|
|
Desember 2001 W a r n a |
|
DI BOLING PUN ADA CEDERA Belakangan boling populer kembali. Dengan perlengkapan penuh warna-warni, kesan olahraga rekreasi lebih melekat. Padahal, seperti olahraga lainnya, boling juga memerlukan kesiapan fisik. Kemungkinan cedera pun ada. Bahkan, ada nilai-nilai standar untuk mengukur prestasi kita, seperti diulas oleh dr. Sadoso Sumosardjuno, Sp.KO. berikut ini
Mereka
berasal dari berbagai kelompok usia, dari remaja hingga yang tua. Bahkan,
yang berusia 70-an tahun pun ada yang masih bersemangat mengelindingkan bola
di lintasan boling. Untuk bermain boling memang tidak ada batasan usia.
Kelainan atau kecacatan pun, bahkan amputasi, bukan menjadi penghalang untuk
pelaku olahraga ini. Bahkan, seseorang yang mengalami obesitas berlebihan
tetap dapat sukses berolahraga boling. Apalagi kalau cuma kidal, dengan bola
khusus yang cocok, ia pun dapat menjadi peboling andal. Yang penting, untuk
mampu menggelindingkan bola boling dengan baik seseorang mesti berbadan
cukup besar. Awas
cedera Persyaratan
utama untuk bermain boling dengan sukses adalah tingkat kemampuan tinggi
dalam koordinasi otot dan saraf (neuromuskuler). Selain itu, penglihatan
yang betul-betul baik, karena persepsi yang baik mengenai kedalaman sangat
diperlukan. Itu masih ditambah dengan perimbangan serta gerakan yang bagus
atau indah, dan tentunya, tak ketinggalan, konsentrasi. Dahulu,
orang mengira olahraga yang dianggap sekadar “rekreasi” ini tidak
memerlukan kekuatan fisik dan daya tahan, sehingga tidak diperlukan
pemeriksaan kesehatan bagi penggemarnya. Anggapan itu tidaklah benar. Boling
pun menuntut kebugaran dan kekuatan otot. Bahkan untuk pemain boling yang
dilombakan, perlu pemeriksaan fisik umum,
terutama pemeriksaan punggung dan anggota gerak. Juga diperlukan pemeriksaan
ketajaman penglihatan. Untuk pernapasan, jantung dan peredaran darahnya
haruslah cukup baik untuk dapat memelihara dan melakukan aktivitas fisik
yang ringan dan sedang. Sangat penting pula artinya pemeriksaan terhadap
riwayat cedera yang pernah dialami.
Bila
kita memiliki riwayat atau sedang menderita kelainan pada lempeng antar ruas
tulang punggung, jangan bermain boling. Meskipun ringan, sebaiknya cedera
disembuhkan dulu. Begitu juga bila ada keluhan pada bahu, atau pada sendi
bahu yang telah beberapa kali mengalami dislokasi. Menjelang perlombaan,
bila ada cedera lengan atas atau bawah, pergelangan tangan, atau tangan,
kita perlu istirahat untuk menyembuhkannya dulu. Pun
bila ada riwayat patah tulang pada pinggul atau kelainan pada pergelangan
kaki, sebaiknya tidak memaksakan diri untuk bermain atau berlomba. Haruslah
diingat, untuk mencapai keterampilan yang baik dan kenikmatan yang cukup,
berolahraga boling tentu harus aman dari segi kesehatannya. Boling
memang menyimpan kemungkinan cedera akut dan subakut. Yang kebanyakan
terjadi, cedera pada jari yang dimasukkan ke dalam bola dan sesekali fraktur
pada jari-jari kaki atau memar karena kejatuhan bola. Cedera serius juga
bisa terjadi, kebanyakan berhubungan dengan aktivitas menggelindingkan bola. Beberapa
faktor dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera, di antaranya tidak
melakukan pemantapan kondisi (conditioning) sebelum bermain atau
perlombaan, kegemukan berlebihan, atau tidak adanya keluwesan ketika
menggelindingkan bola. Keluwesan
hilang biasanya karena pemain menginjak tempat basah saat mengelindingkan
bola sehingga gerakan menggelindingkan bolanya kurang bagus. Ini dapat
menyebabkan cedera akut atau kronik pada otot-otot aduktor (bagian dalam)
paha. Keluhan yang muncul biasanya berupa rasa sakit pada bagian atas tulang
paha sebelah dalam, tempat kelompok otot-otot aduktor berpangkal pada
perlekatannya di tulang panggul. Cedera akut lain yang pernah terjadi adalah
cedera pada otot-otot pinggang, tulang rawan pada lutut, dan pergelangan
kaki. Sebuah
contoh kasus cedera akut dan subakut ketika bermain boling ini pernah
dialami seorang pria gemuk berlebihan. Ia
berhenti mendadak pada foul line (garis pelanggaran) dalam
posisi tegak. Lalu, ia menggelindingkan bolanya kuat-kuat dengan cara tidak
seperti biasanya. Setelah diperiksa, ternyata ia mengalami cedera pada
tendon pangkal paha. Sedangkan
cedera kronis kebanyakan karena tidak melakukan pemantapan kondisi sebelum
melakukan perlombaan atau mengikuti perlombaan terlalu banyak dalam satu
waktu tertentu. Cedera macam ini biasanya terjadi pada oto-totot kerangka.
Contohnya, rasa sakit yang kronis pada daerah bisep, otot aduktor paha atau
pergelangan tangan. Cedera
kronis lain yang mungkin terjadi adalah pada lempeng
antarruas tulang belakang, yang kadang-kadang sampai demikian parah sehingga
si penderita sama sekali tidak dapat berolahraga boling. Penting diingat,
sendi-sendi besar pada badan terlibat dalam gerakan-gerakan boling. Oleh
karena itu nekat melakukan olahraga ini pada masa cedera akut dan masa
pemulihan dapat |
||||||||