|
|
Desember 2001 Infotekno |
|
BUKU ELEKTONIK, ERA BARU DUNIA BUKU Pada pameran buku di Frankfurt, Jerman, tahun lalu, beberapa penerbit elektronik memperkirakan bahwa era paper book (p-book) alias buku kertas (buker) tak lama lagi berakhir. Digantikan era electronic book (e-book) atau buku elektronik (bukel). Malah ada komentar sarkastis, buku cetak bakalan masuk museum. Tapi kayaknya tak akan semudah itu.
Ketika
buku Riding the Bullet karya penulis cerita horor Stephen King
diluncurkan dengan cara tidak wajar, yakni melalui jaringan global Internet,
orang baru ngeh ada sesuatu yang dahsyat dalam perkawinan antara
dunia penerbitan konvensional dengan jaringan Internet. Bayangkan, dalam dua
hari pertama tercatat tak kurang 500.000 permintaan download. Berarti
hampir tiga buku per detik! Tanpa bersusah payah membuka toko, menggelar
buku, serta tetek bengek lainnya. Peminat pun tak perlu harus ke toko
buku atau tempat lain. Dari kamar tidur pun bisa pesan langsung. Bandingkan dengan
peluncuran buku karangan JK Rowling yang terkenal, Harry Potter and the
Goblet of Fire. Ribuan penggemarnya rela antre untuk menjadi pembaca
pertama buku heboh itu. Toko buku terpaksa buka tengah malam. Amazon.com
dan toko buku online lainnya ikut kebanjiran pesanan. Begitulah
”senyapnya” jika digitalisasi mulai menggerayangi dunia penerbitan buku.
Tak ada kertas, tak ada aktivitas distribusi maupun jual-beli. Pun tak perlu
ada toko buku yang harus capek buka tengah malam. Teknologi ini akan menjadi
titik tolak penting sejak Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak sekitar
550 tahun lampau. Belum berasa buku Buku elektronik
sebenarnya tak lebih dari digitalisasi isi sebuah buku, mulai dari sampul
sampai indeks, lalu dienkripsikan untuk menghindari pembajakan. Lalu
dikawinkan dengan jaringan Internet, e-book alias bukel menjadi mudah
diakses dan ruang edarnya bertambah luas. Dengan begitu, bukel tak ubahnya
majalah atau jurnal online. Atau gampangnya, sebuah situs biasa.
Hanya saja dari tata bahasa, format tampilan, kedalaman bahasan, maupun
penceritaan isi tidak jauh berbeda dengan p-book alias buker. Dengan begitu,
buku-buku yang karena ketebalannya susah diwujudkan menjadi buku cetak
komersial, dengan gampang bisa dicakup oleh bukel. Seperti dituturkan Mikael
Sandberg, manajer pemasaran Microsoft wilayah Eropa, dalam situs ZD-Net,
buku-buku referensi dan informasi bisnis akan menemukan bentuk yang pas
dalam bukel. Sebab, teknologi bukel bisa menyediakan teks yang banyak untuk
dicari dengan menggunakan kata kunci atau keterangan. Selain itu masih ada
kemudahan lain yang ditawarkan. Penelusuran kata yang mudah, manipulasi atas
besar dan jenis huruf, kemudahan menyalin, lompat ke halaman yang
diinginkan, dsb. Ihwal format file yang didistribusikan, bukel bisa
memakai HTML, PDF, atau RTF. Ketiga format itu jaminan keterbacaan sebuah
bukel. Dengan bukel pula Anda
bisa menghemat kertas. Tapi jangan keburu bangga sebagai penyelamat
lingkungan. Soalnya, jika melihat formatnya, bukel harus dibaca melalui
peranti elektronik yang mirip dengan komputer atau turunannya (laptop,
PDA, dll). Nah, peralatan ini menggunakan unsur seperti timbal, merkuri, dan
kromium yang biasanya berakhir di timbunan sampah dalam tanah. Sebuah
artikel di Salon Magazine menyatakan, pengguna elektronik menyumbang
40% dari timbal yang ada di timbunan sampah dalam tanah. Nah, lo! Berkaitan dengan
format HTML (juga XML), bukel bisa berubah karakter menjadi buku multimedia.
Sebuah ikon akan menandai apakah suatu kata, gambar, atau ilustrasi bisa
”dihidupkan” atau sekadar dikasih suara. Tentu ini menjadi hiburan
menarik dibandingkan dengan gambar atau ilustrasi yang statis pada buku
biasa. Sayangnya, berbagai
kemudahan itu masih belum cukup untuk mewujudkan sebuah bukel benar-benar
berasa buku. Maksudnya, apa iya nanti harus bawa-bawa komputer, laptop,
atau PDA sekadar untuk membaca sebuah buku. Kalau di rumah sih oke. Kalau
sedang di perjalanan atau tempat lain? Karena itu, kaum
probukel lalu memutar otak bagaimana buku elektronik memiliki ciri yang
tidak jauh beda dengan buku biasa. Kalangan industri yang tanggap segera
menghadirkan peranti khusus untuk membaca bukel dengan berbagai model.
Tujuannya, menghadirkan suasana dan sensasi seperti memegang dan membaca
sebuah buku. Maka, selain menghadirkan perangkat baca yang seperti buku,
misalnya Rocket E-Book (REB) 1100 buatan RCA, kalangan industri masih
berusaha agar suasana kertas masih terasa pada layar kristal peranti itu.
|
|||||||