|
|
Desember 2001 W a r n a |
|
Jauhi Gemuk Kendalikan Diabetes Tubuh yang gemuk subur katanya tanda kemakmuran. Tapi kabar buruknya, kegemukan sudah menjadi “wabah” yang mengkhawatirkan penduduk dunia. Obesitas bukan lagi persoalan kosmetik, tetapi sudah menjadi masalah kesehatan. Pasalnya, kegemukan erat kaitannya dengan kencing manis. Ibarat “pasangan setia”, untuk mengendalikannya bukan perkara gampang, meski tetap ada jalan keluarnya
Apa
saja yang berlebihan dinilai tidak baik. Termasuk soal bobot badan. Sebaliknya,
bila berbadan gemuk, penampilan jadi kurang menarik, dan penyakit yang
berkaitan dengan kegemukan pun siap menyerbu. Termasuk di dalamnya, dan
cukup ditakuti, diabetes melitus (DM) tipe 2. Walhasil, diperlukan biaya
tambahan untuk mengurusi kesehatan. Sebagai
gambaran, di AS misalnya, biaya untuk pemeliharaan kesehatan warganya yang
menderita kegemukan pada 1988 mencapai AS $ 44,6 miliar, atau 7,8% dari
biaya pemeliharaan kesehatan secara nasional. Sementara, di Australia pada
1989/1990 biaya yang dikeluarkan untuk warga yang gendut-gendut sebesar AU $
464 juta, atau lebih dari 2% anggaran pemeliharaan kesehatan secara
nasional. Hati-hati
hidden calory Untuk
mengetahui tubuh kita sudah gemuk atau belum digunakan parameter indeks
massa tubuh (IMT). Cara menghitungnya yakni membagi bobot badan (dalam
kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Ini parameter keluaran
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Maka buat orang Amerika, misalnya,
dikatakan gemuk kalau IMT-nya 30 atau lebih. Mengingat
proporsi tubuh orang Asia beda betul dengan orang Barat, Februari 2000 lalu
Prof. S. Inoue (dari Jepang) dan Prof. P. Zimmet (dari Australia)
bersama-sama meredifinisi parameter itu untuk orang Asia. Hasilnya, seperti
dikutip Prof. Dr. dr. Askandar Tjokroprawiro, Sp.PD, KE, dari Pusat Diabetes
dan Nutrisi - RSUD Dr. Soetomo - FK Unair, orang dikatakan kelebihan bobot
badan kalau IMT-nya lebih besar atau sama dengan 23, berisiko menderita
gemuk bila IMT-nya 23,1 - 24,9, dan mulai dikatakan obes bila IMT-nya lebih
besar atau sama dengan 25. Disebut normal kalau IMT-nya 18,5 - 22,9. Namun,
menurut dr. Sidartawan Soegondo, DTM&H, Sp.PD, KE, ketua Perkumpulan
Endokrinologi Indonesia (PERKENI) dalam press briefing di tengah
Kongres ke-11 ASEAN Federation of Endocrine Societies (AFES) di Bali, 7 - 11
November lalu, IMT bervariasi menurut etnis. “Karenanya, ada kebutuhan
untuk menelaah dan memiliki konsensus IMT untuk orang Indonesia,” ujarnya.
Namun untuk sementara IMT buat orang Asia bisa digunakan. Gemuk
ada tipenya. Tipe apel atau android (kebanyakan pria) dan tipe pir
atau gynoid (terutama wanita). Disebut tipe apel karena lemak banyak
tertimbun di perut sehingga tubuh bagian tengah bulat mirip apel. Dijuluki
tipe pir karena lemak banyak bersarang di paha dan pantat hingga tubuh
berbentuk kayak buah pir. Tipe
apel dinilai lebih berbahaya lantaran lemak perut lebih mobile
sehingga memudahkan terjadinya komplikasi penyakit aterosklerosis
(penyempitan pembuluh darah). Obes jenis ini, jika tidak segera dicegah,
juga merupakan predictor atas terjadinya DM. Dalam
seminar “Healthy Eating Habit” yang diselenggarakan Jakarta Hilton
Executive Club, PT Roche Indonesia, dan Standard Chartered Bank, Dr. Elvina
Karyadi, M.Sc., Ph.D., ahli gizi dari SEAMEOTropmed UI, menyebut ada empat
faktor penyebab terjadinya kegemukan. Yaitu asupan kalori melebihi kebutuhan
tubuh dari yang dipakai untuk beraktivitas; daya serap tubuh terhadap
makanan; tingkat metabolisme; dan kelainan pada pusat rasa kenyang di bagian
otak hipotalamus yang mengirim perasaan cukup setelah makan. Faktor
pertama berhubungan erat dengan gaya hidup atau perilaku makan (faktor
lingkungan), sedangkan sisanya bersifat organik. Beberapa
perilaku yang menyebabkan orang mendapatkan asupan kalori melebihi kebutuhan
di antaranya senang mengonsumsi makanan yang tinggi lemak, digoreng, atau
bersantan; kebiasaan ngemil makanan berlemak, bergula, atau berminyak;
mengurangi konsumsi nasi tetapi menggantinya dengan makanan berlemak dan
bergula; serta kurangnya aktivitas fisik sehingga asupan kalori tidak
terbakar semuanya. Makanan yang digoreng, bersantan, atau manis itulah
sebenarnya yang mengandung kalori (hidden calory).
|
|||||||