|
|
Bulan April 2001
|
|
TELEPON UMUM UANG
KERTAS? MENGAPA TIDAK!
Telepon umum koin (TUC) memang banyak jumlahnya. Tapi banyak pula yang tidak
bisa dipakai. Entah karena ada koin yang menyelip, wadah koin sudah penuh,
sampai yang parah, gagangnya tidak ada karena sering dibenturkan ke kotak
telepon oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mungkin pacarnya di
seberang sana ngambek atau koinnya tertelan sementara telepon tidak
bisa juga berfungsi.
Jenis lain yang ada sampai saat ini adalah telepon umum kartu (TUK). Bagi
yang suka memakai telepon umum, jenis ini tentu amat praktis. Tinggal
membawa kartu telepon (bisa magnetik bisa chip), komunikasi bisa
dilakukan di mana saja asal ada TUK. Tentunya sepanjang kartu tadi dirawat
dengan baik. Misal tidak terlipat atau tidak kontak dengan magnet kartu
lain.
Bagaimana kalau perlu berkomunikasi via telepon umum sementara tidak
mendompeti kartu serta mengantongi uang logam? Nah, telepon umum uang kertas
(TUUK) ini semoga bisa menjadi salah satu solusi.
Pakai logika fuzzy
Dibanding dengan TUC, prinsip kerja TUUK ini agak lebih rumit. TUC bekerja
berdasarkan saklar (switch). Uang logam yang merupakan konduktor
menjadi saklar bagi telepon. Pada TUUK, tentu hal itu tidak bisa dilakukan.
Fungsi saklarnya diambil alih oleh sebuah program yang dikendalikan dengan
mikrokontroler.
Program ini bertindak pula sebagai pengenal uang kertas. Siapa tahu ada yang
iseng memasukkan kertas seukuran uang kertas yang dipakai. Kalau ada yang ngisengi
model begitu, telepon langsung memuntahkan kertas yang bukan uang itu.
Ibaratnya, sorry ya, kalau enggak punya uang kertas jangan menelepon
pakai telepon ini.
Uang kertas yang dipakai adalah pecahan Rp 500,-. Nah, uang ini dikenali
berdasarkan ukuran dan dimensinya. "Jadi ada dua yang dideteksi. Ukuran
uang dengan panjang dan lebarnya serta dimensi uang dengan gelap
terangnya," kata Gunaris. Mesin ini juga sudah disiapkan untuk
menangkal serangan uang palsu. "Tapi kayaknya jarang orang memalsukan
uang bernominal Rp 500,- ini," tambah mahasiswa Teknik Elektro angkatan
2000 ini. Iyalah, mana bisa balik modal dengan memalsu uang segitu.
Uang masuk melalui celah sempit yang langsung disambut oleh sebuah
"lidah" yang berjalan menggunakan motor stepper. Lebar uang
di-sensing oleh sensor yang ada di ujung kiri dan kanan dari uang
yang masuk. Sedangkan panjangnya dikenali melalui pendeteksian kapan uang
masuk dan berapa lama sensor mengenali ujungnya. Ini tes pertama. Jika
gagal, uang langsung dikeluarkan oleh mesin dengan putaran balik.
Jika berhasil, tes kedua sudah siap menanti. Image dari uang itu
diteliti. Apa betul ini uang? Di sinilah perlu pemikiran yang serius. Karena
jawaban itu nanti akan dibandingkan dengan kunci jawaban yang ada di dalam
mesin, sementara ini bukanlah tes tertutup (alias multiple choice)
namun tes terbuka (jawabannya bisa beragam). Maka dipakailah otak yang tidak
sekadar bisa bilang gelap dan terang saja. Otak ini harus bisa mengenali
gelap sekali, gelap, agak gelap, sampai ke terang sekali. Pokoknya mirip
pemikiran manusia normal.
Menurut Gunaris, ia tidak memakai sistem biner (benar dan salah) untuk
mengenali image uang. Kalau memakai sistem itu, nanti uang yang dipakai
harus sama persis dengan uang yang dijadikan referensi. Padahal uang kertas
‘kan mengalami banyak perlakuan sehingga gelap terangnya berubah.
"Makanya saya memakai sistem delapan byte. Jadi untuk menggambarkan
gelap terang itu bisa dari nol sampai 256," ujar pria yang akrab
dipanggil Gun ini. Cara ini biasa dikenal dengan sistem fuzzy logic.
Hasil dari sensing tadi lalu dibandingkan dengan kunci jawaban yang
sudah disimpan dalam mikrokontroler. Tentu ada toleransi karena ini tes
terbuka. Jadi, ada nilai minimal sehingga hasil sensing tadi dianggap
benar alias memenuhi kriteria. Gunaris memberi toleransi antara 60% dan 80%.
Sisa uang disimpan
Telepon pun sekarang siap dipakai. Nah, sekarang pemakai tinggal memencet
nomor telepon yang dituju. Bagi yang karena satu dan lain hal tidak bisa
menggunakan tangan untuk memencet angka keypad yang ada di kotak
telepon – misal karena sedang memegang payung, jangan khawatir. Gunaris
dengan senang hati menyediakan fasilitas lain: bisa melalui voice
commander atau via tone.
Dengan voice commander Anda tinggal menyebut nomor telepon yang akan
dikenali oleh sensor yang ada. Dari sini mikrokontroller akan
mengeksekusinya. Bagaimana dengan via tone? Anda sudah merekam nomor
telepon dalam media penyimpan semisal telepon seluler, tapi karena sesuatu
hal tidak ingin menggunakan ponsel itu. Tinggal dipanggil saja. Lalu
dekatkan pada gagang telepon. Tone-tone yang tersimpan tadi akan
dikenali sebagai angka-angka yang bisa mengakses nomor telepon.
Jika sudah tersambung, durasi waktu akan ditampilkan pada layar liquid
crystal display (LCD) sebesar 16 x 2 karakter. Permasalahannya, jika
ternyata pembicaraan hanya sebentar sementara sisa pulsa masih banyak,
bagaimana nasib sisa ini? Gunaris menawarkan dua solusi.
Pertama, memakai validator uang koin. Jadi, telepon itu juga bisa dipakai
menelepon dengan uang koin. Nanti pulsa sisa atau uang kembalian bisa
diambilkan dari uang koin tadi. Bagaimana kalau ternyata koinnya kurang atau
malah tidak ada? Cara kedua yang ditawarkan Gunaris bisa menyelesaikan semua
itu. "Yakni sisa pulsa disimpan dalam ingatan otak telepon tadi. Meski
masih ada sedikit sisa ruang, tapi bisa menampung 2.096 orang yang memiliki
piutang pulsa. Misal sisa uang Rp 400,-, nah telepon tadi akan mengeluarkan
nomor ID berdasarkan nomor urut serta meminta password yang bisa
diisi melalui keypad, voice commander, atau via tone,"
jelas Gunaris.
Hanya saja, jika menggunakan sisa ruang otak telepon tadi, maka pengguna
harus memakai telepon itu lagi. Sedikit tidak praktis sih. Nah, kalau ingin
bisa mengakses pulsa sisa di sembarang telepon sejenis, tentu sisa pulsa
tadi harus disimpan terpusat. Misalkan dalam sebuah mainframe uang
yang memiliki otak raksasa.
Hemat energi
Dalam menciptakan sistem telepon ini, Gunaris sudah sadar akan isu hemat
energi. Maka dipasanglah fasilitas saving energy. Fasilitas ini akan
mendeteksi apakah ada alangan (yang diinterpretasikan sebagai orang yang
akan memakai telepon) atau tidak pada jarak 70 cm di depan telepon. Jika ada
alangan pada jarak kurang dari 70 cm, mikrokontroller di-setting pada
kondisi siap digunakan dan display akan menyala. Sebaliknya, jika
tidak ada alangan pada jarak lebih dari 70 cm, telepon akan di-setting
ke kondisi mode stop dan display mati.
Fasilitas yang mempermudah lainnya adalah password dan self
powered. Password difungsikan jika telepon digunakan pada wartel,
perumahan, ataupun gardu jaga. Soalnya, telepon ini masih menyimpan basis
datanya di dalam sistemnya sendiri. Tidak di sentral seperti ATM. Dengan
begitu, perlu ada operator yang mengakses untuk memperbarui atau menambahkan
datanya. Misal ada perubahan nomor dari Telkom.
Data-data itu bisa berupa data aturan fuzzy, proses fuzzyfikasi
maupun defuzzyfikasi, data uang referensi, ataupun data suara referensi.
Awalnya data-data itu kosong ketika sistem dihidupkan. Tugas operatorlah
yang harus memberi proses pembelajaran sehingga telepon menjadi pintar.
Hasil pembelajaran tadi disimpan dalam memori sementara (RAM).
Sementara self powered dipergunakan untuk kemudahan penggunaan
telepon. Telepon ini dayanya bisa diambil dari kabel telepon atau
menggunakan batere. Jika kondisi dan lingkungan memungkinkan bisa juga
mempergunakan sel surya.
Rancangan Gunaris ini berhasil menjadi finalis Lomba Perancangan Aplikasi
Mikrokontroler 2000 – 2001 yang diselenggarakan oleh Motorola dan Himpunan
Mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung. Sayangnya, biaya
pengembangan telepon uang kertas ini menjadi kendala. Dukungan pihak
institut tidak seperti yang diharapkannya. Harap maklum, selama ini Gunaris
merogoh kocek sendiri untuk menciptakan telepon uang kertas ini. "Sudah
habis sekitar Rp 2 juta," tambahnya. Untuk software baginya tak
masalah, sebab relatif tidak mengeluarkan uang. Hardwarenya itu yang
menjadi kendala.
Hallo, apa PT Telkom Tbk. mau membantu? (Ysd Agus Surono) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||