|
|
Desember 2001 Usut Asal |
|
Surat dan Paket dibawa pelari estafet
Kita
sekarang dengan enteng bisa bilang, “Tunggu sebentar, aku
baru balas
e-mail-mu.” Ucapan
yang sama entengnya, “Dari tadi aku kirim SMS, belum ada jawaban dari
dia.” Itulah
hasil budi daya manusia bernama teknologi. Pesan dan jawaban atas
keingintahuan sampai dalam saat yang amat singkat; nyaris seketika.
Sementara di bagian lain, perpindahan aneka dokumen tertulis dan paket
kiriman juga makin singkat. Tak
terbayangkan, pada masa lalu, jasa pos tak lebih dari cara primitif
penyampaian pesan yang berlangsung amat lamban. Dan percayakah Anda kalau
lari estafet semula bukan untuk lomba olahraga, melainkan untuk meng-antar
surat dan paket? Kaisar
Julius (100 SM) yang suatu ketika tinggal di Inggris, mengirim dua pesan
kepada Cicero, pujangganya di Roma. Jarak yang kini bisa ditempuh kurang
dari sehari naik bus itu dulu memerlukan 26 hari untuk surat pertama, dan 28
hari untuk surat kedua (Encyclopaedia Americana, 1976). Para
pembawa pesan tak lain adalah para budak. Atau mereka yang takluk. Mereka
berjalan kaki - dan kemudian naik kuda yang ditempatkan pada semacam
pangkalan (dari sinilah istilah pos, dari kata Latin positus yang
artinya “ditempatkan” itu berasal) sambil membawa pesan. Sejarawan
Yunani tahun 400-an SM, Herodotus, menerangkan kerja orang-orang Persia
penyampai pesan, “Tak peduli salju atau hujan, panas atau dalam keremangan
malam, para kurir itu terus berjalan menunaikan kewajiban.” (The World
Book Encyclopaedia, 1992). Pada
tahun 27 SM, Kaisar Agustus menata sistem pengiriman pesan dengan membuat
banyak jalan di wilayah Kekaisaran Romawi. Sejak itu layanan pos menjadi
instrumen peradaban cukup penting. Bahkan ketika Kekaisaran Roma runtuh pada
tahun 400an, sistem yang telah berkembang di seluruh Eropa tak ikut
berantakan. Di
belahan dunia lain, sekitar tahun 1200-an pemimpin Mongolia Kubilai Khan
telah mengembangkan sistem layanan pesan berantai melalui 10.000 stasiun
pos. Di Amerika Utara dan Selatan, bangsa Aztec dan Inca juga memiliki
ribuan pelari estafet yang kerjanya mengirimkan pesan dan mengantarkan paket
antarkota.
Para
penguasa negara lain segera melakukan hal yang sama. Kaisar Maximilian dari
Belgia membuat jalur pos Brussels - Wina pada tahun 1516. Di Inggris,
setelah sebelumnya ada jasa layanan pos partikelir, Raja Edward III pada
1635 mendirikan jalur pos pemerintah antara London - Edinburgh. Di Italia
layanan pos berawal pada 1561. Di Massachussetts, AS, pada 1639 berdiri
pusat layanan jasa pos. Perkembangan
itu lantas berakibat pada diberlakukannya standarisasi ukuran amplop,
prangko dan letaknya, juga sistem prangko berlangganan. Berkembang pula
aneka mesin pemisah jenis surat dan paket, pemindai prangko dan kode pos,
dll. Di
banyak negara dalam masa modern, jasa layanan pos menjadi bagian dari
birokrasi pemerintah, dan biasanya disatukan dengan telekomunikasi. Tapi di
Inggris, pemerintah hanya menangani The Post Office, dan telekomunikasi
diserahkan swasta. Ketika pertumbuhan pos makin besar, kalangan swasta juga
ambil bagian. Mengenai
volume kiriman surat, sampai tahun 1992 AS menduduki peringkat pertama,
yakni lebih dari 110 miliar pucuk per tahun, setengah jumlah total surat
yang setiap tahun beredar di seluruh dunia. Volume itu pasti surut ketika teknologi surat elektronik dan SMS membanjir seperti sekarang. Namun fungsi jasa layanan pos tetap tak tergantikan. Entah suatu saat nanti, kalau undangan atau kartu ucapan hari raya dianggap cukup sopan dikirimkan secara elektronik atau lewat SMS. (SL) |
|||||