globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan April 2001

Telah Terbit Buku Kumpulan Artikel Kesehatan IV

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MITOS-MITOS YANG MENYELAMATKAN

Yang namanya mitos tentu tidak masuk di akal dalam pikiran sehat. Akan tetapi, di Indonesia masih banyak mitos yang ternyata cukup efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Salah satunya yang saya lihat ketika mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa Universitas Sriwijaya, tahun 1995, di Desa Tebat Langsat, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Desa itu cukup terpencil dan belum berlistrik. Padahal jalan aspal sudah masuk ke sana.

Baru satu hari tinggal kami sudah diperkenalkan dengan pantangan-pantangan yang tumbuh di desa itu. Pantangan pertama, dilarang membawa masuk ke desa beberapa jenis kayu di hutan sekitar desa meskipun sebesar telunjuk. Pantangan ini berlaku baik bagi warga desa maupun orang asing yang tinggal di situ. Pantangan kedua, dilarang menyusun kayu bakar dalam keadaan basah. Kalau dilanggar, seluruh desa akan terbakar.

Sebagai mahasiswa kami bertugas menghapus takhayul-takhayul macam itu. Akan tetapi, setelah melihat-lihat Desa Tebat Langsat, kami berubah pikiran. Mitos yang tumbuh di sanubari warga desa itu ternyata ada manfaatnya. Apa itu?

Lokasi Desa Tebat Langsat berada persis di bawah bukit yang ditumbuhi berbagai jenis pohon dan hutan bambu yang subur. Di bukit itu pula terdapat sumber air yang berupa kolam cukup luas. Penduduk sekitar menyebutnya Tebat Serian. Sumber air ini dipakai untuk mandi dan minum. Juga mengairi kolam-kolam ikan dan sawah di Tebat Langsat. Nah, sebagian besar jenis kayu yang masuk dalam pantangan pertama tadi berada di bukit itu. Sedangkan Desa Tebat Langsat adalah akses ke bukit itu. Dengan begitu, pantangan pertama tadi menyelamatkan hutan di atas bukit.

Pantangan kedua mengharuskan penduduk menggunakan kayu yang benar-benar kering sebagai bahan bakar, sebelum disimpan dan disusun di bawah rumah panggung mereka. Ini tentu mengerem penduduk untuk menebang kayu yang masih hidup dan "legal" sebagai bahan kayu bakar mereka. Mereka hanya mengambil kayu yang benar-benar kering. Padahal itu pun cukup sulit mengingat daerah mereka adalah dataran tinggi yang dingin dan sering diguyur hujan. Walaupun demikian, mereka bisa memperoleh di tempat lain.

Warga Tebat Langsat juga mengeramatkan Tebat Serian sehingga tak seorang pun berani mengeksploitasi kolam itu. Sudah begitu, warga tidak boleh membuka ladang di atas bukit. Bambu yang ada juga dilarang dijual. Kalau untuk keperluan pribadi dan desa (dalam arti dipakai sendiri, bukan untuk menambah kas keluarga atau kas desa) boleh-boleh saja.

Dengan pantangan seperti itu, Desa Tebat Langsat dan desa-desa sekitarnya ternyata terhindar dari krisis air ketika musim kemarau tiba. Mereka juga tidak akan kekurangan kayu bakar. Yang penting lagi, mereka terhindar dari tanah longsor. Jadi, tidak ada alasan bagi kami untuk menghapus mitos-mitos tadi.

Malah sebaliknya, ada baiknya mitos itu dipertahankan sampai masyarakat betul-betul paham dengan masalah lingkungan. Seiring dengan peningkatan pendidikan dan pemahaman akan lingkungan, mereka sadar bahwa mitos-mitos yang selama ini mengandung ancaman mengerikan ternyata "berkah" bagi kelangsungan hidup mereka selama ini. (Samsul Azwar, S.Pd.)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej