|
|
Desember 2001 Perkara Kriminal |
|
MAYAT BAJANG MENANGKAP PEMBUNUH
Kendati
sudah berusia 60 tahun, Roby Hasan masih energik mengelola Sabtu
pagi, 9 Mei 1998, Roby tiba di vilanya yang nyaman. Vila Lembah Hijau yang
terletak di Pacet, 67 km dari Surabaya. Meski di tempat peristirahatan
tersebut ia berkesempatan mencuci pikiran keruh akibat bisnis, toh Roby
masih memutar benaknya guna menyisihkan sejumlah pesaing dalam memperebutkan
”kue” berupa para pembeli jasa periklanan yang semakin menyusut
jumlahnya. Yang jelas, kawasan ini memiliki pemandangan yang indah. Orang bisa melepaskan pandangan sebebas-bebasnya ke puncak Gunung Welirang, atau menikmati bayang ungu kebiruan sosok gagah Gunung Penanggungan. Di saat demikian, menguap segala kejenuhan akibat rutinitas kerja keras, serta kebosanan gangguan hiruk-pikuk kota besar yang panas. Bagi Roby, waktu singkat harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, sebab esok ia harus kembali ke Surabaya untuk persiapan kerja di hari Senin. Terpaksa dilinggis Kedatangan
Roby Hasan disertai Shinta Wulandari, putri tunggalnya, dan sang menantu,
Dicky Hermanto. Mereka satu mobil dari Surabaya. Meski istrinya sudah
meninggal 15 tahun silam, rupanya Roby tidak berniat mencari pengganti.
Kebetulan pula Shinta seperti tidak membutuhkan ibu tiri. ”Jangan-jangan
kerja keras gila-gilaan Roby itu pelarian dari rasa kesepian,” seloroh
teman-teman Roby.
Agar
dapat kerja lembur, Roby perlu istirahat lebih dulu. Siang itu, sesudah
bangun dari tidurnya yang lelap, Roby masuk ke kamar pribadi yang sekaligus
juga menjadi ruang kerja. Pintu ditutup dan dikuncinya dari dalam. Shinta
dan orang lain di vila itu tahu bahwa Roby sedang tenggelam dalam tumpukan
kertas kerjanya. Sekitar
satu jam kemudian sebuah kijang kapsul memasuki halaman vila Lembah Hijau.
Shinta yang kebetulan sedang duduk di beranda muka menyambut tamu yang sudah
dikenal itu. Norman Setyawan, manajer pemasaran yang diandalkan di
perusahaan Roby. Setelah
diberi tahu bahwa kedatangannya karena ada janji dengan ayahnya, maka
perempuan itu pun mengantarkan tamunya ke dalam. Roby mempersilakan Norman
langsung masuk ke ruang kerjanya. Selanjutnya pintu ditutup kembali oleh
Roby. Sampai
beberapa waktu kemudian, Shinta mengajak suaminya keluar mencari penganan.
Keduanya pergi bermobil, sebab pertokoan dan deretan rumah makan agak jauh
jaraknya dari vila mereka. Setiba
di tempat tujuan, Shinta tergoda warung bakso kondang. Meski pembeli
berjubel, Shinta tak mengurungkan niat jajan di sana. Saat menunggu giliran
dilayani, Dicky menyempatkan pergi sebentar untuk membeli rokok di toko
seberang jalan. Sekembali
di vila, tak terlihat lagi mobil Norman. Shinta agak kecewa, sebab ia sudah
membeli penganan buat tamunya. Pak Somad, lelaki lima puluhan itu,
dipanggilnya untuk ditanyai seputar kepulangan Norman Setyawan. Pak
Somad yang sudah bekerja di vila itu sejak dibeli oleh Roby dikenal sebagai
orang dusun yang lugu. Kata Pak Somad, tamunya sudah pulang beberapa waktu
sebelumnya. Shinta
kemudian mencoba mengetuk pintu kamar ayahnya untuk mengantarkan penganan
yang telah dibelinya. Namun tak terdengar suara jawaban dari balik pintu
yang masih terkunci rapat dari dalam. Shinta menduga, ayahnya sedang
beristirahat, siapa tahu ia tertidur di ranjangnya. Waktu
terus berjalan, jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.05. Bosan menunggu
ayahnya keluar dari kamar, kembali Shinta mengetuk pintu kamar ayahnya,
berulang kali. Tak terdengar sepatah kata pun sahutan dari dalam.
Betapa
kaget Shinta begitu melihat ayahnya tergeletak tak bernyawa di meja
kerjanya. Untung Dicky sigap menangkap tubuh Shinta yang limbung akibat
syok. Sambil memangku istrinya yang pingsan, Dicky meraih telepon selular
untuk menghubungi polisi setempat. Semua punya alibi Iptu
Marselino Gunawan meski tidak dalam jam tugas bersedia mendampingi Briptu
Suseno Adi. Mereka tiba sekitar 20 menit setelah menerima telepon dari
Dicky. Saat
Suseno memotret TKP, Marselino meneliti seluruh bagian ruangan, sejengkal
demi sejengkal. Mulai dari plafon, seluruh bagian dinding yang dilapisi wall
paper, tiga lukisan di dinding, dan sejumlah perabot termasuk
seperangkat komputer pribadi.
|
||