globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Desember 2001

W a r n a

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

KONTROVERSIALNYA NOBEL PERDAMAIAN

Duabelas Oktober lalu, PBB dan Kofi Annan diumumkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini. Penyerahan hadiahnya sebesar SEK 10 juta (kron Swedia) akan dilaksanakan 10 Desember bertepatan dengan ulang tahun ke-100 pemberian hadiah bergengsi ini. Sementara orang barangkali mempertanyakan pencapaian mereka, namun Hadiah Nobel, khususnya Perdamaian, memang hampir selalu menimbulkan kontroversi.

nobel.seLebih dari 100 orang telah menerima hadiah perdamaian ini, banyak di antaranya para aktor politik kontroversial. Hadiah Nobel, siapa pun pemenangnya, seolah-olah mengangkat berbagai konflik internasional dan nasional ke permukaan dan mengalihkan perhatian masyarakat dunia dari konflik. Kemajuan teknologi informasi makin membuat masalah-masalah nasional jadi mendunia. Sementara si “pemilik” masalah menganggap keterlibatan dunia luar, termasuk panitia Nobel, sebagai “campur tangan.”

Sejak Hadiah Nobel mulai dibagikan tahun 1901, berbagai kontroversi sudah timbul. Jean Henri Dunant dan Frederic Passy yang pertama kali menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Sebagai pendiri Palang Merah Internasional (ICRC), Dunant dinilai pantas karena organisasinya yang berdiri tahun 1863 itu memang meringankan penderitaan manusia dalam perang. Namun, pendukung Passy tak rela membagi hadiah itu dengan Dunant. Argumen mereka, memangnya apa yang dilakukan ICRC untuk mencegah perang?

Sebaliknya, yang pro Dunant pun keberatan berbagi dengan Passy, salah satu pendiri Uni InterParlemen (kelompok perdamaian) dan penyelenggara Kongres Perdamaian Universal. Anggota Komisi Nobel ketika itu memang didominasi kaum liberal. Tak heran kalau dari 19 pemenang hadiah perdamaian sebelum PD I, hanya dua yang bukan dari Uni InterParlemen.

 

”Hadiah” politik

Banyak negarawan dan politisi penerima Hadiah Nobel Perdamaian memang mempunyai kekuasaan untuk menciptakan perdamaian atau peperangan. Yang pertama adalah Presiden AS, Theodore Roosevelt. Ada pendapat, seharusnya ia tidak mendapat penghargaan itu. Lalu mengapa ia dipilih?

Tahun 1905, Norwegia dan Swedia berpisah secara damai. Ketua Komisi Nobel Norwegia saat itu menjadi Perdana Menteri Norwegia yang pertama. Setahun kemudian, komisi memberikan Hadiah Perdamaian kepada Roosevelt, sebagai mediator untuk mengakhiri perang Rusia-Jepang tahun 1905.

Peran ”tokoh perdamaian” Roosevelt memang tidak jelas. Selama perang antara Spanyol - AS tahun 1898, ia memimpin resimen kavaleri Amerika di Kuba. Setelah menjadi presiden, ia tampil sebagai orang paling berkuasa dan menggunakan kekuatan militer. Tak heran, saat ia beroleh Hadiah Nobel, banyak media di AS yang penasaran. Malah, Harian New York Times mengomentari, ”Senyum lebar memenuhi wajah dunia ketika hadiah dianugerahkan kepada warga negara Amerika Serikat yang paling suka perang ini.”

Muncul dugaan, penghargaan bagi Presiden AS ke-26 itu adalah upaya Norwegia sebagai negara baru yang ”membutuhkan tetangga besar yang bersahabat - meskipun jauh,” seperti dikutip dari harian Norwegia. Namun, hadiah itu menimbulkan tantangan baru bagi media internasional yang tertarik pada Hadiah Nobel Perdamaian.

Pernah dipertanyakan, apakah Komisi Nobel Norwegia melanggar surat wasiat Alfred Nobel kalau memberikan hadiah pada negarawan? Nobel memang tidak menyebut siapa yang boleh dan yang tidak. Tetapi, apakah Nobel juga berpikir tentang raja, perdana menteri, atau presiden waktu menciptakan Hadiah Perdamaian? Mungkin juga tidak.

nobel.se

Upacara pemberian hadiah Nobel di Stokholm.

Gerakan perdamaian telah berubah sejak Nobel menulis wasiat. Waktu itu, umumnya tokoh perdamaian sangat idealis dan sedikit terlibat politik. Setelah pergantian abad, banyak pemerintahan yang gencar mempromosikan cara penyelesaian damai untuk berbagai masalah internasional, misalnya arbitrasi sebagai cara untuk mencegah konflik internasional yang serius menjadi perang. Jadi, kian besar campur tangan politik dalam usaha untuk perdamaian. Ketika Hadiah Nobel diberikan pada Roosevelt, 10 Desember 1906, Presiden Parlemen Norwegia, Gunnar Knudsen, menekankan perubahan itu dan semua yang dilakukan Roosevelt dijadikan contoh.

Sebenarnya, ada kandidat lain yang dianggap lebih layak. Enam organisasi dan 23 individu dinominasikan. Enam di antaranya kemudian juga mendapat hadiah serupa. Dengan memberikan hadiah pada Presiden AS itu, Komisi Nobel seolah-olah memberikan Hadiah Nobel semata-mata untuk aksi politis dan kemanusiaan tertentu.

 

Hadiah kontroversial

Beberapa orang mungkin merasa ada yang tak beres dengan adanya kontroversi itu. Posisi Hadiah Nobel Perdamaian yang sekarang, sebagian karena Komisi Nobel Norwegia punya keberanian untuk mengambil keputusan yang bertentangan. Penghargaan bagi sejumlah nama besar dalam sejarah perdamaian, seperti Albert Schweitzer (misionaris kedokteran di Gabon dengan filosofi etika Schweitzernya) dan Ibu Teresa, mungkin memang pantas disambut meriah.

nobel.se

Setelah upacara penyerahan hadiah, dilanjutkan dengan resepsi makan malam (banquet). Dalam acara itu, para pemenang memberikan orasi yang lalu diterbitkan di situs web Nobel dan Institut Nobel Norwegia dalam seri buku tahunan Les Prix Nobel.

Tetapi nama-nama lain relatif menimbulkan kontroversi, seperti Carl von Ossietzky (yang membuat Hitler marah sehingga melarang warga Jerman menerima Hadiah Nobel), Martin Luther King, Jr. (yang mengejutkan banyak warga kulit putih Amerika), Andrei Sakharov (yang mengagetkan para pemimpin Uni Soviet), dan Mikhail Gorbachev (yang merangsang kemarahan sebagian warga Rusia dan negara-negara Balkan).

Kasus lain, ada yang mestinya layak mendapatkan, ternyata tidak diberi. Mahatma Gandhi, sang pejuang tanpa kekerasan abad XX, misalnya. Gandhi dinominasikan pada tahun 1937, 1938, 1939, 1947, dan, akhirnya, beberapa hari sebelum dibunuh pada Januari 1948. Namun, Hadiah Nobel tak pernah sampai di tangannya. Begitu pula dengan Jean Monnet, ”bapak” Integrasi Eropa. Sebaliknya, sejumlah Laureate (sebutan untuk pemenang Hadiah Nobel) lain yang seharusnya tidak menang, malah terpilih.

 

 «     1  2     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/