globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

T e r a p i

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

JURUS-JURUS TANGKAL PJK

Penyakit jantung koroner (PJK) salah satunya disebabkan oleh tingginya tingkat konsumsi asam lemak jenuh. Karena itu, mengurangi risiko PJK bisa dilakukan dengan menggeser pola konsumsi makanan tinggi asam lemak jenuh menjadi pola pakan seimbang.

Dalam kurun 10 - 20 tahun terakhir, PJK telah menjadi pembunuh nomor satu di dunia, khususnya terhadap masyarakat di kota-kota besar. Di Jakarta, misalnya, banyak kalangan muda dan dewasa lebih menyukai makanan cepat saji seperti pizza, kue-kue berkalori tinggi, serta ayam goreng. Makanan tinggi lemak jenuh umumnya memang mengundang selera. Tanpa disadari lewat makanan macam itu asam lemak jenuh masuk ke dalam tubuh mereka. Akan semakin celaka, kalau pada saat yang sama, mereka kurang menyantap makanan rendah lemak jenuh dan tinggi serat, serta kurang berolahraga.

 

Yang ngendon dan yang mengusir

Tetapi tidak perlu cemas. Ada banyak cara menangkal penyakit yang bisa menimbulkan kematian mendadak ini asal mau dan konsisten mengikuti pola makan yang disarankan para ahli.

Lalu bagaimana ceritanya hubungan PJK dengan konsumsi zat lemak? Selama proses pencernaan dalam

usus, zat lemak yang masuk ke tubuh lewat makanan mengalami pemecahan menjadi asam lemak bebas trigliserida, fosfolipid, dan kolesterol.

Asam lemak bebas terdiri atas asam lemak jenuh (saturated fatty acid, disingkat SAFA), asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid, MUFA), dan asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid, PUFA). Sementara asam lemak bebas yang berlebihan akan tersimpan dalam bentuk trigliserida.

Kolesterol yang berasal dari bahan makanan hewani merupakan unsur terpenting dari lemak. Selain berasal langsung dari makanan, ia juga bisa dibentuk dalam hati, berasal dari asam lemak jenuh hasil pemecahan trigliserida. Memang dalam metabolisme di hati, hanya asam lemak jenuh yang bisa dibentuk menjadi kolesterol.

Tahukah Anda, tubuh kita memproduksi kolesterol 1,5 - 2 g per hari? Jauh lebih besar daripada yang didapat lewat makanan. Ini karena kolesterol yang merupakan substansi lemak memang terdapat dalam setiap sel tubuh. Fungsinya juga penting. Selain sebagai sumber energi, juga berperan dalam pembentukan hormon dan membran sel. Belum lagi menjadi bahan pembentuk asam empedu dalam cairan empedu.

Di dalam tubuh, kolesterol membentuk ikatan kompleks lemak-protein - yang lebih dikenal dengan lipoprotein - seperti chylomicron, very low density lipoprotein (VLDL), low density lipoprotein (LDL), dan high density lipoprotein (HDL). Kadar LDL dan HDL erat hubungannya dengan terjadinya endapan dalam pembuluh darah.

Apabila rombongan kolesterol lebih ramai daripada proteinnya, maka akan terbentuk senyawa lipoprotein berkepadatan rendah - disebut LDL - dan dikenal sebagai kolesterol “jahat”. Sebaliknya, kalau kolesterolnya lebih sedikit sedangkan pasukan proteinnya lebih banyak, ikatannya disebut lipoprotein berkepadatan tinggi atau HDL, dan dikenal sebagai kolesterol “baik”.

Dicap sebagai “jahat” karena LDL memudahkan endapan lemak ngendon pada dinding bagian dalam pembuluh darah. Semakin tebal endapan, pembuluh darah jantung akan makin tersumbat atau mengalami penebalan atau pengerasan (aterosklerosis). HDL dikasih cap “baik” karena ia membantu “mengusir” kolesterol LDL dari jaringan tubuh. Kata lainnya, kalau pembuluh darah lebih banyak diisi pasukan HDL, otomatis gerombolan LDL-nya tak akan kebagian tempat dalam pembuluh sehingga endapan dapat dicegah.

Karena itu, kadar LDL yang wajar disarankan tidak lebih dari 130 mg%, sementara kadar HDL paling sedikit 35 mg%. Total kadar kolesterol yang dikatakan baik tidak lebih dari 200 mg%. Tidak kalah penting disimak ialah kadar lemak trigliserida yang berfungsi sebagai sumber energi terbanyak dalam tubuh. Pasalnya, trigliserida yang tinggi kadarnya dapat ikut menunjang terjadinya PJK. Kadar trigliserida yang wajar tidak lebih dari 200 mg%.

 

Perbanyak konsumsi asam lemak tak jenuh

Betulkah mereka yang berkolesterol tinggi otomatis juga berisiko besar mendapat serangan PJK? Tidak juga, sebab masih harus dilihat dulu rasio kolesterol total terhadap HDL. Kalau HDL Anda misalnya 60 mg%, sementara orang lain 40 mg%, lalu perbandingan antara kolesterol total dan HDL masing-masing 3,5 dan 5, berarti risiko Anda terserang PJK lebih kecil dari orang itu. Makin tinggi nilai rasio, makin tinggi risikonya.

Selain karena faktor bawaan, tingginya kadar kolesterol dan trigliserida tidak jarang karena pola makan yang kurang seimbang. Sebagai orang Indonesia yang mengenal aneka ragam makanan dari berbagai daerah, patut diketahui bahan makanan apa saja yang mengandung asam lemak jenuh.

Melesat tingginya kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah sebenarnya bisa direm dengan membatasi konsumsi makanan yang mengandung asam lemak jenuh ini. Di antaranya daging ternak (sapi, babi, kambing), kulit ayam broiler, serta kelapa, termasuk produk olahannya (santan, kelapa parut, serundeng, minyak kelapa). Menghindari makanan berbahan kelapa memang tidak mudah, tapi setidaknya perlu disadari sampai batas mana yang patut dikonsumsi.

 

 

 «     1  2     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/