|
|
Desember 2001 Air & Udara |
|
RUMAHKU SEHAT, BUMIKU SELAMAT Tak peduli mewah atau kumuh, banyak orang percaya (mungkin termasuk Anda), rumah adalah segalanya. Di sini penat disunat, canda dilepas, dan persoalan rumah tangga dipecahkan. Tapi, apakah masih berarti segala-galanya, jika rumah yang dibanggakan ternyata kaya polusi dan sumber depresi? Hati-hati, sikap cuek Anda tak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga menyimpan petaka buat planet Bumi!
Begitulah
kenyataannya. Selama ini kalangan industri melulu
disalahkan terhadap bolongnya ozon dan polusi udara. Padahal, kalau mau
jujur, andil rumah tangga dalam menciptakan bencana serupa tak kurang
faktanya. Pemakaian pembersih lantai aerosol, pestisida maupun penyejuk
ruangan misalnya, diketahui berpotensi menyebarkan senyawa beracun yang
sangat berbahaya. Memang,
kuantitas racun yang dihasilkan masing-masing rumah tangga tak seberapa.
Tapi coba gabungkan dengan miliaran keluarga lainnya di seluruh dunia.
Boleh jadi, kemampuannya dalam menaikkan pemanasan global akan luar biasa. Hutan sintetis Sama
dengan tubuh Anda, rumah juga punya organ dalam dan luar. Istilah kerennya,
interior dan eksterior. Aspek interior meliputi ruangan, perabotan serta
aktivitas penghuni rumah. Sementara eksterior berhubungan dengan pengelolaan pekarangan, taman, dan lingkungan. ”Keduanya
bisa disebut dwitunggal yang tak bisa dipisahkan,” ujar Edy Utoyo, arsitek yang mantan sekjen
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Karena sebuah
lingkungan bisa disebut sehat, jika berhasil membawa dampak positif buat
rumah-rumah di sekitarnya. Sebaliknya, untuk menjaga agar rumah tetap sehat,
dibutuhkan lingkungan yang mendukung.
Bicara
soal rumah sehat, mestinya kita berkaca pada, maaf ... hewan. Yang namanya
rayap saja, selalu berorientasi pada matahari dan tenaga
panas Bumi untuk mengontrol suhu gundukan tanah yang menjadi tempatnya
bermukim. Massa termal
Bumi yang jumlahnya tak terbatas juga dimanfaatkan tikus untuk menunda
dampak perubahan iklim terhadap lubangnya. Masih
belum puas? Ada lo binatang khas Australia, namanya wombat (badannya
berkantung, mirip beruang kecil) yang sengaja menggali lubang sedalam 1 -
1,5 m di musim panas. Tujuannya untuk mengurangi hawa gerah. Jelas sudah,
arsitektur rumah berkonsep sehat dan nyaman telah masuk dalam perhitungan
hewan-hewan yang disebut tadi. Betul
kata Sydney dan Joan Bags dalam bukunya, The Healthy House, bahwa
manusia mestinya lebih jago soal ini. Meski dalam sejarah purbakala, nenek
moyang kita juga pernah tinggal di kungkungan tanah liat (Mesir, Yunani,
Italia). Sementara orang Cina memakai campuran lempung dan tanah yang
ditumbuk. Kini,
bahan-bahan tadi tak banyak digunakan lagi, berganti menjadi material
sintetis nan modern seperti beton, baja, kaca, dan plastik. Belum lagi
berbagai perabotan yang juga artifisial. Padahal, seperti belakangan
terbukti, bahan-bahan tadi berpotensi membawa derita berkepanjangan. Di
tengah ”hutan sintetis”, tingkat kelembaban menjadi sangat rendah,
bahkan cenderung kering. Kalau berlarut-larut, penghuninya bisa terkena
gangguan (sakit) tenggorokan, mudah haus, penyumbatan rongga hidung hingga
sesak napas. Di
daerah tropis seperti Indonesia, banyak yang mengakali ketidakenakan ini
dengan menginstal air conditioner (AC). Sejatinya, AC bertugas
mengubah suhu dan uap air sehingga ruangan menjadi nyaman. Dia mengurangi
kelebihan uap air jika kondisi terlalu lembab serta menambahkannya jika
kurang. Pinter, kan?
Tapi
naluri para pedagang AC lebih pintar lagi. Dulu, kedua fungsi tersebut masih
berjalan dengan baik. Namun belakangan, produsen lebih mementingkan
kemampuan mendinginkan, tanpa peduli pada kelembaban. Akibatnya, sakit
kepala dan tubuh lesu, karena tidak seimbangnya kadar karbondioksida di
udara. Alat
penyejuk udara yang menggunakan air (AC air) pun tak kalah risikonya. Dia
butuh perawatan teratur, terutama terhadap spora, virus, serta bakteri di
dalam air. Kalau tak rajin, bakteri
dan kawan-kawannya dapat menjadi sumber alergi, infeksi serius, dan
keracunan. Sialnya, udara yang buruk tadi sering diputar kembali, sehingga
prosesnya mirip menyebarkan virus dan bakteri ke udara. Bahaya
lainnya, fan air berpotensi mengundang Legionnare atau Legionella
pneumophili. Air yang semula ditujukan untuk membantu menyejukkan
ruangan, setelah kipas berputar cukup lama, suhunya jadi menghangat.
Sedangkan organisme ini berkembang biak dengan baik
di air hangat. Peningkatan suhu tubuh, batuk, nyeri otot, menggigil, sakit
pada dada dan perut, serta diare adalah dampak merasuk legiun bakteri ini.
Awas! Perokok dan peminum minuman keras termasuk calon pasien paling
rentan. Lebih mengerikan, penderitanya bisa tamat dalam 24 - 48 jam! Weleh,
weleh. Tak
hanya udara kering yang bermasalah, terlalu lembab pun memunculkan
problem. Di daerah tropis, banyak jamur yang perkembangannya
sangat cepat di ruang berventilasi kurang, seperti gudang dan lemari
pakaian. Nah, jamur ini merupakan penyebab utama alergi bagi orang sensitif.
Juga sanggup membusukkan berbagai bahan dan mengubahnya menjadi gas beracun. « 1 2 » |
|||||||||