globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

W a r n a

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Lika-liku Mengasah Anak Berbakat

Tanpa diasah, manalah mungkin batu permata memancarkan keindahannya. Demikian pula anak berbakat. Lalu bagaimana gambaran tarik-ulur mengasah anak-anak semacam ini?

dok. bobo

Joshua, “terjun bebas” bikin rekaman.

Dalam peringatan The Solo Years, 30th Anniversary Celebration, yang diadakan untuk King of Pop Michael Jackson (43) tanggal 7 dan 10 September lalu, duduk di deretan depan bintang Home Alone Macaulay Culkin (21). Mereka memang bersahabat. Kepada New York Magazine, Mac mengakui persahabatannya dengan Michael didasari persamaan, tumbuh di bawah tatapan para penonton. “Tanpa sadar kami terus menjadi anak-anak berusia delapan tahun, karena saat masa itu datang kami tidak punya kesempatan menikmatinya.”

Misi semula mengembangkan bakat anak, tanpa sadar melenceng akibat kilauan dan gemerincing dolar. Akhirnya, Mac yang hingga tahun 1994 telah membintangi 14 film dengan estimasi kekayaan AS $ 17 - 50 juta dan Michael yang album “Thriller”-nya terjual sebanyak 40 juta kopi, kesulitan menemukan identitas diri.

Dengan segala kesulitan itu, teori seleksi alam tetap berlaku. Hanya yang benar-benar menghayati perannya yang mampu bertahan, bahkan berkembang. Untuk mengambil contoh dari Tanah Air, Sherina, Angie Widjaja, dan Joshua, barangkali bisa dikedepankan sebagai bintang cilik yang masih tetap eksis hingga kini. Bagaimana gambaran lika-liku mengasah bakat mereka?

 

Pembiasaan sejak dini

Agaknya tetap harus ada landasan kebijakan utama dalam mengembangkan bakat anak. “Anak amanah dari Allah, jadi orang tua harus berusaha sebisa mungkin agar anak bisa berkembang dengan baik,” ujar Luki Munaf, ibu Sherina.

Perhatiannya tergugah saat putri keduanya itu baru berusia dua tahun, “Ia bisa menyanyikan lagu-lagu tanpa sumbang.” Malah, ia bisa menirukan petikan instrumen musik seperti gitar atau biola dengan persis. Maka Luki membawa Sherina untuk diuji apakah ia memang berbakat di bidang musik. “Hasilnya, Sherina amat berbakat di bidang tarik suara dan musik,” tutur Luki.

Ancang-ancang mengembangkan bakat itu dimulai saat Sinna Sherina Munaf berusia empat tahun dengan belajar bermain piano klasik, diikuti dua tahun kemudian dengan mengikuti kursus vokal di bawah bimbingan alm. Pranajaya.

Rupanya pola yang sama diberlakukan juga pada putri pertama Luki. Ternyata, si sulung menjadi contoh gamblang adiknya. Kebetulan mereka memiliki banyak minat yang sama, walaupun kemenonjolan bakatnya berbeda. Luki berpendapat, setiap anak sebaiknya mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensi secara luas sejak dini.

“Soal berbakat atau tidak, nanti akan terlihat. Setidaknya, anak terlatih belajar berdisiplin. Kalau dimulai saat dewasa, akan lebih sulit berkembang,” tutur Luki menggambarkan bahwa usahanya cukup berhasil. Terbukti, saat Sherina merengek-rengek diperbolehkan hadir di kursus bahasa Inggris meski tengah hujan lebat.

Ternyata pada kisaran usia serupa pula, Angelique Widjaja mulai menginjak lapangan tenis. Putri bungsu enam bersaudara anak pasangan Rico Widjaja dan Hanita Erwin yang Juli lalu menjadi orang Asia ketiga sekaligus orang Asia Tenggara pertama yang menjuarai kelompok yunior turnamen tenis Wimbledon itu baru berusia 4,5 tahun saat bakatnya ditemukan Meyske Handayani Wiguna, pelatih klub FIKS Bandung, tahun 1989.

“Angie mempunyai antisipasi menangkap bola yang amat baik,” tutur Meyske soal anak didiknya.

Minatnya bermain tenis muncul dari keinginan sendiri, sekadar ikut-ikutan lima kakak laki-lakinya yang semuanya gemar bermain tenis. Lucunya, “Saat itu kalau sudah di lapangan tenis, saya tidak ingin pulang. Sepertinya tidak ada rasa capek,” ujar Angie yang kelahiran Bandung, 12 Desember 1984, dan berperingkat 153 WTA itu (Kompas, 14 Oktober 2001). Tapi, gadis semampai bertinggi 170 cm dan berbobot 60 kg itu mengaku, “Malah sekarang kadang-kadang saya bosan.”

Meski bosan, toh Angie tekun melakoni peran belajar bermain tenis sejak masih anak TK. Malah mulai tahun 1993 ia dilatih pula oleh Deddy Tedjamukti, hingga kini.

dok. sherina

Sherina punya banyak minat, termasuk balet.

Nasib serupa tapi tak sama “menjerat” Joshua Suherman. Pasutri Jeddy Suherman dan Lisa menangkap gelagat anak pertamanya yang lahir pada 3 November 1992 itu pada usia hampir dua tahun sudah bisa dengan pas bernyanyi karaoke. “Bahkan lagu-lagu yang orang dewasa sulit menyanyikan, ia bisa dengan pas menentukan nada, kapan mesti masuk dan kapan mesti berhenti,” tutur Jeddy Suherman, sang ayah.

Melihat itu, Jeddy merasa sayang bila bakat Joshua, yang kebetulan juga cair dalam bergaul, terpendam begitu saja. Tanpa buang waktu, Jeddy tancap gas membuat album rekaman dengan modal sendiri. Tapi, muncul masalah lain, bagaimana seorang anak yang belum lagi bisa membaca harus menghafalkan lagu-lagu? Kembali peran orang tua menjadi sangat penting dalam membantu Joshua menghafalkan lagu yang dalam satu album jumlahnya tak kurang dari 10 buah. Tapi, itu sekaligus membuktikan kelebihan daya ingat Joshua.

Kerepotan itu tak sia-sia. Maka saat Joshua berusia tiga tahun, album pertamanya “Cit Cit Cuit” sudah beredar di pasaran. Malah, album itu cukup menggeliat, terbukti album keduanya berjudul “Kapal Terbang” sudah tak lagi mengandalkan pendanaan sendiri. Model demikian terus berlanjut, hingga kini Joshua menelurkan delapan album solo.

 «     1  2  3     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/