globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

Perkara Kriminal

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MAYAT BAJANG MENANGKAP PEMBUNUH

ilustrasi: floren

Kendati sudah berusia 60 tahun, Roby Hasan masih energik mengelola perusahaan iklan miliknya yang lumayan besar di Surabaya. Setiap hari dalam sepekan, kecuali Sabtu dan Minggu, dijalani dengan kerja keras. Ia bekerja mulai pukul 08.00 hingga petang, malah tak jarang dilanjutkan dengan lembur sampai tengah malam. Namun, mengingat manusia bukan mesin, tak urung ia memerlukan istirahat.

Sabtu pagi, 9 Mei 1998, Roby tiba di vilanya yang nyaman. Vila Lembah Hijau yang terletak di Pacet, 67 km dari Surabaya. Meski di tempat peristirahatan tersebut ia berkesempatan mencuci pikiran keruh akibat bisnis, toh Roby masih memutar benaknya guna menyisihkan sejumlah pesaing dalam memperebutkan ”kue” berupa para pembeli jasa periklanan yang semakin menyusut jumlahnya.

Yang jelas, kawasan ini memiliki pemandangan yang indah. Orang bisa melepaskan pandangan sebebas-bebasnya ke puncak Gunung Welirang, atau menikmati bayang ungu kebiruan sosok gagah Gunung Penanggungan. Di saat demikian, menguap segala kejenuhan akibat rutinitas kerja keras, serta kebosanan gangguan hiruk-pikuk kota besar yang panas. Bagi Roby, waktu singkat harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, sebab esok ia harus kembali ke Surabaya untuk persiapan kerja di hari Senin.

 

Terpaksa dilinggis

Kedatangan Roby Hasan disertai Shinta Wulandari, putri tunggalnya, dan sang menantu, Dicky Hermanto. Mereka satu mobil dari Surabaya. Meski istrinya sudah meninggal 15 tahun silam, rupanya Roby tidak berniat mencari pengganti. Kebetulan pula Shinta seperti tidak membutuhkan ibu tiri. ”Jangan-jangan kerja keras gila-gilaan Roby itu pelarian dari rasa kesepian,” seloroh teman-teman Roby.

ilustrasi: florenBiasanya mereka menikmati akhir pekan dengan bercanda sambil menyantap roti bakar dan kopi panas di udara sejuk pegunungan. Namun kali ini tidak demikian, sebab ada pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu mendesak. Naskah penawaran kontrak dengan sebuah perusahaan besar yang bakal menjadi pelanggan baru harus siap di hari Senin. Bukankah kesan baik wajib diberikan terhadap klien baru?

Agar dapat kerja lembur, Roby perlu istirahat lebih dulu. Siang itu, sesudah bangun dari tidurnya yang lelap, Roby masuk ke kamar pribadi yang sekaligus juga menjadi ruang kerja. Pintu ditutup dan dikuncinya dari dalam. Shinta dan orang lain di vila itu tahu bahwa Roby sedang tenggelam dalam tumpukan kertas kerjanya.

Sekitar satu jam kemudian sebuah kijang kapsul memasuki halaman vila Lembah Hijau. Shinta yang kebetulan sedang duduk di beranda muka menyambut tamu yang sudah dikenal itu. Norman Setyawan, manajer pemasaran yang diandalkan di perusahaan Roby.

Setelah diberi tahu bahwa kedatangannya karena ada janji dengan ayahnya, maka perempuan itu pun mengantarkan tamunya ke dalam. Roby mempersilakan Norman langsung masuk ke ruang kerjanya. Selanjutnya pintu ditutup kembali oleh Roby.

Sampai beberapa waktu kemudian, Shinta mengajak suaminya keluar mencari penganan. Keduanya pergi bermobil, sebab pertokoan dan deretan rumah makan agak jauh jaraknya dari vila mereka.

Setiba di tempat tujuan, Shinta tergoda warung bakso kondang. Meski pembeli berjubel, Shinta tak mengurungkan niat jajan di sana. Saat menunggu giliran dilayani, Dicky menyempatkan pergi sebentar untuk membeli rokok di toko seberang jalan.

Sekembali di vila, tak terlihat lagi mobil Norman. Shinta agak kecewa, sebab ia sudah membeli penganan buat tamunya. Pak Somad, lelaki lima puluhan itu, dipanggilnya untuk ditanyai seputar kepulangan Norman Setyawan.

Pak Somad yang sudah bekerja di vila itu sejak dibeli oleh Roby dikenal sebagai orang dusun yang lugu. Kata Pak Somad, tamunya sudah pulang beberapa waktu sebelumnya.

Shinta kemudian mencoba mengetuk pintu kamar ayahnya untuk mengantarkan penganan yang telah dibelinya. Namun tak terdengar suara jawaban dari balik pintu yang masih terkunci rapat dari dalam. Shinta menduga, ayahnya sedang beristirahat, siapa tahu ia tertidur di ranjangnya.

Waktu terus berjalan, jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.05. Bosan menunggu ayahnya keluar dari kamar, kembali Shinta mengetuk pintu kamar ayahnya, berulang kali. Tak terdengar sepatah kata pun sahutan dari dalam.

ilustrasi: florenKesabaran Shinta habis. Dipanggilnya Pak Somad, Unggul Basuki, si tukang kebun, dan Mbok Warsiah tukang masak untuk membantu Dicky mendobrak pintu kamar Pak Roby. Akhirnya dengan bantuan linggis, pintu berhasil dibuka.

Betapa kaget Shinta begitu melihat ayahnya tergeletak tak bernyawa di meja kerjanya. Untung Dicky sigap menangkap tubuh Shinta yang limbung akibat syok. Sambil memangku istrinya yang pingsan, Dicky meraih telepon selular untuk menghubungi polisi setempat.

 

Semua punya alibi

Iptu Marselino Gunawan meski tidak dalam jam tugas bersedia mendampingi Briptu Suseno Adi. Mereka tiba sekitar 20 menit setelah menerima telepon dari Dicky.

Saat Suseno memotret TKP, Marselino meneliti seluruh bagian ruangan, sejengkal demi sejengkal. Mulai dari plafon, seluruh bagian dinding yang dilapisi wall paper, tiga lukisan di dinding, dan sejumlah perabot termasuk seperangkat komputer pribadi.

 

 «     1  2  3  4  5  6     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/