|
|
Bulan April 2001
|
|
Menyaksikan
Kebesaran Museum Vatikan
Sesuai namanya, Museum Vatikan terletak di Vatican City, yang sejak 1929
resmi menjadi negara berdaulat. Vatikan sendiri bisa disebut sebagai satu
dari lima kawasan di Roma, yang membuatnya populer sebagai salah satu kota
yang sanggup mempertahankan warisan pusat peradaban tertua dunia.
Empat kawasan lainnya adalah pusat kota (yang memiliki tradisi sebagai pusat
pemerintahan Roma sejak zaman monarki), ancient Roma (kota tua,
lokasi gedung-gedung bersejarah peninggalan Imperium Romawi), kawasan
monumental (tempat banyak berdiri bangunan bercita rasa seni tinggi, di luar
gedung pemerintahan) serta kawasan basilica (lokasi sejumlah basilika
terkenal, seperti Santa Maria Maggiore, San Pietro, San Giovanni).
Dengan ongkos masuk 18.000 lira (sekitar Rp 75.000,-) per orang, bersama dua
teman, saya ikut berjubel di tengah ribuan pengunjung lainnya. Menelusuri 22
museum kecil dan koleksi yang tergabung dalam nama besar Museum Vatikan.
Museum-museum itu dari luar berbentuk bangunan memanjang, seperti terlihat
dari Lapangan St. Petrus, di depan Basilika yang bernama serupa.
Para peziarah sering salah kaprah, mengira itulah ruang kerja sekaligus
tempat tinggal Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik, sekaligus penguasa
Negara Vatikan. Uniknya, untuk masuk ke dalam museum, keleluasaan buat
pengunjung sangat terasa. Tak ada keharusan meninggalkan barang di tempat
penitipan. Juga tidak ada larangan memotret, kecuali di tempat tertentu.
Pengamanan pun tidak terkesan mencolok. Tetapi bisa dipastikan, bangunan dan
barang di sana mendapat pengamanan amat canggih. Meski tak kasat mata.
Dibangun di abad XVI, dengan mengumpulkan karya-karya klasik dan
dikategorisasikan ke dalam 22 museum kecil, konon Museum Vatikan adalah
museum terbesar di dunia. Baik dalam jumlah maupun mutu koleksi. Apalagi
saat menelusuri lorongnya, pengunjung ibarat memutar balik kisah sejarah
kebesaran masa lalu dalam bentuk miniatur maupun asli. Rentang usia koleksi
mulai abad XV hingga abad XX, dari Museum Perpustakaan Apostolik Vatikan
tahun 1475 sampai Museum Kesenian Kristen Modern tahun 1973.
Urutan usia bukan patokan. Museum Gregorius, museum pertama, yang menyimpan
karya-karya seni Mesir Kuno menyambut pengunjung, sedangkan Kapel Sistina
menjadi museum terakhir. Di tengah bangunan-bangunan panjang itu ada
lapangan terbuka, tempat pengunjung melepas lelah. Sedangkan di pinggir
lapangan ada papan-papan yang menjelaskan bagaimana museum dibangun dan
direstorasi.
Lapangan itu terasa melegakan, karena ada hamparan rumput hijau, benda mewah
di Roma yang penuh gedung tua dan lalu lintas semrawut.
"Anda orang Indonesia, ternyata bisa juga mengagumi masa lalu,"
komentar sepasang keluarga muda yang sedang sama-sama melepas lelah di
pinggir lapangan. Mereka yang datang dari Firenze bersama bayi yang belum
genap enam bulan mengaku, sudah empat kali masuk ke Museum Vatikan, dan akan
selalu masuk setiap kali datang di Roma.
Dalam suasana jauh dari Tanah Air, pertanyaan itu tentu saja terasa sinis.
"Pernahkah Anda ke Indonesia?" kami balik bertanya.
"Belum," jawab si bapak muda. "Kami hanya dengar dan baca,
negara dan bangsa Anda suka merusak masa lalu. Sebaliknya, kami
memperlakukan masa lalu sebagai bagian dari kebanggaan kami."
Oh, tragisnya.
Kapel Sistina
Puncak dari Museum Vatikan adalah Kapel Sistina yang diresmikan tahun 1482.
Kapel itu dibangun pada masa pemerintahan Paus Sixtus IV di abad XV, Baccio
Pontelli. Konsepnya adalah "kapel dari segala kapel". Memang, dari
segi arsitektur, inilah kapel terindah dengan plafon melengkung. Kapel ini
dikerjakan oleh arsitek Mino de Fiesole, Giovanni il Dalmata, dan Andra
Bregno. Namun keindahan, kebesaran, dan ketenaran Kapel Sistina tidak
terletak pada plafon melengkung.
Daya tariknya justru pada lukisan yang memenuhi dinding dan
langit-langitnya. Sebagian besar karya itu dikerjakan seniman besar
Michaelangelo (1475 - 1564) - pematung, arsitek, insinyur, pelukis dan
penyair asli Italia - yang dianggap berhasil menyatukan iman Kristiani
dengan cita-cita klasik masa Renaisans dan humanisme. Semua dinding dan
langit-langit yang melengkungi kapel seluas + 1.000 m2 itu
dilukisi berbagai potongan kisah iman Kitab Suci Kristen.
Sepintas, terdengar decak kagum para pengunjung siang itu. Kami sendiri
terutama takjub pada lukisan "Pengadilan Akhir" karya Michelangelo
tahun 1508 - 1512, yang kemudian ia sempurnakan di tahun 1536 dan 1541.
Lukisan itu menggambarkan nasib manusia yang ditentukan di akhir zaman.
Tampak pasangan kakek-nenek yang harus berjalan tertatih-tatih, sembari
mengusap air mata. Si nenek bengong menatap langit-langit, sebagaimana
dilakukan hampir semua pengunjung. Tak jelas, apakah mata tuanya masih bisa
menangkap lekuk-lekuk lukisan yang demikian hidup itu. Namun, banyak
pengunjung tidak sadar. Lukisan itu tampak hidup melalui proses restorasi
yang panjang dan rumit, terutama oleh penambahan unsur warna.
Kapel Sistina tak hanya masyhur oleh arsitektur dan lukisannya. Bagi
penganut agama Katolik (Roma), kapel ini terkenal sebagai tempat pemilihan
Paus baru. Pemilihan pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu dilakukan para
kardinal dari seluruh dunia. Tanda sudah terpilihnya Paus adalah asap tebal
putih yang keluar dari jendela kapel. Umat yang menunggu di Lapangan St.
Petrus pun tahu pemimpin mereka sudah terpilih, yakni Paus sebagai pemimpin
umat setempat (Uskup Roma), pemimpin umat Katolik seluruh dunia (pengganti
St. Petrus), sekaligus pemimpin Negara Vatikan.
Paus Yohanes Paulus II, Paus sekarang, adalah Paus ke-262. Setelah selama
500 tahun Paus selalu berasal dari Italia, Paus Yohanes Paulus II bak
memecah tradisi, karena berasal dari luar Italia, yakni Polandia. Sejak 1179
pemilihan dilakukan di Kapel Sistina, diikuti Dewan Kardinal yang juga
memiliki hak untuk dipilih dan memilih. Sejak 1970, ditetapkan usia calon
maksimal 80 tahun.
Pemilihan lazimnya dilakukan dengan pemungutan suara, dua kali setiap pagi
dan sore sampai diperoleh salah satu calon yang memperoleh suara lebih dari
separuh. Setiap tahap pemilihan, kertas suara dibakar - tujuannya untuk
menjaga kerahasiaan - sehingga dari cerobong di Kapel Sistina sebelum keluar
asap putih selalu ada asap tebal hitam. (A Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja,
Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta: 1994).
Keberuntungan Italia
Bagaimana kedudukan Kapel Sistina, masterpiece Museum Vatikan dengan
wisata Italia atau Roma? Lapangan dan Basilika St. Petrus, katakombe (tempat
makam bawah tanah martir Katolik), serta puluhan katedral memang jadi tujuan
wisata-ziarah (zirek) umat Katolik, seterkenal Lourdes di Prancis. Tetapi
bagi umum, Roma bukan hanya itu. "Roma penuh mukjizat dan besar,"
kata sopir yang mengantar kami dan berceloteh tanpa henti tentang wisata di
Roma dan Italia.
Ya, sejarah Roma memang besar. Negara yang mempunyai legenda monarki masa
silam ini, sudah mengalami masa transisi ke pemerintahan republik sejak
tahun 509 SM. Jauh lebih awal dibandingkan dengan negara mana pun di dunia.
Kebesaran Roma juga terpancar dari luasnya pengaruh pemikiran dan kekuatan
pasukan mereka di Eropa berabad-abad lalu.
Vatican City, ibu kota Negara Vatikan, jelas hanya sebagian kecil dari
kebesaran Roma tadi. Tetapi dengan pengakuan Negara Vatikan sebagai negara
berdaulat, pamor "negara dalam kota" ini menjadi lebih besar dari
Roma. Apalagi berkat kedudukan dan keeratan hubungannya dengan umat Katolik,
Roma memperoleh imbas besar.
Rakyat Roma, lebih jauh lagi Italia - sebab di beberapa kota dikembangkan
juga pusat wisata yang dikaitkan dengan tempat ibadah - menjadi tergantung
pada wisata. Boleh dibilang, rakyat Italia memperoleh keberuntungan berkat
Vatikan. Sama seperti rakyat Israel dan Palestina yang beruntung berkat
peninggalan tiga agama monoteis (Kristen, Islam, Yahudi). Penduduk Italia
sadar betul arti kehadiran wisatawan. Karena mereka mengalir sepanjang tahun
tanpa henti, terutama bulan Desember, menjelang tutup tahun.
Apalagi bagi umat Katolik tahun ini bertepatan dengan Tahun Yubileum.
"Orang Italia sangat ketat menjaga objek wisata, karena itulah sumber
utama pendapatan negara dan rakyat," kata Puspobinatmo SJ, pastor asli
Muntilan yang sedang belajar di Universitas Kepausan Gregoriana.
Kesempatan itu pun dimanfaatkan oleh masyarakat Italia untuk mengeruk uang.
Jangan heran, mereka akan "memperlakukan" setiap peristiwa
keagamaan sebagai barang dagangan.
Ukurannya adalah lira, bukan lain-lainnya. Contohnya, acara audiensi umum
Paus bersama umat setiap Rabu siang, akan mereka perlakukan sebagai
komoditas, padahal acara itu gratis. Antar-jemput dari hotel dalam kota Roma
ke Lapangan St. Petrus dan ikut audiensi dengan secarik kertas tanda masuk
mereka kenai biaya 60.000 lira per orang. Meski tempat acara itu bisa
ditempuh dengan bus kota pergi-pulang cuma dengan ongkos 3.000 lira.
Italia, terutama penduduk Roma, perlu bersyukur karena mempunyai kelebihan:
Negara Vatikan, berikut ibu kotanya, Vatican City. Karena kawasan berdaulat
itu tampaknya tetap akan jadi pusat agama dan pusat wisata yang dapat
mengumpulkan banyak orang dengan berbagai latar belakang. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||