|
|
Desember 2001 W a r n a |
|
SERPIHAN BUDAYA DALAM PERAYAAN NATAL Setahun lewat, Hari Natal tiba lagi. Ternyata, selain kebaktian di gereja, ada bentuk perayaan lain yang muncul akibat persinggungan antara budaya lokal dan kepercayaan yang dianut. Hasilnya, unik!
Jadilah,
gereja yang didirikan tahun 1920-an atas prakarsa Pastor Prenthaler SJ itu Ada tablo dan tetembangan yang nglangut Yang
istimewa dari misa ini adalah tablo, atau pembacaan kitab suci kisah
kelahiran Yesus Kristus yang diperagakan. Maka kisah itu seperti kejadian
yang sesungguhnya. Ceritanya
dimulai ketika keluarga Yusuf dari Nazaret memenuhi permintaan Raja Herodes
untuk mendaftarkan diri dalam rangka sensus penduduk. Sesampai di Kota
Betlehem, istrinya, Maria, harus segera bersalin. Malangnya, semua
penginapan penuh. Kalau pun masih ada, Yusuf tak kuat membayar. Di tengah
kegalauan, ada penduduk menawarkan sebuah tempat. Tapi tempat itu hanya
berupa kandang ternak. Bergegas Yusuf dan Maria masuk, lalu membersihkan
kandang itu untuk persiapan persalinan. Benar, di tempat amat sederhana itu
Maria melahirkan putra yang ia namai Yesus. Ternyata,
yang pertama-tama mendengar kabar gembira itu juga sekelompok orang
sederhana, yakni para gembala yang tengah berjaga di malam buta. Mereka
melihat sebuah bintang terang di tengah padang gembalaan. Bintang terang itu
menuntun para gembala menuju tempat kelahiran Yesus, di dalam palungan,
berlapis kain lampin, di Betlehem. Menurut
Sumijan, acara tambahan berupa tablo itu, membuat misa menjadi lebih hidup.
Umat pun serasa dibawa ke suasana agung kelahiran Yesus, yang penuh
kesederhanaan. Kesederhanaan
itu juga melingkupi keseharian 9.000 umat Katolik paroki ini. Anugerah
berupa tanah subur di kaki Bukit Menoreh, sebagian besar ditanami padi.
Pekarangan rumah pun masih mereka manfaatkan untuk bertanam coklat, pisang,
dan buah-buahan. Mereka pun masih beternak ayam dan itik untuk mencukupi
kebutuhan protein hewani. Hasil
alam dan anugerah kehidupan pulalah yang mereka syukuri setiap 25 Desember
usai menghadiri misa di gereja. Setiap lingkungan (wilayah yang terdiri atas
50 - 70 kepala keluarga Katolik) berkumpul untuk berdoa bersama menyambut
Hari Natal. Namun, lantaran tak ada rumah yang sanggup menampung umat
sejumlah itu, syukuran diadakan dalam kelompok yang lebih kecil. Jadilah
setiap lingkungan dipecah menjadi empat sampai lima
kelompok yang terdiri atas 15 - 20 kepala keluarga. Tepat
pukul 12.00 warga berduyun-duyun ke tempat yang dituju, sambil membawa nasi,
sayur, serta lauk-pauk. “Agar tidak repot, belakangan makanan-minuman itu
diganti dengan makanan ringan,” tambah Ny. Sumijan. Acara
pokok siang itu adalah bersyukur atas kelahiran Yesus Kristus, yang diyakini
sebagai sang Juruselamat. Setelah berdoa, mereka bersama-sama menyantap
makanan yang dibawa dari rumah. Doa
bersama itu bukan satu-satunya acara menyambut Hari Raya Natal. Di beberapa
lingkungan satu atau dua minggu sebelumnya diadakan pembacaan doa-doa,
pembacaan Injil dengan jalan ditembangkan dalam bahasa Jawa krama madya
(halus). “Yang dibaca dan ditembangkan adalah kisah Kitab Suci sejak
penciptaan sampai Yesus naik ke surga,” ujar Sumidjan. Doa-doa
itu biasanya dilakukan malam hari mulai pukul 20.00 sampai pukul 01.00.
Selama itu kisah Kitab Suci dibaca dan dilagukan secara berselang-seling.
Yang pasti, semakin malam tetembangan yang dialunkan pun berubah. “Lagu,
atau luk kalau masih sore terasa agak tinggi, saat mulai malam
menjadi lebih rendah, dan mendekati tengah malam tetembangan terasa semakin nglangut
(hening dan khusyuk - Red.),” jelas Sutejo, warga asli Boro. Selain
doa dan tetembangan berbau rohani, mereka juga menampilkan jatilan (kuda
lumping - Red.) untuk menghibur masyarakat. “Kalau ada jatilan ramai
sekali,” tutur Darti, warga Boro yang kuliah di Yogya. Jatilan tumbuh
subur di Boro. Ada setidaknya 4 - 5 grup jatilan yang berkembang di
Dukuh Boro Wetan, Tosari, Kembangsari, dan Kagok dengan anggota ratusan
orang mulai dari anak-anak sampai dewasa. Tapi jangan membayangkan jatilan
Boro seperti umumnya jatilan tradisional yang terkesan seram
dengan acara makan kaca dan api. “Jatilan
ala Boro bukan melulu njathil, tapi sudah dikemas dalam bentuk
kreasi baru yang lebih menghibur dan ndagel (lucu - Red.),”
jelas Darti. Mereka
menggunakan tetabuhan kendang dan gamelan yang dipadu dengan drum, sehingga
mirip musik campursari. Pakaiannya juga tidak melulu surjan dan blangkon
(penutup kepala tradisional Jawa), ada juga yang berpakaian biasa, kendati
tetap menunggangi jaran (kuda - Red.) kepang. Yang
pasti, pemain bisa pula kemasukan roh. Kalau sudah begini, siapa pun yang
dipegang akan ketularan. Lucunya pemain yang sulit siuman secara naluri akan
menunjuk-nunjuk pastor atau imam gereja untuk menyadarkan. Kok bisa? “Ya,
bisa saja, lha wong nanggapnya kadang-kadang di halaman gereja,”
jelas Ny. Sumidjan.
|
|||||