|
|
Bulan April 2001
|
|
Obat
Tanpa Rasa Bersalah
Obat yang masuk dalam tubuh - entah lewat cara oral, irup, suntik, atau
serap lewat pori-pori kulit - akan melalui beberapa tahap sebelum mencapai
sasaran. Setelah diserap, protein menjemput dan mengantarkan obat ke dalam
suatu sel, misal sel hati. Di sini mereka mengalami modifikasi oleh sejumlah
enzim metabolik (pembongkar-penyusun); bisa diaktifkan atau diurai. Pada
manusia bentuk enzim itu berlainan akibat perbedaan dari sono-nya
(genetik). Bisa jadi seseorang punya enzim sangat aktif jingkrak-jingkrak,
milik orang lain malah diam melempem.
Perbedaan genetik itu mempengaruhi perjalanan obat dalam tubuh yang meliputi
absorbsi, metabolik, pergerakan menuju molekul sasaran, perubahan struktur
yang diharapkan atau tidak diharapkan dari molekul sasaran, degradasi obat,
dan pengeluaran hasil degradasi itu. Maka, tidak aneh bila reaksi setiap
individu terhadap obat bisa berbeda-beda. The Journal of the American
Medical Association (1998) melaporkan, 2,2 juta pasien setiap tahun
mengalami ketidakcocokan obat, dan 106.000 di antaranya meninggal.
Penyembuhan lewat terapi gen
Soal ketidakcocokan obat itu sudah lama menjadi catatan medis. Akan tetapi,
studi sistematis dari sudut genetika baru dimulai tahun 1950-an. Sejumlah
penderita gangguan otot pernapasan pingsan setelah diberi succinylcholine
(suxamethonium). Tahun 1970-an, uji antihypertensive debrisoquine
menimbulkan penurunan tekanan darah dan pingsan pada 10% sukarelawan. Terapi
ionisasi terhadap penderita TBC menimbulkan gangguan saraf tepi bagi yang
sensitif terhadap obat yang menimbulkan neurotoksik.
Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, peneliti menggunakan teknologi
rekombinasi DNA untuk mengutak-atik bahan herediter (gen warisan ayah-ibu).
Pemahaman terhadap konstruksi molekul RNA untuk menyusun protein, enzim, dan
molekul biologi lainnya mendorong perusahaan memanfaatkannya untuk pembuatan
obat. Mencontoh fungsi reseptor serotonin pada otak, dihasilkanlah obat
Prozac sebagai perawatan depresi. Penelitian terhadap reseptor histamin
dalam perut menghasilkan obat Tagamet dan Zantac untuk mengendalikan asam
pencernaan.
Pada 1980, dengan pendekatan bioteknologi diperkenalkan insulin untuk
penderita diabetes. Insulin itu dibuat dari fermentasi bakteri intestin, E. coli,
setelah disisipi gen manusia pengkode insulin. Tahun 1991, 14 obat-obatan
dipakai untuk pengobatan dan sekitar 130 obat-obatan dan vaksin sedang dalam
taraf pengembangan dan uji coba.
Sejak 1990-an dihasilkan 500-an target biologis guna menjadi sasaran obat.
Tahun yang sama, Departmen Energi dan Institut Kesehatan Nasional Amerika
melakukan pemetaan seluruh gen manusia lewat Human Genome Project (HGP).
Dampaknya, beberapa tahun kemudian 500 target biologis lainnya menyusul.
Pada gilirannya, teknik molekuler modern merevolusi pemahaman patogenesis
pada kelainan gen tunggal, semisal fibrosis sistik (penyakit kelainan gen
yang menimbulkan infeksi paru-paru berulang dan progresif). Penemuan gen
penyebab penyakit pun membuka peluang ditemukannya penyembuhan penyakit
lewat terapi gen.
Sekitar 2.000 - 5.000 kelainan gen diduga menimbulkan penyakit. Banyak
penyakit timbul akibat interaksi antara gen dan lingkungan. Termasuk
penyakit-penyakit yang banyak diderita orang seperti diabetes, jantung
koroner, hipertensi, trombosis vena, arthritis, dan kanker. Dalam banyak
kejadian, belum jelas benar berapa banyak gen terlibat, tetapi kemajuan
analisis genom dapat menjelaskan persoalan itu.
Diharapkan, HGP akan selesai pada tahun 2003. Sebelum itu, meskipun genom
manusia belum seluruhnya dipetakan, peneliti akademis maupun industri sudah
mulai membandingkan beragam variasi informasi. Datanya selain akan
memperlihatkan catatan migrasi manusia, juga multigen yang berperan dalam
berbagai penyakit. Di sisi lain, melalui jalur ini perusahaan bioteknologi
dan farmasi dapat mengurangi reaksi yang tak diharapkan dari produknya.
Tentu saja, karena pengetahuan tentang perbedaan reaksi setiap individu
terhadap bahan obat dapat mengurangi biaya coba-coba dalam pemberian obat.
Obat tanpa rasa bersalah
Dari situlah kemudian lahir disiplin ilmu baru yang mengutamakan pengobatan
individual secara penuh, yaitu farmakogenomika dan farmakogenetika. Awalnya,
peneliti memusatkan perhatian pada farmakogenetika - pelbagai kandidat gen
tunggal yang bertanggung jawab menimbulkan bermacam-macamnya respons obat.
Namun pada akhirnya, penelitian ternyata melibatkan keseluruhan genom
manusia. Farmakogenomika kini adalah bidang penelitian "terpanas"
di dunia bioteknologi.
Farmakogenomika sendiri mempelajari bagaimana materi genetik yang diwariskan
seorang individu mempengaruhi reaksi tubuh terhadap obat. Istilah itu
sendiri sudah menunjukkan digunakannya perangkat genetik terdepan untuk
menjelaskan bagaimana variasi DNA pasien dapat meredam atau memperbesar efek
obat. Atau malah mengubahnya menjadi racun. Farmakogenomika menggabungkan
ilmu farmasi tradisional (biokimia) dengan pengetahuan terkini tentang gen,
protein, dan polimorfisme (variasi dari urutan DNA yang terdapat pada lebih
dari 1% populasi) nukleotida tunggal.
Untuk sekarang ini, jelaslah penelitian terhadap gen "penyebab"
berbagai penyakit masih jauh dari cukup. Reaksi polimorfisme berbagai obat
akibat reaksi berbagai gen dan produk masih harus dilengkapi.
Pada genom manusia, terkandung sekitar 10 juta polimorfisme nukleotida
tunggal yang lazim disebut single nucleotide polymorphisms (SNP).
Hanya 1%-nya mungkin memiliki konsekuensi fungsional. Dengan demikian
sekitar 100.000 posisi polimofisme akan mewakili variasi yang tidak terbatas
untuk semua orang. Hanya sedikit bagian dari SNP yang terbukti terkait
dengan reaksi terhadap obat. Tujuan penelitian selanjutnya adalah menemukan
varian yang paling penting.
Langkah berikutnya adalah mengembangkan perangkat pemeriksaan genetik pasien
dengan menggunakan penanda polimorfisme. Untuk tingkat ini, sebuah
perusahaan Amerika, Affymetrix, telah berhasil mengembangkan chip
yang dapat mendeteksi 3.000 SNP kurang dari 10 menit. Sementara perusahan
dari Prancis, Genset, menggunakan chip gen dengan 60.000 SNP.
Kecepatan kemajuan teknologi genomik ini harus diimbangi oleh kemajuan
teknologi komputer. Ini penting agar saat berkunjung ke dokter karena flu,
kita tidak mesti menunggu berbulan-bulan untuk pemeriksaan genom. Cukup
menunggu 10 menit, maka sudah ada jawaban obat apa yang cocok untuk gen
kita!
Namun di balik cerahnya kemungkinan manfaat teknologi genomik, masih ada
masalah yang membayangi, yaitu etika. Bagaimana tidak? Kemampuan meneliti
cacat genetik seseorang dapat menimbulkan diskriminasi di pelbagai bidang,
entah lapangan kerja, asuransi, atau lainnya. Bagaimana kalau pihak asuransi
menolak kita menjadi nasabah, hanya karena laporan pemeriksaan genom kita
memperlihatkan potensi kanker otak dua tahun lagi? Demikian juga rahasia
hasil pemeriksaan genom seseorang harus diatur dalam jaminan hukum yang
jelas, sehingga tidak disalahgunakan oleh pihak lain.
Lalu masih ada lagi yang menantikan pengaturan yang jelas. Hak dan kewajiban
produsen, penjual, pengguna obat, dan praktisi medis harus jelas.
Konsekuensinya, malpraktik akan semakin terancam dan tuntutan konsumen akan
semakin terakomodasi berkat ketepatan obat yang semakin terjamin dan
perawatan dengan pendekatan farmakogenomik yang minim kesalahan. Jelaslah,
sebelum ilmu baru ini diterapkan secara menyeluruh,
pelbagai isu moral dan etika perlu lebih dipahami dan dikaji dalam kerangka
hukum yang jelas.
Pertanyaan pengacara yang mewakili klaim pasien atau konsumen kepada dokter
yang dituntut pasti sama, "Dokter, apakah Anda tidak tahu bahwa obat
ini tidak efektif bagi gen saya? Sebenarnya saya 'kan tidak perlu
mengkonsumsi obat selama tiga hari seperti kemarin?" Inilah yang
dimaksud dengan "obat tanpa rasa bersalah". (Marzuki Umar
Sa’abah, mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta) Baca
juga: Waspadai Obat-obat ini |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||