globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan April 2001

Telah Terbit Buku Kumpulan Artikel Kesehatan IV

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Menguber Ilmu ke Mancanegara 

Melanjutkan sekolah ke luar negeri memang membawa kerepotan tersendiri. Apa saja yang harus dipersiapkan, dan apa kiatnya?

Pertama-tama yang menjadi persoalan serius tentu saja dana. Sekadar ilustrasi, di New York, AS, misalnya, belajar di universitas negeri biayanya minimal AS $ 8.000 (hampir Rp 80 juta)/tahun, tetapi di universitas swasta terkenal jumlah uang segitu "belum ke mana-mana", karena setahunnya bisa menghabiskan AS $ 20.000 (hampir Rp 200 juta), belum termasuk biaya hidup sekitar AS $ 1.500 (Rp 15 juta)/bulannya. Bandingkan dengan di Jakarta, mahasiswa jurusan Sistem Informatika sebuah universitas swasta terkenal cukup menyediakan Rp 10 - 12 juta/tahun untuk uang sekolah dan biaya hidup termasuk kos. Biaya di universitas negeri tentu jauh lebih rendah.

Lalu apa yang mendorong orang bersekolah ke luar negeri? Banyak cerita dramatis yang mengiringi kerusuhan rasial Mei 1998, termasuk munculnya arus deras siswa-siswa SD dan sekolah lanjutan yang hijrah ke negeri jiran untuk menuntut ilmu. Malaysia, yang tadinya tidak dilirik menjadi negara tujuan yang patut diperhitungkan, di samping Singapura.

Evi L. Sitorus, Senior Student Consultant pada Dian Educasindo, perusahaan jasa konsultasi pendidikan di luar negeri, serta-merta menyebut mutu sebagai faktor utama. Meski buru-buru ditambahkannya, "Bukan jaminan, bahwa lulusan luar negeri memiliki kemampuan dan kecerdasan lebih tinggi (ketimbang jebolan negeri awak), toh beberapa company di Indonesia memang masih overseas minded." Nah!

Itu berakibat pada, konon, standar gaji yang cenderung lebih tinggi. Atau tanyalah pada Baby Noviana, anak Jakarta yang lulusan Inggris.

"Saya belajar hidup mandiri, tidak tergantung pembantu. Fasilitas pendidikan di sana pun amat lengkap." Belum lagi nilai plus dalam hal memperlancar bahasa Inggris.

Bila dana sudah tersedia, kalau ia mahasiswa atau sudah lulus S-1, pertanyaan inilah yang harus diajukan kepada diri sendiri, "Berapa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-ku?". Kalau ia masih di sekolah lanjutan dan berminat melanjutkan ke AS, ya nilai rapor dan hasil ujiannya, juga skor Scholastic Admission Test (SAT)-nya. Bagi sarjana S-1 yang ingin melanjutkan ke sekolah bisnis di sana, berapa skor Graduate Management Aptitude Test (GMAT)-nya, atau Graduate Record Exam (GRE)-nya bila yang diminati S-2 bidang sains, atau Law School Admissions Test (LSAT) bila di bidang hukum.

Jangan kelamaan nganggur

Lain lagi ceritanya bila yang dituju negeri jiran di belahan selatan. Sekolah bisnis di Australia tidak membutuhkan GMAT, seperti sekolah-sekolah bisnis di AS dan Kanada. Namun, ungkap Suryani Budiawan dari Supersiswa.com, "Untuk mengambil Master di Australia, dibutuhkan pengalaman kerja, selain hasil tes TOEFL (Test of English as a Foreign Language) atau IELTS (International English Language Testing System)."

Bila dana tak ada batasan, sementara prestasi akademis oke punya, si peminat sebenarnya bisa mengarah ke universitas yang terbaik. Namun ada baiknya soal prestasi akademik ini dikonfirmasikan ke pihak ketiga. Masalahnya, benarkah kita sehebat yang kita kira? Seperti diungkapkan Suryani, "Yang repot kalau nilai-nilainya kurang, tapi ingin memasuki universitas-universitas terbaik." Suryani menunjuk pada berbeda-bedanya standar mutu sekolah, sehingga nilai yang top di suatu SMU, belum dapat dijadikan jaminan. Tergantung pada mutu sekolah itu.

Secara lebih gamblang diceritakan oleh Purwatini Adirinekso, juga Senior Student Consultant pada Dian Educasindo, usaha jasa yang tiap tahunnya membantu mengirimkan sekitar 300-an mahasiswa/pelajar ke luar negeri, "Jika data nilai sudah terkumpul, kami lalu memperkirakan kemungkinan dia bisa diterima di sekolah yang dituju."

Di sinilah faktor pengalaman berbicara. Bila estimasinya hanya 75%, si peminat akan dianjurkan untuk mendaftar juga pada sekolah sejenis dengan level setingkat lebih rendah, sebagai cadangan. "Ini penting, agar pada saat hari H ia mesti sekolah, jangan sampai batal sekolah," ujar Pur. Hindarilah menganggur terlalu lama, karena akan menimbulkan pertanyaan di kedutaan mengenai keseriusan niatnya untuk belajar pada saat permohonan visa diajukan.

Hendaknya diingat pula, berhasil melewati batas minimal skor yang diminta, belum berarti jaminan diterima. Di sekolah-sekolah top, bisa terjadi skor TOEFL minimal yang diminta 550, namun rata-rata yang diterima mencapai skor 580!

Menyusul dana dan prestasi akademis, perlu dipikirkan adakah preferensi lokasi? Kalau di Australia, apakah lebih suka memilih Perth (karena relatif dekat dengan Indonesia), ketimbang Sydney? Kalau di AS, apakah lebih suka daerah iklim sedang macam Kalifornia, atau di mana pun oke?

Bisa setahun sebelumnya

Setiap negara memberlakukan sistem pemeringkatan yang berbeda. Di Australia hampir semua universitas adalah universitas negeri. Program pendidikan yang ditawarkan rata-rata hampir sama. Pemeringkatannya dilakukan secara menyeluruh, tak cuma meliputi program studi, tapi juga mutu lulusannya, tingkat gaji lulusannya, jumlah profesornya, dsb. Penandanya berupa jumlah bintang.

Beda dengan di AS. Selain secara umum juga dilakukan pemeringkatan khusus terhadap program studi, sehingga bisa diketahui secara persis pada posisi mana program studi, misalnya Computer Science di Unviersitas X dalam peta nasional AS. Maka kalau Universitas X secara menyeluruh hanya menduduki posisi 50 besar nasional, belum tentu jurusan Computer Science-nya. Siapa tahu termasuk dalam 10 besar? Penentuan peringkat universitas dan program studi ini diperbarui setiap tahun. Asyiknya, pemeringkatan ini berlaku baik untuk sekolah negeri maupun swasta.

"Universitas negeri peringkatnya paling tidak menengah ke atas," ujar Pur menyelipkan tip. Maklumlah, 'kan menjadi tanggung jawab negara bagian untuk mengelolanya. Beda dengan universitas swasta. Ada yang masuk 10 besar, banyak pula yang tak jelas melata di papan bawah. Oleh karena itu, kalau mau sip pilihlah universitas negeri. Apalagi biayanya relatif lebih rendah ketimbang swasta. Di AS pemeringkatan ini menjadi krusial, karena jumlah universitasnya amat banyak.

Perbedaan peringkat ini akan membawa dampak luas. Pertama, terhadap jumlah dolar yang harus tersedot keluar dari kantong kita. Makin top, biayanya tentu makin tinggi. Kedua, waktu yang diperlukan untuk persiapan. Sekolah-sekolah 10 besar biasanya menentukan deadline pendaftaran satu tahun sebelum tahun ajaran yang dimaksud.

Karena perbedaan sistem di pelbagai negara itu, maka para peminat sekolah di mancanegara mesti berhati-hati. Jangan sampai telanjur membuang waktu, energi dan dana untuk mengikuti tes yang akhirnya tak diakui oleh sekolah yang dituju. Sebagai ilustrasi, hasil IELTS hanya berlaku untuk Inggris dan negara-negara persemakmuran. Sebaliknya, TOEFL berlaku untuk seluruh dunia.

Taktik menghemat waktu

Agar efisien, anak-anak SMU yang berniat melanjutkan sekolah ke luar negeri sudah mulai mencari informasi pada saat ia kelas 2. Untuk siswa-siswa di luar Jakarta, barangkali situs web Supersiswa.com yang usianya belum lagi setahun bisa membantu. Mengklaim diri sebagai portal pendidikan pertama di Indonesia, situs ini menawarkan beberapa layanan, salah satunya Global Study Assistance. Memanfaatkan jalur internet, konsultasi bisa berjalan secara on-line. Layanan yang dimulai sudah sejak 1997 ini sudah memberangkatkan sekitar 200 orang. Situs ini juga membantu memberikan informasi tentang bea siswa yang tersedia dari pelbagai negara (lihat boks "Kalau Dana Tak Mencukupi").

Sungguh, perencanaan yang matang bisa berarti keuntungan waktu dan penghematan sampai ribuan dolar! Coba kalau skenarionya begini. Menurut sistem pendidikan di Indonesia, seorang anak membutuhkan 16 tahun untuk mencapai S1 (SD: 6 tahun, SMP: 3 tahun, SMU: 3 tahun, Perguruan tinggi: 4 tahun). Si Upik yang orang tuanya pengusaha berbasis di Singapura, menempuh Primary (setara SD) di sana selama enam tahun, kemudian Secondary O Level (sekolah lanjutan jalur ekspres) hanya selama empat tahun.

Selulusnya dari sekolah lanjutan, Upik langsung menempuh tes SAT dengan hasil bagus sekali, sehingga ia segera bisa masuk ke universitas di AS. Empat tahun kemudian ia meraih S1, hanya dalam waktu 14 tahun. Bila setelah itu ia langsung melanjutkan ke tingkat S2, maka saat rekan-rekan seusianya di Indonesia baru menyelesaikan program S1, ia sudah menyabet gelar master.

Skenario macam ini tampaknya banyak digunakan oleh orang tua yang menginginkan anaknya mengejar waktu. Sudah tentu alokasi dana yang dibutuhkan lebih dari lumayan. Begitupun, meski dana tersedia, tidak semua negara mau menerima siswa anak-anak. Contohnya AS. Berdasarkan pengamatan Pur, anak usia SD atau SMP yang akan belajar di sana tanpa pendampingan orang tua, akan sulit sekali memperoleh visa.

Usia termuda yang bisa diterima untuk belajar sendiri di AS adalah SMU kelas 2, karena sudah memenuhi syarat untuk mengikuti Highschool Completion Degree, yaitu program college yang mata kuliahnya dapat ditransfer ke University, sambil menyelesaikan program SMU. Namun diakui, negara bagian yang menawarkan program semacam ini baru Washington State.

Singapura belakangan ini termasuk negara tujuan favorit bagi banyak orang tua di Indonesia yang anak-anaknya masih kecil. Di negara pulau itu SD kelas 3 adalah siswa internasional paling kecil yang diizinkan. Untuk anak-anak biasanya pihak sekolah bekerja sama dengan lembaga konsultan yang mengurusi kesejahteraan si anak, termasuk menyediakan tempat tinggal plus orang tua asuh.

Kalau ia berangkat atas bantuan konsultan pendidikan di sini, konsultan di Indonesia biasanya sudah bekerja sama dengan pihak konsultan di Singapura, sehingga anak itu di sana akan terurus dengan baik. Adanya perbedaan waktu tahun ajaran di Indonesia (Juli) dengan di Singapura (Januari) memberikan kesempatan bagi anak-anak ini untuk mengikuti kelas persiapan mulai Agustus. Hasilnya akan menentukan tiga pilihan sekolah mana saja yang pas bagi prestasinya. Maklumlah, di Singapura yang serba teratur, sekolah-sekolah jelas peringkatnya. Maka setelah mengikuti tes masuk pada bulan November, Januari ia sudah bisa mulai sekolah.

Yang mengagumkan, Malaysia pun kini menjadi negara tujuan belajar bagi sebagian orang Indonesia. Berbeda dengan Singapura, di Malaysia, orang Indonesia justru tidak memilih universitas negeri. Rupanya, bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar tidak menjadi poin menarik bagi mereka. Lebih-lebih universitas negeri di sana diutamakan bagi orang bumiputra. Maka International students di Malaysia masuk college, yang notabene hanya bersifat non degree. Namun karena mutunya, banyak yang memperoleh akreditasi dari sekolah-sekolah di luar negeri. Maka, meskipun belajar di Malaysia kita bisa memperoleh ijazah dari sebuah universitas lain di luar Malaysia, misalnya Australia.

Cabang universitas luar negeri pun ada di sana. Ambil contoh, Monash University Melbourne dan Curtin University Perth mempunyai cabang di negeri jiran itu.

Dengan segala informasi itu, kini terserah Anda, mau pilih mana? Pepatah lama "Kejarlah ilmu sampai ke Negeri Cina" sepertinya lebih tepat jika berbunyi "Kejarlah ilmu sampai ke ujung dunia ... asalkan dana tersedia." (Lily Wibisono)

Baca juga : Kalau Dana Tak Mencukupi

Yang Ini Bukan Untuk Anak Ingusan

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej