|
|
Bulan April 2001
|
|
MITOS-MITOS
YANG MENYELAMATKAN
Baru satu hari tinggal kami sudah diperkenalkan dengan pantangan-pantangan
yang tumbuh di desa itu. Pantangan pertama, dilarang membawa masuk ke desa
beberapa jenis kayu di hutan sekitar desa meskipun sebesar telunjuk.
Pantangan ini berlaku baik bagi warga desa maupun orang asing yang tinggal
di situ. Pantangan kedua, dilarang menyusun kayu bakar dalam keadaan basah.
Kalau dilanggar, seluruh desa akan terbakar.
Sebagai mahasiswa kami bertugas menghapus takhayul-takhayul macam itu. Akan
tetapi, setelah melihat-lihat Desa Tebat Langsat, kami berubah pikiran.
Mitos yang tumbuh di sanubari warga desa itu ternyata ada manfaatnya. Apa
itu?
Lokasi Desa Tebat Langsat berada persis di bawah bukit yang ditumbuhi
berbagai jenis pohon dan hutan bambu yang subur. Di bukit itu pula terdapat
sumber air yang berupa kolam cukup luas. Penduduk sekitar menyebutnya Tebat
Serian. Sumber air ini dipakai untuk mandi dan minum. Juga mengairi
kolam-kolam ikan dan sawah di Tebat Langsat. Nah, sebagian besar jenis kayu
yang masuk dalam pantangan pertama tadi berada di bukit itu. Sedangkan Desa
Tebat Langsat adalah akses ke bukit itu. Dengan begitu, pantangan pertama
tadi menyelamatkan hutan di atas bukit.
Pantangan kedua mengharuskan penduduk menggunakan kayu yang benar-benar
kering sebagai bahan bakar, sebelum disimpan dan disusun di bawah rumah
panggung mereka. Ini tentu mengerem penduduk untuk menebang kayu yang masih
hidup dan "legal" sebagai bahan kayu bakar mereka. Mereka hanya
mengambil kayu yang benar-benar kering. Padahal itu pun cukup sulit
mengingat daerah mereka adalah dataran tinggi yang dingin dan sering diguyur
hujan. Walaupun demikian, mereka bisa memperoleh di tempat lain.
Warga Tebat Langsat juga mengeramatkan Tebat Serian sehingga tak seorang pun
berani mengeksploitasi kolam itu. Sudah begitu, warga tidak boleh membuka
ladang di atas bukit. Bambu yang ada juga dilarang dijual. Kalau untuk
keperluan pribadi dan desa (dalam arti dipakai sendiri, bukan untuk menambah
kas keluarga atau kas desa) boleh-boleh saja.
Dengan pantangan seperti itu, Desa Tebat Langsat dan desa-desa sekitarnya
ternyata terhindar dari krisis air ketika musim kemarau tiba. Mereka juga
tidak akan kekurangan kayu bakar. Yang penting lagi, mereka terhindar dari
tanah longsor. Jadi, tidak ada alasan bagi kami untuk menghapus mitos-mitos
tadi.
Malah sebaliknya, ada baiknya mitos itu dipertahankan sampai masyarakat
betul-betul paham dengan masalah lingkungan. Seiring dengan peningkatan
pendidikan dan pemahaman akan lingkungan, mereka sadar bahwa mitos-mitos
yang selama ini mengandung ancaman mengerikan ternyata "berkah"
bagi kelangsungan hidup mereka selama ini. |
|||||