablah.
Yang patut dicontoh adalah burung hantu Strix sp.. Bagi spesies ini,
ungkapan "kutunggu jandamu" benar-benar dilaksanakan.
Selama berkembang biak, khususnya, burung hantu adalah makhluk teritorial.
Dengan semangat 45 mereka akan mempertahankan sarang sampai tetes darah
terakhir. Mereka juga memberi batas secara jelas wilayah penyangga logistik
mereka. Jika ada penyusup, langsung dihajar. Burung hantu Strix sp.,
misalnya, langsung membunuh burung hantu telinga panjang Asio otus
yang berani masuk wilayah mereka.
Padahal mereka licik juga. Tak mau membangun sarang, tapi sok kuasa. Kalau
dalam dunia politik ada oportunis-oportunis jabatan, burung hantu termasuk
oportunis sarang. Dengan santainya mereka menempati sarang yang sudah jadi
atau mengambil alih sarang burung lain. Kalau malas bikin sarang seperti
spesies burung hantu yang berkembang biak di daerah terbuka, ya sarangnya
tanah datar beratapkan langit saja.
Selain malas bikin rumah, betina kaum hantu ini buru-buru mengerami begitu
telur keluar, dengan masa pengeraman sekitar 30 hari. Padahal rata-rata
mereka mengeluarkan 3 – 4 telur dengan jarak antara bisa sampai beberapa
hari. Akibat perilaku buru-buru mereka, burung hantu junior jadi tidak sama
menetasnya. Jika makanan berlimpah tak jadi soal karena semua bisa kebagian
jatah. Lha kalau makanan terbatas, kasihan si bontot. Ia sering
kelaparan karena kalah gertak dengan kakak-kakaknya. Kadang malah si bontot
ini dibunuh. Biar gak ngrecoki si junior yang nongol duluan.
Brutal memang. Sang ortu cuma cuek bebek.
Tapi kebrutalan itu ternyata akan bermanfaat ketika mereka sudah menjadi
bapak dan ibu. Meski mereka seperti tak "berperikebinatangan"
dalam memberi makan anak-anaknya, soal menghadapi ancaman terhadap
keturunannya, mereka tak ragu melawan. Tak peduli itu manusia yang mendekat,
kaki dan kuku mereka akan menyerang wajah dan mata si pengacau. Banyak kasus
orang kehilangan mata terkena serangan burung hantu Strix sp.. Bahkan
keganasan great gray owl Strix nebulosa di sarang mereka sudah
seperti legenda saja.
Keganasan yang membuat mereka ditakuti burung lain. Oleh sebab itu, jika mau
melawan burung hantu, burung-burung itu suka main keroyok, mengajak
etnisnya. Bahkan kalau pertarungan sudah mulai, etnis lain pun ikut nimbrung.
Menariknya, burung hantu kadang tak menggubris. Mereka memilih mundur saja
dari wilayah itu.
Bisa jadi indikator lingkungan
Keganasan burung hantu malah bisa dimanfaatkan manusia untuk membasmi hama
tikus (Intisari Juli 1992). Adalah Ir. Mochamad Syaphon A.W. yang
memperkenalkan burung hantu Tyto alba sebagai pemberantas tikus.
Hasilnya ternyata mangkus! Dengan cepat tikus habis sampai Syaphon harus
membeli tikus untuk memberi makanan si tyto yang dikembangbiakkannya. Selain
itu, ia pun memperoleh anugerah Kalpataru pada 29 Juli 1991.
Tapi bukan itu saja manfaat burung hantu bagi manusia. USDA Forest Service
telah mengidentifikasi Strix occidentalis caurina sebagai indikator
pertumbuhan hutan pohon jarum (conifer forest).
Keponakan burung hantu ini bisa juga mengindikasikan kesehatan hutan
purbakala yang sudah jarang di dunia. Burung hantu Strix leptogrammica,
misalnya, paling banyak mendiami hutan sal (Shoria robusta) yang
masih perawan atau sedikit terjamah. Di kawasan Himalaya ada Phodilus
badius yang menjadi indikator kerapatan hutan cedar dan pohon jarum
lainnya. Sementara burung hantu yang terancam punah di Rusia, Ketupa
blakistoni hanya bisa ditemukan jika kerapatan hutan riparian yang
berisi old fir (semacam pohon cemara), larch, cemara, dan hardwoods
meningkat.
Di seluruh dunia, ada sekitar 82 spesies burung hantu yang erat kaitannya
dengan hutan tua. Nah, apakah ditemukannya jenis burung hantu baru di hutan
Sulawesi bisa mengindikasikan sesuatu terhadap hutan yang sekarang
tertinggal di pucuk-pucuk gunung itu? (Dari pelbagai sumber/Yds)
|
|||||
|
|
|||||