|
|
Bulan April 2001
|
|
ATASI STRES ANAK DENGAN
RELAKSASI
Penyebabnya sering kali kompleks dan sulit ditelusuri. Di antaranya
ketidakmampuan seorang anak mengerjakan sesuatu sebagaimana yang dituntut
orang tua atau guru. Tekanan persaingan di sekolah, kebutuhan untuk diterima
yang berlebihan (umpamanya, ingin disukai guru atau teman), atau gangguan
lingkungan atau fisik (seperti suara, polusi, kekurangan zat gizi, dan
sebagainya). Penyesuaian diri dengan orang-orang atau situasi baru (pindah
sekolah atau rumah misalnya) juga dapat membuat anak stres. Begitu pula
terlalu banyaknya kegiatan yang membuatnya sibuk, macam ekstrakulikuler,
les, hobi, dsb.
Gejala-gejala seorang anak mengalami stres pun sangat banyak. Gejala itu
meliputi sering menggigit kuku; sulit memusatkan perhatian; menggertakkan
gigi; sering menarik-narik telinga, rambut atau pakaian; prestasi belajar
menurun; gagap; makan atau tidur berlebihan; tidak bergairah, tidak sabar
dan terburu-buru; ketakutan dengan penyebab yang tidak masuk akal.
Gejala lainnya yang juga merupakan gejala stres anak:
ia sering mendapat kecelakaan; mencari perhatian; tegang atau was-was;
tertawa-tawa; kagetan; cengeng; kehilangan minat sekolah; cemas dan
gemetaran; serta menarik diri dari kegiatan harian. Perubahan suasana hati
tidak menentu; nyeri leher dan punggung; sulit makan atau tidur; mengompol;
mual-mual atau muntah-muntah; mimpi buruk; selalu menuntut pembenaran;
sering buang air kecil atau air besar; sering melamun; membenci sekolah;
atau kepala sering pusing.
Stres terlalu berat acap kali merupakan gabungan dari banyak faktor. Tetapi
tak seorang pun dapat menangani stres dengan cara yang sama, karena
kepribadian setiap anak berbeda. Contohnya, dalam suatu keluarga ada anak
yang mampu mengatasi jadwal padat dengan sedikit atau tanpa stres. Sementara
anak lainnya justru merasa terbebani oleh jadwal kegiatan yang biasa-biasa
saja.
Salah satu cara yang bisa dicoba adalah dengan teknik relaksasi. Penelitian
membuktikan, relaksasi fisik lebih efektif mengatasi stres atau
hiperaktivitas pada anak ketimbang cara lain. Penelitian dilakukan terhadap
15 anak hiperaktif. Mereka diminta mendengarkan kaset relaksasi progresif
dua kali seminggu selama enam minggu dan diajari teknik relaksasi. Hasilnya,
terjadi peningkatan nyata pada pengukuran tingkah laku dan psikologi pada
anak-anak tersebut.
Penggambaran di dalam pikiran dan relakasai otot
Cara pelatihan relaksasi ada beberapa macam. Yang tertua adalah hatha
yoga, suatu cara India kuno mengatur postur tubuh, atau asanas, untuk
memperbaiki kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Pada 1930, Edmund
Jacobsen mengambangkan relaksasi progresif, suatu metoda menurunkan
ketegangan dan akan merelakskan setiap otot tubuh. Pada saat yang sama, J.H.
Schultz menciptakan pelatihan autogenik, suatu proses imajinasi kehangatan,
kekuatan atau sensasi fisik lain di setiap bagian tubuh.
Dua teknik yang sangat mudah dan cocok diterapkan untuk anak-anak adalah
teknik penggambaran di dalam pikiran dan relaksasi otot. Untuk melakukan
teknik penggambaran di dalam pikiran, kita mesti membantu anak kita.
Caranya:
1. Menempatkan dirinya pada posisi yang nyaman dengan cara duduk di atas
kursi atau telentang/tiduran di atas karpet.
2. Mintalah anak untuk berpikir seakan-akan kedua kelopak mata semakin berat
dan pelahan-lahan tertutup.
3. Mintalah anak mengambil napas dalam-dalam melalui hidung, menahan selama
beberapa detik, kemudian mengembuskannya. Ketika ia mulai gelisah, mintalah
ia menarik napas pelan-pelan lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut.
Pengaturan napas ini dilakukan hingga sepuluh kali. Lalu mintalah ia
membayangkan yang indah-indah atau yang disukainya.
Ketika mengajari anak relaksasi, sangat membantu bila kita menggunakan
gambar untuk menjelaskan suatu latihan. Beberapa skenario ini dapat
membantu:
- Balon. Mintalah anak berpura-pura sebagai balon. Ambil napas panjang,
masukkan udara dalam tubuh sampai menjadi besar sekali seperti balon besar,
kemudian keluarkan seluruh udara secara pelahan hingga habis. Ulangi dua
kali atau lebih.
- Robot/boneka kain. Mintalah anak untuk berpura-pura menjadi robot dengan
membuat tubuh menjadi kaku seperti robot beberapa detik, kemudian lentur
seperti boneka kain beberapa detik. Ulangi beberapa kali.
- Kucing. Mintalah anak berpura-pura menjadi kucing. Mintalah ia meniru
posisi kucing di atas lantai, tegangkan tangan dan kakinya, punggung
melengkung, lalu mengeong. Ulangi dua kali atau lebih.
- Lift. Mintalah anak membayangkan sedang berada di dalam lift yang nyaman
dan merasakan lift turun perlahan. Anak akan merasakan lebih relaks.
- Botol madu. Mintalah anak untuk berdiri dan membayangkan anak bergerak di
dalam botol madu. Anak harus bergerak sangat pelan.
- Mintalah anak membayangkan seolah-olah dia berada di tempat indah, tenang,
dan damai. Misalnya di pantai, padang rumput atau kebun, dan gambarkanlah
situasi tersebut di dalam pikirannya. (Tempat tersebut harus tempat yang tak
asing bagi si anak). Lalu, mengirup aroma segar dan harum dari tempat itu
dan merasakan embusan angin sepoi-sepoi dan sinar matahari jatuh di
permukaan wajah dan tangannya.
4. Perhatikan seberapa baik anak Anda merasakan dan betapa dia merasa senang
berada di sana: berjalan-jalan, duduk, berbaring di tempat itu selama
beberapa saat.
5. Mintalah ia mulai berjalan menjauh dari tempat itu sembari menghitung
angka dari satu sampai lima.
6. Mintalah ia membuka mata, berdiri, rentangkan tangan mencoba menggapai
langit-langit. (Atau dia dapat menggunakan latihan yang lain, yaitu
peregangan).
Setelah "masa istirahat" yang pendek ini, anak kita akan lebih
santai dan siap melanjutkan kegiatan sehari-hari.
Untuk relaksasi otot, kita dapat meminta anak:
1. Menelentang dan mengambil posisi yang nyaman. Berpikir seakan-akan kedua
kelopak matanya semakin berat kemudian tertutup.
2. Mengambil napas dalam-dalam melalui hidung, menahan beberapa detik,
kemudian mengembuskannya. Biarkan segala ketegangan di dalam otot-otot
terembus keluar dengan udara lama dari dalam tubuhnya.
3. Mengangkat kaki kanan dan meregangkan otot-ototnya. Merasakan semua otot
mengencang sampai kaki terasa lelah. Meletakkan kaki dan mengistirahatkan
semua otot, merasakan otot-otot tersebut mengendur.
4. Mengulangi perintah dari nomor satu sampai empat untuk semua bagian
tubuhnya; kaki kiri, tangan kanan, perut, dada, kedua bahu, dan kepala.
5. Bersikap tenang dan bernapas secara biasa selama beberapa menit, kemudian
bangkit dan meneruskan kegiatan sehari-harinya.
Cobalah lakukan latihan ini bersama-sama anak. Setelah anak bisa, ia bisa
latihan sendiri atau modifikasikan latihannya. Semakin sering berlatih anak
akan sering menggunakannya. Ia pun akan mampu mengatasi stres yang
dialaminya dengan mudah. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||