|
|
Bulan April 2001
|
|
MEMETIK MANFAAT DARI KRITIK
Banyak
di antara kita menjadi jengkel hingga marah ketika dikritik. Kita menganggap
kritik sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan kita. Lebih gawat, ada
yang karena kritik menjadi kehilangan rasa percaya diri atau tak mampu
melakukan hal-hal dengan benar.
Sebenarnya itu semua tak perlu terjadi. Bila dicermati, kritik biasanya
datang dari orang-orang dekat, misalnya suami, istri, orang tua, atau teman.
Mereka umumnya memiliki kepedulian pada kita sehingga tidak akan
menjerumuskan. Kita mestinya juga sadar bahwa setiap orang pasti pernah
melakukan kesalahan. Adanya kritik justru mengurangi kemungkinan terjadinya
kesalahan lagi. Jika kesalahan sudah terjadi, kritik dapat membantu kita
untuk segera memperbaiki dampak buruk yang ditimbulkan dari kesalahan tadi.
Kritik pun bisa kita jadikan cermin. Dalam banyak hal, kita tidak bisa
melihat diri kita sendiri. Bahkan yang bersifat fisik, macam noda di wajah,
kerah baju terlipat, dan lain-lainnya. Sebaliknya orang lain bisa
melihatnya. Karena itu kita membutuhkan kritik. Bahkan, orang bijak pun
membutuhkan kritik untuk bisa terus menerus memperbaiki diri.
Ketika menerima kritik, kita perlu memperhatikan, apakah ada pujian atau
sisi positif yang disampaikan si pengritik. Kita tidak perlu memfokuskan
perhatian pada rasa sakit ketika dikritik. Sebaliknya, kita tidak usah
senang karena dipuji.
Agar kritik bermanfaat, kita tidak boleh puas dengan kritik bersifat umum.
Misalnya, kritik berupa ketidaksukaan terhadap sikap kita. Kita mesti
menanyakan tentang sikap yang dimaksudkannya, alasan tidak menyukai sikap
itu, dan tempat serta waktu kita bersikap seperti itu. Pertanyaan bukan
untuk menantang, tetapi untuk memastikan kritik itu memang patut atau cuma
reaksi berlebihan.
Ketika mendengarkan kritik, umumnya orang mempertahankan diri, khususnya
bila merasa kritik itu tidak adil. Tapi sikap ini justru akan memperburuk
keadaan, karena serangan kritik justru akan semakin gencar. Karenanya,
mula-mula kita coba menyetujui kritik itu, tak peduli kritik itu benar atau
salah. Dengan cara ini pengritik lebih tenang dan lebih terbuka
berkomunikasi. Dengan demikian hal yang dikritikkan dapat dibicarakan dengan
tenang.
Jika kritik disampaikan dengan kasar dan penuh rasa permusuhan, sebaiknya
kita pusatkan pada isinya, bukan cara penyampaiannya. Jika isinya
bermanfaat, jangan sia-siakan. Janganlah menolak suatu pengamatan yang
bagus, hanya karena penyampaiannya kurang menyenangkan!
Apabila kritik bersumber dari orang tua, guru, atasan, atau pejabat
berwenang, sebaiknya kita waspada. Tanpa disadari kita justru mengundang
koreksi pedas. Karenanya, jika atasan mengritik kelalaian kita, sebaiknya
kita segera menanggapinya dengan perbaikan. Bila tidak, bisa-bisa ia akan
mengambil langkah-langkah drastis yang lebih tidak kita harapkan.
Nah, kalau selama ini belum pernah mendapat kritik, sebaiknya
bersiap-siaplah menerimanya. Ketika kritik itu datang, lebih baik berusaha
mengambil manfaatnya ketimbang merasa terganggu atau sakit hati. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||