globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

W a r n a

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

DI BOLING PUN ADA CEDERA

Belakangan boling populer kembali. Dengan perlengkapan  penuh warna-warni, kesan olahraga rekreasi lebih melekat. Padahal, seperti olahraga lainnya, boling juga memerlukan kesiapan fisik. Kemungkinan cedera pun ada. Bahkan, ada nilai-nilai standar untuk mengukur prestasi kita, seperti diulas oleh dr. Sadoso Sumosardjuno, Sp.KO. berikut ini

ibasSempat tenggelam beberapa tahun lamanya sejak mulai digemari di Indonesia pada tahun 1970-an, kini boling kembali dilirik orang. Banyak arena boling, yang sebelumnya sepi, dewasa ini mulai ramai kembali. Pengunjungnya bukan hanya orang-orang muda, tetapi banyak pula keluarga. Tujuannya pun beragam. Ada yang memang untuk meningkatkan prestasi. Tak sedikit pula hanya untuk rekreasi.

Mereka berasal dari berbagai kelompok usia, dari remaja hingga yang tua. Bahkan, yang berusia 70-an tahun pun ada yang masih bersemangat mengelindingkan bola di lintasan boling. Untuk bermain boling memang tidak ada batasan usia. Kelainan atau kecacatan pun, bahkan amputasi, bukan menjadi penghalang untuk pelaku olahraga ini. Bahkan, seseorang yang mengalami obesitas berlebihan tetap dapat sukses berolahraga boling. Apalagi kalau cuma kidal, dengan bola khusus yang cocok, ia pun dapat menjadi peboling andal. Yang penting, untuk mampu menggelindingkan bola boling dengan baik seseorang mesti berbadan cukup besar.

 

Awas cedera

Persyaratan utama untuk bermain boling dengan sukses adalah tingkat kemampuan tinggi dalam koordinasi otot dan saraf (neuromuskuler). Selain itu, penglihatan yang betul-betul baik, karena persepsi yang baik mengenai kedalaman sangat diperlukan. Itu masih ditambah dengan perimbangan serta gerakan yang bagus atau indah, dan tentunya, tak ketinggalan, konsentrasi.

Dahulu, orang mengira olahraga yang dianggap sekadar “rekreasi” ini tidak memerlukan kekuatan fisik dan daya tahan, sehingga tidak diperlukan pemeriksaan kesehatan bagi penggemarnya. Anggapan itu tidaklah benar. Boling pun menuntut kebugaran dan kekuatan otot. Bahkan untuk pemain boling yang dilombakan, perlu pemeriksaan fisik umum, terutama pemeriksaan punggung dan anggota gerak. Juga diperlukan pemeriksaan ketajaman penglihatan. Untuk pernapasan, jantung dan peredaran darahnya haruslah cukup baik untuk dapat memelihara dan melakukan aktivitas fisik yang ringan dan sedang. Sangat penting pula artinya pemeriksaan terhadap riwayat cedera yang pernah dialami.

ibas
ibas

Sebelum bermain atau berlomba dianjurkan melakukan pemantapan kondisi agar tidak cedera.

Bila kita memiliki riwayat atau sedang menderita kelainan pada lempeng antar ruas tulang punggung, jangan bermain boling. Meskipun ringan, sebaiknya cedera disembuhkan dulu. Begitu juga bila ada keluhan pada bahu, atau pada sendi bahu yang telah beberapa kali mengalami dislokasi. Menjelang perlombaan, bila ada cedera lengan atas atau bawah, pergelangan tangan, atau tangan, kita perlu istirahat untuk menyembuhkannya dulu.

Pun bila ada riwayat patah tulang pada pinggul atau kelainan pada pergelangan kaki, sebaiknya tidak memaksakan diri untuk bermain atau berlomba. Haruslah diingat, untuk mencapai keterampilan yang baik dan kenikmatan yang cukup, berolahraga boling tentu harus aman dari segi kesehatannya.

Boling memang menyimpan kemungkinan cedera akut dan subakut. Yang kebanyakan terjadi, cedera pada jari yang dimasukkan ke dalam bola dan sesekali fraktur pada jari-jari kaki atau memar karena kejatuhan bola. Cedera serius juga bisa terjadi, kebanyakan berhubungan dengan aktivitas menggelindingkan bola.

Beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera, di antaranya tidak melakukan pemantapan kondisi (conditioning) sebelum bermain atau perlombaan, kegemukan berlebihan, atau tidak adanya keluwesan ketika menggelindingkan bola.

Keluwesan hilang biasanya karena pemain menginjak tempat basah saat mengelindingkan bola sehingga gerakan menggelindingkan bolanya kurang bagus. Ini dapat menyebabkan cedera akut atau kronik pada otot-otot aduktor (bagian dalam) paha. Keluhan yang muncul biasanya berupa rasa sakit pada bagian atas tulang paha sebelah dalam, tempat kelompok otot-otot aduktor berpangkal pada perlekatannya di tulang panggul. Cedera akut lain yang pernah terjadi adalah cedera pada otot-otot pinggang, tulang rawan pada lutut, dan pergelangan kaki.

Sebuah contoh kasus cedera akut dan subakut ketika bermain boling ini pernah dialami seorang pria gemuk berlebihan. Ia  berhenti mendadak pada foul line (garis pelanggaran) dalam posisi tegak. Lalu, ia menggelindingkan bolanya kuat-kuat dengan cara tidak seperti biasanya. Setelah diperiksa, ternyata ia mengalami cedera pada tendon pangkal paha.

Sedangkan cedera kronis kebanyakan karena tidak melakukan pemantapan kondisi sebelum melakukan perlombaan atau mengikuti perlombaan terlalu banyak dalam satu waktu tertentu. Cedera macam ini biasanya terjadi pada oto-totot kerangka. Contohnya, rasa sakit yang kronis pada daerah bisep, otot aduktor paha atau pergelangan tangan.

Cedera kronis lain yang mungkin terjadi adalah pada lempeng antarruas tulang belakang, yang kadang-kadang sampai demikian parah sehingga si penderita sama sekali tidak dapat berolahraga boling. Penting diingat, sendi-sendi besar pada badan terlibat dalam gerakan-gerakan boling. Oleh karena itu nekat melakukan olahraga ini pada masa cedera akut dan masa pemulihan dapat membuat cedera berkembang menjadi kronis!

 <<     1  2     >>

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/