globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan April 2001

Telah Terbit Buku Kumpulan Artikel Kesehatan IV

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

ATASI STRES ANAK DENGAN RELAKSASI  

Sebagai orang tua kita sering tidak tahu bahwa anak kita mengalami stres. Padahal, dari tingkah lakunya kita seharusnya sudah tahu ia stres. Begitu tahu, hanya dengan mengajarinya relaksasi, dia akan bisa mengatasinya sendiri.

Masa anak-anak menjadi masa paling membahagiakan. Segala kebutuhannya disediakan orang tua. Pokoknya, paling enak jadi anak-anak. Namun, semuanya berbalik bila ia mengalami stres. Celakanya, stres pada anak sering kali tidak diketahui orang tua sehingga terabaikan.

Penyebabnya sering kali kompleks dan sulit ditelusuri. Di antaranya ketidakmampuan seorang anak mengerjakan sesuatu sebagaimana yang dituntut orang tua atau guru. Tekanan persaingan di sekolah, kebutuhan untuk diterima yang berlebihan (umpamanya, ingin disukai guru atau teman), atau gangguan lingkungan atau fisik (seperti suara, polusi, kekurangan zat gizi, dan sebagainya). Penyesuaian diri dengan orang-orang atau situasi baru (pindah sekolah atau rumah misalnya) juga dapat membuat anak stres. Begitu pula terlalu banyaknya kegiatan yang membuatnya sibuk, macam ekstrakulikuler, les, hobi, dsb.

Gejala-gejala seorang anak mengalami stres pun sangat banyak. Gejala itu meliputi sering menggigit kuku; sulit memusatkan perhatian; menggertakkan gigi; sering menarik-narik telinga, rambut atau pakaian; prestasi belajar menurun; gagap; makan atau tidur berlebihan; tidak bergairah, tidak sabar dan terburu-buru; ketakutan dengan penyebab yang tidak masuk akal.

Gejala lainnya yang juga merupakan gejala stres anak:

ia sering mendapat kecelakaan; mencari perhatian; tegang atau was-was; tertawa-tawa; kagetan; cengeng; kehilangan minat sekolah; cemas dan gemetaran; serta menarik diri dari kegiatan harian. Perubahan suasana hati tidak menentu; nyeri leher dan punggung; sulit makan atau tidur; mengompol; mual-mual atau muntah-muntah; mimpi buruk; selalu menuntut pembenaran; sering buang air kecil atau air besar; sering melamun; membenci sekolah; atau kepala sering pusing.

Stres terlalu berat acap kali merupakan gabungan dari banyak faktor. Tetapi tak seorang pun dapat menangani stres dengan cara yang sama, karena kepribadian setiap anak berbeda. Contohnya, dalam suatu keluarga ada anak yang mampu mengatasi jadwal padat dengan sedikit atau tanpa stres. Sementara anak lainnya justru merasa terbebani oleh jadwal kegiatan yang biasa-biasa saja.

Salah satu cara yang bisa dicoba adalah dengan teknik relaksasi. Penelitian membuktikan, relaksasi fisik lebih efektif mengatasi stres atau hiperaktivitas pada anak ketimbang cara lain. Penelitian dilakukan terhadap 15 anak hiperaktif. Mereka diminta mendengarkan kaset relaksasi progresif dua kali seminggu selama enam minggu dan diajari teknik relaksasi. Hasilnya, terjadi peningkatan nyata pada pengukuran tingkah laku dan psikologi pada anak-anak tersebut.

Penggambaran di dalam pikiran dan relakasai otot

Cara pelatihan relaksasi ada beberapa macam. Yang tertua adalah hatha yoga, suatu cara India kuno mengatur postur tubuh, atau asanas, untuk memperbaiki kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Pada 1930, Edmund Jacobsen mengambangkan relaksasi progresif, suatu metoda menurunkan ketegangan dan akan merelakskan setiap otot tubuh. Pada saat yang sama, J.H. Schultz menciptakan pelatihan autogenik, suatu proses imajinasi kehangatan, kekuatan atau sensasi fisik lain di setiap bagian tubuh.

Dua teknik yang sangat mudah dan cocok diterapkan untuk anak-anak adalah teknik penggambaran di dalam pikiran dan relaksasi otot. Untuk melakukan teknik penggambaran di dalam pikiran, kita mesti membantu anak kita. Caranya:

1. Menempatkan dirinya pada posisi yang nyaman dengan cara duduk di atas kursi atau telentang/tiduran di atas karpet.

2. Mintalah anak untuk berpikir seakan-akan kedua kelopak mata semakin berat dan pelahan-lahan tertutup.

3. Mintalah anak mengambil napas dalam-dalam melalui hidung, menahan selama beberapa detik, kemudian mengembuskannya. Ketika ia mulai gelisah, mintalah ia menarik napas pelan-pelan lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut. Pengaturan napas ini dilakukan hingga sepuluh kali. Lalu mintalah ia membayangkan yang indah-indah atau yang disukainya.

Ketika mengajari anak relaksasi, sangat membantu bila kita menggunakan gambar untuk menjelaskan suatu latihan. Beberapa skenario ini dapat membantu:

- Balon. Mintalah anak berpura-pura sebagai balon. Ambil napas panjang, masukkan udara dalam tubuh sampai menjadi besar sekali seperti balon besar, kemudian keluarkan seluruh udara secara pelahan hingga habis. Ulangi dua kali atau lebih.

- Robot/boneka kain. Mintalah anak untuk berpura-pura menjadi robot dengan membuat tubuh menjadi kaku seperti robot beberapa detik, kemudian lentur seperti boneka kain beberapa detik. Ulangi beberapa kali.

- Kucing. Mintalah anak berpura-pura menjadi kucing. Mintalah ia meniru posisi kucing di atas lantai, tegangkan tangan dan kakinya, punggung melengkung, lalu mengeong. Ulangi dua kali atau lebih.

- Lift. Mintalah anak membayangkan sedang berada di dalam lift yang nyaman dan merasakan lift turun perlahan. Anak akan merasakan lebih relaks.

- Botol madu. Mintalah anak untuk berdiri dan membayangkan anak bergerak di dalam botol madu. Anak harus bergerak sangat pelan.

- Mintalah anak membayangkan seolah-olah dia berada di tempat indah, tenang, dan damai. Misalnya di pantai, padang rumput atau kebun, dan gambarkanlah situasi tersebut di dalam pikirannya. (Tempat tersebut harus tempat yang tak asing bagi si anak). Lalu, mengirup aroma segar dan harum dari tempat itu dan merasakan embusan angin sepoi-sepoi dan sinar matahari jatuh di permukaan wajah dan tangannya.

4. Perhatikan seberapa baik anak Anda merasakan dan betapa dia merasa senang berada di sana: berjalan-jalan, duduk, berbaring di tempat itu selama beberapa saat.

5. Mintalah ia mulai berjalan menjauh dari tempat itu sembari menghitung angka dari satu sampai lima.

6. Mintalah ia membuka mata, berdiri, rentangkan tangan mencoba menggapai langit-langit. (Atau dia dapat menggunakan latihan yang lain, yaitu peregangan).

Setelah "masa istirahat" yang pendek ini, anak kita akan lebih santai dan siap melanjutkan kegiatan sehari-hari.

Untuk relaksasi otot, kita dapat meminta anak:

1. Menelentang dan mengambil posisi yang nyaman. Berpikir seakan-akan kedua kelopak matanya semakin berat kemudian tertutup.

2. Mengambil napas dalam-dalam melalui hidung, menahan beberapa detik, kemudian mengembuskannya. Biarkan segala ketegangan di dalam otot-otot terembus keluar dengan udara lama dari dalam tubuhnya.

3. Mengangkat kaki kanan dan meregangkan otot-ototnya. Merasakan semua otot mengencang sampai kaki terasa lelah. Meletakkan kaki dan mengistirahatkan semua otot, merasakan otot-otot tersebut mengendur.

4. Mengulangi perintah dari nomor satu sampai empat untuk semua bagian tubuhnya; kaki kiri, tangan kanan, perut, dada, kedua bahu, dan kepala.

5. Bersikap tenang dan bernapas secara biasa selama beberapa menit, kemudian bangkit dan meneruskan kegiatan sehari-harinya.

Cobalah lakukan latihan ini bersama-sama anak. Setelah anak bisa, ia bisa latihan sendiri atau modifikasikan latihannya. Semakin sering berlatih anak akan sering menggunakannya. Ia pun akan mampu mengatasi stres yang dialaminya dengan mudah. (Femi Olivia)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej