|
|
Desember 2001 W a r n a |
|
ANTRAKS MEREBAK, AWAL PERANG BIOLOGI? Belum hilang trauma kehilangan ribuan teman dan saudara tanggal 11 September lalu, belakangan warga AS tersulut kekhawatiran menyebarnya kuman antraks. Apakah ini merupakan teror ronde kedua dengan menggunakan senjata biologi? Belum bisa dijawab dengan pasti. Yang jelas, senjata biologi menggunakan kuman antraks sudah diteliti sejak 80 tahun lalu.
Kekhawatiran
ini memang sudah disinggung-singgung setelah tragedi gedung kembar World
Trade Center (WTC) di New York, menyusul pernyataan AS untuk memerangi
teroris. ”Analisis laboratorium menunjukkan bahwa strain kuman yang
dikirim ke kantor media Amerika di Florida dan New York sama,” kata David
Fleming, wakil direktur CDC di Atlanta, akhir Oktober lalu. Kuman
antraks memang merupakan salah satu jasad renik mematikan yang dilirik
sebagai ”bubuk mesiu”-nya senjata biologi. Selain kuman antraks, masih
ada lagi biang-biang penyakit lain yang direkrut sebagai bahan senjata
biologi. Senjata biologi sendiri sebenarnya salah satu dari tiga serangkai
senjata pemusnah massal. Dua senjata lainnya adalah senjata nuklir dan
kimia. Perbedaan ketiganya dari senjata perang biasa antara lain adalah
kedahsyatan dan ”peluru” yang digunakan. Senjata biologi menggunakan
mikroorganisme hidup (agen) yakni kuman (bakteri), seperti antraks dan pes,
atau virus, misalnya virus cacar dan ebola. Kefatalan yang
diakibatkannya bisa melebihi senjata nuklir atau kimia. Untuk
”menembakkan” agen biologi tersebut digunakan berbagai cara, misalnya
dengan aerosol. ”Perasaan tak menentu, tentang siapa yang akan terinfeksi,
merupakan kunci dalam perang biologi,” kata Stephen Morse dari School of
Public Health, Columbia University. Bukan penyakit baru Sejak
berabad-abad silam, antraks sudah menjadi penyakit mematikan pada binatang
dan penyakit serius pada manusia di berbagai belahan dunia. Sedihnya, sifat
mematikan itu justru membuat ngiler peneliti senjata untuk
mengadopsinya sebagai bahan senjata. Penelitian terhadap antraks sebagai
senjata biologi pun dilakukan sudah sejak lebih dari 80 tahun lalu. Ada
dua faktor utama mengapa antraks sangat potensial digunakan sebagai senjata
mematikan. Pertama, dalam bentuk spora Bacillus anthracis mampu hidup
lama pada berbagai kondisi. Kuman penyebab antraks itu memiliki dua faktor
virulensi alias protein kuman yang mampu menyebabkan penyakit, yakni tiga
macam toksin (faktor edema, antigen protektif, dan faktor letal) dan kapsul
yang melindungi bakteri tersebut. Faktor virulensi ini sangat erat kaitannya
dengan timbulnya gejala penyakit. Kapsul
melindungi kuman antraks yang masuk ke dalam tubuh sehingga tidak bisa
dimakan oleh sel-sel imun tubuh. Sementara ketiga toksin tidak secara
langsung bekerja di dalam tubuh. Ada syarat yang harus dipenuhi agar toksin
bisa beraksi. Faktor edema harus bekerja sama dengan antigen protektif untuk
menimbulkan edema. Sedangkan antigen protektif bersama faktor letal dapat
menimbulkan kematian. Namun, faktor edema dikombinasi dengan faktor letal
menjadi tidak aktif. Yang sangat berbahaya kalau ketiga macam faktor ini
bekerja sama. Akibatnya, terjadi edema, nekrosis (kematian jaringan), dan
akhirnya, kematian. Kedua,
spora antraks bisa masuk ke dalam tubuh manusia lewat tiga pintu, terhirup
sewaktu bernapas (inhalasi), termakan (lewat saluran cerna), dan kulit
daerah terbuka (misalnya tangan, leher, muka) yang terluka. Bergantung pada
masing-masing cara masuknya kuman, gejala dan tingkat kefatalan, kasus dapat
bervariasi. Antraks inhalasi, jika dalam 24 - 36 jam tidak diatasi, dapat
menimbulkan kesulitan bernapas yang berat dan syok yang berakhir pada
kematian penderita. Menurut
artikel pada Journal of American Medical Association (1999), 2.500 -
55.000 spora antraks yang terhirup bisa mengakibatkan kematian. Sedangkan
”Sepuluh ribu spora di dalam tubuh bisa menginfeksi manusia,” papar
Prof. Dr. Bibiana W. Lay, M.Sc. dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Di
dalam tubuh, karena berada di lingkungan yang mendukung, spora lalu
bergerminasi, mengubah dirinya menjadi sel bakteri vegetatif yang mampu
berkembang biak sangat cepat (dalam hitungan menit), sehingga dalam 1 - 2
hari jumlahnya bisa mencapai ribuan. Begitu organisme dan toksinnya masuk ke
sirkulasi darah, nyawa korban pun terancam. Yang
lebih mengerikan, jumlah korban yang bakal jatuh oleh senjata antraks
dijamin banyak. Tahun 1970, seorang ahli di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
memperkirakan secara teoritis, pesawat udara yang melepaskan 50 kg antraks
di atas daerah urban dengan populasi lima juta akan mengenai 250.000 orang,
100.000 di antaranya akan meninggal tanpa sempat diobati. Laporan
Anggota Kongres AS bidang Pengkajian Teknologi tahun 1993 memperkirakan
bahwa antara 130.000 dan tiga juta kematian bisa diakibatkan oleh pelepasan
100 kg spora antraks di atas Kota Washington, DC, sama parahnya dengan
dampak sebuah bom hidrogen. Secara ekonomi, CDC memperkirakan serangan macam
itu akan menghabiskan AS $ 26,2 miliar per 100.000 orang yang terpajan kuman
tersebut. Kabar
buruknya, kini diperkirakan ada 17 negara yang memiliki program senjata
pemusnah massal, termasuk senjata biologi. Entah berapa yang menggunakan
kuman antraks. Yang jelas, Irak diketahui memiliki pabrik senjata yang
memproduksi kuman antraks dan racun botulin dalam jumlah besar. Sementara
virus cacar air dalam jumlah kecil disimpan di laboratorium CDC di Atlanta,
Georgia (AS), dan di Vector, Koltsovo (Rusia). Lebih seram lagi, konon,
Rusia bahkan telah melakukan rekayasa genetika untuk membuat kuman antraks
dan virus cacar air yang lebih mematikan dan tahan terhadap antibiotik dan
vaksin. Terlepas dari jumlah dan siapa yang mampu melakukan produksi besar-besaran kuman antraks, ”Ternyata untuk membiakkan kuman itu susah-susah gampang,” kata Bibiana. ”Menumbuhkannya sih mudah, cukup dengan media kaldu biasa, kuman itu akan tumbuh. Yang sulit, membersihkan lab sesudahnya. Perlu petugas yang benar-benar tahu cara dekontaminasi. Alat-alat yang digunakan harus masuk otoklaf (teknik pemanasan hingga 120oC pada tekanan tinggi),” tambah pakar bakteriologi yang sudah 30 tahun memberikan praktikum antraks kepada calon dokter hewan di FKH-IPB itu. |
|||||||