|
|
Desember 2001 W a r n a |
|
Petualangan di Dunia Maya Bersama Karl May Anda tidak banyak tahu komputer atau internet? Tapi ingin punya situs sendiri? Apa mungkin? Saya adalah salah satu contoh orang yang “terjerumus” ke dunia internet dan kemudian “bertualang” di dunia maya, tanpa mempunyai pengetahuan yang khusus tentang itu. Berikut adalah pengalaman membuat suatu situs. “Dunia Karl May”
Padahal
tak kurang dari memoir Bung Hatta menyebutkan bahwa sejak 1919
ternyata masyarakat di zaman itu membaca Carl May (demikian Hatta
mengejanya). Lebih mengejutkan lagi, buku-buku tentang para perintis
kemerdekaan atau tentang Bung Syahrir oleh John D. Legge atau Robert Mrazek
menyebutkan, betapa para perintis kemerdekaan terinspirasi karya May tentang
arti kemerdekaan. Pengantar buku Matu Mona Pacar Merah juga
menyebut-nyebut nama Karl May pada 1939 itu. Begitu juga feature di
suatu harian tentang seorang profesor yang pensiun menyiratkan bahwa di awal
1940 anak-anak sekolah juga baca Karl May. Makin mengejutkan lagi, orang
yang namanya Karl May ini ternyata pernah berkunjung juga ke Indonesia. Ya,
tapi siapa dia? Terlahir
sebagai Carl May (1842 - 1912), dia orang Jerman dari Saksen (daerah di
sekitar Dresden, dulu masuk di Jerman Timur). Karl May adalah penulis. Tapi
tidak mau disebut novelis, meskipun dia menulis lebih dari 80 buku yang
rata-rata setebal 550 - 600 lembar! Dia hanya mau disebut sebagai penulis
cerita perjalanan. Uniknya, dari berbagai macam petualangan yang lokasinya
di berbagai pelosok dunia, dan dengan sangat detailnya cara dia
menggambarkan, hampir semua buku yang ditulis tidak berdasarkan perjalanan
sebenarnya. Hanya satu buku saja yang betul-betul dibuat berdasarkan
perjalanan sesungguhnya. Buku satu-satunya itu ialah tentang petualangannya
di Indonesia! Meskipun dibalut dengan petualangan, inti karya Karl May
adalah tentang persahabatan antarbangsa, perdamaian, antikekerasan,
penyelamatan lingkungan, atau singkatnya tentang kemanusiaan. Perhatikan
komentar berikut dari orang yang namanya mungkin sudah Anda kenal:
“Keseluruhan masa remaja saya berada di bawah pengaruhnya. Bahkan juga di
masa-masa kini ketika saya sedang dalam waktu-waktu dirundung
keputusasaan.” Orang yang mengatakan ini adalah Albert Einstein, si ahli
fisika dan pemenang Nobel Fisika 1921 itu. Selanjutnya,
“Apa yang saya suka dari tulisannya adalah karena menginspirasikan keberanian untuk menegakkan perdamaian dan saling pengertian
yang tertulis di hampir semua bukunya.” Ini pendapat Albert Schweitzer,
pemenang Nobel Perdamaian 1952. Sedangkan Herman Hesse, pemenang Nobel
Kesusastraan tahun 1946 menyatakan, ”Tulisannya yang penuh warna dan
menggigit mewakili suatu jenis karya fiksi yang tidak bisa dilewatkan dan
abadi.” Akhirnya, Bertha von Stuttner pemenang Nobel Perdamaian tahun 1905
mengatakan, “Di atas segala-galanya Karl May adalah seorang pencinta
perdamaian (pacifist).” Kenapa situs dibuat Seperti
halnya dengan anak Indonesia yang lain, saya mengenal Karl May dari orang
terdekat, semasa kanak-kanak pada awal 1960-an. Ketika itu buku Karl May
versi soft cover diterbitkan oleh Noor Komala. Sebelumnya - pada 1950
- ketika masih berstatus perusahaan Belanda Noordhoff Kolff, mereka sudah
menerbitkan versi hard cover, sebanyak empat judul. Penerbit itu
sekarang sudah berganti nama menjadi Pradnya Paramita.
Tahun
1998, ketika pertama kali belajar internet, melalui search engine,
saya masukkan nama Karl May, dan saya terheran-heran melihat ratusan url yang
ada hubungannya dengan nama itu. Sayang, sepintas saya lihat bahwa semuanya
dalam bahasa Jerman. Belakangan saya keliru. Ternyata kalau membuka dengan search
engine Alta Vista, kita bisa membaca situs Karl May dalam berbagai
bahasa dunia, termasuk Jepang, Estonia, dan negara-negara “aneh”
lainnya. Setahun kemudian dalam sebuah mailing list berbahasa
Indonesia, saya heran ketika mengetahui betapa banyak dari mereka pernah
baca dan suka buku Karl May. Karena
sejak lama saya tahu bahwa buku yang beredar di Indonesia hanyalah sebagian
kecil dari total buku keseluruhan - dan setelah saya pelajari baik-baik
dengan seseorang yang sangat tahu persoalannya ternyata tidak ada lagi
kemungkinan buku yang belum pernah terbit itu akan bisa diterbitkan - maka
timbullah pikiran dalam benak saya. Kalau ternyata tidak ada orang yang mau
menerbitkan, kenapa saya tidak “menerbitkan” sendiri? Ini tercetus
karena saya tahu dari komunikasi di dunia maya bahwa peminatnya masih ada. Karena
membuat bukunya masih belum mampu, kenapa tidak meminta penerbit untuk
membuatnya? Tapi, apa mereka mau? Sedang nama Karl May saja nyaris tidak
dikenal lagi. Saya berkesimpulan, nama Karl May ini harus dihidupkan lagi di
Indonesia. Bagaimana caranya? Ah, kenapa tidak dicoba saja teknologi yang
mutakhir? Internet? Pembuatan
situs? Meskipun semangat awalnya sekadar hura-hura, sempat terbersit juga
harapan bahwa apa yang dibuat ini suatu saat akan bermanfaat.
|
|||||