|
|
Desember 2001 Cermin |
|
KEKUASAN DAN PELAYANAN Watik,
karyawati sebuah perusahaan swasta terkenal, enam bulan terakhir ini sering
mengalami gangguan keseimbangan tubuh. Beberapa bagian tubuhnya terasa amat
nyeri. Baginya, berbagai gangguan keseimbangan itu amat menakutkan.
“Sepertinya saya tidak bisa mengendalikan kehidupan saya sendiri.
Terkadang rasanya seperti mau mati,” begitu pengakuan ibu seorang anak
ini. Selama
itu Watik sudah berobat ke beberapa dokter spesialis, namun pada dasarnya
mereka tidak menemukan abnormalitas yang menjadi penyebab munculnya berbagai
keluhan fisik Watik. Akhirnya dalam keadaan setengah putus asa, ia
mendatangi seorang konselor. Di tengah rangkaian perjumpaan konseling yang
cukup panjang dan melelahkan, muncul pengakuan spontan Watik tentang
pimpinan institusi tempat dia bekerja. “Setiap
pagi, dia (sang pimpinan) selalu mengecek jam kedatangan saya di kantor.
Kalau terlambat dua menit saja, dia menuding-nudingkan telunjuknya kepada
saya, sembari mengatakan secara sinis, ’Terlambat lagi, terlambat lagi’.
Kalau saya datang tepat waktu, dia juga selalu melihat arloji di hadapan
saya, untuk memastikan bahwa saya tidak terlambat. Namun setelah tahu saya
tidak terlambat, dia tidak pernah memberikan pujian yang menguatkan.” Itulah
sebagian kecil pengakuan Watik mengenai relasinya dengan pimpinan. Yang
jelas, ia merasa sangat tertekan oleh sikap dan tingkah laku pimpinannya di
kantor. Apalagi sang pimpinan sangat getol membebankan banyak tugas kepada
Watik. Namun
di tengah rangkaian proses konseling yang cukup panjang, Watik juga
bersyukur karena kesempatan berbicara berulang-ulang dengan konselor itu
ternyata memberikan ketenangan dan kepastian dalam dirinya. Seiring dengan
itu berbagai keluhan fisik yang sering dirasakan berangsur-angsur berkurang.
Watik merasa lebih sehat. Dia merasa bahwa di tengah dunia ini masih ada
orang yang sudi mengerti dan memahami dirinya. Inilah
titik kunci munculnya ketenangan dan kepastian yang semakin dirasakan Watik.
Dia menyadari, karena dulu setiap hari hanya berhadapan dengan atasan yang
selalu menekan, dia tergiring untuk meyakini bahwa tidak ada orang yang mau
menerima dirinya, yang sudi mengerti dan memahami dirinya. Akibatnya, dia
merasa tidak bisa lagi menjalani kehidupan dengan tenang dan pasti. Rasanya
saat itu kehidupan identik dengan ketidakpastian. Penghayatan
ketidakpastian itu ternyata sangat mencekam Watik, sampai dia merasakan
ketidakseimbangan yang sangat menakutkan dan menyiksa. Karena keterkaitan
yang erat antara jiwa dan tubuh, penghayatan ketidakseimbangan itu
terekspresikan pula secara fisik, berupa penghayatan gangguan keseimbangan
tubuh. Bahkan, lebih jauh lagi muncul dalam bentuk keluhan rasa nyeri di
berbagai bagian tubuh.
Ketika
sudah lebih sehat ia mengaku, “Seandainya saya punya pimpinan yang sudi
bercakapcakap santai sebentar saja dengan saya setiap pagi sebelum mulai
bekerja, tentang satu dua hal yang bersangkut paut dengan kehidupan kita
sehari-hari, pasti saya akan sangat senang. Dengan demikian saya juga akan
bisa lebih menghargai pimpinan, lebih mampu berdisiplin dalam bekerja. “Saya
mendambakan pimpinan yang tidak hanya tegas dan berkuasa terhadap para
karyawan, namun juga bijaksana dan mampu melayani. Saya yakin, teman-teman
di kantor pun diam-diam mendambakan hal serupa. Mereka sering menyampaikan
unek-unek kepada saya. Mudah-mudahan kesediaan saya untuk mendengarkan
mereka, bisa berandil mencegah mereka jatuh dalam stres, seperti yang pernah
saya alami.” Sesungguhnya
Watik mengemukakan suatu filosofi relasi yang sangat luhur. Inti filosofi
itu adalah ketegasan yang selalu berdampingan dengan kebijaksanaan
(kearifan), dan kekuasaan yang selalu berdampingan dengan sikap melayani.
Filosofi relasi yang luhur itu merangkum pula nilai-nilai penting yang
seyogianya dimiliki oleh setiap pemimpin, bahkan setiap insan. Ketegasan
memang diperlukan oleh setiap pemimpin dan setiap insan di tengah relasi
mereka dengan orang-orang lain. Namun ketegasan yang berada sendirian bisa
menjelmakan keangkeran dan tekanan yang membuat
orang lain menderita. Oleh karena itu ketegasan harus berdampingan
dengan kebijaksanaan. Kalau
hanya dilihat dengan kacamata ketegasan, dua menit keterlambatan seorang
karyawan niscaya dianggap sebagai kelalaian yang mesti diberi sanksi
setimpal. Namun selalukah dua menit keterlambatan itu identik dengan
kelalaian? Bukankah kehidupan manusia sedemikian kompleks dan
multifaktorial? Bisa jadi, suatu saat Watik terlambat karena sebelum
berangkat kerja dia sakit perut, sehingga dia perlu sekali ke kamar kecil
sebentar. Atau barangkali anaknya yang masih berusia satu setengah tahun
terjatuh dari tempat tidur dan terluka. Kondisi-kondisi seperti itu tidak
bisa hanya dihadapi dan dinilai dengan ketegasan melulu, namun pula perlu
dihadapi dengan kebijaksanaan. Di
lain pihak, kekuasaan pun diperlukan oleh setiap pemimpin. Kekuasaan
memungkinkan eksekusi kebijakan yang baik dan benar. Tanpa kekuasaan,
kebijakan sulit diwujudnyatakan. Namun ketika kekuasaan berada sendirian,
sang pemimpin bisa menjelma menjadi diktator, penguasa otoriter, dan dalam
keadaan demikian, para bawahannya akan menghayati kehadiran dia sebagai
penguasa yang sewenang-wenang. Penghayatan seperti itu justru bisa
menjadikan eksekusi kebijakan tidak bisa berlangsung optimal, karena bawahan
yang merasa diperlakukan sewenang-wenang. Kekuasaan diperlukan, namun harus berdampingan dengan semangat melayani. Semangat melayani itulah yang memungkinkan seorang pemimpin bercakap-cakap santai tentang satu dua persoalan di tengah kehidupan sehari-hari, setiap pagi hari sebelum bekerja. Tidak mustahil, dengan sekadar layanan seperti itu, karyawan bisa merasakan lebih dihargai. Dengan demikian mereka mendapatkan modal moral psikologis yang memadai untuk menunaikan tugas dan pekerjaan dengan baik, benar, optimal. (dr. Limas Sutanto, Sp.K.J., pengamat psikososial dari STFT Widya Sasana, Malang.) |
|||||