|
|
Bulan April 2001
|
|
Petunjuknya
Lembaran Uang Baru
Di depan pintu yang terbuat dari besi, Minto tenang-tenang saja mengeluarkan
sebuah anak kunci berukuran panjang, alangkah kagetnya ketika diketahui
pintu besi itu tidak terkunci. Ia tertegun sejenak dan tidak berani
menguakkan daun pintu besi itu. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah kemarin
lupa mengunci. Namun ia yakin benar, kemarin sebelum meninggalkan kantor,
pintu besi itu sudah dikuncinya baik-baik.
Hal itu juga dilakukannya pada hari-hari sebelumnya, Minto merasa dirinya
selalu berusaha menghindari keteledoran. Parto, juru bayar pensiun yang baru
saja tiba di kantor melihat keraguan di wajah atasannya. "Ada masalah,
Pak?" tanya Parto.
"Lihat, tidak terkunci," jawab Minto bingung sambil menunjuk pintu
besi. Untuk meyakinkan diri, mereka berdua menguakkan daun pintu yang berat
itu, serta memasuki ruang khasanah. Pemandangan di dalam membuat Minto
lemas. Darahnya tiba-tiba serasa kering. Berapa tidak? Pintu lemari besi
tempat menyimpan uang nampak menganga lebar dan isinya kosong. Uang tunai
sejumlah Rp 500 juta raib.
Dalam keadaan panik, Minto masih sempat berpikir untuk segera melaporkan
kepada atasannya. Kebetulan Setiawan Maulana, Kepala Kantor Pos, sudah
datang. Setelah mendengar dengan saksama penuturan Minto, kepala kantor pos
itu segera menghubungi polisi setempat.
Sekitar setengah jam kemudian (Sersan-sementara) Tehan yang disertai
(Lettu-sementara) Himawan tiba di tempat kejadian perkara (TKP). Walaupun
bintara itu telah mengenal Minto secara pribadi, ia tetap memegang teguh
prosedur dalam menjalankan pekerjaannya. Himawan yang membawa tustel merekam
gambar-gambar yang diperlukan. Setelah pemeriksaan fisik ruangan dirasa
cukup, (Lettu) Himawan mengajukan beberapa pertanyaan awal.
"Siapa pemegang anak kunci lemari besi itu?"
"Saya, sebagai bendaharawan di sini, Pak," jawab Minto.
"Ada duplikatnya?"
"Ada, Pak. Barang itu disimpan oleh Bapak Kepala."
"Mengapa duplikat itu ada pada Bapak Kepala?"
"Sesuai aturan dari Pusat, Pak," jawab Kepala Kantor Pos.
Polisi juga mengajukan beberapa pertanyaan tentang nama-nama penjaga malam,
tenaga kebersihan, dan beberapa karyawan yang dianggap terkait dengan
hilangnya uang tersebut. Semua informasi itu tercatat dalam buku saku
(Sersan) Tehan.
"Sementara cukup sekian dulu, untuk keperluan penyidikan, sewaktu-waktu
kami harap Bapak-bapak bersedia datang ke kantor kami," kata kedua
petugas itu lalu berpamitan. Semua orang yang ditinggalkan, menyanggupi
permintaan itu.
Di rumah kontrakannya, malam itu Minto tidak mampu mengusir rasa gelisah
dalam dirinya. Ia khawatir sesuatu yang merugikan menimpa diri dan
keluarganya. Sebagai bendaharawan yang dipercaya menyimpan dan mengelola
uang dinas ia telah berusaha sebaik mungkin dalam melaksanakan pekerjaannya.
Selama ini ia selalu berusaha untuk tidak teledor serta lalai. Tapi kini, ia
menghadapi kenyataan pahit yang tidak terbayangkan sebelumnya. Uang sebesar
Rp 500 juta yang ada dalam tanggung jawabnya, amblas tak tentu rimbanya.
Dia yakin telah menyimpan uang itu, memasukkannya ke dalam lemari besi, lalu
menguncinya. Tempat penyimpanan uang itu berada dalam sebuah khasanah,
ruangan khusus yang dilengkapi pintu besi berbobot lebih dari sekuintal. Ia
juga selalu mengunci pintu dengan teliti. Peristiwa ini sangat memukul
mentalnya.
Di samping ditangani polisi, sesuai prosedur kasusnya dilaporkan pula ke
Kantor Pusat. Artinya, proses hukum kepegawaian segera berlaku atas dirinya.
Bisa mulai dari penurunan pangkat, skorsing, sampai pemecatan yang diikuti
oleh vonis masuk penjara. Bayangan nasib buruk yang bakal menimpa membuat
Minto sedih. Dalam kesendirian, ia teringat istri dan tiga anaknya yang
masih usia sekolah di kampung.
Orang lain pasti akan menganggap bodoh bila ia berharap uang itu bisa
kembali lagi. Namun Minto berniat membantu petugas penyidik semampunya.
Meski ia tahu, itu tidak mudah.
Teman memancing
Kabar pembobolan uang dari kantor pos itu segera tersebar luas di seluruh
kota kecil Cepu, Jawa Tengah. Esok hari polisi mulai memanggil dan menanyai
sejumlah orang untuk mengumpulkan informasi seputar tindak kejahatan
tersebut.
Supeno, satpam kantor pos, mengaku, di malam kejadian ia tertidur, karena
siangnya tidak sempat beristirahat setelah membantu penguburan seorang
tetangganya.
"Selain saudara, siapa lagi satpamnya?"
"Tidak ada, Pak. Hanya saya. Namun biasanya malam-malam seperti itu
ditemani oleh seorang karyawan."
"Kebetulan saudara Supardi yang dapat giliran membantu jaga malam
itu?" Tehan beralih bertanya pada pria yang duduk di sebelah Supeno.
"Benar, Pak."
"Juga tertidur malam itu?"
"Anu, Pak, sudah menjadi kebiasaan karyawan kalau mendapat giliran
membantu jaga malam, pasti tidur, karena keesokan harinya masuk kerja."
"Begitu? Tapi seharusnya Anda sebagai satpam harus bisa mengatur waktu
istirahat, secara bergantian tidurnya misalnya. Dengan demikian, terutama
saudara satpam, bisa dianggap teledor," Tehan menekankan.
Supeno dan Supardi hanya terdiam. (Sersan) Tehan sempat menaruh curiga
karena melihat keringat sebesar biji-biji jagung mengalir di kening Supeno.
Parto sebagai juru bayar pensiun, pun tak luput dari beberapa pertanyaan.
Nama lain yang tidak luput dari perhatian polisi tentu saja Minto,
bendaharawan yang bertanggung jawab atas keamanan dan keutuhan isi lemari
besi penyimpan uang. Kebetulan Sersan Tehan mengenal baik Minto.
"Saya kenal baik Mas Minto, (Let)," kata Tehan membuka percakapan
dengan atasannya, (Lettu) Himawan.
"Bagaimana gaya hidup keluarganya?"
"Setahu saya, kehidupannya sederhana. Rumahnya pun masih mengontrak. Ia
sudah lebih dari lima tahun di sini, sebelumnya ia ditempatkan di luar Jawa.
Ia tetangga yang baik. Di lingkungan kerja pun ia dikenal jujur dan
bertanggung jawab."
"Sejak kapan kamu mengenalnya?"
"Wah, sudah sejak lebih empat tahun. Kami sama-sama hobi memancing. Di
tempat memancing itulah kami berkenalan."
"Begitu, ya. Tapi ingat, prosedur harus tetap dipegang," Himawan
mengingatkan.
"Tentu, Pak!"
Sampai saat itu pihak kepolisian belum bisa menemukan titik awal. Masih
terlalu dini untuk menyimpulkan siapa yang layak dijadikan tersangka. Dengan
demikian polisi belum bisa melakukan penahanan terhadap seseorang, kecuali
baru berupa interogasi. Berbagai kemungkinan bisa terjadi.
Secara pribadi (Sersan) Tehan tak yakin Minto mau bekerja sama dengan orang
luar untuk berbuat jahat. Memang Minto yang berhak memegang anak kunci
lemari besi itu, tapi bukan berarti dengan sendirinya ia terlibat. Begitu
juga sang kepala kantor pos. Meski berhak atas duplikat anak kuncinya, ia
tidak bisa berbuat apa-apa, karena barang itu tetap tersimpan di dalam
sebuah peti besi bersegel dalam ruang khasanah. Sedangkan pintu besi ruang
itu hanya Minto, sebagai bendaharawan, yang bisa membukanya. Kesimpulannya,
pimpinan kantor pos pun tidak bisa mengambil duplikat anak kunci tanpa
saksi.
Menurut Kapolsek, (Kapten) Roy Cahyadi, orang pertama yang patut dicurigai
adalah Minto, karena hanya dia yang bisa membuka pintu ruang tertutup
khasanah dan lemari besinya.
"Ingat! Prosedur harus tetap dipegang," peringatan Himawan masih
terngiang di telinga Tehan.
Tehan melakukan pendekatan khusus terhadap Minto. Di samping untuk mencari
jalan pengusutan, ia juga ingin mengorek sesuatu yang bisa menolongnya.
Mantan karyawan
Selepas maghrib, Tehan bertandang ke rumah Minto. "Mas Minto, tahu
'kan, sebagai seorang polisi saya dibebani pekerjaan, tapi di sisi lain kita
berteman."
"Saya mengerti. Saya sendiri pun tidak ingin melihat seorang teman
lalai dalam mengemban tugasnya. Malah, sebenarnya saya ingin membantu, Mas
Tehan," tanggap Minto bersungguh-sungguh.
"Silakan saja, sepanjang tidak mencampuri tata kerja polisi."
"Tadi pagi saya dipanggil atasan untuk membicarakan kasus itu. Kami
meneliti semua berkas kepegawaian. Akhirnya kami menemukan sesuatu yang bisa
berguna untuk penyelidikan polisi."
"Apa itu?" sergah Tehan tak sabar.
"Ada mantan karyawan yang telah dipecat hampir dua tahun lalu, karena
perbuatan tercelanya."
Orang yang bernama Slamet, tepatnya Slamet Priyono, itu pernah beberapa kali
ketahuan memalsu wesel pos dan mengambil uang tabungan orang lain hanya
untuk berjudi.
Hukuman demi hukuman telah dijatuhkan kepadanya oleh atasan, namun ia tidak
juga jera. Akhirnya, secara resmi ia diberhentikan secara tidak hormat,
alias dipecat.
"Alamatnya sudah saya catat," Minto memberikan secarik kertas
berisi alamat Slamet.
"Mengapa orang itu dicurigai?"
"Kalau menyimak beberapa kasus yang pernah terjadi, sebagian besar
pencurian dan penilapan harta benda milik kantor pos, ternyata didalangi
oleh mantan orang dalam."
Tehan bisa menerima penjelasan dan kecurigaan Minto, biasanya orang dalam
lebih paham cara kerja di kantornya.
"Dulu Slamet pernah diminta membantu pekerjaan staf lain, yakni membuka
dan menutup pintu khasanah, termasuk membukakan pintu besi. Informasi ini
saya dapat dari catatan berkas kepegawaiannya, karena waktu itu saya masih
berdinas di luar Jawa.
"Meski ia tidak boleh memegang anak kunci, tapi bisa saja bendaharawan
lupa untuk selalu mengantongi dua anak kunci itu. Kesempatan itu bisa
langsung dimanfaatkan oleh Slamet. Ia 'meminjam', lalu menduplikat dua anak
kunci tersebut. Sesudah maksudnya terlaksana, diam-diam barang itu
dikembalikan. Dengan demikian Slamet memiliki anak kunci duplikat,"
tutur Minto.
Mendengar penuturan sahabatnya, (Sersan) Tehan terdiam beberapa saat. Tanpa
membuang waktu, Tehan segera ke rumah Himawan. Saat itu pukul 19.30. Mereka
berniat menindaklanjuti informasi dari Minto. Malam ini juga Slamet Priyono
harus disatroni di rumahnya.
Namun, mereka tak mau bertindak gegabah, karena bisa berakibat orang itu
sulit dijebak atau malah lolos. Kedua hamba hukum itu menelusuri
perkampungan yang terbilang kumuh. Akhirnya mereka menemukan alamat rumah di
Jl. Tegal Rejo, Kelurahan Jati Ireng, sesuai catatan dari Minto.
Karena keduanya berpakaian preman, apalagi mereka mengaku sebagai teman sang
suami, istri Slamet tidak merasa kaget atau curiga.
"Mas Slamet jarang pulang, kok," ujar istri Slamet.
"Oh, ke mana saja, Bu?" tanya Tehan pura-pura. Padahal dua aparat
kepolisian itu sudah mendapat informasi bahwa Slamet memang senang
menghabiskan waktunya untuk berjudi daripada mengurus keluarga.
"Ada perlu rupanya?" tanya perempuan itu sembari beranjak ke
belakang untuk membuatkan minuman.
"Tidak usah repot-repot, Bu. Kami cuma teman lama yang sudah
bertahun-tahun tidak bertemu. Kalaupun berjumpa, Mas Slamet pasti juga pangling,"
tolak Tehan dengan halus.
"Ke mana, ya, kira-kira Mas Slamet?"
"Wah, susah dipastikan. Biasanya kalau sedang banyak uang, ia berjudi
di luar kota."
"Kok Mas Slamet masih judi terus?" Himawan menimpali.
Istri Slamet pun berterus terang mengaku membenci kebiasaan suaminya itu.
Malah, katanya, belakangan Slamet sering berbuat kasar padanya bila sedang
kalah judi. Padahal uang belanja sudah habis dan pendidikan ketiga anaknya
tak pernah dicukupi. Celakanya lagi, tidak seorang pun saudaranya bisa
menasihati Slamet untuk menghentikan kebiasaan buruknya.
"Apa Ibu bisa memberikan alamat beberapa temannya, supaya besok kami
bisa menemuinya di sana saja, sebab saya sudah kangen," pancing Tehan.
Sayang istri Slamet tidak dapat memenuhinya, karena konon suaminya tertutup.
Bahkan alamat beberapa kawannya yang sering datang ke rumah pun perempuan
itu tidak tahu. Himawan dan Tehan meninggalkan rumah itu dengan tangan
hampa.
Bendaharawan sebelumnya
Kota Cepu yang biasanya panas di malam hari, kali ini terasa sejuk karena
diguyur hujan sejak sore. Sampai jauh malam Setiawan Maulana masih bekerja
di rumahnya. Di mejanya terlihat tumpukan kertas-kertas dan map arsip
kepegawaian. Rupanya selain arsip data tentang Slamet yang ditemukan
beberapa hari sebelumnya, ia masih mencari nama lain.
Akhirnya ditemukan bundel lama yang dicarinya, yaitu yang berisi data
bendaharawan lama. Dengan cermat ia membaca kata demi kata yang mencantumkan
nama Sugiri, jabatan bendahara. Dari catatan diri diperoleh data, yang
bersangkutan pernah mendapat hukuman indisipliner karena lalai dalam
menjalankan tugasnya. Akibat kelalaiannya, dua anak kunci, yakni kunci ruang
khasanah dan lemari besi, hilang. Meski akhirnya dua barang itu diketemukan
kembali, yang bersangkutan tetap dikenai tindakan administratif. Ini
petunjuk berharga yang bisa dikembangkan untuk penyelidikan pihak berwajib,
begitu pikir Setiawan.
Kini mantan bendaharawan itu telah dimutasi ke tempat lain. Itu bukan
urusannya, yang penting ia mempunyai data bahwa dua anak kunci yang
merupakan nyawa dari seorang bendaharawan pernah hilang, lalu diketemukan
lagi.
Setiawan menduga, dua anak kunci yang kini dipermasalahkan pernah diduplikat
oleh seseorang yang mencurinya. Tak ayal, kecurigaannya pada mantan seorang
karyawan, Slamet Priyono, semakin kuat.
Ya, Slamet pasti telah mencuri, menduplikat, lalu diam-diam mengembalikan
kedua anak kunci itu lagi. Pikiran itu melintas di benak Setiawan.
Esoknya Setiawan Maulana menelepon polisi untuk melaporkan temuannya.
Kebetulan yang menerima telepon (Lettu) Himawan, yang sebelumnya sudah
mendapat informasi awal dari Minto.
Mayat di sungai
Suatu hari sepulang dari kantor, Minto singgah di toko sepeda untuk membeli
ban sepeda bagi anaknya. Ia begitu terperanjat saat melihat seorang pembeli
sepeda membayar dengan lembaran-lembaran uang baru dari bundel berlilit ban
yang amat dikenalnya. Di sebuah kota kecil peredaran uang baru mudah
dikenali, terutama oleh mereka yang pekerjaan sehari-harinya berhubungan
dengan uang, misalnya pegawai bank dan kantor pos. Minto pun mencari akal
agar dapat keluar dari toko lebih belakang dari orang itu.
Sesudah si pembeli keluar toko dengan membawa sepeda barunya, Minto meminta
izin Sumarni, pemilik toko yang sudah dikenalnya itu, untuk melihat bundelan
uang tersebut. Dugaannya tidak meleset, pada ban kertas dari bundel lembaran
uang baru itu terdapat parafnya di samping tulisan nama bank yang
mengeluarkannya.
Dari si penjaga toko, ia tahu alamat si pembeli sepeda. Sumarni pun tidak
berkeberatan saat Minto meminta ban bundel uang itu. Segera Minto
menghubungi atasannya untuk melaporkan temuannya.
Setiawan sangat tanggap dan segera meminjamkan sementara sejumlah uang
kepada Minto untuk bisa ditukarkan dengan uang baru yang masih berlabel di
toko itu. Usaha Minto berhasil. Di kantor, lembaran-lembaran uang baru itu
diteliti dengan saksama. Setelah merasa yakin, kepala kantor pos menghubungi
polisi.
Dari keterangan penjaga toko pula (Sersan) Tehan dan (Lettu) Himawan
mencatat nama Gito, si pembeli sepeda, dan alamatnya. Rumah orang yang
mereka cari itu ada di sebuah gang sempit di bilangan kota.
Setelah pintu diketuk beberapa kali, muncullah seorang pria setengah baya.
Ia mengaku sebagai ayah Gito. Katanya, sesudah membelikan sepeda untuk
kemenakannya, Gito pergi lagi.
"Tadi ia disusul kawannya. Ada perlu?" ujar ayah Gito tanpa curiga
karena kedua petugas tersebut tidak berseragam
"Anu, Pak. Saya mau minta tolong pada Mas Gito untuk tukar uang ribuan
baru. Kami butuh uang receh untuk hajatan."
"Saya rasa uang barunya sudah habis dibelanjakan, sebagian pun sudah
ditukar oleh teman-temannya," sahut si empunya rumah.
"Sayang, ya, padahal saya perlu sekali. Tapi, tolonglah, Pak, di mana
saya bisa mendapatkan uang baru seperti Mas Gito?" bujuk Sersan Tehan.
"Wah, saya tidak tahu persis, Nak. Mungkin, ya dari teman-teman
kumpulnya."
Teman kumpul? Benak kedua petugas itu dengan cepat menyimpulkan, pasti yang
dimaksud adalah teman "berjudi".
"Kalau begitu, mungkin kami bisa menemui Mas Gito di tempat
kumpul-kumpul dengan teman lain. Kebetulan kami juga senang 'main', siapa
tahu nanti bisa menang."
"Em ... coba saja ke Gang Sembilan, rumah di belakang warung cat
hijau," kata orang tua itu ramah. Setelah berpamitan, mereka langsung
menuju rumah yang dimaksud dan berpura-pura ingin ikut berjudi.
Di sanalah mereka bertemu Gito. Berkat kepandaian para "detektif"
itu, Gito terpancing menuturkan bahwa uang lembaran barunya didapat dari
Slamet. Namun, sejak beberapa hari terakhir Slamet tidak pernah muncul lagi
di sana.
"Katanya, ia baru menang dari penjudi kakap asal Jakarta, ia banyak
uang sekarang. Selain itu ia susah dicari. Mungkin ia sudah menjadi penjudi
besar, entah di mana. Yang jelas, ia tidak mau lagi main judi kecil-kecilan
di kampung seperti ini," tutur Gito.
Sementara itu di kantornya (Kapten) Roy Cahyadi menerima laporan dari
seorang anak buahnya. Ada seorang tukang kunci kawakan mengaku, pernah
diminta seorang anak lelaki untuk menduplikat anak kunci dengan contoh yang
berbentuk aneh. Merasa kesulitan, ahli kunci itu menolak. Anak itu, katanya
lagi, disuruh seorang pegawai kantor pos.
Baru saja Kapolsek Roy Cahyadi menyelesaikan catatan itu, seorang petugas
piket melapor tentang penemuan sesosok mayat di Bengawan Solo.
Himawan beserta Tehan yang baru kembali di kantor, diajak serta meluncur ke
tempat ditemukannya mayat. Sersan Tehan dan Lettu Himawan terkejut begitu
melihat mayat itu, yang ternyata adalah Supeno, sang satpam kantor pos.
Saat itu air sungai besar, bahkan hampir meluap. Dengan cepat orang menduga,
kematian itu kecelakaan akibat derasnya arus sungai. Tetapi menurut polisi,
mayat harus diperiksa dulu oleh dokter yang berwenang untuk diketahui sebab
kematiannya. Benar, dokter menemukan tanda-tanda bahwa kematian Supeno
disebabkan oleh tindak penganiayaan.
Diduga sebelum diceburkan ke sungai, korban telah tewas. Himawan curiga,
kematian Supeno pasti berhubungan dengan pembobolan di kantor pos.
Pencuri ceroboh
Beberapa hari kemudian Tehan mendapat kabar dari seorang informan, malam itu
Slamet pulang ke rumah istrinya. Untuk menangkap tersangka, tim buru sergap
Polsek segera menyusun skenario. (Kopral) Saham diminta menyamar sebagai
seorang wiraniaga yang menawarkan aneka pakaian anak-anak. Saham harus
datang ke rumah Slamet untuk menawarkan barang dan yang paling utama
memastikan keberadaan Slamet.
Di rumahnya Slamet baru selesai mandi. Saham sempat menguping pembicaraan
Slamet dengan istrinya. Saat itu tersangka Slamet sedang bersiap pergi lagi.
Kendati demikian Slamet sempat menemani istri dan anaknya memilih beberapa
pakaian yang kemudian mereka bayar. Tanpa membuang waktu Saham meraih
telepon genggamnya untuk menghubungi Tehan yang menunggu di warung di mulut
gang.
Siang itu, Tehan sengaja menanggalkan seragam agar bisa membuntuti Slamet
dengan leluasa. Mulai dari naik becak, turun di pangkalan angkutan kota,
terus naik minibus umum, Tehan menempel erat perjalanan Slamet.
Sementara di tempat lain Himawan langsung meneliti lembaran uang baru yang
diterima Saham dari hasil berjualan pakaian anak yang dibeli istri Slamet.
Selain itu Saham menyerahkan ban kertas bundel uang yang ia pungut di rumah
Slamet. Ciri-ciri ban bundel uang itu sesuai dengan penjelasan Minto.
Himawan tersenyum mendapati kecerobohan Slamet. Kini bersama beberapa anak
buahnya ia menunggu kontak dari Tehan.
Telepon yang ditunggunya baru berdering tiga jam kemudian. "Sekarang
saya ada di Tuban. Segera siapkan operasinya," terdengar suara Tehan
dari seberang. Tuban, kota yang terletak di jalur pantai utara Jawa terasa
panasnya bukan main di siang hari.
Turun di terminal Slamet berganti angkutan kota, selanjutnya masuk menuju
sebuah jalan desa dengan menumpang ojek. Di pangkalan ojek itulah Tehan
sempat kehilangan buruannya. Karena kehilangan jejak ia cemas kalau Slamet
lolos. Ini terjadi karena kebetulan saat itu semua pengojek sedang mendapat
penumpang. Terpaksa Tehan menunggu datangnya kembali pengojek itu. Sembari
menunggu ia sempat menghubungi mitranya untuk secepatnya menghubungi dan
berkoordinasi dengan kepolisian setempat.
Kini ia harus mengamati pengojek yang sebelumnya ditumpangi oleh Slamet.
Dengan demikian pengojek itu tahu di mana Slamet turun. Tehan masih ingat
benar ciri-ciri si pengojek. Motor bebeknya merah dengan helm pengemudi
bergaris-garis mencolok. Ketika pengojek yang ditunggu-tunggu muncul
kembali, Tehan bergegas minta diantar ke tempat Slamet diturunkan.
Pengojek berhenti di depan sebuah rumah megah berpagar tembok tinggi yang
kokoh. Di muka pintu Tehan disambut oleh seorang lelaki muda berbaju kaus
ketat dan rambut cepak. Untung lelaki itu tak menaruh curiga padanya, karena
Tehan mengaku sebagai teman Slamet dan bermaksud ikut 'bermain'.
Sebelum masuk ke ruangan dalam di rumah itu, Tehan terlebih dulu minta izin
ke kamar kecil. Untuk kesekian kali ia mengontak rekan-rekannya agar
siap-siap bertindak. Tidak jauh dari kamar mandi Tehan melihat keranjang
sampah yang berisi sejumlah robekan kertas yang mengusik ingin tahunya. Ia
sempat memungut beberapa. Benar, di antaranya adalah kertas ban uang dengan
label ban dan tulisan seperti yang dikatakan Minto. Barang itu merupakan
petunjuk penting.
Selanjutnya, dengan diantar oleh penjaga, Tehan memasuki ruangan khusus yang
di dalamnya banyak orang bermain kartu dengan asyik. Nampak tumpukan uang
yang jauh lebih banyak daripada kartu-kartu yang mereka mainkan. Di antara
tumpukan itu tampak gepokan uang yang masih dililit ban kertas baru.
Slamet kaget begitu disapa oleh Tehan, sebab ia tidak merasa mengenalnya.
Kegusaran Slamet tidak berlangsung lama. Pasalnya Himawan yang diiringi tim
buru sergap mendadak masuk ruangan dan segera menguasai keadaan.
Slamet Priyono diringkus tanpa sempat mengadakan perlawanan. Di kantor
polisi tersangka tidak bisa menyangkal semua perbuatannya, termasuk mengaku
telah menghabisi nyawa Supeno.
Menurut pengakuannya, Supeno terpaksa disingkirkan, sebab satpam itu sempat
terbangun dan mengenali dirinya ketika pembobolan uang itu berlangsung. Maka
Slamet mengancam Supeno agar tutup mulut bila ingin selamat. Belakangan ia
mendapat informasi dari seorang temannya bahwa Supeno berniat berterus
terang kepada pimpinannya. Rupanya Supeno takut kehilangan pekerjaan bila
kasus itu sampai terbongkar.
Kepada polisi Slamet membeberkan, tindak kejahatannya itu dilakukan bersama
dua orang temannya. Handoyo, salah seorang teman Slamet, disergap di rumah
perempuan simpanannya tanpa perlawanan berarti. Yang seorang lagi, pemuda
bernama Sugeng, sempat melawan ketika hendak ditangkap, sehingga petugas
terpaksa melepaskan tembakan ke kaki kanannya. |
|||||
|
|
|||||