|
|
Bulan April 2001
|
|
Ke
Alam Mencari Obat Batuk & Flu
Lain lagi dengan orang Lindu (Sulawesi Tengah) yang menyarankan cukup dengan
minum air rebusan daun balimoa (Blumea balsamifera) untuk mengobati
batuk sekaligus asma. Sementara itu, orang Pabera Manera (Sumba, NTT)
menyatakan dengan meminum air perasan daun ripaita (Momordica charantia)
derita batuk yang disertai demam akan hilang.
Di Bali, orang Sembiran mengetahui bahwa daun intaran (Azadirachta indica)
berkhasiat untuk mengobati influenza. Caranya, tumbuk daun tadi bersama-sama
dengan bawang merah dan sedikit garam kemudian diperas. Air perasan ini
kemudian diminum sedangkan ampasnya dibalurkan pada badan si penderita.
Heboh PPA
Begitulah, untuk batuk saja alam kita menyodorkan banyak alternatif.
Masyarakat tradisional-lah yang dengan kearifannya memanfaatkan hal itu.
Sayang, semua itu seolah-olah dianggap peradaban kuno belaka. Lalu kita
sepertinya membiarkan pengetahuan beserta tetumbuhannya musnah ditelan masa
seiring menghilangnya para leluhur kita (dukun/tabib/kepala adat) di muka
bumi tercinta ini.
Dalam belitan krisis, semua orang terhenyak saat harga obat-obatan sintetis
modern melambung sangat tinggi. Ini ironi, karena negeri kita kaya
rempah-rempah dan bahan obat alami. Mengapa tak kita tengok orang-orang tua
dahulu yang memiliki kesehatan relatif lebih prima meski "hanya"
mengandalkan sumber-sumber obat alami, baik dari tumbuhan maupun hewan
anugerah Sang Pencipta?
Kini, obat-obat sintetis kimiawi satu-persatu berguguran di pasaran, seiring
dengan meningkatnya pengetahuan para ahli medis-farmasi terhadap efek
sampingan pemakaian obat tersebut. Juga dengan bertambahnya pengalaman
pribadi konsumen sendiri tentang timbulnya gejala-gejala penyakit lain
akibat mengonsumsi obat-obat kimiawi.
Salah satu kabar terbaru adalah adanya sinyalemen beberapa jenis obat batuk
dan flu yang telah beredar luas di pasaran dan telanjur digandrungi
masyarakat umum ternyata dalam jangka panjang dapat menyebabkan peningkatan
tekanan darah yang akhirnya bisa menyebabkan stroke! Hal ini akibat adanya
kandungan kimiawi yang di beberapa negara seperti Amerika dan Singapura
telah dilarang penggunaannya, yaitu phenyl propanolamine, PPA (tengok
rubrik Advis Medis Intisari Januari 2001 - Red.). Menyebarnya
informasi mengenai efek konsumsi obat-obat ber-PPA ini sedikit banyak
mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat terhadap keberadaan obat-obatan
sintetis kimiawi secara umum.
Para pencandu obat yang mengandung PPA ini mengalami dilema yang cukup
rumit, antara kenyataan ilmiah (scientific reality) dan pengalaman (experience).
Obat ini memang ampuh dan dijual bebas. Tetapi berbahaya!
Dari pekarangan rumah sampai pinggir jalan
Berbagai bukti menunjukkan bahwa sejak zaman purbakala umat manusia sanggup
membasmi berbagai penyakit dengan memanfaatkan obat-obatan yang
ditemukannya, terutama dalam dunia tumbuh-tumbuhan. Manusia purba memang
cenderung meniru perilaku binatang dalam hal pemanfaatan tumbuh-tumbuhan,
termasuk dalam hal pengobatan.
Bahkan sampai zaman modern ini pun mereka tetap memanfaatkan binatang dalam
menguji obat-obatan yang ditemukannya. Demikianlah, pengetahuan manusia
tentang berbagai tumbuhan dan khasiatnya, sebenarnya telah berkembang sangat
mengagumkan. Sayang sekali, pengetahuan tersebut sulit melewati masa
suksesi, karena jarang berbentuk tulisan yang bisa dibaca sepanjang zaman.
Bahkan pengetahuan lisan sekalipun, sebagian besar tidak terwariskan ke
generasi berikutnya. Ketidakpedulian generasi penerus menyumbang andil pula
dalam hilangnya pengetahuan tadi.
Tidaklah heran, sebagian besar pengetahuan pemanfaatan tumbuh-tumbuhan
sebagai bahan obat dan pengobatan alami boleh dikata telah musnah dari alam
pikiran manusia sekarang. Lihatlah betapa kaum muda kurang peduli terhadap
keberadaan tumbuhan obat di sekitarnya. Kaum tua pun hanya bisa menyaksikan
proses pemusnahan sumber-sumber bahan obat alami, yang tergilas berbagai
proyek modernisasi.
Kita patut bersyukur, seperti digambarkan pada awal tulisan ini, ternyata
masih tersisa berbagai pengetahuan pengobatan asli Indonesia di berbagai
pelosok negeri tercinta ini. Berdasarkan survei ke desa-desa terpencil di
kawasan Nusantara, desa-desa tersebut memiliki pengetahuan tentang bahan dan
cara pengobatan yang berbeda-beda, namun memiliki kesamaan dalam hal
kearifan pemanfaatan tetumbuhan.
Demikian halnya dengan penyakit batuk dan flu yang lazim menimpa sebagian
besar masyarakat Indonesia. Meskipun kedua penyakit ini boleh dikatakan
penyakit ringan, namun tetap membawa dampak yang berat kepada lingkungan
sekitar. Oleh karenanya di berbagai desa cukup banyak pengalaman pemanfaatan
tumbuh-tumbuhan sebagai obat kedua penyakit tersebut.
Flu atau sering pula disebut pilek, adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh virus. Biasanya terjadi pada saat-saat udara dingin, kehujanan, terlalu
banyak minum es, atau akibat kelelahan dan kurang tidur. Penyakit ini
sebenarnya tidak berbahaya, namun bila dibiarkan terus menerus tanpa diobati
akan sangat mengganggu aktivitas hidup si penderita maupun orang di
sekitarnya. Bahkan penyakit ini dapat menular dari satu orang ke orang lain
melalui udara bebas, sehingga bisa merepotkan banyak orang. Oleh karena itu
dianjurkan bagi orang yang terkena flu untuk sementara istirahat di rumah.
Biasanya penyakit ini mempunyai gejala-gejala seperti sakit kepala, rasa
nyeri pada otot dan sendi terutama punggung, berkeringat, perubahan suhu
badan tak menentu, terkadang menggigil, kurang nafsu makan, sering pula
disertai batuk dan sesak napas.
Dengan demikian gejala-gejala inilah yang harus segera dipulihkan kembali,
sehingga dalam pengobatan tentunya dicari obat yang mempunyai sifat-sifat
mengurangi nyeri (analgesik), penurun panas (antipiretik), penyegar badan
(roboransia), dan penambah nafsu makan (stomakik).
Bila saja manusia jeli dan yakin akan anugerah alam yang diberikan Tuhan
sang penciptanya, tentu tidak sulit untuk mencari obat-obat yang bersifat
demikian. Orang tempo dulu telah membuktikan. Banyak sekali jenis-jenis
tumbuhan di sekitar kita, baik di pekarangan rumah, tegalan, kebun, sawah,
atau pinggir jalan sekalipun, yang dapat dimanfaatkan. Beberapa di
antaranya:
- Analgesik: daun sembung (Blumea balsamifera), daun pepaya (Carica
papaya), bunga cengkeh (Syzygium aromaticum), rimpang kunyit (Curcuma
domestica), dan rimpang kencur (Kaempferia galanga).
- Antipiretik: buah kapulaga (Amomum cardamomum), buah belimbing
manis (Averrhoa carambola), buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi),
rimpang bangle (Zingiber cassumunar), daun cincau (Cyclea barbata)
dan daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata).
- Stomakik: daun seledri (Apium graveolens), daun sambiloto (Andrographis
paniculata), rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza), cincau (Cyclea
barbata), dan buah pare (Momordica charantia).
- Roboransia: daun bayam duri (Amaranthus spinosus), rimpang kencur (Kaempferia
galanga), buah pace (Morinda citrifolia), dan buah pare (Momordica
charantia).
Reaksi memang lama, tapi aman
Batuk adalah suatu penyakit refleks fisiologi pada keadaan sehat maupun
sakit yang berfungsi untuk mengeluarkan dan membersihkan saluran pernapasan
dari benda-benda asing, yang mengakibatkan tenggorokan terasa gatal.
Penyakit ini dapat diakibatkan gangguan cuaca seperti udara dingin, angin
kencang, hujan, atau perubahan suhu udara.
Bisa pula karena rangsangan mekanis seperti asap dan debu atau rangsangan
kimiawi seperti dahak, gas, dan bau. Selain itu radang saluran pernapasan
dan alergi juga merupakan penyebab. Batuk, juga terkadang merupakan salah
satu gejala akan timbulnya penyakit lain seperti asma, flu, dan TBC.
Untuk itu sangat perlu segera mengatasi batuk sebelum merembet ke penyakit
yang lebih parah lagi. Untuk mengatasinya, sebagai pertolongan pertama kita
bisa memanfaatkan jenis-jenis tumbuhan sekitar yang memiliki sifat-sifat
sebagai pembunuh kuman (antiseptik), antiradang (anti-inflamasi), peluruh
dahak (ekspektoran), penenang (hipnotik), dan mengurangi nyeri (analgesik).
Banyak tumbuh-tumbuhan di sekitar kita yang memiliki sifat tersebut bahkan
telah diramu dan dikemas dalam berbagai bentuk obat jadi, baik berupa sirup,
serbuk, pil, maupun tablet. Juga dalam berbagai kemasan jamu oleh
perusahaan-perusahaan obat tradisional. Beberapa tumbuhan yang memiliki
khasiat tersebut antara lain:
- Antiseptik: daun sembung (Blumea balsamifera), daun pepaya (Carica
papaya), ketumbar (Coriandum sativum), dan kulit batang delima (Punica
granatum).
- Anti-inflamasi: sambiloto (Andrographis paniculata), rimpang
temulawak (Curcuma xanthorrhiza), daun wungu (Grapthophyllum
pictum), dan buah kapulaga (Amomum cardamomum).
- Ekspektoran: daun saga (Abrus precatorius), umbi bawang merah (Allium
cepa), umbi bawang putih (Allium sativum), lidah buaya (Aloe
vera), dan buah kapulaga (Amomum cardamomum).
- Hipnotik: daun kangkung (Ipomoea aquatica), buah pala (Myristica
fragrans), dan daun wati (Piper methysticum).
- Analgesik: daun poko (Mentha arvensis) dan daun kelor (Moringa
oleifera).
Tentu saja dengan mengonsumsi tumbuh-tumbuhan tersebut di atas
penyembuhannya tidak secepat minum obat-obatan sintetis kimiawi. Perlu
tenggang waktu dan kesabaran serta rutinitas dan komposisi yang seimbang
dalam pemakaiannya. Namun demikian penggunaan obat secara tradisional dengan
ramuan tetumbuhan relatif lebih aman dari efek-efek timbulnya penyakit
lanjutan seperti yang terjadi pada obat-obatan kimiawi dewasa ini.
Jadi, mengapa tidak coba kembali ke alam? (R. Syamsul Hidayat, staf
peneliti Kebun Raya Bogor – LIPI) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||