globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

Langlang

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

WISATA GUA DI AUSTRALIA

Di Australia, padang gurun, sungai, batu karang, hutan, gua, bahkan semak belukar “dijual” untuk tujuan wisata. Ditata secara baik, dan turis pun berdatangan untuk “membeli”. Kita mungkin bisa belajar cara pengelolaan tempat-tempat itu, yang sebetulnya tak lebih istimewa daripada yang ada di negeri kita.

repro blue mountains touris newspaper

Ilustrasi dari berkala Government Gazette edisi 19 Agustus 1884, masa awal ketika Jenolan Caves menjadi daerah tujuan wisata.

Berbicara tentang wisata gua alam, misalnya, yang kita miliki tersebar dari Sabang sampai Merauke dalam aneka jenis, kualitas, kedalaman, dan keunikan. Tapi berapa banyak gua yang sudah dikelola? Yang sudah dikelola pun, berapa banyak yang dikemas secara benar dan “laku dijual”?

Memang, keberhasilan wisata domestik berkaitan dengan daya beli. Dan daya beli berpangkal pada kemakmuran.

Negara semaju Australia punya kemampuan mengelola aset alam semacam gua sebagai komoditas wisata andalan. Konsumen yang disasar, tentu, selain wisatawan dalam negeri yang rata-rata sudah makmur, juga turis mancanegara.

Ratusan gua dalam belasan kompleks di semua negara bagian dikelola dengan cara dan standar yang sama. Ada dukungan banyak pihak. Dari pemerintah federal, pemerintah negara bagian, sampai organisasi wisata dan pencinta alam. Boleh dikata setiap negara bagian di Australia termasuk P. Tasmania, mempunyai kompleks-kompleks wisata gua yang terbuka untuk umum. Di setiap kompleks - yang biasanya menyatu dengan wisata gunung, hutan, dan sungai - dibuat pula sarana penunjang. Restoran,  wisma penginapan, karavan, sampai hotel berbintang. Juga toko cenderamata, fasilitas angkutan, museum, dan aneka atraksi.

Diciptakan pula semacam pola ketergantungan dalam bentuk paket wisata, agar turis tidak hanya menikmati satu objek. Sarana transportasi publik sengaja dibatasi, maksudnya agar para turis berkunjung secara berkelompok dan terpadu. Ini memberi peluang kepada biro-biro wisata untuk mengelolanya. Kalaupun ada turis individual, paling-paling menggunakan kendaraan sendiri. Namun, di tempat tujuan mereka tetap membelanjakan uang karena tak ada tempat yang gratis.

 

repro jenolan caves

Sayap Malaikat, “The Angel’s Wing”, di Temple of Baal.

Di atas lembah 200 - 300 m

Jenolan Caves adalah salah satu kompleks gua penting di Negara Bagian New South Wales. Setiap tahun didatangi 200.000 - 300.000 turis, yang merupakan angka kunjungan tertinggi dari seluruh kompleks gua di Australia.

Kompleks wisata alam di bawah pengelolaan Jenolan Caves Reserve Trust ini bukan hanya termasuk salah satu yang terbesar (luasnya 2.461 ha), melainkan juga memiliki batuan dan objek terlengkap. Lebih dari itu, kompleks Jenolan terletak paling dekat, 180 km, dari Sydney, kota terbesar di Australia.

Sebagai daerah tujuan wisata, Jenolan Caves biasanya disatupaketkan dengan Blue Mountains yang berjarak sekitar 140 km dari Sydney. Banyak fasilitas ditawarkan di bekas daerah pertambangan (berlangsung dari awal abad ke-19 hingga ditutup tahun 1931) yang dikukuhkan menjadi taman nasional sejak 1966 itu. Hutan, perbukitan, air terjun, juga museum peninggalan pertambangan. Panorama “mata burung” juga disajikan ketika para turis menaiki kereta rel turun naik bukit curam Scenic Railway, serta kereta gantung bernama Scenic Skyway yang menempuh perjalanan antarpuncak bukit di atas ketinggian 200 - 300 m dari lembah Jamison Valley. Kedua sarana yang harga tiketnya antara A $ 5 (untuk anak-anak dan pensiunan) dan A $ 8 (untuk dewasa) itu membawa para turis melintas di depan ikon utama kompleks Blue Mountains, yakni tiga bukit karang yang dinamai Three Sisters.

Blue Mountains sesungguhnya tidak biru-biru amat setiap saat. Warna biru yang sesekali terlihat merupakan fenomena alam yang secara ilmiah disebut Rayleigh’s Scattering. Ini diambil dari nama Lord Rayleigh, ilmuwan yang pertama kali menyelidiki efek warna biru itu pada awal tahun 1900-an. Warna biru di sekitar Blue Mountains terjadi karena biasan sinar matahari yang menerpa partikel debu bercampur titik-titik uap minyak dari pohon ekaliptus yang tumbuh lebat di sana.

Ekaliptus, kita tahu, juga banyak terdapat di Irian Jaya, yang oleh masyarakat sekitar dinamakan pohon nifoek. Bisa dipastikan kawasan hutan nifoek di Irian Jaya pun sesekali kebiru-biruan terpapar sinar matahari. Sayangnya, di sana tidak terjadi penamaan Blue Mountains.

 

 «     1  2  3     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/