|
|
Bulan April 2001
|
|
Waktu
Seolah Berhenti di Kanal Inggris
Tampilnya kanal dalam sejarah Inggris tak terlepas dari ide gila Duke of
Bridgewater. Bangsawan yang baru berusia 22 tahun itu pada tahun 1758
mencanangkan pembangunan kanal untuk menghubungkan tambang batu baranya
dengan pemintalan benang di Manchester, sekitar 10 km jauhnya. Pelaksana
proyeknya James Brindley, manusia cekatan yang sangat terampil. Tanpa bekal
pendidikan formal, karena ilmu teknik sipil belum berkembang saat itu,
Brindley harus melakukan semuanya sendiri, dari survai lapangan, desain
struktur, sampai membangun. Semuanya dilakukan berbarengan, sambil jalan.
Desain Brindley kemudian menjadi pola yang diikuti kanal-kanal lain di
Inggris Tengah. Kanalnya selalu taat mengikuti kontur tanah. Ada yang cukup
lebar untuk dilewati kapal besar, tetapi belakangan demi penghematan ia
membangun kanal dengan lebar cuma 2,25 m. Kedalamannya tidak lebih dari 2,4
m. Desain perahu pun menyesuaikan diri. Dengan lebar sekitar 2 m, panjangnya
bisa mencapai 21 m. Konstruksi seperti ini memungkinkan perahu-perahu
panjang nan sempit tetap mampu mengangkut beban 30 ton, tanpa memerlukan air
yang dalam. Juga murah dan gampang pembuatannya.
Ketika selesai tiga tahun kemudian, kanal Brindley disambut hangat khalayak.
Namun kanal Wedgwood-lah, panjangnya 150 km dan diresmikan tahun 1777 (juga
dibangun oleh Brindley selama 11 tahun), yang menggerakkan banyak investor
untuk membangun kanal. Para pengusaha keramik, pabrik tenun, sampai cor besi
dan batu bata serta merta menyadari betapa penting makna kanal bagi bisnis
mereka. Otak bisnis mereka tak luput menghitung: daya angkut rakit kuda 15
kali lipat ketimbang kereta kuda biasa. Akibatnya, di awal 1790-an saja
lebih dari 50 kanal dibangun serentak!
Setelah era Brindley, perekonomian yang semakin membaik diimbuhi pengalaman
yang lebih baik, melahirkan kanal-kanal yang lebih canggih, baik dari segi
struktur maupun arsitektur. Salah satunya North Circular Aqueduct. Mengapung
di kanal sempit, nun di ketinggian 30 m dari daratan, di atas jalan bebas
hambatan. Lebih ngeri lagi, ketinggian air hanya 15 cm di bawah permukaan
jalur hela di sisinya. Jalur ini dulu digunakan untuk kuda penghela perahu.
Zaman keemasan kanal menyurut saat alat transportasi yang lebih canggih
mulai dikenal. Di pertengahan abad XIX, orang Inggris jatuh cinta berat pada
kereta api. Orang-orang perahu, masyarakat yang tinggal bersama keluarganya
di atas perahu, semakin tersisih, dipandang sebelah mata sebagai masyarakat
kumuh yang terbelakang.
Namun, kini kenikmatan mengarungi kanal telah mengundang genre baru
orang-orang perahu. Sedikit banyak itu berkat Tom Rolt, yang sekitar tahun
1940-an menembus pedalaman Inggris dengan perahu motornya, menyusuri
kanal-kanal sampai sejauh 650 km. Rolt kemudian menuturkan kembali keindahan
dan keheningan Inggris yang tersembunyi dalam sebuah buku. Ia juga
menceritakan seni, budaya, dan bahasa unik orang-orang perahu. Berkat buku
itu, bangkitlah semangat untuk memugar kanal-kanal Inggris yang
terbengkalai.
The boat people zaman sekarang datang dari pelbagai lapisan.
Kesadaran akan sejarah menggerakkan orang Inggris dari remaja sampai
pensiunan untuk memugar kanal-kanal tua. Kalau perlu, tak cuma desainnya,
campuran adukannya pun mereka usahakan sesuai aslinya.
Hasilnya, bahkan orang asing pun, misalnya Linda Anfuso dari New York, AS,
seorang dosen dan pelukis, melewatkan enam bulan dalam setahun di perahu
yang sekaligus studio, bersama suaminya, penulis dan kartunis. "Ada
ikatan komunitas di sini yang cuma dikenal oleh orang tua dan kakek nenek
kita," ujarnya.
Begitu naik ke atas perahu, kita terisap ke dunia lain, yang jauh lebih
sederhana dan nyaman. Kabin perahu modern biasanya hampir sepanjang perahu,
karena fungsi perahu sudah bergeser sebagai sarana berlibur. Semua
perlengkapan kehidupan modern tersedia, walau serba kecil. Ada ruang tamu,
ruang baca, dapur, kamar mandi, dan tentu kamar tidur.
Dengan kecepatan 6 km/jam, hampir tak terjadi ombak. Jendela yang berderet
menyajikan kilasan kehidupan di luar. Laki-laki sedang joging di tepi kanal,
kapal sandiwara boneka dengan 50 kursi penonton yang berpapasan pelan,
warung teh terapung. Dengung mesin begitu monoton, dunia berputar begitu
lambat, kita nyaris terhipnotis ke alam bawah sadar. |
|||||