|
|
Bulan April 2001
|
|
Tepuk tangan, Lancar Rezeki
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa, banyak
upacara ritual menjelang maupun saat menikah. Persiapan upacara meliputi
membersihkan atau mengecat bakal rumah mempelai, memasang kain merah di
pintu utama rumah, dan menyembahyangi para leluhur. Saat meminang ada acara Sang
Jit atau seserahan. Upacara ritual tak hentinya dilakukan bahkan
sampai tiga hari setelah pernikahan.
Salah satu acara penting yang harus dilakukan adalah tehpai atau
menuang kemudian menyuguhkan teh bagi para tetua keluarga masing-masing.
Acara ini sangat ditunggu-tunggu, karena setelah menyuguhkan teh, yang
menerima 'harus' memberikan angpau berupa uang dalam amplop merah, perhiasan
emas, atau hadiah lain. Makin banyak yang dilayani, tentu makin banyak pula
hadiahnya.
Ada peristiwa lucu saat saya menikah. Setelah melakukan acara tuang teh,
angpau dan hadiah dikumpulkan orang tua saya. A'i (adik ayah) yang
saat itu memimpin acara meminta agar semua hadiah dimasukkan ke kantung jas
saya. Ayah memasukkan ke kantung kanan dan ibu ke kantong kiri. Lalu A'i
meminta agar kedua orang tua saya menepuk-nepuk kedua kantong jas saya.
Herannya, bukannya menepuk kantung jas saya, melainkan malah bertepuk tangan
keras-keras. Tentu saja semua tamu yang hadir terheran-heran.
Segera A'i memberi tahu, yang harus ditepuk-tepuk kantung jas
pengantin dengan harapan "mengundang" rejeki bagi kedua mempelai.
Dengan sedikit tersipu-sipu, ayah mengulang kembali acara itu dan dengan
mantap menepuk-nepuk kantung jas saya. Semoga rejeki benar-benar terus
mengalir. (Sonny Arakian) |
|||||