|
|
Bulan April 2001
|
|
Berhenti
Bertikai
Bisakah uraian sederhana itu menggelitik nurani siapa pun yang kini bertikai
di bumi Indonesia, untuk segera menghentikan pertikaian mereka? Relasi
antarinsan elite yang buruk di sebuah negeri bermasyarakat paternalistik
bisa dianalogikan sebagai relasi buruk ayah-ibu di tengah sebuah keluarga.
Memang, relasi antarelite yang buruk dan sarat pertikaian tidak serta merta
mencerminkan kondisi serupa di tengah kehidupan sehari-hari warga masyarakat
luas. Elite yang bertikai tidak selalu diiringi rakyat yang bertikai pula.
Meskipun kejadian akhir-akhir ini bisa disebut sebagai contoh.
Yang jelas, pertikaian antarinsan elite menebarkan udara tak segar dalam
ruang relasi antarwarga masyarakat luas. Apalagi, kini nyaris setiap
pertikaian elite diliput dan diwartaluaskan media massa cetak maupun
elektronik. Udara tak segar itu bisa ikut mengkristalkan ketegangan dan
saling curiga, di tengah relasi antarwarga sehari-hari. Ketegangan, dan
saling curiga, terutama yang berlangsung lama, akan mengakibatkan sebagian
warga masyarakat tidak kerasan tinggal di negeri sendiri. Nah, rasa tidak
kerasan itu bisa merupakan titik awal dari proses besar disintegrasi yang
mengerikan.
Sebaliknya, jika elite bisa saling berangkulan dalam kerja sama wajar yang
adil, mereka akan merebakkan udara segar yang menggairahkan relasi
antarwarga masyarakat luas. Udara segar itu juga menenangkan, menenteramkan,
dan menjadikan warga masyarakat kerasan tinggal di bumi negeri sendiri.
Kondisi demikian mencerminkan apa yang sering disebut "persatuan dan
kesatuan" yang sejati, lawan dari percerai-beraian atau disintegrasi.
Maka sesungguhnya resep untuk mencegah disintegrasi cukup sederhana. Semua
orang tahu dan bisa mengucapkannya; berhenti bertikai! Jika setiap warga
Indonesia tidak menghendaki disintegrasi, mereka harus memelopori gerakan Berhenti
Bertikai. Tak ada alasan apa pun untuk menomorduakan tindakan menyetop
pertikaian. Persoalan lain memang bisa selalu ada. Namun soal-soal tersebut
nanti akan bisa diselesaikan setelah orang-orang berhenti bertikai.
Bagaimana mungkin berbagai persoalan besar dipecahkan dan diselesaikan di
tengah pengapnya udara pertikaian yang menyala-nyala dan membakar emosi?
Karena resep ini begitu sederhana, tentu akan mudah dimengerti dan bisa
diterima oleh mereka yang kini sedang bertikai. Namun bersediakah ayah dan
ibu yang barangkali merasa dirinya adalah penentu nasib keluarga, tokoh
senior di tengah keluarga, dan bahkan penguasa keluarga, menerima resep
sederhana yang dicetuskan anak-anak yang mereka pandang sebagai bocah
ingusan, bodoh, dan tak berdaya? Keangkuhan ayah dan ibu bisa meniadakan
kemungkinan mereka menerima resep yang kendati sederhana namun sungguh
benar, yang ditawarkan oleh anak-anak mereka yang polos, jujur, jernih, dan
sungguh cinta damai.
Hal serupa bisa juga terjadi dalam kalangan elite negeri ini. Media massa
banyak mewartaluaskan berbagai pernyataan insan-insan elite politisi yang
mengkhawatirkan terjadinya disintegrasi. Mereka juga menyampaikan
keprihatinan mengenai perkara-perkara penting lain yang memang hingga kini
belum terselesaikan. Mungkin, mereka mewakili suara nurani rakyat yang pada
prinsipnya tidak menghendaki terjadinya disintegrasi, dan sangat
mengharapkan penyelesaian persoalan-persoalan penting sesegera mungkin.
Ironisnya, insan-insan elite yang menyuarakan kekhawatiran atas
kecenderungan disintegrasi itu justru adalah orang-orang yang terlibat dalam
pertikaian-pertikaian, dari yang halus sampai yang kasar, semisal pertikaian
dengan sang presiden yang nyaris setiap hari merebak dalam bungkus kritik
yang tak henti-henti. Di tengah alam demokrasi, lontaran berbagai kritik
adalah sesuatu yang wajar. Namun ketika kritik berlangsung terus-menerus
tanpa pernah diselingi pujian serta dukungan atau encouragement, ia
tidak lagi bisa disebut wajar.
Pada perspektif ini muncul hal-hal yang lucu meski sulit membuat orang
tertawa. Betapa tidak? Para tokoh elite dengan entengnya meluncurkan
keprihatinan akan bahaya terjadinya disintegrasi, namun pada saat yang sama,
dengan cara mereka sendiri terus melancarkan pertikaian tak kunjung selesai
dalam bungkus kritik-kritik yang membanjir tanpa diselingi encouragement
sewajarnya.
Padahal setiap pertikaian punya andil dalam mewujudnyatakan udara tak segar
yang merusak relasi antarinsan. Setiap pertikaian punya kontribusi
merebaknya rasa tidak kerasan dalam jiwa banyak warga masyarakat, seperti
rasa tidak kerasan tinggal di rumah dalam jiwa anak-anak yang ayah dan
ibunya selalu bertikai.
Dengan demikian sesungguhnya insan-insan elite politisi itu mewujudkan suatu
medan relasi antarinsan yang paradoksal. Di satu sisi menyuarakan
keprihatinan atas kemungkinan terjadinya disintegrasi, di sisi lain
merebakkan pertikaian yang sesungguhnya selalu merupakan faktor dini
disintegrasi.
Ketika insan-insan bertikai, sangat sulit dibayangkan
bagaimana persoalan-persoalan bisa diselesaikan. Maka kini, sebelum para
insan elite menuntut penyelesaian persoalan, sudah seharusnya mereka
menghentikan pertikaian terlebih dulu. "Berhenti Bertikai!" Itulah
resep sederhana untuk mewujudnyatakan relasi sehat antarinsan. Mungkin resep
itu cuma muncul dari anak-anak ingusan. Jangan lupa, untuk memperbaiki
kualitas relasi antarinsan, ada kalanya orang mesti belajar pada anak-anak
ingusan. ( dr. Limas Sutanto, D.S.J., pengamat psikososial dari STFT
Widya Sasana, Malang. ) |
|||||
|
|
|||||