|
|
Desember 2001 F l o n a |
|
"BOS GONDRONG" NAIK TURUN HIMALAYA Dibandingkan dengan bos-bos lain, Bos grunniens alias yak jauh berbeda. Karena hidup di kawasan pegunungan berselimut salju abadi, sekujur tubuh sapi gunung salju ini terbalut ”mantel” bulu panjang dan lebat, sehingga tahan hidup di kawasan bersalju sedingin kulkas. Sebaliknya tuan Bos javanicus atau Bos sondaicus (banteng) dan tuan Bos taurus (sapi domestik) hidup di daerah panas, sehingga tidak perlu gondrong.
Ada
dua kelompok yak yang hidup di bumi ini. Yang liar (Bos mutus
grunniens) dan yang domestik (Bos grunniens). Juga dikenal
sebagai dzo, masyarakat Sherpa di kawasan Pegunungan Himalaya
sebenarnya menyebut yak untuk yang berkelamin jantan, sementara
betinanya nak. Sudah
sejak 1766 yak liar dideskripsikan oleh Linnaeus. Namun populasi
mereka terus merosot gara-gara perburuan liar, sampai belakangan ini
diperkirakan tinggal ratusan ekor. Sebaliknya yak jinak (domestik)
relatif banyak, 12 jutaan ekor, tersebar di kawasan dataran tinggi. Tibet
belahan utara Himalaya, Cina, India, Bhutan, dan Nepal. Bahkan di kawasan
Amerika Utara pun dijumpai; jumlahnya diduga 600 hingga 2000-an ekor. Padang
rumput luas di Tibet, tundranya Pegunungan Himalaya (padang lumut), dan
kawasan bersalju dengan ketinggian sekitar 3.200 m hingga 5.400 m dpl.
(sementara Puncak Everest 8.848 m dpl.) merupakan habitat yak liar.
Pada kondisi normal, mereka cenderung tinggal di ketinggian sedang. Begitu
memasuki bulan panas (Agustus dan September), mereka ngadem ke
kawasan lebih tinggi yang tertutup salju abadi. Karena
bulu panjang berjumbai-jumbai hingga menyentuh tanah, lebat bagaikan mantel,
yak liar sanggup hidup di suhu minus (di bawah 0oC).
Bahkan dilaporkan bisa tahan sampai suhu -40oC.
Ia juga bandel, tahan penyakit. Di musim dingin yang hebat, mereka suka
berendam di danau atau sungai namun tetap dengan kewaspadaan tinggi. Begitu
merasa terganggu, mereka akan lari, ekornya mencuat ke atas seperti ekor
kuda. Begitu ada yang menghadang di depannya, mereka akan pasang kuda-kuda. Kesanggupannya
hidup di medan berat karena kapasitas paru-parunya yang hebat. Belum lagi
sel darah merahnya yang spesifik untuk daerah pegunungan. Ukuran sel
darahnya separuh dari ukuran sel darah sapi. Begitu pula jumlah sel darah
merahnya tiga kali lebih banyak, sehingga oksigen yang diangkut lebih
banyak. Jadi, ya wajar bila mereka sanggup hidup di kawasan beroksigen
tipis. Sedikit kelenjar keringat justru membuat irit energi dan jantung
dapat bekerja efisien. Napasnya pun lebih slow ketimbang sapi dataran
rendah. Mudah dikawinsilangkan Di
alam bebas, yak liar memiliki gaya hidup tersendiri. Tenang tetapi
garang, mereka senang berkelompok 10 - 30 ekor atau lebih, terdiri atas
induk dan para ABG. Adakalanya dijumpai dalam kelompok lebih besar, 100 -
200 ekor. Beda dengan para jantan dewasa, yang cenderung soliter atau
bergerombol 12 ekor. Kawanan yak liar berjalan dengan formasi
berbaris. Yang belakang mengikuti jejak kaki Pak Komandan di depannya.
Setelah
berabad-abad melewati proses domestikasi, banyak yang menjadi jinak. Manusia
kemudian memanfaatkan mereka sebagai penarik gerobak, menggarap lahan
pertanian, dsb. Kawin silang antara yak dengan sapi lokal pun terus
diusahakan. Perkawinan sesama bos itu diharapkan akan melahirkan blasteran
yang perkasa sekaligus mudah beradaptasi dengan dataran lebih rendah. Tujuan
lainnya, supaya produksi susu dan dagingnya lebih tinggi. Keturunannya
memiliki banyak nama. Zopkiok julukan untuk jantan blasteran dari yak
(jantan) dengan betina sapi lokal Tibet (Bosaunus typicus, Sherpa
menyebutnya lang). Sedangkan betina blasterannya dinamai zhum.
Ada juga yang menyebutnya zopkiok urang (jantan) dan zhum urang
(betina). Silangan ini tahan cuaca panas di kawasan lebih rendah dan sanggup
membawa beban hingga perbatasan India. Kalau
persilangan nak dan jantannya sapi lokal (lang), anaknya
disebut zopkiok dimzi (jantan) dan zhum dimzi (betina). Di
tempat ketinggian, misal di Tibet (6.400 m dpl.),
daya tahan blasteran ini terhadap cuaca dingin dan salju hampir
setara yak. Sementara
peranakan sapi lokal lain (chhyungma) dengan yak dinamai urang
(betina) dan dzopkyo (jantan). Di
kalangan bukan Sherpa di Nepal, jantan peranakan yak dengan
sapi lokal dijuluki chaunri, betinanya urang. Anak-cucu
silangannya punya sebutan lain lagi, misal urang chaunri. Buyutnya dhimjo
chaunri. Generasi berikutnya tole (jantan) dan tolmu
(betina), dan umumnya sudah mengalami kemerosotan mutu, dan dihargai sangat
rendah. Belakangan
populasi nak menurun, sementara sebaliknya zhum meningkat. Ini
lantaran yak blasteran tak perlu repotrepot diumbar dari padang
rumput. Cukup dikandangkan sepanjang tahun - tentu dikasih pakan. Apalagi zhum
sanggup hidup di kawasan rendah, dan hasil susunya lebih banyak daripada nak.
Tapi soal harga, yak dan nak tetap lebih mahal daripada yak
blasteran. Tentang
ciri-ciri, yak liar berbulu lebih gelap atau hitam. Yak
dataran tinggi Tibet, misalnya, umumnya berbulu coklat gelap dengan
belang-belang putih. Sementara yang domestik corak bulunya bervariasi.
Hitam, putih kusam, belang hitam putih, atau abu-abu. Ada juga yang coklat
tua. Adakalanya berbulu kuning keemasan, tapi sangat jarang.
|
|||||||