|
|
Bulan April 2001
|
|
OLAHRAGA TENIS, JANGAN LUPA LATIHAN FISIK Olahraga tenis ternyata membutuhkan kondisi fisik yang kuat. Tanpa kesiapan yang memadai, cedera mudah terjadi. Kemampuan teknik pun kurang tertunjang. Bahkan, latihan bisa menjadi bumerang.
Di Indonesia tenis termasuk olahraga populer.
Bahkan, merupakan salah satu cabang olahraga yang bisa mengangkat nama
negara dalam kancah olahraga dunia melalui Yayuk Basuki, yang pernah
mencapai peringkat ke-20-an dunia. Lagi pula, semua usia dapat melakukannya,
asal secara fisik memungkinkan. Manfaatnya pun cukup besar. Dari banyak
penelitian, diketahui, mereka yang melakukan latihan secara teratur, selain
tubuh yang bugar, tekanan darah, denyut nadi, dan hasil pemeriksaan EKG pada
jantung mereka juga lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah
melakukan latihan.
Sayangnya, banyak di antara pemain minim dalam pengetahuan soal bekal fisik
yang harus dipenuhi seorang pemain tenis. Akibatnya prestasinya kurang
berkembang.
Bila dikelompokkan, tenis termasuk kelompok olahraga keras. Cabang olahraga
yang dimainkan dua atau empat orang ini adalah aktivitas gerak – berhenti
– gerak – berhenti. Melihat aktivitas tersebut, mereka yang menderita
gangguan pada organ jantungnya tidak dianjurkan memainkan cabang olah raga
ini. Pasalnya, beban jantung pada olah raga ini cukup berat. Bahkan, tak
jarang denyut nadi pemain bisa melampaui denyut nadi maksimal.
Aktivitas tidak teratur dalam olah raga ini memerlukan energi fisik yang
besar. Pada waktu reli-reli panjang, rata-rata penggunaan kalorinya 1.700
kalori per jam. Ketika lari-lari untuk pukulan volley atau smash
dekat net butuh 4.000 kalori per jam. Saat sprint atau lari cepat
untuk mengamankan pertahanannya, perlu energi kurang lebih 9.000 kalori per
jam.
Kebutuhan fisiologis alias faali pemain, baik di lapangan berpermukaan
keras, gravel, aspal, rumput atau rumput sintetis, lebih kurang sama dengan
semua cabang olah raga lari dan aktivitas fisik yang dilakukan
sebentar-bentar. Kalau diperhatikan betul, ternyata gerakan pada tenis
dilakukan dan didukung banyak otot. Oleh karena itu, persyaratan untuk
belajar tenis adalah kekuatan fisik yang cukup, pengetahuan tentang cara
melakukan latihan, kemampuan melakukan gerakan, serta koordinasi badan dan
anggota badan untuk mengendalikan gerakan akurat. Jantung dan peredaran
darah, serta sistem pernapasan harus memberikan suplai darah, yang banyak
mengandung oksigen, ke seluruh badan.
Mencegah cedera
Dibandingkan dengan olahraga lain pada umumnya, kejadian cedera akut pada
olahraga tenis sangat rendah. Memang, dapat terjadi patah tulang atau
fraktur pada tulang selangka, lengan, atau kaki. Tapi itu terjadi karena
terjatuh dan lebih sering terjadi pada pemain tua.
Kejadian cedera sering menimpa tendo, ligamen, atau otot. Terjadinya pada
lutut, pergelangan kaki, bahu, siku, dan pergelangan tangan. Cedera dapat
pula terjadi pada tendo achiles ketika pemain melakukan hiperfleksi
(membengkokkan kaki secara mendadak).
Cedera pada pergelangan kaki sering juga terjadi dan sakitnya sering kali
terjadi pada sepertiga bagian bawah daerah tulang kering, yang sering
disebut shin splint. Pencegahan terbaiknya adalah dengan pemantapan
kondisi kaki, misalnya dengan cara lompat tali.
Kejang-kejang pada otot-otot, yang biasanya terjadi di kaki, dapat
disebabkan kecapaian, kurang garam, kurang vitamin C, kurang kalsium, atau
tidak cukup pemanasan. Pencegahan terbaik adalah pemantapan kondisi dengan
cara pemanasan yang cukup disertai dengan peregangan otot.
Cedera yang semula akut dapat menjadi kronis bila terjadi berulang kali.
Misalnya tennis elbow (rasa nyeri pada sendi siku bagian samping)
yang nampaknya banyak dialami pemain dan sering menimpa setelah usia pemain
30 tahun. Biasanya disebabkan antara lain oleh perubahan raket yang
digunakan secara mendadak dan lebih berat. Atau, senar raket terlalu
kencang. Dapat pula akibat ukuran grip/pegangan raket kurang cocok, terlalu
besar atau terlalu kecil. Bahkan, bisa pula karena bola yang menjadi lebih
berat karena bermain di lapangan outdoor (luar gedung) dalam keadaan
hujan/gerimis. Karenanya, pemilihan raket perlu dilakukan secara cermat,
ketegangan senarnya tepat, dan ukuran gripnya cocok dengan ukuran tangan
kita.
Bila terjadi cedera, sebaiknya tidak diurut di tempat cedera, melainkan
segera berobat ke dokter spesialis ilmu kedokteran olah raga.
Pencegahan cedera yang baik, tentu saja dengan melakukan pemanasan yang
cukup. Lalu, dilanjutkan dengan pendinginan. Setelah itu barulah olahraga
tenis bisa dilakukan.
Pemanasan dilakukan dengan lari-lari kecil sekitar 5 menit. Kemudian kita
lakukan pemanasan khusus yaitu mempersiapkan otot-otot yang paling besar
mendapat beban dalam permainan tenis. Misalnya otot bahu. Otot ini banyak
berperan untuk pukulan forehand. Pada pukulan ini ayunan ke belakang
mulai dengan menggeser berat badan ke belakang pada kaki kanan. Lengan
diangkat oleh otot bahu bagian belakang dan tengah. Gerakan ke belakang
dilakukan oleh otot teres minor dan infraspinatus. Otot trisep
(lengan bagian belakang) membantu menahan siku tetap lurus. Ayunan ke depan
kemudian dilakukan oleh otot bahu bagian depan, otot dada, dan otot
korakobrakhialis. Tingginya ayunan dikendalikan oleh otot-otot bahu bagian
tengah.
Pemanasan terhadap semua otot diakhiri dengan peregangan, terutama
peregangan pada bahu, pergelangan tangan, dan lengan. Peregangan ini dapat
meningkatkan dan mempertahankan kelenturan daerah-daerah tersebut.
Perlu dilengkapi aerobik
Faktor sangat penting lainnya, yang perlu diperhatikan pemain tenis, adalah
kekuatan otot. Otot-otot itu di antaranya otot-otot bahu, lengan, dan kaki.
Sebagai contoh, dalam boks Menguatkan Otot Bahu kita bisa belajar
cara-cara menguatkan otot-otot bahu. Tentu, otot-otot lain juga berlu
dikuatkan dengan latihan-latihan beban.
Yang tak kalah pentingnya, dalam olahraga tenis sangat diperlukan kelincahan
kaki pula, untuk bergerak ke depan, ke belakang, maupun ke samping. Cara
latihan menguatkan dan memperbaiki kelincahan kaki cukup banyak. Sekadar
contoh, dalam boks Melatih Kelincahan Kaki dibahas dua macam cara
untuk melatih kelincahan kaki agar dapat dengan mudah bergerak cepat ke
segala arah.
Sayangnya, banyak penggemar tenis tidak suka melakukan latihan fisik agar
dapat menunjang teknik permainan. Biasanya, kita hanya melakukan
latihan-latihan teknik. Padahal, dengan latihan fisik kemampuan kita bermain
tenis akan meningkat.
Supaya bisa melakukan olahraga tenis hingga usia lanjut, sebaiknya latihan
dilengkapi dengan olahraga aerobik seperti jalan cepat, bersepeda, dan
renang. Latihan aerobik ini akan memperkuat jantung, sehingga ketika kelak
berusia lanjut kita bisa tetap berolahraga tenis tanpa membahayakan diri.
Latihan tenis juga harus dilakukan secara teratur dengan frekuensi 3 – 5
kali seminggu, agar jantung tetap terlatih. Latihan yang mendadak keras
setelah lama, umpamanya sebulan, tidak latihan akan membahayakan kita. (dr.
Sadoso Sumosardjuno, Sp. KO.)
Baca juga : Menguatkan
Otot Bahu |
|||||