|
|
Desember 2001 T e r a p i |
|
JURUS-JURUS TANGKAL PJK Penyakit jantung koroner (PJK) salah satunya disebabkan oleh tingginya tingkat konsumsi asam lemak jenuh. Karena itu, mengurangi risiko PJK bisa dilakukan dengan menggeser pola konsumsi makanan tinggi asam lemak jenuh menjadi pola pakan seimbang.
Yang
ngendon dan yang mengusir Tetapi
tidak perlu cemas. Ada banyak cara
menangkal penyakit yang bisa menimbulkan
kematian mendadak ini asal mau dan konsisten mengikuti pola makan yang
disarankan para ahli. Lalu
bagaimana ceritanya hubungan PJK dengan konsumsi zat lemak? Selama proses
pencernaan dalam usus, zat lemak yang
masuk ke tubuh lewat makanan mengalami pemecahan menjadi asam lemak bebas
trigliserida, fosfolipid, dan kolesterol. Asam lemak bebas terdiri atas asam lemak jenuh (saturated
fatty acid, disingkat SAFA), asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated
fatty acid, MUFA), dan asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated
fatty acid, PUFA). Sementara asam lemak bebas yang berlebihan akan
tersimpan dalam bentuk trigliserida. Kolesterol yang berasal dari bahan makanan hewani merupakan
unsur terpenting dari lemak. Selain berasal langsung dari makanan, ia juga
bisa dibentuk dalam hati, berasal dari asam lemak jenuh hasil pemecahan
trigliserida. Memang dalam metabolisme di hati, hanya asam lemak jenuh yang
bisa dibentuk menjadi kolesterol. Tahukah Anda, tubuh kita memproduksi kolesterol 1,5 - 2 g per
hari? Jauh lebih besar daripada yang didapat lewat makanan. Ini karena
kolesterol yang merupakan substansi lemak memang terdapat dalam setiap sel
tubuh. Fungsinya juga penting. Selain sebagai sumber energi, juga berperan
dalam pembentukan hormon dan membran sel. Belum lagi menjadi bahan pembentuk
asam empedu dalam cairan empedu. Di dalam tubuh, kolesterol membentuk ikatan kompleks
lemak-protein - yang lebih dikenal dengan lipoprotein - seperti chylomicron,
very low density lipoprotein (VLDL), low density lipoprotein
(LDL), dan high density lipoprotein (HDL). Kadar LDL dan HDL erat
hubungannya dengan terjadinya endapan dalam pembuluh darah. Apabila rombongan kolesterol lebih ramai daripada proteinnya,
maka akan terbentuk senyawa lipoprotein berkepadatan rendah - disebut LDL -
dan dikenal sebagai kolesterol “jahat”. Sebaliknya, kalau kolesterolnya
lebih sedikit sedangkan pasukan proteinnya lebih banyak, ikatannya disebut
lipoprotein berkepadatan tinggi atau HDL, dan dikenal sebagai kolesterol
“baik”. Dicap sebagai “jahat” karena LDL memudahkan endapan lemak ngendon
pada dinding bagian dalam pembuluh darah. Semakin tebal endapan, pembuluh
darah jantung akan makin tersumbat atau mengalami penebalan atau pengerasan
(aterosklerosis). HDL
dikasih cap “baik” karena ia membantu “mengusir” kolesterol LDL dari
jaringan tubuh. Kata lainnya, kalau pembuluh darah lebih banyak diisi
pasukan HDL, otomatis gerombolan LDL-nya tak akan kebagian tempat dalam
pembuluh sehingga endapan dapat dicegah. Karena itu, kadar LDL yang wajar disarankan tidak lebih dari
130 mg%, sementara kadar HDL paling sedikit 35 mg%. Total kadar kolesterol
yang dikatakan baik tidak lebih dari 200 mg%. Tidak kalah penting disimak
ialah kadar lemak trigliserida yang berfungsi sebagai sumber energi
terbanyak dalam tubuh. Pasalnya, trigliserida yang tinggi kadarnya dapat
ikut menunjang terjadinya PJK. Kadar trigliserida yang wajar tidak lebih
dari 200 mg%. Perbanyak
konsumsi asam lemak tak jenuh Betulkah mereka yang berkolesterol tinggi otomatis juga
berisiko besar mendapat serangan PJK? Tidak juga, sebab masih harus dilihat
dulu rasio kolesterol total terhadap HDL. Kalau HDL Anda misalnya 60 mg%,
sementara orang lain 40 mg%, lalu perbandingan antara kolesterol total dan
HDL masing-masing 3,5 dan 5, berarti risiko Anda terserang PJK lebih kecil
dari orang itu. Makin tinggi nilai rasio, makin tinggi risikonya. Selain karena faktor bawaan, tingginya kadar kolesterol dan
trigliserida tidak jarang karena pola makan yang kurang seimbang. Sebagai
orang Indonesia yang mengenal aneka ragam makanan dari berbagai daerah,
patut diketahui bahan makanan apa saja yang mengandung asam lemak jenuh. Melesat tingginya kadar kolesterol dan trigliserida dalam
darah sebenarnya bisa direm dengan membatasi konsumsi makanan yang
mengandung asam lemak jenuh ini. Di antaranya daging ternak (sapi, babi,
kambing), kulit ayam broiler, serta kelapa, termasuk produk olahannya
(santan, kelapa parut, serundeng, minyak kelapa). Menghindari makanan
berbahan kelapa memang tidak mudah, tapi setidaknya perlu disadari sampai
batas mana yang patut dikonsumsi.
|
|