globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

Infotekno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

BUKU ELEKTONIK, ERA BARU DUNIA BUKU

Pada pameran buku di Frankfurt, Jerman, tahun lalu, beberapa penerbit elektronik memperkirakan bahwa era paper book (p-book) alias buku kertas (buker) tak lama lagi berakhir. Digantikan era electronic book (e-book) atau buku elektronik (bukel). Malah ada komentar sarkastis, buku cetak bakalan masuk museum. Tapi kayaknya tak akan semudah itu.

 

repro: softbook.com

Meski  pipih, bisa memuat ratusan buku!

Ketika buku Riding the Bullet karya penulis cerita horor Stephen King diluncurkan dengan cara tidak wajar, yakni melalui jaringan global Internet, orang baru ngeh ada sesuatu yang dahsyat dalam perkawinan antara dunia penerbitan konvensional dengan jaringan Internet. Bayangkan, dalam dua hari pertama tercatat tak kurang 500.000 permintaan download. Berarti hampir tiga buku per detik! Tanpa bersusah payah membuka toko, menggelar buku, serta tetek bengek lainnya. Peminat pun tak perlu harus ke toko buku atau tempat lain. Dari kamar tidur pun bisa pesan langsung.

Bandingkan dengan peluncuran buku karangan JK Rowling yang terkenal, Harry Potter and the Goblet of Fire. Ribuan penggemarnya rela antre untuk menjadi pembaca pertama buku heboh itu. Toko buku terpaksa buka tengah malam. Amazon.com dan toko buku online lainnya ikut kebanjiran pesanan.

Begitulah ”senyapnya” jika digitalisasi mulai menggerayangi dunia penerbitan buku. Tak ada kertas, tak ada aktivitas distribusi maupun jual-beli. Pun tak perlu ada toko buku yang harus capek buka tengah malam. Teknologi ini akan menjadi titik tolak penting sejak Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak sekitar 550 tahun lampau.

 

Belum berasa buku

Buku elektronik sebenarnya tak lebih dari digitalisasi isi sebuah buku, mulai dari sampul sampai indeks, lalu dienkripsikan untuk menghindari pembajakan. Lalu dikawinkan dengan jaringan Internet, e-book alias bukel menjadi mudah diakses dan ruang edarnya bertambah luas. Dengan begitu, bukel tak ubahnya majalah atau jurnal online. Atau gampangnya, sebuah situs biasa. Hanya saja dari tata bahasa, format tampilan, kedalaman bahasan, maupun penceritaan isi tidak jauh berbeda dengan p-book alias buker.

Dengan begitu, buku-buku yang karena ketebalannya susah diwujudkan menjadi buku cetak komersial, dengan gampang bisa dicakup oleh bukel. Seperti dituturkan Mikael Sandberg, manajer pemasaran Microsoft wilayah Eropa, dalam situs ZD-Net, buku-buku referensi dan informasi bisnis akan menemukan bentuk yang pas dalam bukel. Sebab, teknologi bukel bisa menyediakan teks yang banyak untuk dicari dengan menggunakan kata kunci atau keterangan.

Selain itu masih ada kemudahan lain yang ditawarkan. Penelusuran kata yang mudah, manipulasi atas besar dan jenis huruf, kemudahan menyalin, lompat ke halaman yang diinginkan, dsb. Ihwal format file yang didistribusikan, bukel bisa memakai HTML, PDF, atau RTF. Ketiga format itu jaminan keterbacaan sebuah bukel.

Dengan bukel pula Anda bisa menghemat kertas. Tapi jangan keburu bangga sebagai penyelamat lingkungan. Soalnya, jika melihat formatnya, bukel harus dibaca melalui peranti elektronik yang mirip dengan komputer atau turunannya (laptop, PDA, dll). Nah, peralatan ini menggunakan unsur seperti timbal, merkuri, dan kromium yang biasanya berakhir di timbunan sampah dalam tanah. Sebuah artikel di Salon Magazine menyatakan, pengguna elektronik menyumbang 40% dari timbal yang ada di timbunan sampah dalam tanah. Nah, lo!

Berkaitan dengan format HTML (juga XML), bukel bisa berubah karakter menjadi buku multimedia. Sebuah ikon akan menandai apakah suatu kata, gambar, atau ilustrasi bisa ”dihidupkan” atau sekadar dikasih suara. Tentu ini menjadi hiburan menarik dibandingkan dengan gambar atau ilustrasi yang statis pada buku biasa.

Sayangnya, berbagai kemudahan itu masih belum cukup untuk mewujudkan sebuah bukel benar-benar berasa buku. Maksudnya, apa iya nanti harus bawa-bawa komputer, laptop, atau PDA sekadar untuk membaca sebuah buku. Kalau di rumah sih oke. Kalau sedang di perjalanan atau tempat lain?

Karena itu, kaum probukel lalu memutar otak bagaimana buku elektronik memiliki ciri yang tidak jauh beda dengan buku biasa. Kalangan industri yang tanggap segera menghadirkan peranti khusus untuk membaca bukel dengan berbagai model. Tujuannya, menghadirkan suasana dan sensasi seperti memegang dan membaca sebuah buku. Maka, selain menghadirkan perangkat baca yang seperti buku, misalnya Rocket E-Book (REB) 1100 buatan RCA, kalangan industri masih berusaha agar suasana kertas masih terasa pada layar kristal peranti itu.

 

<<     1  2  3     >>

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/