|
|
Bulan April 2001
|
|
Napolen Kalah Perang karena Salah Pakai Dasi
Malah, pada masa Romawi kuno sudah dipakai kain untuk melindungi leher dan
tenggorokan, khususnya oleh para jurubicara. Pada perkembangannya prajurit
militer Romawi pun memakainya. Bukti dipakainya aksesori kain leher tampak
pada patung batu di makam kuno, Xian, Cina.
Aksesori leher terkenal lainnya muncul di masa Shakespeare (1564 - 1616),
yakni ruff. Kerah kaku dari kain putih itu bentuknya serupa piringan
besar yang melingkari leher. Untuk mempertahankan bentuk, ruff sering
dikanji. Lambat laun orang merasa ruff yang bertumpuk-tumpuk hingga
mencapai ketebalan beberapa sentimeter mengakibatkan iritasi.
Lahirlah cravat pada masa pemerintahan Louis XIV tahun 1660-an.
Namun, Kroasia lebih tepat disebut sebagai tanah asal dasi.
Ini sesuai penuturan Francoise Chaile dalam buku La Grande Historie de la
Cravate (Flamarion, Paris, 1994).
"... Sekitar tahun 1635, sekitar enam ribu prajurit dan ksatria datang
ke Paris, yang disewa oleh Louis XIII dan Richelieu. Pakaian tradisional
mereka amat menarik. Sehelai sapu tangan diikatkan di leher dengan cara
khusus. Sapu tangan itu terbuat dari berbagai kain, dari yang serupa
seragam, katun halus, hingga sutera. Gaya unik ini segera 'menaklukkan
Prancis'. Apalagi cara ini lebih praktis ketimbang kerah kaku. Sapu tangan
itu cuma diikat, dengan ujung-ujungnya dibiarkan lepas."
Maka disebutlah sapu tangan itu cravat, artinya "penduduk dari
Kroasia".
Sebagaimana aksesori leher di zaman batu, keindahan cravat dan cara
mengikatnya menunjukkan kelas si pemakai. Konon Beau Brummell (1778 - 1840),
yang banyak mempengaruhi perkembangan mode, perlu waktu berjam-jam untuk
mengikat cravat-nya.
Banyak buku teknik mengikat cravat diterbitkan. Salah satunya
menampilkan 32 cara, meski kenyataannya ada lebih dari 100 cara yang resmi
dikenal saat itu. Begitupun, ada saja orang yang ingin mengekspresikan
kepribadian mereka dengan kreasi sendiri.
Selanjutnya muncul adab mengenakan cravat. Seseorang pantang
menyentuh cravat orang lain. Kalau sampai terjadi, tindakan itu bisa
berakibat fatal, yakni duel.
Bahkan takhayul pun berkembang di seputaran cravat. Konon saat
Napoleon mengenakan cravat hitam yang dililitkan dua kali memutari
leher, ia selalu menang perang. Celakanya, saat terjun di Waterloo ia
memakai cravat putih. Akibatnya? Ia pun "jatuh".
Tahun 1860-an cravat dengan ujung yang panjang mulai menyerupai
aksesori leher modern alias dasi. Ketika muncul mode kemeja berkerah, dasi
disimpulkan di bawah dagu, ujung panjangnya terjuntai di depan kemeja.
Sementara dasi berbentuk kupu-kupu baru populer tahun 1890-an.
Dengan kemajuan teknologi, kini dasi jadi makin beragam warna, desain, dan
teksturnya. Alhasil, lebih dari 100 juta dasi menyerbu berbagai gerai dasi
setiap tahun. |
|||||