|
|
Desember 2001 Langlang |
|
WISATA GUA DI AUSTRALIA Di Australia, padang gurun, sungai, batu karang, hutan, gua, bahkan semak belukar “dijual” untuk tujuan wisata. Ditata secara baik, dan turis pun berdatangan untuk “membeli”. Kita mungkin bisa belajar cara pengelolaan tempat-tempat itu, yang sebetulnya tak lebih istimewa daripada yang ada di negeri kita.
Berbicara
tentang wisata gua alam, misalnya, yang kita miliki tersebar dari Memang,
keberhasilan wisata domestik berkaitan dengan daya beli. Dan daya beli
berpangkal pada kemakmuran. Negara
semaju Australia punya kemampuan mengelola aset alam semacam gua sebagai
komoditas wisata andalan. Konsumen yang disasar, tentu, selain wisatawan
dalam negeri yang rata-rata sudah makmur, juga turis mancanegara. Ratusan
gua dalam belasan kompleks di semua negara bagian dikelola dengan cara dan
standar yang sama. Ada dukungan banyak pihak. Dari pemerintah federal,
pemerintah negara bagian, sampai organisasi wisata dan pencinta alam.
Boleh dikata setiap negara bagian di
Australia termasuk P. Tasmania, mempunyai kompleks-kompleks wisata gua yang
terbuka untuk umum. Di setiap kompleks - yang biasanya menyatu dengan wisata
gunung, hutan, dan sungai - dibuat pula sarana penunjang. Restoran,
wisma penginapan, karavan, sampai hotel berbintang. Juga toko
cenderamata, fasilitas angkutan, museum, dan aneka atraksi. Diciptakan
pula semacam pola ketergantungan dalam bentuk paket wisata, agar turis tidak
hanya menikmati satu objek. Sarana transportasi publik sengaja dibatasi,
maksudnya agar para turis berkunjung secara berkelompok dan terpadu. Ini
memberi peluang kepada biro-biro wisata untuk mengelolanya. Kalaupun ada
turis individual, paling-paling menggunakan kendaraan sendiri. Namun, di
tempat tujuan mereka tetap membelanjakan uang karena tak ada tempat yang
gratis.
Di atas lembah 200 - 300 m Jenolan
Caves adalah salah satu kompleks gua penting di Negara Bagian New South
Wales. Setiap tahun didatangi 200.000 - 300.000 turis, yang merupakan angka
kunjungan tertinggi dari seluruh kompleks gua di Australia. Kompleks
wisata alam di bawah pengelolaan Jenolan Caves Reserve Trust ini bukan hanya
termasuk salah satu yang terbesar (luasnya 2.461 ha), melainkan juga
memiliki batuan dan objek terlengkap. Lebih dari itu, kompleks Jenolan
terletak paling dekat, 180 km, dari Sydney, kota terbesar di Australia. Sebagai
daerah tujuan wisata, Jenolan Caves biasanya disatupaketkan dengan Blue
Mountains yang berjarak sekitar 140 km dari Sydney. Banyak fasilitas
ditawarkan di bekas daerah pertambangan (berlangsung dari awal abad ke-19
hingga ditutup tahun 1931) yang dikukuhkan menjadi taman nasional sejak 1966
itu. Hutan, perbukitan, air terjun, juga museum peninggalan pertambangan.
Panorama “mata burung” juga disajikan ketika para turis menaiki kereta
rel turun naik bukit curam Scenic Railway, serta kereta gantung bernama
Scenic Skyway yang menempuh perjalanan antarpuncak bukit di atas ketinggian
200 - 300 m dari lembah Jamison Valley. Kedua sarana yang harga tiketnya
antara A $ 5 (untuk anak-anak dan pensiunan) dan A $ 8 (untuk dewasa) itu
membawa para turis melintas di depan
ikon utama kompleks Blue Mountains, yakni tiga bukit karang yang dinamai
Three Sisters. Blue
Mountains sesungguhnya tidak biru-biru amat setiap saat. Warna biru yang
sesekali terlihat merupakan fenomena alam yang secara ilmiah disebut
Rayleigh’s Scattering. Ini diambil dari nama Lord Rayleigh, ilmuwan yang
pertama kali menyelidiki efek warna biru itu pada awal tahun 1900-an. Warna
biru di sekitar Blue Mountains terjadi karena biasan sinar matahari yang
menerpa partikel debu bercampur titik-titik uap minyak dari pohon ekaliptus
yang tumbuh lebat di sana. Ekaliptus,
kita tahu, juga banyak terdapat di Irian Jaya, yang oleh masyarakat sekitar
dinamakan pohon nifoek. Bisa dipastikan kawasan hutan nifoek di Irian Jaya
pun sesekali kebiru-biruan terpapar sinar matahari. Sayangnya, di sana tidak
terjadi penamaan Blue Mountains.
|
|||||