globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

Terawang

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

SERANGAN MEMALUKAN TAPI TAK MERUNTUHKAN

Serbuan Jepang ke Pearl Harbor, peristiwa yang mengawali Perang Pasifik Raya, mencoreng wajah Amerika di Asia. Amerika pun takkan pernah melupakan tragedi 7 Desember 1941 itu. Siapa sangka, negara sekecil Jepang berani menantang hegemoni Amerika dengan serangan dahsyat. Saking kesalnya, Amerika menjatuhkan bom atom untuk menutupi rasa malu. Tetapi di balik peristiwa itu tersimpan sebuah misteri. Benarkah serangan itu sebagian justru karena peranan Franklin D. Roosevelt yang secara sengaja memprovokasi Jepang agar melakukannya? Kalau betul, apa tujuannya dan bagaimana langkah yang dianggap ide gila itu dilakukan? Lewat bukunya Day of Deceit Robert B. Stinnet mencoba menguaknya seperti bisa Anda ikuti pada judul ”Roosevelt Memancing, Jepang Menyerang”

 

Pangkalan kapal-kapal di Pearl Harbor, Hawaii, adalah inti kekuatan angkatan laut (AL) Amerika Serikat (AS) di Pasifik, yang telah berjalan kurang dari tiga tahun. Kekuatan kapal-kapal di bawah komando Laksamana Husband E. Kimmel memiliki tugas pokok sebagai kekuatan penyangga dalam menghadapi agresivitas militer Jepang di Timur Jauh. Presiden  F. D. Roosevelt memang begitu khawatir dengan agresivitas negeri Matahari Terbit terhadap Cina, sehingga ia memutuskan menempatkan kapal-kapal perangnya di perairan Hawaii.

Letak geografis Jepang yang sangat jauh dari Hawaii, menjadi satu asumsi para petinggi militer AS bahwa Jepang tak mungkin berani menyeberang Lautan Pasifik yang luas, menyerang Pearl Harbor, dan bertempur jauh di luar pusat pertahanan. Amerika masih meremehkan kekuatan Jepang.

Namun, menjelang akhir November 1941, sesuatu yang tak lazim telah berkembang di kawasan Pasifik. Para laksamana Jepang tak bisa menduga alasan lain keberadaan pangkalan Pearl Harbor yang dibangun sejak musim panas 1940, selain untuk menghadang laju armada Jepang.

 

Ide Yamamoto

Pada 21 November 1941, Laksamana Isoroku Yamamoto menerima persetujuan akhir tentang rencana serangan. Walaupun tak setuju dengan kebijakan Kaisar yang menabuh genderang perang melawan Amerika dan Inggris, Panglima Gabungan Kapal AL Kekaisaran Jepang itu tetap hormat dan setia pada Kaisar. Dengan tepat ia menggariskan bahwa kemungkinan menang melawan Amerika sangatlah kecil, kecuali Jepang melancarkan serangan pertama yang mematikan.

Ia berasumsi, jika perang pecah, kapal-kapal Amerika akan terpusat di Pearl Harbor. Maka, serangan itu harus bisa mematikan Pearl Harbor. Dengan begitu, lapanglah jalan invasi Jepang ke selatan yaitu Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Yamamoto mulai mengajukan rencana penyerangan ke AS awal September di Naval War College, Tokyo. Para petinggi AL Jepang tidak begitu saja menerima rencana itu, karena pada dasarnya mereka penganut setia konsep perang gaya defensif. Namun, Yamamoto yang teguh dan cerdas itu berkeras hati. Untuk meloloskan rencananya, ia bahkan mengancam akan pensiun dini.

Barisan kapal AS saat serangan mulai dilancarkan.

Laksamana Osami Nagano, Kepala Staf AL, akhirnya dengan berat hati memberi lampu hijau terhadap rencana “Operasi Hawaii” itu. Yamamoto tetap menjadi Komandan Gabungan Kapal, dan diberi tugas untuk menyiapkan secara teknis peralatan perang yang akan digunakan. Empat hari kemudian, ia meminta Laksamana Madya Chuichi Nagumo memimpin kekuatan di lapangan.

 

Diserang 353 pesawat tempur

Tanggal 26 November 1941, pukul 06.00, kapal-kapal berkumpul di Teluk Hitokappu, lalu mulai bergerak menuju Kepulauan Hawaii. Mereka melewati Lautan Pasifik Utara yang sepi untuk menghindari lalu lintas kapal dagang. Para personel bersiaga penuh dan siap bertempur sampai titik darah penghabisan. Cuaca sempat memburuk, namun armada tetap berlaga dengan harapan bisa mencapai target operasi dan bertempur. Dalam tradisi militer Jepang, pantang untuk mundur bila telah memutuskan untuk menyerang.

Cukup menarik, sehari sebelum Laksamana Harold R. Stark, Komandan Pusat Operasi AL AS, mengirim sebuah peringatan perang kepada Kimmel, armada Jepang yang terdiri atas enam kapal induk, dua kapal perang, dua kapal penjelajah berat, dua kapal penjelajah ringan, dan sembilan kapal perusak terlihat meluncur bersama tiga kapal selam meninggalkan Kepulauan Kuril. Entah hendak ke mana, tak ada yang tahu, kecuali beberapa orang penting di Tokyo. Latihan perang memang sering digelar di sana, sehingga gerakan kapal-kapal ini tidak menimbulkan kecurigaan khalayak ramai, khususnya AS.

Peringatan tertanggal 27 November 1941 untuk pemegang dua jabatan penting, yaitu Panglima AL AS Wilayah Pasifik (CinCPac) dan Panglima Kapal Perang Amerika (CinCUS) itu, berisi perubahan suhu politik di Washington, berkenaan dengan dibekukannya hubungan diplomatik antara Jepang dan Amerika. Dikhawatirkan, dalam waktu dekat sesuatu akan terjadi di Samudra Pasifik.

Ratusan pesawat Jepang yang siap tempur.

Pagi itu armada Jepang sudah mencapai jarak 300 mil (555 m) dari Kepulauan Hawaii, dan belum terendus siapa pun. Untuk meyakinkan situasi terakhir di Pearl Harbor, kapal penjelajah berat Tone dan Chikuma masing-masing meluncurkan pesawat pengintai Aichi E13A1. Pesawat dari kapal Tone terbang menyusuri Pelabuhan Lahaina, Maui. Tak ada apa-apa di sana. Sementara pesawat dari kapal Chikuma yang terbang melintas di atas Pearl Harbor pukul 05.30 menemukan, kapal-kapal Amerika berjajar santai, tanpa kapal induk.

Tepat pukul 06.00, 7 Desember 1941, 200 mil (370 m) dari Pearl Harbor, kapal-kapal induk Jepang mulai meluncurkan 189 pesawat sebagai bagian dari serbuan gelombang pertama. Komando dipegang oleh Letnan Kolonel Mitsuo Fuchida, yang terbang dalam satu dari 40 pesawat pembom Nakajima B5N1 ”Kates” di posisi terdepan. Diikuti kemudian 50 pembom Nakajima B5N1 ”Kates”, dikomandani Letnan Kolonel Murata yang dipersenjatai torpedo. Pesawat lainnya, pembom 54 Aichi D3A1 tipe 99 ”Val”, dikomandani Letnan Kolonel Takahashi, dan 45 pesawat tempur Mitsubishi A6M2 tipe O dikomandani Letnan Kolonel Itaya. Sebelum pukul 06.18 semua pesawat telah tinggal landas dari kapal induk, meluncur menuju Pearl Harbor. Terhitung, 353 pesawat tempur siap memangsa Pearl Harbor!

 

 «     1  2  3  4  5  6     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/