globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan April 2001

Telah Terbit Buku Kumpulan Artikel Kesehatan IV

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Berhenti Bertikai 

Dalam sebuah keluarga, ayah dan ibu yang berulangkali bertikai memang tidak otomatis menyebabkan anak-anak juga bertikai kronis. Meski demikian, pertikaian orangtua yang berlarut-larut akan menimbulkan suasana melelahkan, menegangkan, serta tidak menyenangkan di tengah keluarga. Suasana seperti itu, bisa mengakibatkan anak-anak tidak kerasan tinggal di rumah. Bisa jadi, anak-anak akan pergi dari rumah, bahkan pergi dalam waktu lama dan enggan kembali. Kondisi demikian bagaikan suatu disintegrasi keluarga, perceraiberaian anggota keluarga yang mungkin amat menyakitkan semuanya. Maka amat bijaksana jika ayah dan ibu yang selalu berseteru segera menghentikan pertikaian dan perseteruan mereka. Hanya ada satu ungkapan kunci yang menyembuhkan situasi demikian: berhenti bertikai!

Bisakah uraian sederhana itu menggelitik nurani siapa pun yang kini bertikai di bumi Indonesia, untuk segera menghentikan pertikaian mereka? Relasi antarinsan elite yang buruk di sebuah negeri bermasyarakat paternalistik bisa dianalogikan sebagai relasi buruk ayah-ibu di tengah sebuah keluarga. Memang, relasi antarelite yang buruk dan sarat pertikaian tidak serta merta mencerminkan kondisi serupa di tengah kehidupan sehari-hari warga masyarakat luas. Elite yang bertikai tidak selalu diiringi rakyat yang bertikai pula. Meskipun kejadian akhir-akhir ini bisa disebut sebagai contoh.

Yang jelas, pertikaian antarinsan elite menebarkan udara tak segar dalam ruang relasi antarwarga masyarakat luas. Apalagi, kini nyaris setiap pertikaian elite diliput dan diwartaluaskan media massa cetak maupun elektronik. Udara tak segar itu bisa ikut mengkristalkan ketegangan dan saling curiga, di tengah relasi antarwarga sehari-hari. Ketegangan, dan saling curiga, terutama yang berlangsung lama, akan mengakibatkan sebagian warga masyarakat tidak kerasan tinggal di negeri sendiri. Nah, rasa tidak kerasan itu bisa merupakan titik awal dari proses besar disintegrasi yang mengerikan.

Sebaliknya, jika elite bisa saling berangkulan dalam kerja sama wajar yang adil, mereka akan merebakkan udara segar yang menggairahkan relasi antarwarga masyarakat luas. Udara segar itu juga menenangkan, menenteramkan, dan menjadikan warga masyarakat kerasan tinggal di bumi negeri sendiri. Kondisi demikian mencerminkan apa yang sering disebut "persatuan dan kesatuan" yang sejati, lawan dari percerai-beraian atau disintegrasi.

Maka sesungguhnya resep untuk mencegah disintegrasi cukup sederhana. Semua orang tahu dan bisa mengucapkannya; berhenti bertikai! Jika setiap warga Indonesia tidak menghendaki disintegrasi, mereka harus memelopori gerakan Berhenti Bertikai. Tak ada alasan apa pun untuk menomorduakan tindakan menyetop pertikaian. Persoalan lain memang bisa selalu ada. Namun soal-soal tersebut nanti akan bisa diselesaikan setelah orang-orang berhenti bertikai. Bagaimana mungkin berbagai persoalan besar dipecahkan dan diselesaikan di tengah pengapnya udara pertikaian yang menyala-nyala dan membakar emosi?

Karena resep ini begitu sederhana, tentu akan mudah dimengerti dan bisa diterima oleh mereka yang kini sedang bertikai. Namun bersediakah ayah dan ibu yang barangkali merasa dirinya adalah penentu nasib keluarga, tokoh senior di tengah keluarga, dan bahkan penguasa keluarga, menerima resep sederhana yang dicetuskan anak-anak yang mereka pandang sebagai bocah ingusan, bodoh, dan tak berdaya? Keangkuhan ayah dan ibu bisa meniadakan kemungkinan mereka menerima resep yang kendati sederhana namun sungguh benar, yang ditawarkan oleh anak-anak mereka yang polos, jujur, jernih, dan sungguh cinta damai.

Hal serupa bisa juga terjadi dalam kalangan elite negeri ini. Media massa banyak mewartaluaskan berbagai pernyataan insan-insan elite politisi yang mengkhawatirkan terjadinya disintegrasi. Mereka juga menyampaikan keprihatinan mengenai perkara-perkara penting lain yang memang hingga kini belum terselesaikan. Mungkin, mereka mewakili suara nurani rakyat yang pada prinsipnya tidak menghendaki terjadinya disintegrasi, dan sangat mengharapkan penyelesaian persoalan-persoalan penting sesegera mungkin.

Ironisnya, insan-insan elite yang menyuarakan kekhawatiran atas kecenderungan disintegrasi itu justru adalah orang-orang yang terlibat dalam pertikaian-pertikaian, dari yang halus sampai yang kasar, semisal pertikaian dengan sang presiden yang nyaris setiap hari merebak dalam bungkus kritik yang tak henti-henti. Di tengah alam demokrasi, lontaran berbagai kritik adalah sesuatu yang wajar. Namun ketika kritik berlangsung terus-menerus tanpa pernah diselingi pujian serta dukungan atau encouragement, ia tidak lagi bisa disebut wajar.

Pada perspektif ini muncul hal-hal yang lucu meski sulit membuat orang tertawa. Betapa tidak? Para tokoh elite dengan entengnya meluncurkan keprihatinan akan bahaya terjadinya disintegrasi, namun pada saat yang sama, dengan cara mereka sendiri terus melancarkan pertikaian tak kunjung selesai dalam bungkus kritik-kritik yang membanjir tanpa diselingi encouragement sewajarnya.

Padahal setiap pertikaian punya andil dalam mewujudnyatakan udara tak segar yang merusak relasi antarinsan. Setiap pertikaian punya kontribusi merebaknya rasa tidak kerasan dalam jiwa banyak warga masyarakat, seperti rasa tidak kerasan tinggal di rumah dalam jiwa anak-anak yang ayah dan ibunya selalu bertikai.

Dengan demikian sesungguhnya insan-insan elite politisi itu mewujudkan suatu medan relasi antarinsan yang paradoksal. Di satu sisi menyuarakan keprihatinan atas kemungkinan terjadinya disintegrasi, di sisi lain merebakkan pertikaian yang sesungguhnya selalu merupakan faktor dini disintegrasi.

Ketika insan-insan bertikai, sangat sulit dibayangkan

bagaimana persoalan-persoalan bisa diselesaikan. Maka kini, sebelum para insan elite menuntut penyelesaian persoalan, sudah seharusnya mereka menghentikan pertikaian terlebih dulu. "Berhenti Bertikai!" Itulah resep sederhana untuk mewujudnyatakan relasi sehat antarinsan. Mungkin resep itu cuma muncul dari anak-anak ingusan. Jangan lupa, untuk memperbaiki kualitas relasi antarinsan, ada kalanya orang mesti belajar pada anak-anak ingusan. ( dr. Limas Sutanto, D.S.J., pengamat psikososial dari STFT Widya Sasana, Malang. )

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej