globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

Infotekno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

POMPA PEMANAS CO2 RAMAH LINGKUNGAN

Sudah selayaknya pengembangan bidang teknologi, termasuk teknologi water heater, mengedepankan prinsip hemat energi dan ramah lingkungan. Target besarnya, apalagi kalau bukan demi keselamatan Bumi dan isinya. Seperti yang dilakukan para ahli di Jepang yang berhasil mengembangkan teknologi pemanas air menggunakan CO2. Selain ramah lingkungan - karena tidak menyebarkan polutan - juga hemat energi.

Tidak jelas kapan mulai ada kebiasaan mandi atau berendam di air hangat. Namun yang pasti, sejak zaman bahuela hingga kini sudah dikenal beragam sumber energi yang lazim digunakan pada sistem pemanas, termasuk pemanas air (water heater). Sumber energi itu mulai dari kayu, batu bara, kokas, bahan bakar minyak (BBM), gas alam (metana), liquefied petroleum gas (LPG), dan listrik. Pusat pengolah panasnya bisa berupa tungku perapian, ketel, trafo, atau heat pump.

Perkembangan ke depan teknologi water heater rasanya tidak mungkin lagi menggantungkan pada sumber energi seperti batu bara, BBM, dan gas. Pasalnya, sumber-sumber energi jenis ini tergolong terbatas ketersediaannya dan tidak bisa diperbaharui. Lagi pula mereka masuk dalam deretan biang kerok pencemaran Bumi dan kerusakan lingkungan. Dari proses pembakaran bahan-bahan itu untuk memperoleh energi panas, juga dihasilkan CO (karbon monooksida) - gas polutan yang bisa bikin sesak napas dan meracuni tubuh.

Sementara sistem pemanas air menggunakan sumber energi listrik memang masih bisa dijadikan andalan. Selain dijamin lebih praktis, bersih polutan, juga lebih gampang dikontrol. Tetapi tetap ada ”jeleknya”, mahal! Bahkan beradu soal irit, mustahil ia mampu menyaingi sistem pemanas dengan bahan bakar.

Begitu pula sistem pemanas air dengan tenaga surya (solar water heater), secara teknologi sangat memungkinkan. Apalagi sumber energi jenis ini tidak ada habis-habisnya. Namun secara ekonomis masih kurang layak diterapkan. Maklum, panel penangkap energi surya rata-rata berukuran raksasa. Untuk kebutuhan satu rumah tangga setidaknya perlu panel kolektor panas seluas 2,5 - 5 m2 dan tangki penyimpan air dengan kapasitas 200 - 400 l. Yang juga menjadi kendala utama, mahalnya itu lo! Meski begitu, teknologi pemanas air tenaga surya masih diminati dan diterapkan oleh sejumlah negara seperti Australia, Jepang, Israel, dan Amerika Serikat, terutama Florida.

Lalu, adakah solusi yang jitu?

 

CO2 tidak seperti freon

Sebagai wujud kepedulian terhadap problem pemanasan global dan keselamatan sumber energi, para ahli di Jepang amat antusias mengembangkan teknologi konservasi energi. Syukur-syukur kalau bisa irit energi, sekaligus ramah lingkungan.

 

POMPA PEMANAS SISTEM TERPISAH

 

Ada faktor lain yang melatar-belakangi kegetolan Jepang dalam hal ini. Salah satunya ya problem suplai energi alias BBM. Maklum, pasokan BBM Jepang sangat tergantung pada sumber-sumber di Timur Tengah. Tahun 2000 saja tercatat impor CPO (minyak mentah) Jepang mencapai 87%, lebih tinggi dari jumlah impor selama krisis minyak pada awal 1970-an.

Dalam rangka turut ikut andil menyelamatkan Bumi, Jepang pun berikrar mengurangi emisi gas rumah kaca. Untuk mewujudkan tekad itu, negeri ini mati-matian mengurangi konsumsi energi yang totalnya lebih dari 50 juta kiloliter minyak mentah; setara dengan kebutuhan BBM untuk seluruh kendaraan bermotor di Jepang selama setahun.

Upaya itu ternyata tidak sia-sia. Terutama semenjak sektor industri berhasil mengembangkan dan menerapkan teknologi konservasi energi. Salah satunya pengembangan teknologi pemanas air (water heater) dengan memanfaatkan karbon dioksida (CO2) sebagai bahan refrigeran, seperti dilaporkan oleh Hirano Masaki, direktur Divisi Konservasi dan Efisiensi Energi, Badan Sumber Daya Alam dan Energi, Departemen Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (Look Japan, Agustus 2001).

Produk pompa pemanas CO2 untuk water heater ini mulai dikembangkan pada akhir 1990-an. Pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan di Jepang yang bergerak di bidang pembuatan peralatan yang mengandalkan sumber energi listrik.

 

<<     1  2     >>

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/