|
|
Bulan April 2001
|
|
Peta untuk Tunanetra
Sering kalau pulang dari Kota Tangerang menuju
Perumnas I Karawaci, Tangerang, kami semobil angkot (angkutan kota) dengan
beberapa pria penyandang tunanetra. Mereka yang rupanya berprofesi sebagai
tukang pijit itu pulang searah dengan kami.
Selama dalam perjalanan, biasanya ada saja penumpang yang mungkin karena
bersimpati, bertanya di mana mereka akan turun. Lalu ia akan memberi tahu
sopir agar penumpang tunanetra itu tidak kebablasan.
Anehnya, tanpa ada yang memberi tahu, mereka sudah meminta sendiri pada
sopir untuk berhenti saat tiba di tempat tujuan.
Banyak penumpang yang heran, kecuali si sopir angkot. Selidik punya selidik,
rupanya ada rahasia khusus sehingga mereka bisa mengenali tempat tinggal
mereka.
Seperti biasa, laju mobil angkot yang kami tumpangi melambat, karena jalanan
macet begitu melewati Pasar Malabar di daerah Perumnas Tangerang.
Selanjutnya, mobil terus berjalan hingga melewati bak penampungan sampah
pasar yang baunya "luar biasa".
Nah, bila mobil angkot sudah melambat dan mulai tercium bau sampah, itulah
tanda persiapan untuk meminta sopir angkot menghentikan kendaraan. mereka
memang tinggal di sekitar pasar. (Darmanto) |
|||||