|
|
Desember 2001 Terawang |
|
SERANGAN MEMALUKAN TAPI TAK MERUNTUHKAN Serbuan Jepang ke Pearl Harbor, peristiwa yang mengawali Perang Pasifik Raya, mencoreng wajah Amerika di Asia. Amerika pun takkan pernah melupakan tragedi 7 Desember 1941 itu. Siapa sangka, negara sekecil Jepang berani menantang hegemoni Amerika dengan serangan dahsyat. Saking kesalnya, Amerika menjatuhkan bom atom untuk menutupi rasa malu. Tetapi di balik peristiwa itu tersimpan sebuah misteri. Benarkah serangan itu sebagian justru karena peranan Franklin D. Roosevelt yang secara sengaja memprovokasi Jepang agar melakukannya? Kalau betul, apa tujuannya dan bagaimana langkah yang dianggap ide gila itu dilakukan? Lewat bukunya Day of Deceit Robert B. Stinnet mencoba menguaknya seperti bisa Anda ikuti pada judul ”Roosevelt Memancing, Jepang Menyerang”
Letak
geografis Jepang yang sangat jauh dari Hawaii, menjadi satu asumsi para
petinggi militer AS bahwa Jepang tak mungkin berani menyeberang Lautan
Pasifik yang luas, menyerang Pearl Harbor, dan bertempur jauh di luar pusat
pertahanan. Amerika masih meremehkan kekuatan Jepang. Namun,
menjelang akhir November 1941, sesuatu yang tak lazim telah berkembang di
kawasan Pasifik. Para laksamana Jepang tak bisa menduga alasan lain
keberadaan pangkalan Pearl Harbor yang dibangun sejak musim panas 1940,
selain untuk menghadang laju armada Jepang. Ide Yamamoto Pada
21 November 1941, Laksamana Isoroku Yamamoto menerima persetujuan akhir
tentang rencana serangan. Walaupun tak setuju dengan kebijakan Kaisar yang
menabuh genderang perang melawan Amerika dan Inggris, Panglima Gabungan
Kapal AL Kekaisaran Jepang itu tetap hormat dan setia pada Kaisar. Dengan
tepat ia menggariskan bahwa kemungkinan menang melawan Amerika sangatlah
kecil, kecuali Jepang melancarkan serangan pertama yang mematikan. Ia
berasumsi, jika perang pecah, kapal-kapal Amerika akan terpusat di Pearl
Harbor. Maka, serangan itu harus bisa mematikan Pearl Harbor. Dengan begitu,
lapanglah jalan invasi Jepang ke selatan yaitu Malaysia, Indonesia, dan
Filipina. Yamamoto
mulai mengajukan rencana penyerangan ke AS awal September di Naval War
College, Tokyo. Para petinggi AL Jepang tidak begitu saja menerima rencana
itu, karena pada dasarnya mereka penganut setia konsep perang gaya defensif.
Namun, Yamamoto yang teguh dan cerdas itu berkeras hati. Untuk meloloskan
rencananya, ia bahkan mengancam akan pensiun dini.
Laksamana
Osami Nagano, Kepala Staf AL, akhirnya dengan berat hati memberi lampu hijau
terhadap rencana “Operasi Hawaii” itu. Yamamoto tetap menjadi Komandan
Gabungan Kapal, dan diberi tugas untuk menyiapkan secara teknis peralatan
perang yang akan digunakan. Empat hari kemudian, ia meminta Laksamana Madya
Chuichi Nagumo memimpin kekuatan di lapangan. Diserang 353 pesawat tempur Tanggal
26 November 1941, pukul 06.00, kapal-kapal berkumpul di Teluk Hitokappu,
lalu mulai bergerak menuju Kepulauan Hawaii. Mereka melewati Lautan Pasifik
Utara yang sepi untuk menghindari lalu lintas kapal dagang. Para personel
bersiaga penuh dan siap bertempur sampai titik darah penghabisan. Cuaca
sempat memburuk, namun armada tetap berlaga dengan harapan bisa mencapai
target operasi dan bertempur. Dalam tradisi militer Jepang, pantang untuk
mundur bila telah memutuskan untuk menyerang. Cukup
menarik, sehari sebelum Laksamana Harold R. Stark, Komandan Pusat Operasi AL
AS, mengirim sebuah peringatan perang kepada Kimmel, armada Jepang yang
terdiri atas enam kapal induk, dua kapal perang, dua kapal penjelajah berat,
dua kapal penjelajah ringan, dan sembilan kapal perusak terlihat meluncur
bersama tiga kapal selam meninggalkan Kepulauan Kuril. Entah hendak ke mana,
tak ada yang tahu, kecuali beberapa orang penting di Tokyo. Latihan perang
memang sering digelar di sana, sehingga gerakan kapal-kapal ini tidak
menimbulkan kecurigaan khalayak ramai, khususnya AS. Peringatan
tertanggal 27 November 1941 untuk pemegang dua jabatan penting, yaitu
Panglima AL AS Wilayah Pasifik (CinCPac) dan Panglima Kapal Perang Amerika
(CinCUS) itu, berisi perubahan suhu politik di Washington, berkenaan dengan
dibekukannya hubungan diplomatik antara Jepang dan Amerika. Dikhawatirkan,
dalam waktu dekat sesuatu akan terjadi di Samudra Pasifik.
Pagi
itu armada Jepang sudah mencapai jarak 300 mil (555 m) dari Kepulauan
Hawaii, dan belum terendus siapa pun. Untuk meyakinkan situasi terakhir di
Pearl Harbor, kapal penjelajah berat Tone dan Chikuma masing-masing
meluncurkan pesawat pengintai Aichi E13A1. Pesawat dari kapal Tone terbang
menyusuri Pelabuhan Lahaina, Maui. Tak ada apa-apa di sana. Sementara
pesawat dari kapal Chikuma yang terbang melintas di atas Pearl Harbor pukul
05.30 menemukan, kapal-kapal Amerika berjajar santai, tanpa kapal induk. Tepat
pukul 06.00, 7 Desember 1941, 200 mil (370 m) dari Pearl Harbor, kapal-kapal
induk Jepang mulai meluncurkan 189 pesawat sebagai bagian dari serbuan
gelombang pertama. Komando dipegang oleh Letnan Kolonel Mitsuo Fuchida, yang
terbang dalam satu dari 40 pesawat pembom Nakajima B5N1 ”Kates” di
posisi terdepan. Diikuti kemudian 50 pembom Nakajima B5N1 ”Kates”,
dikomandani Letnan Kolonel Murata yang dipersenjatai torpedo. Pesawat
lainnya, pembom 54 Aichi D3A1 tipe 99 ”Val”, dikomandani Letnan Kolonel
Takahashi, dan 45 pesawat tempur Mitsubishi A6M2 tipe O dikomandani Letnan
Kolonel Itaya. Sebelum pukul 06.18 semua pesawat telah tinggal landas dari
kapal induk, meluncur menuju Pearl Harbor. Terhitung, 353 pesawat tempur
siap memangsa Pearl Harbor!
|
|||||