|
|
Bulan April 2001
|
|
JURUS AMAN DAN NYAMAN NAIK MOTOR
Ini
bukan jurus Kenny Robert Jr. ngebut di sirkuit balap motor GP 500.
Tapi kiat terampil mengendarai sepeda motor atau skuter agar aman dan nyaman
melaju di jalan raya dengan memahami lebih dulu bagaimana gaya gerak bekerja
pada kendaraan dua roda.
Anda yang memilih KDR tentu harus siap berbasah-basah jika hujan, dan
berpanas ria jika hari terang. Kelemahan lain, tidak bisa membawa banyak
barang maupun penumpang. Juga, seperti kata Michael Doohan, mantan jawara
dunia balap motor GP 500, naik motor lebih besar risikonya ketimbang mobil.
Untuk itu risiko yang ada sebaiknya justru dipelajari dan diketahui cara
mencegahnya. Cara belajar terbaik tentu dengan terus mencoba menemukan
teknik yang sesuai dan meningkatkan "jam terbang" di atas sadel
KDR. Namun, pengalaman saja belum cukup. Perlu diikuti penguasaan sebanyak
mungkin informasi tentang rambu-rambu lalu lintas, pemahaman kondisi
psikologis pengguna jalan, dan tentunya KDR Anda sendiri.
Memahami tiga gaya
Konfigurasi dua roda pada setiap KDR amat menentukan kenyamanan berkendara.
Kedua ban KDR akan bergesekan dengan permukaan jalan, menimbulkan apa yang
populer disebut daya cengkeram. Daya ini dipengaruhi tiga gaya yaitu gaya
gerak (driving force), gaya rem (braking force), dan gaya
belok (side force).
Gaya gerak dihasilkan oleh mesin dan diteruskan ke roda belakang melalui
rantai (beberapa KDR tidak pakai rantai tapi propeller shaft layaknya
mobil, namun ini tidak populer). Gaya inilah yang mendorong KDR bergerak ke
depan. Untuk memperlambat atau menghentikan laju gerakan KDR dimunculkanlah
gaya rem melalui pengereman (deselerasi). Sementara gaya belok muncul saat
KDR berbelok, dan hanya karena gaya inilah kendaraan bisa berubah arah. Gaya
ini juga penting dalam menjaga keseimbangan dan pengendalian KDR.
Ketika tuas gas KDR ditarik (akselerasi), seluruh gaya muncul di roda
belakang karena distribusi berat KDR cenderung bergeser ke belakang. Pada
akselerasi bertahap, besarnya driving force sekitar 67% dari total
gaya yang mampu diterima oleh ban. Pada akselerasi mendadak, ban atau roda
depan bisa terangkat akibat berat KDR sepenuhnya berpindah dan bertumpu pada
ban belakang. Sedikit side force (9%) akan timbul pada kedua ban, dan
sekitar 8,5% braking force muncul di ban depan akibat gesekan dengan
permukaan jalan.
Kecuali pada kasus akselerasi mendadak, tak akan ada masalah besar dialami
pengendara.
Ketika KDR dipacu pada kecepatan konstan, gaya-gaya yang timbul pada kedua
ban itu minimum. Ban depan menerima sekitar 3% gaya gerak dan 10% gaya
belok. Sementara pada ban belakang muncul 8% gaya belok dan 10% gaya gerak.
Sisa gaya yang dominan pada kedua ban disebut reserve force atau gaya
cadangan yang masih mampu diterima ban. Dalam kondisi demikian pengendara
merasakan gangguan minimum dari KDR sehingga KDR paling mudah dikendalikan.
Problem akibat gaya belok itu relatif kecil. Sejumlah besar gaya cadangan
masih mungkin diubah bentuknya menjadi gaya gerak untuk mempercepat laju
kendaraan. Daya cengkeram ban pada permukaan jalan yang baik memberi
keleluasaan bermanuver, pengendalian, mengelak secara mendadak (swerving),
dan pengereman mendadak (panic braking).
Masalah mulai timbul ketika KDR berbelok pada kecepatan tinggi karena ban
depan akan menerima 83% side force dan 5% braking force.
Sedangkan pada ban belakang akan timbul 75% side force dan 20% driving
force. Gaya cadangan amat kecil terutama di ban belakang sehingga kalau
ada gangguan sedikit saja, KDR bisa sulit dikendalikan karena misalnya ban
belakang ngepot bahkan tergelincir. Makanya, Anda harus berhati-hati
saat berbelok.
Ketika KDR direm, distribusi berat KDR bergerak ke depan sehingga rem depan
akan lebih efektif. Pada ban depan akan timbul 66% braking force dan
8% side force. Ban belakang lebih "sengsara" lagi karena braking
force memakan 80% porsi gaya yang bisa diterimanya di samping adanya side
force sekitar 9%.
Itulah mengapa, ketika direm, roda belakang lebih dulu terkunci atau selip (skid),
sebab gaya cadangan untuk mencengkeram permukaan jalan tinggal 5% saja.
Sudah begitu gaya belok yang 9% itu ikut memperparah keadaan karena ban
belakang tak hanya selip dan meluncur di atas permukaan jalan, tapi juga
sedikit ngepot ke kanan atau ke kiri. Ini mempersulit pengendalian
dan memperpanjang jarak pengereman sampai KDR berhenti.
Berkendara aman dan nyaman
Mengendarai KDR pada hakikatnya menyiasati tiga gaya yang timbul pada kedua
ban KDR agar selalu di bawah kapasitas yang dapat diterima ban. Artinya,
gaya cadangan harus selalu tersedia untuk mengantisipasi segala kemungkinan
yang ada selama berkendara. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar
tetap nyaman dan aman menjelajah jalanan dengan KDR Anda.
1. Sesuaikan tekanan ban dengan rekomendasi pabrik. Tekanan terlalu tinggi
membuat pengendaraan KDR kasar (bumping), daya cengkeram terhadap
jalan turun, dan ban cepat aus. Sebaliknya, tekanan ban terlalu rendah
menyebabkan pengendalian menjadi berat, boros BBM, dan menurunkan
kemampuannya KDR bermanuver. Penambahan tekanan 1 - 2 psi dianjurkan agar
tak perlu terlalu sering memompa ban.
2. Ketika berbelok, posisi bukaan gas harus tepat. Bukaan gas yang terlalu
tinggi menyebabkan ban belakang selip, bahkan tergelincir, akibat gaya
sentrifugal. Sebaliknya, jika sudut kemiringan KDR terlalu besar tanpa
dibarengi bukaan gas yang cukup, KDR bisa terjatuh.
3. Posisi gigi transmisi - terutama saat berbelok - mesti sesuai. Kecepatan
rendah pada posisi gigi tinggi menjadikan mesin seolah akan mati karena
putaran mesin tidak sinkron dengan putaran roda, KDR melonjak-lonjak,
kestabilan menurun, dan pengendaraan tidak nyaman.
4. Pengereman sebaiknya tidak hanya mengandalkan roda belakang, melainkan
keduanya agar jarak pengereman minimum. Jika hanya roda belakang yang direm,
walaupun sampai terkunci, KDR tetap meluncur dengan buntut KDR ngepot
ke samping. Sebaliknya, jika hanya menggunakan rem untuk roda depan, meski
tidak sampai terkunci, KDR bisa menukik (brake dive), bahkan
terjungkal ke depan.
5. Banyak pengendara KDR menekan tuas rem depan hanya dengan jari tengah dan
telunjuk agar dua jari lainnya dapat membuka gas segera setelah tuas rem
ditarik. Ini mempercepat akselerasi. Namun, ada pula yang menganjurkan
keempat jari menekan tuas rem demi pengontrolan pengereman yang lebih
mantap. Memang tidak ada petunjuk mana yang paling tepat, sebab semua itu
tergantung pada kebiasaan dan efektivitas yang dirasakan pengendara.
6. Penggunaan rem depan dengan tepat membutuhkan teknik yang harus dicoba
hingga menjadi kebiasaan spontan dan otomatis, sebab keadaan darurat bisa
muncul tiba-tiba tanpa memberi kesempatan berpikir. Banyak kasus KDR
terjungkal saat terjadi panic braking akibat pengereman roda depan
secara brutal.
7. Mesin KDR umumnya berisi hanya satu atau dua silinder sehingga harus
bekerja pada putaran mesin (rpm) tinggi yaitu 6.000 - 7.000 rpm. Karena rpm
ini lebih tinggi daripada rpm mobil, maka umur oli mesin KDR sangat
terbatas. Untuk menghindari kerusakan jangan sampai terlambat mengganti oli
mesin dengan jenis yang dianjurkan pabrik. Bahaya akibat keterlambatan
penggantian oli mesin KDR lebih tinggi daripada mobil.
8. Usahakan agar posisi KDR tidak menyusahkan mobil yang melaju di
belakangnya: jika hendak disusul, KDR terlalu ke tengah, atau jika tidak
disusul, KDR terlalu lambat jalannya. Terutama jangan dilakukan di jalan
sempit atau hanya terdiri dari dua jalur. Ini demi keselamatan semua pihak
karena jika terjadi manuver mendadak atau panic braking, pengendara
KDR-lah yang paling terancam bahaya. Soalnya, jumlah gaya yang mampu
diterima dua roda lebih sedikit daripada empat roda.
9. Selalu kenakan helm secara semestinya. Helm berfungsi melindungi kepala -
bagian tubuh paling peka, penting, sekaligus rawan. Sebaiknya, pilih helm
yang bulat polos, jangan yang berprofil atau ada tonjolan aksesorinya. Jika
terjadi kecelakaan, tonjolan yang ada pada helm berprofil dapat tersangkut
sesuatu di jalan (tidak menggelincir seperti helm bulat polos), yang justru
membahayakan leher pemakai. Sewaktu berkendara - terutama di malam hari -
kenakanlah jaket untuk menghindari serangan paru-paru basah. Warna-warna
terang mencolok amat dianjurkan bagi aksesori ini agar mudah terlihat oleh
pengemudi lain.
10. Jangan meletakkan barang bawaan (apalagi yang cukup berat) di atas
setang KDR karena hal ini mengganggu pengendalian. Sebaiknya, gantungkan
bawaan di kaitan yang biasanya ada di bagian dalam tebeng KDR. Lebih baik
lagi jika KDR dilengkapi kit bagasi atau jala pemuat barang yang bisa
dipasang di bagian belakang jok KDR. Lokasi penempatan bagasi di bagian
belakang juga memundurkan lokasi titik berat KRD sehingga karakter
pengendalian lebih nyaman.
11. Selalu yakinkan diri telah siap fisik dan mental untuk berkendara.
Percayalah bahwa dasar pengetahuan serta pengalaman Anda sudah cukup. Hal
ini menjadi sugesti dan menjadikan performa berkendara meningkat. Namun,
kepercayaan diri ini harus dibarengi dengan ketelitian dan pengecekan
berkala kondisi KDR Anda agar selalu ready to rock'n roll. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||