|
|
Bulan April 2001
|
|
Menguber
Ilmu ke Mancanegara
Lalu apa yang mendorong orang bersekolah ke luar negeri? Banyak cerita
dramatis yang mengiringi kerusuhan rasial Mei 1998, termasuk munculnya arus
deras siswa-siswa SD dan sekolah lanjutan yang hijrah ke negeri jiran untuk
menuntut ilmu. Malaysia, yang tadinya tidak dilirik menjadi negara tujuan
yang patut diperhitungkan, di samping Singapura.
Evi L. Sitorus, Senior Student Consultant pada Dian Educasindo, perusahaan
jasa konsultasi pendidikan di luar negeri, serta-merta menyebut mutu sebagai
faktor utama. Meski buru-buru ditambahkannya, "Bukan jaminan, bahwa
lulusan luar negeri memiliki kemampuan dan kecerdasan lebih tinggi
(ketimbang jebolan negeri awak), toh beberapa company di Indonesia
memang masih overseas minded." Nah!
Itu berakibat pada, konon, standar gaji yang cenderung lebih tinggi. Atau
tanyalah pada Baby Noviana, anak Jakarta yang lulusan Inggris.
"Saya belajar hidup mandiri, tidak tergantung pembantu. Fasilitas
pendidikan di sana pun amat lengkap." Belum lagi nilai plus dalam hal
memperlancar bahasa Inggris.
Bila dana sudah tersedia, kalau ia mahasiswa atau sudah lulus S-1,
pertanyaan inilah yang harus diajukan kepada diri sendiri, "Berapa
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-ku?". Kalau ia masih di sekolah
lanjutan dan berminat melanjutkan ke AS, ya nilai rapor dan hasil ujiannya,
juga skor Scholastic Admission Test (SAT)-nya. Bagi sarjana S-1 yang ingin
melanjutkan ke sekolah bisnis di sana, berapa skor Graduate Management
Aptitude Test (GMAT)-nya, atau Graduate Record Exam (GRE)-nya bila yang
diminati S-2 bidang sains, atau Law School Admissions Test (LSAT) bila di
bidang hukum.
Jangan kelamaan nganggur
Lain lagi ceritanya bila yang dituju negeri jiran di belahan selatan.
Sekolah bisnis di Australia tidak membutuhkan GMAT, seperti sekolah-sekolah
bisnis di AS dan Kanada. Namun, ungkap Suryani Budiawan dari Supersiswa.com,
"Untuk mengambil Master di Australia, dibutuhkan pengalaman kerja,
selain hasil tes TOEFL (Test of English as a Foreign Language) atau IELTS
(International English Language Testing System)."
Bila dana tak ada batasan, sementara prestasi akademis oke punya, si peminat
sebenarnya bisa mengarah ke universitas yang terbaik. Namun ada baiknya soal
prestasi akademik ini dikonfirmasikan ke pihak ketiga. Masalahnya, benarkah
kita sehebat yang kita kira? Seperti diungkapkan Suryani, "Yang repot
kalau nilai-nilainya kurang, tapi ingin memasuki universitas-universitas
terbaik." Suryani menunjuk pada berbeda-bedanya standar mutu sekolah,
sehingga nilai yang top di suatu SMU, belum dapat dijadikan jaminan.
Tergantung pada mutu sekolah itu.
Secara lebih gamblang diceritakan oleh Purwatini Adirinekso, juga Senior
Student Consultant pada Dian Educasindo, usaha jasa yang tiap tahunnya
membantu mengirimkan sekitar 300-an mahasiswa/pelajar ke luar negeri,
"Jika data nilai sudah terkumpul, kami lalu memperkirakan kemungkinan
dia bisa diterima di sekolah yang dituju."
Di sinilah faktor pengalaman berbicara. Bila estimasinya hanya 75%, si
peminat akan dianjurkan untuk mendaftar juga pada sekolah sejenis dengan
level setingkat lebih rendah, sebagai cadangan. "Ini penting, agar pada
saat hari H ia mesti sekolah, jangan sampai batal sekolah," ujar Pur.
Hindarilah menganggur terlalu lama, karena akan menimbulkan pertanyaan di
kedutaan mengenai keseriusan niatnya untuk belajar pada saat permohonan visa
diajukan.
Hendaknya diingat pula, berhasil melewati batas minimal skor yang diminta,
belum berarti jaminan diterima. Di sekolah-sekolah top, bisa terjadi skor
TOEFL minimal yang diminta 550, namun rata-rata yang diterima mencapai skor
580!
Menyusul dana dan prestasi akademis, perlu dipikirkan adakah preferensi
lokasi? Kalau di Australia, apakah lebih suka memilih Perth (karena relatif
dekat dengan Indonesia), ketimbang Sydney? Kalau di AS, apakah lebih suka
daerah iklim sedang macam Kalifornia, atau di mana pun oke?
Bisa setahun sebelumnya
Setiap negara memberlakukan sistem pemeringkatan yang berbeda. Di Australia
hampir semua universitas adalah universitas negeri. Program pendidikan yang
ditawarkan rata-rata hampir sama. Pemeringkatannya dilakukan secara
menyeluruh, tak cuma meliputi program studi, tapi juga mutu lulusannya,
tingkat gaji lulusannya, jumlah profesornya, dsb. Penandanya berupa jumlah
bintang.
Beda dengan di AS. Selain secara umum juga dilakukan pemeringkatan khusus
terhadap program studi, sehingga bisa diketahui secara persis pada posisi
mana program studi, misalnya Computer Science di Unviersitas X dalam peta
nasional AS. Maka kalau Universitas X secara menyeluruh hanya menduduki
posisi 50 besar nasional, belum tentu jurusan Computer Science-nya. Siapa
tahu termasuk dalam 10 besar? Penentuan peringkat universitas dan program
studi ini diperbarui setiap tahun. Asyiknya, pemeringkatan ini berlaku baik
untuk sekolah negeri maupun swasta.
"Universitas negeri peringkatnya paling tidak menengah ke atas,"
ujar Pur menyelipkan tip. Maklumlah, 'kan menjadi tanggung jawab negara
bagian untuk mengelolanya. Beda dengan universitas swasta. Ada yang masuk 10
besar, banyak pula yang tak jelas melata di papan bawah. Oleh karena itu,
kalau mau sip pilihlah universitas negeri. Apalagi biayanya relatif lebih
rendah ketimbang swasta. Di AS pemeringkatan ini menjadi krusial, karena
jumlah universitasnya amat banyak.
Perbedaan peringkat ini akan membawa dampak luas. Pertama, terhadap jumlah
dolar yang harus tersedot keluar dari kantong kita. Makin top, biayanya
tentu makin tinggi. Kedua, waktu yang diperlukan untuk persiapan.
Sekolah-sekolah 10 besar biasanya menentukan deadline pendaftaran
satu tahun sebelum tahun ajaran yang dimaksud.
Karena perbedaan sistem di pelbagai negara itu, maka para peminat sekolah di
mancanegara mesti berhati-hati. Jangan sampai telanjur membuang waktu,
energi dan dana untuk mengikuti tes yang akhirnya tak diakui oleh sekolah
yang dituju. Sebagai ilustrasi, hasil IELTS hanya berlaku untuk Inggris dan
negara-negara persemakmuran. Sebaliknya, TOEFL berlaku untuk seluruh dunia.
Taktik menghemat waktu
Agar efisien, anak-anak SMU yang berniat melanjutkan sekolah ke luar negeri
sudah mulai mencari informasi pada saat ia kelas 2. Untuk siswa-siswa di
luar Jakarta, barangkali situs web Supersiswa.com yang usianya belum
lagi setahun bisa membantu. Mengklaim diri sebagai portal pendidikan pertama
di Indonesia, situs ini menawarkan beberapa layanan, salah satunya Global
Study Assistance. Memanfaatkan jalur internet, konsultasi bisa berjalan
secara on-line. Layanan yang dimulai sudah sejak 1997 ini sudah
memberangkatkan sekitar 200 orang. Situs ini juga membantu memberikan
informasi tentang bea siswa yang tersedia dari pelbagai negara (lihat boks
"Kalau Dana Tak Mencukupi").
Sungguh, perencanaan yang matang bisa berarti keuntungan waktu dan
penghematan sampai ribuan dolar! Coba kalau skenarionya begini. Menurut
sistem pendidikan di Indonesia, seorang anak membutuhkan 16 tahun untuk
mencapai S1 (SD: 6 tahun, SMP: 3 tahun, SMU: 3 tahun, Perguruan tinggi: 4
tahun). Si Upik yang orang tuanya pengusaha berbasis di Singapura, menempuh
Primary (setara SD) di sana selama enam tahun, kemudian Secondary O Level
(sekolah lanjutan jalur ekspres) hanya selama empat tahun.
Selulusnya dari sekolah lanjutan, Upik langsung menempuh tes SAT dengan
hasil bagus sekali, sehingga ia segera bisa masuk ke universitas di AS.
Empat tahun kemudian ia meraih S1, hanya dalam waktu 14 tahun. Bila setelah
itu ia langsung melanjutkan ke tingkat S2, maka saat rekan-rekan seusianya
di Indonesia baru menyelesaikan program S1, ia sudah menyabet gelar master.
Skenario macam ini tampaknya banyak digunakan oleh orang tua yang
menginginkan anaknya mengejar waktu. Sudah tentu alokasi dana yang
dibutuhkan lebih dari lumayan. Begitupun, meski dana tersedia, tidak semua
negara mau menerima siswa anak-anak. Contohnya AS. Berdasarkan pengamatan
Pur, anak usia SD atau SMP yang akan belajar di sana tanpa pendampingan
orang tua, akan sulit sekali memperoleh visa.
Usia termuda yang bisa diterima untuk belajar sendiri di AS adalah SMU kelas
2, karena sudah memenuhi syarat untuk mengikuti Highschool Completion
Degree, yaitu program college yang mata kuliahnya dapat ditransfer ke
University, sambil menyelesaikan program SMU. Namun diakui, negara bagian
yang menawarkan program semacam ini baru Washington State.
Singapura belakangan ini termasuk negara tujuan favorit bagi banyak orang
tua di Indonesia yang anak-anaknya masih kecil. Di negara pulau itu SD kelas
3 adalah siswa internasional paling kecil yang diizinkan. Untuk anak-anak
biasanya pihak sekolah bekerja sama dengan lembaga konsultan yang mengurusi
kesejahteraan si anak, termasuk menyediakan tempat tinggal plus orang tua
asuh.
Kalau ia berangkat atas bantuan konsultan pendidikan di sini, konsultan di
Indonesia biasanya sudah bekerja sama dengan pihak konsultan di Singapura,
sehingga anak itu di sana akan terurus dengan baik. Adanya perbedaan waktu
tahun ajaran di Indonesia (Juli) dengan di Singapura (Januari) memberikan
kesempatan bagi anak-anak ini untuk mengikuti kelas persiapan mulai Agustus.
Hasilnya akan menentukan tiga pilihan sekolah mana saja yang pas bagi
prestasinya. Maklumlah, di Singapura yang serba teratur, sekolah-sekolah
jelas peringkatnya. Maka setelah mengikuti tes masuk pada bulan November,
Januari ia sudah bisa mulai sekolah.
Yang mengagumkan, Malaysia pun kini menjadi negara tujuan belajar bagi
sebagian orang Indonesia. Berbeda dengan Singapura, di Malaysia, orang
Indonesia justru tidak memilih universitas negeri. Rupanya, bahasa Melayu
sebagai bahasa pengantar tidak menjadi poin menarik bagi mereka. Lebih-lebih
universitas negeri di sana diutamakan bagi orang bumiputra. Maka International
students di Malaysia masuk college, yang notabene hanya bersifat non
degree. Namun karena mutunya, banyak yang memperoleh akreditasi dari
sekolah-sekolah di luar negeri. Maka, meskipun belajar di Malaysia kita bisa
memperoleh ijazah dari sebuah universitas lain di luar Malaysia, misalnya
Australia.
Cabang universitas luar negeri pun ada di sana. Ambil contoh, Monash
University Melbourne dan Curtin University Perth mempunyai cabang di negeri
jiran itu.
Dengan segala informasi itu, kini terserah Anda, mau pilih mana? Pepatah
lama "Kejarlah ilmu sampai ke Negeri Cina" sepertinya lebih tepat
jika berbunyi "Kejarlah ilmu sampai ke ujung dunia ... asalkan dana
tersedia." (Lily Wibisono)
Baca juga : Kalau Dana Tak Mencukupi
|
|||||