|
|
Bulan April 2001
|
|
MENGANGKUT IKAN HIDUP DENGAN SEKAM
Lazimnya,
orang mengangkut ikan hidup itu dengan air. Tetapi kini ada cara baru. Tanpa
air. Hanya dengan sekam padi.
Kalau tidak ada air mengalir, ya pakai air berhenti juga boleh, asal dialiri
udara dengan aerator seperti yang biasa dipakai untuk memelihara ikan hias
akuarium itu, agar mereka tidak megap-megap sesak napas.
Suruh pingsan
Proses pemberokan sudah dimulai sehari sebelum keberangkatan rombongan. Esok
harinya, pagi-pagi benar ikan-ikan yang sudah "suci" bersih itu
disuruh pingsan, dengan jalan dimasukkan ke dalam air es. Jadi tidak akan
meronta-ronta, menggelepar lagi sewaktu ditangani untuk persiapan
pengangkutan, wong sudah pingsan.
Sementara itu, disiapkan sekam padi yang sebelumnya juga sudah didinginkan
dalam air es, dan ditiriskan air kelebihannya. Maksudnya agar suhunya bisa
sama dinginnya dengan suhu ikan-ikan pingsan nanti. Jadi tidak akan menyerap
dan menurunkan suhu dingin dari ikan-ikan yang sudah digarap.
Setelah bergelimpangan pingsan semua, ikan-ikan dibungkus satu per satu
dengan kertas, agar insangnya tidak akan kemasukan sekam padi ketika mereka
disusun dalam kotak berisi "lautan" sekam.
Kotak pengangkut ini terbuat dari seng nirkarat atau aluminium yang dinding
gandanya diberi bahan penyekat. Jadi suhu dalam ruangan kotak dapat tahan
lama dingin terus, selama diangkut. Kotak jadi bertugas sebagai semacan
termos atau lemari es mini untuk mempertahankan bahan yang diangkut agar
tetap dingin.
Bungkusan ikan disusun dalam kotak ini, yang dasarnya diberi selapis tebal
sekam padi dingin lembap yang sudah selesai ditiriskan sebelumnya. Selesai
disusun, deretan ikan dibekali hancuran es dalam kantung plastik kecil tapi
banyak, agar suhunya tetap dingin. Semuanya kemudian ditimbuni selapis sekam
padi dingin yang lembap lagi, sebelum ditumpuki deretan ikan bungkus bersama
kantung es lagi. Begitu seterusnya, ikan disusun berselang-seling dengan
lapisan tebal sekam padi.
Selesai pengisian, kotak ditutup rapat dan dapat diangkut dengan kendaraan
bermotor ke tempat pedagang ikan eceran. Dibanting-banting juga tidak akan
mengganggu ikan hidup yang sudah dibuat setengah mati itu.
Siapa berminat?
Tiba di tempat penjaja eceran, bungkusan ikan hidup dalam kotak itu masih
"tidur". Mereka perlu dibangunkan, sebelum dapat dijajakan di
pasar konsumen. Untuk itu perlu disediakan ember plastik berisi air segar
yang dialiri udara dari aerator.
Pengaliran udara ini perlu, agar air senantiasa bergolak, dan
menggoyang-goyang ikan tidur nyenyak supaya lekas siuman kembali. Baru
sesudah tampak bugar, tidak loyo lagi, mereka dipindah ke ember lain berisi
air biasa yang segar, untuk dipajang di gerai los pasar ikan.
Cara ini lebih simpel kelihatannya daripada cara pengangkutan dengan air
dalam tangki truk pengangkut, seperti yang sejauh ini sudah biasa dilakukan.
Tetapi yang menyebalkan ialah, membungkus ikan pingsan itu satu per satu
dalam lembaran kertas, kemudian menyusun bungkusan ikan selapis demi selapis
dalam kotak berisi sekam. Dalam taraf eksperimen yang hanya menyangkut
beberapa ekor ikan saja, cara itu boleh jadi tidak bermasalah. Tetapi kalau
sudah berskala komersial, dan menyangkut beberapa puluh ekor ikan, berapa
lama yang diperlukan untuk membungkus ikan itu satu per satu dengan kertas?
Tak pelak lagi perlu tenaga kerja terampil yang tidak sedikit untuk mengemas
ikan secepat-secepatnya jangan sampai waktu-angkut jadi berkurang karena
habis terpakai untuk bungkus-bungkus.
Cara ini masih perlu percobaan dan pengembangan lebih lanjut, yang bertujuan
mengefisienkan proses penanganan ikan hidup, sehingga kalau diterapkan
besar-besaran dalam skala komersial, hasilnya masih oke.
Kita tunggu para peneliti yang berminat menyempurnakan proses membungkus
ikan pingsan (tapi hidup) dengan kertas itu, berikut perhitungan ongkos
untung ruginya dalam "studi banding" dengan cara konvensional
memakai truk tangki air yang diobok-obok dengan kompresor. (Slamet
Soeseno dan J.D.Palinggi) |
|||||