globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

W a r n a

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Petualangan di Dunia Maya Bersama Karl May

Anda tidak banyak tahu komputer atau internet? Tapi ingin punya situs sendiri? Apa mungkin? Saya adalah salah satu contoh orang yang “terjerumus” ke dunia internet dan kemudian “bertualang” di dunia maya, tanpa mempunyai pengetahuan yang khusus tentang itu. Berikut adalah pengalaman membuat suatu situs. “Dunia Karl May”

dok. indo karl maySejauh yang saya tahu, media Indonesia yang paling banyak memuat artikel tentang Karl May adalah Intisari. Itu pun hanya dua kali. Pertama 1963 dan kedua 1992. Keduanya adalah saduran dari beberapa sumber luar negeri. Dengan kata lain, bagi media Indonesia, nama Karl May dianggap tidak layak berita. Sebenarnya, ini agak mengherankan, karena sejak 1950 nama Karl May telah masuk ke Indonesia. Juga dalam  dua ensiklopedia Indonesia yang ada, lema Karl May selalu ada, meski selalu salah datanya.

Padahal tak kurang dari memoir Bung Hatta menyebutkan bahwa sejak 1919 ternyata masyarakat di zaman itu membaca Carl May (demikian Hatta mengejanya). Lebih mengejutkan lagi, buku-buku tentang para perintis kemerdekaan atau tentang Bung Syahrir oleh John D. Legge atau Robert Mrazek menyebutkan, betapa para perintis kemerdekaan terinspirasi karya May tentang arti kemerdekaan. Pengantar buku Matu Mona Pacar Merah juga menyebut-nyebut nama Karl May pada 1939 itu. Begitu juga feature di suatu harian tentang seorang profesor yang pensiun menyiratkan bahwa di awal 1940 anak-anak sekolah juga baca Karl May. Makin mengejutkan lagi, orang yang namanya Karl May ini ternyata pernah berkunjung juga ke Indonesia. Ya, tapi siapa dia?

Terlahir sebagai Carl May (1842 - 1912), dia orang Jerman dari Saksen (daerah di sekitar Dresden, dulu masuk di Jerman Timur). Karl May adalah penulis. Tapi tidak mau disebut novelis, meskipun dia menulis lebih dari 80 buku yang rata-rata setebal 550 - 600 lembar! Dia hanya mau disebut sebagai penulis cerita perjalanan. Uniknya, dari berbagai macam petualangan yang lokasinya di berbagai pelosok dunia, dan dengan sangat detailnya cara dia menggambarkan, hampir semua buku yang ditulis tidak berdasarkan perjalanan sebenarnya. Hanya satu buku saja yang betul-betul dibuat berdasarkan perjalanan sesungguhnya. Buku satu-satunya itu ialah tentang petualangannya di Indonesia! Meskipun dibalut dengan petualangan, inti karya Karl May adalah tentang persahabatan antarbangsa, perdamaian, antikekerasan, penyelamatan lingkungan, atau singkatnya tentang kemanusiaan.

Perhatikan komentar berikut dari orang yang namanya mungkin sudah Anda kenal: “Keseluruhan masa remaja saya berada di bawah pengaruhnya. Bahkan juga di masa-masa kini ketika saya sedang dalam waktu-waktu dirundung keputusasaan.” Orang yang mengatakan ini adalah Albert Einstein, si ahli fisika dan pemenang Nobel Fisika 1921 itu.

Selanjutnya, “Apa yang saya suka dari tulisannya adalah karena menginspirasikan  keberanian untuk menegakkan perdamaian dan saling pengertian yang tertulis di hampir semua bukunya.” Ini pendapat Albert Schweitzer, pemenang Nobel Perdamaian 1952. Sedangkan Herman Hesse, pemenang Nobel Kesusastraan tahun 1946 menyatakan, ”Tulisannya yang penuh warna dan menggigit mewakili suatu jenis karya fiksi yang tidak bisa dilewatkan dan abadi.” Akhirnya, Bertha von Stuttner pemenang Nobel Perdamaian tahun 1905 mengatakan, “Di atas segala-galanya Karl May adalah seorang pencinta perdamaian (pacifist).”

 

Kenapa situs dibuat

Seperti halnya dengan anak Indonesia yang lain, saya mengenal Karl May dari orang terdekat, semasa kanak-kanak pada awal 1960-an. Ketika itu buku Karl May versi soft cover diterbitkan oleh Noor Komala. Sebelumnya - pada 1950 - ketika masih berstatus perusahaan Belanda Noordhoff Kolff, mereka sudah menerbitkan versi hard cover, sebanyak empat judul. Penerbit itu sekarang sudah berganti nama menjadi Pradnya Paramita.

dok. indo karl maySebenarnya, selain dari penerbit itu, di tahun 1960-an juga sudah ada beberapa buku lain yang diterbitkan oleh penerbit di Semarang dan Bandung. Belakangan, versi Sunda muncul juga pada 1964. Meskipun buku Karl May diterjemahkan ke dalam lebih dari 35 bahasa dunia, versi Sunda ini belum secara resmi terhitung di dalamnya.

Tahun 1998, ketika pertama kali belajar internet, melalui search engine, saya masukkan nama Karl May, dan saya terheran-heran melihat ratusan url yang ada hubungannya dengan nama itu. Sayang, sepintas saya lihat bahwa semuanya dalam bahasa Jerman. Belakangan saya keliru. Ternyata kalau membuka dengan search engine Alta Vista, kita bisa membaca situs Karl May dalam berbagai bahasa dunia, termasuk Jepang, Estonia, dan negara-negara “aneh” lainnya. Setahun kemudian dalam sebuah mailing list berbahasa Indonesia,  saya heran ketika mengetahui betapa banyak dari mereka pernah baca dan suka buku Karl May.

Karena sejak lama saya tahu bahwa buku yang beredar di Indonesia hanyalah sebagian kecil dari total buku keseluruhan - dan setelah saya pelajari baik-baik dengan seseorang yang sangat tahu persoalannya ternyata tidak ada lagi kemungkinan buku yang belum pernah terbit itu akan bisa diterbitkan - maka timbullah pikiran dalam benak saya. Kalau ternyata tidak ada orang yang mau menerbitkan, kenapa saya tidak “menerbitkan” sendiri? Ini tercetus karena saya tahu dari komunikasi di dunia maya bahwa peminatnya masih ada.

Karena membuat bukunya masih belum mampu, kenapa tidak meminta penerbit untuk membuatnya? Tapi, apa mereka mau? Sedang nama Karl May saja nyaris tidak dikenal lagi. Saya berkesimpulan, nama Karl May ini harus dihidupkan lagi di Indonesia. Bagaimana caranya? Ah, kenapa tidak dicoba saja teknologi yang mutakhir?  Internet? Pembuatan situs? Meskipun semangat awalnya sekadar hura-hura, sempat terbersit juga harapan bahwa apa yang dibuat ini suatu saat akan bermanfaat.

 

<<     1  2  3     >>

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/