|
|
Desember 2001 Advis Medis |
|
ANGIN DUDUK JANGAN DIPIJAT Semua
orang pasti pernah mendengar istilah masuk angin. Tapi apa sebenarnya yang
dimaksud? Sementara tiap orang punya persepsi sendiri, kalangan medis,
dokter dan perawat, pun tidak dapat menjelaskannya. Kalangan sekolahan
jarang menggunakan istilah masuk angin. Mungkin karena logikanya tidak bisa
menerima fenomena angin ”masuk” ke tubuh. Mereka biasanya menggunakan
istilah lain, yaitu tidak enak badan. Padahal kalangan bawah
menggunakan istilah yang sama untuk menggambarkan berbagai fenomena yang
tergolong tidak enak badan, seperti perut kembung, pegal-linu,
batuk-pilek, pusing, sakit kepala, demam, meriang, dan lain sebagainya.
Akibatnya, segala ketidakjelasan itu menjadi peluang empuk produsen obat
atau jamu antimasuk angin. Yang tidak menyukai
pahitnya jamu akan memilih kerokan atau pijat. Dengan kedua cara itu banyak
orang yang masuk angin merasa lebih baik. Ini wajar saja. Dengan dipijat,
otot menjadi lemas dan pembuluh darah halus di dalamnya melebar sehingga
lebih banyak oksigen dan nutrisi tersedia untuk jaringan otot. Toksin yang
menyebabkan pegal pun dapat segera dibawa aliran darah untuk dibuang atau
dinetralkan. Dengan kerokan,
pembuluh halus (kapiler) di permukaan kulit bahkan pecah dan terlihat
sebagai jejak merah di tempat yang dikerok. Para pemijat selalu mengatakan
bahwa tanda merah itu merupakan bukti bahwa Anda masuk angin. Padahal, orang
sehat pun bila dikerok akan meninggalkan jejak merah yang sama. Hanya saja
tidak pernah ada orang sehat yang dikerok, bukan? Yang perlu diwaspadai
adalah rasa masuk angin yang disertai keringat berbutir-butir besar. Atau,
rasa masuk angin yang disertai nyeri, rasa tertekan, atau rasa berat di dada
- biasa disebut sebagai angin duduk. Ini mungkin merupakan gejala awal
serangan jantung berat. Di kalangan medis, fenomena ini acap disebut flu-like
syndrome. Yang diperlukan oleh
orang yang mengalami kejadian demikian adalah pemberian oksigen dan obat
khusus, bukan dipijat atau dikerok. Jadi, si pasien harus segera dibawa ke
rumah sakit, paling baik dalam keadaan berbaring. Kejadian orang yang
meninggal ketika dipijat, menunjukkan betapa penanganan yang salah dapat
berakibat fatal. Pada umumnya semua
gejala masuk angin merupakan gejala flu (selesma, common cold), yang
terjadi karena infeksi berbagai jenis virus. Ada virus menghasilkan toksin
(zat racun) yang menyebabkan berbagai gangguan fungsi sistem pencernaan,
saluran napas, sistem otot rangka, dan peredaran darah. Ada pula virus, yang
kehadirannya membuat tubuh kita memberikan reaksi radang, di antaranya
berupa demam dan nyeri, juga warna kemerahan di mukosa yang menggambarkan
melebarnya pembuluh kapiler di bawahnya. Di saluran napas, reaksi ini dapat
berupa pilek dan hidung tumpat. Toksin yang dihasilkan
virus dapat mengganggu saluran cerna sehingga menimbulkan gejala mulai dari
mual, muntah, diare, mulas. Atau, bisa pula mengganggu fungsi usus sehingga
pencernaan tidak sempurna dan dihasilkan banyak gas. Gejala demikian
belakangan sering disebut sebagai flu perut. Toksin virus lain mungkin
menimbulkan nyeri otot dan tulang, maka beredarlah lagi istilah baru, flu
tulang. Tidak ada obat yang
dapat membunuh virus ini. Antibiotik pun tidak. Untungnya virus tidak pernah
bertahan hidup lama, karenanya serangan flu biasanya berakhir setelah 5 - 7
hari. Yang dibutuhkan penderita adalah istirahat dan minum yang cukup serta
gizi yang baik untuk menghadapi demam tinggi yang menguras banyak energi dan
cairan tubuh. Gejala masuk angin juga dapat merupakan gejala awal infeksi virus yang lebih serius, seperti virus hepatitis atau virus demam berdarah. Demam berdarah biasanya akut (mendadak) disertai lesu hebat dan gejala lainnya. Sementara, hepatitis mungkin akan hilang sendiri atau berlanjut menjadi lebih nyata bergantung pada daya tahan tubuh seseorang. Untuk kedua penyakit ini kita tentu memerlukan bantuan dokter. (dr. Zunilda S. Bustami, dokter keluarga) |
|||||