|
|
Desember 2001 Kelirumologi Jaya Suprana |
|
PLUTO BUKAN PLANET Ilmu
pengetahuan adalah karsa dan karya manusia, maka jelas tidak mungkin lepas
dari kekeliruan, akibat manusia memang bisa keliru. Tidak ada ilmu
pengetahuan yang bebas keliru, termasuk di antaranya astronomi. Meski sebagai suatu
bentuk ilmu sudah sangat tua usianya, namun senantiasa terkesan bahwa
astronomi adalah ilmu modern. Mungkin akibat peralatan observasi astronomi
memang terus berkembang, selalu mengalami pembaruan hingga terkesan selalu
baru. Dalam perjalanan
sejarah perkembangannya, astronomi mengalami berbagai kekeliruan, mulai dari
yang sangat rumit sampai yang amat sederhana. Salah satu kekeliruan
astronomi terparah adalah anggapan bahwa Matahari bergerak mengelilingi
dunia. Anggapan ini semula sangat diyakini, apalagi didukung pembenaran
resmi oleh lembaga agama, hingga terkesan sudah merupakan fakta yang pasti
benar, mustahil - akibat tidak diperkenankan - keliru. Sebenarnya, sejak
dini, seorang pengamat benda langit masa kuno, Aristarchos dari Samos,
Yunani, sudah mencanangkan teori heliosentris menobatkan Matahari sebagai
pusat sistem planet. Namun semula banyak yang tidak percaya. Baru ketika
pada tahun 1507 Kopernikus menggali kembali teori heliosentris Aristarchos
itu, dunia iptek mulai terhenyak, meski anggapan Bumi sebagai pusat sistem
planet masih tidak tergoyahkan. Pada tahun 1609
Galileo Galilei mulai angkat bicara, mati-matian membela kebenaran teori
heliosentris galian Kopernikus, diperkuat hasil observasi Kepler bahwa
bentuk gerak planet mengelilingi sang Surya adalah elips. Ulah astronom asal
Galilei itu membuat para pemuka agama masa itu berang, menuduh Galileo bukan
cuma sekadar keliru, namun juga menghujat Allah. Terpaksa, pada tahun 1633
Galileo Galilei secara resmi mengakui ”kekeliruan” sambil memohon ampun
atas kemaksiatan dirinya di hadapan pengadilan inkuisisi. Baru pada
menjelang abad XX, setelah lebih dari tiga abad dianggap keliru, teori
heliosentris secara resmi diakui kebenarannya. Segenap tuduhan sampai vonis
kepada Galileo Galilei dicabut kembali dan reputasi kecendekiawanannya
direhabilitasi Vatikan. Lain
lagi kilah astronom AS, Clyde Tombaugh, yang pada tahun 1930 ”menemukan”
sebuah benda angkasa yang kemudian dikategorikan sebagai planet dan
diberi nama Pluto. Clyde
mengklaim ukuran planet Pluto jauh lebih besar ketimbang planet Bumi. Maka
sejak itu diyakini bahwa sistem tata surya terdiri atas sembilan planet, dan
Pluto terletak paling jauh dari Matahari. Namun di awal tahun
1996 astronom lain AS, Larry Esposito, menyatakan planet sistem tata surya
cuma delapan, karena Pluto tidak layak disebut planet. Berdasar kajian
observatif dengan teknologi lebih maju Esposito yakin bahwa ukuran Pluto
cuma sekitar dua pertiga rembulan Bumi saja. Susunan
bebatuan Pluto juga berbeda dengan planet lazimnya, sebab terdiri atas metan
dan nitrogen yang membeku dengan kekerasan mirip baja. Pluto memang memiliki
sejenis rembulan, yang baru ditemukan tahun 1978, namun besarnya nyaris sama
dengan Pluto sendiri. Maka Esposito menyimpulkan bahwa Pluto cuma sejenis
debu angkasa yang berasal dari tetangga sistem tata surya. Namun kaum penganut teori Tombaugh bersikeras bahwa Pluto memang benar-benar planet sistem tata surya, karena ukurannya jauh lebih besar ketimbang asteroid. Pada suatu hari pasti terbukti bahwa salah satu dari dua anggapan ilmiah itu adalah benar. Atau malah keduanya keliru? |
|||||