globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

Air & Udara

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

RUMAHKU SEHAT, BUMIKU SELAMAT

Tak peduli mewah atau kumuh, banyak orang percaya (mungkin termasuk Anda), rumah adalah segalanya. Di sini penat disunat, canda dilepas, dan persoalan rumah tangga dipecahkan. Tapi, apakah masih berarti segala-galanya, jika rumah yang dibanggakan ternyata kaya polusi dan sumber depresi? Hati-hati, sikap cuek Anda tak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga menyimpan petaka buat planet Bumi!

repro

Mulailah dari pekarangan, dan rasakan imbas segarnya hingga ke kediaman

Begitulah kenyataannya. Selama ini kalangan industri melulu disalahkan terhadap bolongnya ozon dan polusi udara. Padahal, kalau mau jujur, andil rumah tangga dalam menciptakan bencana serupa tak kurang faktanya. Pemakaian pembersih lantai aerosol, pestisida maupun penyejuk ruangan misalnya, diketahui berpotensi menyebarkan senyawa beracun yang sangat berbahaya.

Memang, kuantitas racun yang dihasilkan masing-masing rumah tangga tak seberapa. Tapi coba gabungkan dengan miliaran keluarga lainnya di seluruh dunia. Boleh jadi, kemampuannya dalam menaikkan pemanasan global akan luar biasa.

 

Hutan sintetis

Sama dengan tubuh Anda, rumah juga punya organ dalam dan luar. Istilah kerennya, interior dan eksterior. Aspek interior meliputi ruangan, perabotan serta aktivitas penghuni rumah. Sementara eksterior berhubungan dengan pengelolaan pekarangan, taman, dan lingkungan.

”Keduanya bisa disebut dwitunggal yang tak bisa dipisahkan,” ujar Edy Utoyo, arsitek yang mantan sekjen Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Karena sebuah lingkungan bisa disebut sehat, jika berhasil membawa dampak positif buat rumah-rumah di sekitarnya. Sebaliknya, untuk menjaga agar rumah tetap sehat, dibutuhkan lingkungan yang mendukung.   

Bicara soal rumah sehat, mestinya kita berkaca pada, maaf ... hewan. Yang namanya rayap saja, selalu berorientasi pada matahari dan

tenaga panas Bumi untuk mengontrol suhu gundukan tanah yang menjadi tempatnya bermukim. Massa termal Bumi yang jumlahnya tak terbatas juga dimanfaatkan tikus untuk menunda dampak perubahan iklim terhadap lubangnya.

Masih belum puas? Ada lo binatang khas Australia, namanya wombat (badannya berkantung, mirip beruang kecil) yang sengaja menggali lubang sedalam 1 - 1,5 m di musim panas. Tujuannya untuk mengurangi hawa gerah. Jelas sudah, arsitektur rumah berkonsep sehat dan nyaman telah masuk dalam perhitungan hewan-hewan yang disebut tadi.

Betul kata Sydney dan Joan Bags dalam bukunya, The Healthy House, bahwa manusia mestinya lebih jago soal ini. Meski dalam sejarah purbakala, nenek moyang kita juga pernah tinggal di kungkungan tanah liat (Mesir, Yunani, Italia). Sementara orang Cina memakai campuran lempung dan tanah yang ditumbuk.

Kini, bahan-bahan tadi tak banyak digunakan lagi, berganti menjadi material sintetis nan modern seperti beton, baja, kaca, dan plastik. Belum lagi berbagai perabotan yang juga artifisial. Padahal, seperti belakangan terbukti, bahan-bahan tadi berpotensi membawa derita berkepanjangan. Di tengah ”hutan sintetis”, tingkat kelembaban menjadi sangat rendah, bahkan cenderung kering. Kalau berlarut-larut, penghuninya bisa terkena gangguan (sakit) tenggorokan, mudah haus, penyumbatan rongga hidung hingga sesak napas. 

Di daerah tropis seperti Indonesia, banyak yang mengakali ketidakenakan ini dengan menginstal air conditioner (AC). Sejatinya, AC bertugas mengubah suhu dan uap air sehingga ruangan menjadi nyaman. Dia mengurangi kelebihan uap air jika kondisi terlalu lembab serta menambahkannya jika kurang. Pinter, kan?

repro

AC dingin belum tentu sehat, terutama jika ada fungsi utama yang tersunat.

Tapi naluri para pedagang AC lebih pintar lagi. Dulu, kedua fungsi tersebut masih berjalan dengan baik. Namun belakangan, produsen lebih mementingkan kemampuan mendinginkan, tanpa peduli pada kelembaban. Akibatnya, sakit kepala dan tubuh lesu, karena tidak seimbangnya kadar karbondioksida di udara.

Alat penyejuk udara yang menggunakan air (AC air) pun tak kalah risikonya. Dia butuh perawatan teratur, terutama terhadap spora, virus, serta bakteri di dalam air. Kalau tak rajin, bakteri dan kawan-kawannya dapat menjadi sumber alergi, infeksi serius, dan keracunan. Sialnya, udara yang buruk tadi sering diputar kembali, sehingga prosesnya mirip menyebarkan virus dan bakteri ke udara.

Bahaya lainnya, fan air berpotensi mengundang Legionnare atau Legionella pneumophili. Air yang semula ditujukan untuk membantu menyejukkan ruangan, setelah kipas berputar cukup lama, suhunya jadi menghangat. Sedangkan organisme ini berkembang biak dengan baik di air hangat. Peningkatan suhu tubuh, batuk, nyeri otot, menggigil, sakit pada dada dan perut, serta diare adalah dampak merasuk legiun bakteri ini. Awas! Perokok dan peminum minuman keras termasuk calon pasien paling rentan. Lebih mengerikan, penderitanya bisa tamat dalam 24 - 48 jam! Weleh, weleh.

Tak hanya udara kering yang bermasalah, terlalu lembab pun memunculkan problem. Di daerah tropis, banyak jamur yang perkembangannya sangat cepat di ruang berventilasi kurang, seperti gudang dan lemari pakaian. Nah, jamur ini merupakan penyebab utama alergi bagi orang sensitif. Juga sanggup membusukkan berbagai bahan dan mengubahnya menjadi gas beracun.

 

 «     1  2     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/