|
|
Bulan April 2001
|
|
Gus
Dur Boleh
Mengapa? Ternyata mereka bingung untuk membedakan antara Gus Dur dan
Abdurrahman Wahid. Menurut pemahaman mereka, selama setahun terakhir ini
Indonesia dipimpin oleh dua presiden, yakni Presiden Abdurrahman Wahid dan
Presiden Gus Dur. Mereka lebih senang bila Indonesia dipimpin oleh Presiden
Abdurrahman Wahid ketimbang "Presiden" Gus Dur. Tidak heran mereka
mengatakan, "Gus Dur boleh 'digusur' asal bukan Abdurrahman
Wahid."
Bagi masyarakat Kampung Genang, nama Abdurrahman Wahid sudah tidak asing
lagi. Mereka mengenal nama Abdurrahman Wahid sejak dulu, yakni ketika
menjadi Ketua PBNU, serta dari berbagai berita di media cetak. Sedangkan
nama Gus Dur baru mereka kenal selama setahun terakhir, sejak Gus Dur
menjadi Presiden.
Pemahaman itu muncul karena tradisi pemberian nama, khususnya nama
panggilan, di NTT agak berbeda dengan di Jawa. Di NTT, orang bernama
Abdurrahman Wahid akan dipanggil Abdul atau Rahman. Sedangkan nama belakang
- Wahid - tidak boleh menjadi nama panggilan. Jadi, nama panggilan bagi
orang NTT merupakan penggalan dari nama lengkap.
Masih ada nama panggilan lain yang membingungkan masyarakat NTT. Antara lain
Emha Ainun Najib alis Cak Nun, dan Nurcholis Majid atau Cak Nur.
Khusus panggilan Gus Dur, memang terasa aneh bagi masyarakat NTT
(Manggarai). Gus artinya usir, sedangkan Dur artinya tolak.
Gus Dur berarti diusir dan ditolak. Inilah alasan mengapa masyarakat NTT
tidak berkeberatan Gus Dur "digusur". Mereka lebih mencintai
Presiden Abdurrahman Wahid daripada "Presiden" Gus Dur. |
|||||