globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan April 2001

Telah Terbit Buku Kumpulan Artikel Kesehatan IV

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Obat Tanpa Rasa Bersalah 

Sering terjadi, sakit kepala tak kunjung sembuh meski sudah dilawan dengan macam-macam obat. Ketika berobat ke dokter, penyakit tak juga hilang. Bahkan ada pasien meninggal gara-gara obat. Pendekatan pengobatan melalui ilmu farmakogenomika dan farmakogenetika dipercaya akan mengurangi, bahkan meniadakan, terjadinya kasus-kasus serupa. Bagaimana duduk perkaranya?

  Tubuh kita punya banyak enzim yang dapat berinteraksi dengan berbagai molekul, termasuk obat, yang berpotensi menjadi racun atau nutrien. Namun, setiap individu juga memiliki gen berbeda dan produk proteinnya menentukan kemampuan individu merespons obat.

Obat yang masuk dalam tubuh - entah lewat cara oral, irup, suntik, atau serap lewat pori-pori kulit - akan melalui beberapa tahap sebelum mencapai sasaran. Setelah diserap, protein menjemput dan mengantarkan obat ke dalam suatu sel, misal sel hati. Di sini mereka mengalami modifikasi oleh sejumlah enzim metabolik (pembongkar-penyusun); bisa diaktifkan atau diurai. Pada manusia bentuk enzim itu berlainan akibat perbedaan dari sono-nya (genetik). Bisa jadi seseorang punya enzim sangat aktif jingkrak-jingkrak, milik orang lain malah diam melempem.

Perbedaan genetik itu mempengaruhi perjalanan obat dalam tubuh yang meliputi absorbsi, metabolik, pergerakan menuju molekul sasaran, perubahan struktur yang diharapkan atau tidak diharapkan dari molekul sasaran, degradasi obat, dan pengeluaran hasil degradasi itu. Maka, tidak aneh bila reaksi setiap individu terhadap obat bisa berbeda-beda. The Journal of the American Medical Association (1998) melaporkan, 2,2 juta pasien setiap tahun mengalami ketidakcocokan obat, dan 106.000 di antaranya meninggal.

Penyembuhan lewat terapi gen

Soal ketidakcocokan obat itu sudah lama menjadi catatan medis. Akan tetapi, studi sistematis dari sudut genetika baru dimulai tahun 1950-an. Sejumlah penderita gangguan otot pernapasan pingsan setelah diberi succinylcholine (suxamethonium). Tahun 1970-an, uji antihypertensive debrisoquine menimbulkan penurunan tekanan darah dan pingsan pada 10% sukarelawan. Terapi ionisasi terhadap penderita TBC menimbulkan gangguan saraf tepi bagi yang sensitif terhadap obat yang menimbulkan neurotoksik.

Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, peneliti menggunakan teknologi rekombinasi DNA untuk mengutak-atik bahan herediter (gen warisan ayah-ibu). Pemahaman terhadap konstruksi molekul RNA untuk menyusun protein, enzim, dan molekul biologi lainnya mendorong perusahaan memanfaatkannya untuk pembuatan obat. Mencontoh fungsi reseptor serotonin pada otak, dihasilkanlah obat Prozac sebagai perawatan depresi. Penelitian terhadap reseptor histamin dalam perut menghasilkan obat Tagamet dan Zantac untuk mengendalikan asam pencernaan.

Pada 1980, dengan pendekatan bioteknologi diperkenalkan insulin untuk penderita diabetes. Insulin itu dibuat dari fermentasi bakteri intestin, E. coli, setelah disisipi gen manusia pengkode insulin. Tahun 1991, 14 obat-obatan dipakai untuk pengobatan dan sekitar 130 obat-obatan dan vaksin sedang dalam taraf pengembangan dan uji coba.

Sejak 1990-an dihasilkan 500-an target biologis guna menjadi sasaran obat. Tahun yang sama, Departmen Energi dan Institut Kesehatan Nasional Amerika melakukan pemetaan seluruh gen manusia lewat Human Genome Project (HGP). Dampaknya, beberapa tahun kemudian 500 target biologis lainnya menyusul.

Pada gilirannya, teknik molekuler modern merevolusi pemahaman patogenesis pada kelainan gen tunggal, semisal fibrosis sistik (penyakit kelainan gen yang menimbulkan infeksi paru-paru berulang dan progresif). Penemuan gen penyebab penyakit pun membuka peluang ditemukannya penyembuhan penyakit lewat terapi gen.

Sekitar 2.000 - 5.000 kelainan gen diduga menimbulkan penyakit. Banyak penyakit timbul akibat interaksi antara gen dan lingkungan. Termasuk penyakit-penyakit yang banyak diderita orang seperti diabetes, jantung koroner, hipertensi, trombosis vena, arthritis, dan kanker. Dalam banyak kejadian, belum jelas benar berapa banyak gen terlibat, tetapi kemajuan analisis genom dapat menjelaskan persoalan itu.

Diharapkan, HGP akan selesai pada tahun 2003. Sebelum itu, meskipun genom manusia belum seluruhnya dipetakan, peneliti akademis maupun industri sudah mulai membandingkan beragam variasi informasi. Datanya selain akan memperlihatkan catatan migrasi manusia, juga multigen yang berperan dalam berbagai penyakit. Di sisi lain, melalui jalur ini perusahaan bioteknologi dan farmasi dapat mengurangi reaksi yang tak diharapkan dari produknya. Tentu saja, karena pengetahuan tentang perbedaan reaksi setiap individu terhadap bahan obat dapat mengurangi biaya coba-coba dalam pemberian obat.

Obat tanpa rasa bersalah

Dari situlah kemudian lahir disiplin ilmu baru yang mengutamakan pengobatan individual secara penuh, yaitu farmakogenomika dan farmakogenetika. Awalnya, peneliti memusatkan perhatian pada farmakogenetika - pelbagai kandidat gen tunggal yang bertanggung jawab menimbulkan bermacam-macamnya respons obat. Namun pada akhirnya, penelitian ternyata melibatkan keseluruhan genom manusia. Farmakogenomika kini adalah bidang penelitian "terpanas" di dunia bioteknologi.

Farmakogenomika sendiri mempelajari bagaimana materi genetik yang diwariskan seorang individu mempengaruhi reaksi tubuh terhadap obat. Istilah itu sendiri sudah menunjukkan digunakannya perangkat genetik terdepan untuk menjelaskan bagaimana variasi DNA pasien dapat meredam atau memperbesar efek obat. Atau malah mengubahnya menjadi racun. Farmakogenomika menggabungkan ilmu farmasi tradisional (biokimia) dengan pengetahuan terkini tentang gen, protein, dan polimorfisme (variasi dari urutan DNA yang terdapat pada lebih dari 1% populasi) nukleotida tunggal.

Untuk sekarang ini, jelaslah penelitian terhadap gen "penyebab" berbagai penyakit masih jauh dari cukup. Reaksi polimorfisme berbagai obat akibat reaksi berbagai gen dan produk masih harus dilengkapi.

Pada genom manusia, terkandung sekitar 10 juta polimorfisme nukleotida tunggal yang lazim disebut single nucleotide polymorphisms (SNP). Hanya 1%-nya mungkin memiliki konsekuensi fungsional. Dengan demikian sekitar 100.000 posisi polimofisme akan mewakili variasi yang tidak terbatas untuk semua orang. Hanya sedikit bagian dari SNP yang terbukti terkait dengan reaksi terhadap obat. Tujuan penelitian selanjutnya adalah menemukan varian yang paling penting.

Langkah berikutnya adalah mengembangkan perangkat pemeriksaan genetik pasien dengan menggunakan penanda polimorfisme. Untuk tingkat ini, sebuah perusahaan Amerika, Affymetrix, telah berhasil mengembangkan chip yang dapat mendeteksi 3.000 SNP kurang dari 10 menit. Sementara perusahan dari Prancis, Genset, menggunakan chip gen dengan 60.000 SNP.

Kecepatan kemajuan teknologi genomik ini harus diimbangi oleh kemajuan teknologi komputer. Ini penting agar saat berkunjung ke dokter karena flu, kita tidak mesti menunggu berbulan-bulan untuk pemeriksaan genom. Cukup menunggu 10 menit, maka sudah ada jawaban obat apa yang cocok untuk gen kita!

Namun di balik cerahnya kemungkinan manfaat teknologi genomik, masih ada masalah yang membayangi, yaitu etika. Bagaimana tidak? Kemampuan meneliti cacat genetik seseorang dapat menimbulkan diskriminasi di pelbagai bidang, entah lapangan kerja, asuransi, atau lainnya. Bagaimana kalau pihak asuransi menolak kita menjadi nasabah, hanya karena laporan pemeriksaan genom kita memperlihatkan potensi kanker otak dua tahun lagi? Demikian juga rahasia hasil pemeriksaan genom seseorang harus diatur dalam jaminan hukum yang jelas, sehingga tidak disalahgunakan oleh pihak lain.

Lalu masih ada lagi yang menantikan pengaturan yang jelas. Hak dan kewajiban produsen, penjual, pengguna obat, dan praktisi medis harus jelas. Konsekuensinya, malpraktik akan semakin terancam dan tuntutan konsumen akan semakin terakomodasi berkat ketepatan obat yang semakin terjamin dan perawatan dengan pendekatan farmakogenomik yang minim kesalahan. Jelaslah, sebelum ilmu baru ini diterapkan secara menyeluruh,

pelbagai isu moral dan etika perlu lebih dipahami dan dikaji dalam kerangka hukum yang jelas.

Pertanyaan pengacara yang mewakili klaim pasien atau konsumen kepada dokter yang dituntut pasti sama, "Dokter, apakah Anda tidak tahu bahwa obat ini tidak efektif bagi gen saya? Sebenarnya saya 'kan tidak perlu mengkonsumsi obat selama tiga hari seperti kemarin?" Inilah yang dimaksud dengan "obat tanpa rasa bersalah". (Marzuki Umar Sa’abah, mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta)

Baca juga: Waspadai Obat-obat ini

Seribu Janji Farmakogenomika

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej