globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Februari 2001

Intisari berduka cita atas meninggalnya Bapak Slamet Soeseno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Para Lutung yang Kedodoran 

Nama lutung sudah begitu akrab di Pulau Jawa sampai ada pujangga yang menganyam cerita pantun: Lutung Kasarung. Pantun Sunda dari Galuh (Ciamis kuno) ini sampai sekarang masih hidup di alam maya. Bagaimana wujud lutung itu yang sebenarnya di alam nyata?

Alkisah, putra mahkota Sunan Ambu dari Kahyangan bernama Minda Kahiyangan, ingin bertemu dengan seorang putri dari Bumi yang sedang mengembara dalam hutan karena diusir oleh kakaknya dari istana negara gara-gara kulitnya kudisan.

Minda Kahiyangan mendarat di Gunung Cupu. Agar dapat bergerak tanpa alangan dalam hutan, ia menjelma menjadi lutung. Ia berhasil bertemu dengan putri itu, Purbasari Ayu Wangi namanya, dan mengabdi padanya sebagai body guard.

Selama hidup dalam hutan, Purbasari menerima petunjuk banyak sekali dari Sunan Ambu melalui para pembantu yang mengiringinya, mengenai tugas kewajiban wanita, seperti tabah menghadapi cobaan, berladang menghasilkan pangan, bertenun dengan tekun, dan berdandan dengan sopan.

Pada suatu hari, lutung kasarung (jadi-jadian) itu bosan menyembunyikan jati dirinya, dan menjelma menjadi manusia. Kesetiaan mengabdi dari lutung dan rasa terima kasih dari putri, membuat persahabatan mereka bersemi menjadi cinta, dan berlanjut ke pelaminan. Keduanya hidup rukun sampai kaken-kaken ninen-ninen, setelah naik tahta menggantikan Purbararang, kakak Purbasari, yang sementara itu lengser keprabon karena sudah tua.

Para sastrawan Sunda menafsirkan cerita pantun itu sebagai kiasan muda-mudi yang menjalani tapabrata (pembayatan) sebelum kembali ke masyarakat mapan lagi.

Keponakan hanuman

Para lutung yang tidak kasarung tetapi benar-benar hidup di alam nyata, merupakan suku kera yang kepala dan mukanya seperti anjing, sampai dikelompokkan sebagai Cercopithecidae (kera anjing). Caranya berjalan pun dengan keempat kaki seperti anjing.

Di Pulau Jawa, suku kera anjing mencakup dua marga: Presbytis (alias Pithecus) yang berbulu halus, dan Trachypithecus (kera kasar) yang bulunya memang kasar jarang-jarang. Kita menyebutnya lutung kalau warna bulu ini hitam kusam, dan budeng kalau hitamnya lebih kelam.

Berbeda dengan jenis-jenis kera lain yang lebih rapi, rambut kepala budeng, Presbytis cristata, selalu acak-acakan, sampai memberi kesan kera jorok. Begitu juga rambut kepala lutung, Trachypithecus auratus.

Seekor keponakan jauh yang hidup di India, Semnopithecus entellus, terkenal sebagai kera hanuman. Tubuhnya tidak abu-abu, tetapi "putih tua". Cuma muka, ujung tangan, dan ujung kakinya hitam seperti gosong bekas terbakar. Walmiki memberi penjelasan, itu karena raja mereka (pendiri dinasti hanuman) dulu pernah terbakar ketika menyelamatkan Dewi Shinta dari istana Rahwanaraja, dalam epos Ramayana.

Kelompok kedodoran

Para lutung di hutan Pulau Jawa hidup dalam kelompok, 10 sampai 20 ekor anggota. Mereka mendiami pepohonan hutan daerah atasan. Begitu fajar menyingsing, ketua kelompok sudah mulai mengajak seluruh anggota mencari makan. Daun-daunan, bunga-bungaan, dan biji-bijian yang umumnya memang terdapat di daerah atasan pepohonan.

Di bawah pimpinan pak ketua, mereka mampu menjelajahi daerah seluas 30 ha atau lebih. Daerah yang sama juga mungkin dijelajahi kelompok lain, tetapi bentrokan fisik selalu dicegah dengan teriakan nyaring dari salah satu ketuanya, "Hooeee! Kita di sini, nooooh!"

Kenyang makan, mereka perlu istirahat dan tidur-tiduran, untuk memberi kesempatan kepada perut agar mencernakan makanan dengan tenang. Mirip sapi yang memamah biak rumput dalam perut berbuku-buku. Tapi perut lutung tidak serumit perut sapi susunannya.

Nanti kalau sudah menjelang magrib, berangkat lagi mereka menjelajahi hutan yang masih ada pucuk daun dan buah-buahannya. Kadang juga buah pisang di kebun orang tepi hutan. Baru setelah gelapnya malam tiba, mereka tidur di pohon-pohon tinggi yang aman dari sergapan macan kumbang dan harimau dahan.

Karena hidup vegetaris, gerakannya serba kedodoran, tidak selincah kaum kera lainnya. Air mukanya juga memelas. Terutama kalau sedang hujan, dan mereka menunggu cuaca baik kembali, sambil duduk di atas dahan dengan kedua tangannya ditaruh di atas kepala. Pasrah!

Walaupun begitu, pada hari cerah yang mataharinya bersinar terang, pak ketua mampu menggauli beberapa ekor istrinya. Anak-anaknya yang betina akan tetap tinggal bersama kelompok, walaupun sudah dewasa. Akan tetapi anak jantan biasanya bergabung dengan para pemuda kelompok lain untuk membentuk geng bergajulan. Dalam pencarian nafkah sehari-hari, mereka mengembara di dekat kelompok lain di luar kelompok keluarga asalnya. Suatu saat nanti, ia menantang pak ketuanya yang sudah rapuh sakit-sakitan masuk angin untuk meraih kedudukan sebagai ketua baru. Kalau berhasil, ia membuat kelompok keluarga baru dengan menggauli gadis lutung yang bersedia dibawa kawin lari.

Surili lebih lincah

Berbeda sekali dengan lutung surili, Presbytis comata (alias aygula) yang hidup sebagai binatang omnivora. Selain makan tumbuh-tumbuhan, juga demen makan binatang, seperti anak burung dan telur yang belum menetas dalam sarang. Jagung di ladang juga sering menjadi sasaran, sampai menimbulkan kerugian besar bagi umat manusia. Pemerintah menyatakan surili dan lutung-lutung yang lain sebagai binatang yang merugikan dalam undang-undang perburuan tahun 1940. Mereka boleh diburu dengan surat izin yang berwajib, asal tidak memakai senjata api dan senjata angin.

Keharusan meminta izin berburu ini dimaksudkan agar pemerintah penerbit surat dapat menjaga populasi lutung di suatu kesatuan pemangkuan hutan (daerah hutan) tertentu, jangan sampai dihabiskan masyarakat tanpa kendali. Sebab, walaupun lutung itu mengganggu sebagai hama pertanian, namun tidak berarti bahwa mereka boleh ditumpas sampai ludes, tidak ada yang menyisa bagi anak cucu dan cicit-cicit. Para hama juga berperan penting dalam daur hidup suatu lingkungan.

Di daerah Malang pernah beredar berita bahwa para lutung di hutan Gunung Panderman diburu orang untuk dijual dagingnya kepada tukang soto dan tongseng. Soto lutung laku keras di warung-warung kaki lima pasar kaget. Perburuannya dilakukan tanpa izin siapa-siapa. Sayang!

Gerombolan surili lebih besar daripada lutung, terdiri dari beberapa keluarga tua dan muda. Masing-masing dengan kepala keluarga yang hanya beristri satu. Mirip gerombolan hanuman di hutan Ramnagar, Nepal Selatan, yang multisuami (ingat Intisari April 1997). Gerombolan dipimpin oleh seekor Pak Surili yang paling tua sebagai semacam kepala suku. Ia membawahi beberapa kepala keluarga lain yang lebih muda.

Walaupun tidur mereka dalam hutan, tetapi pencarian nafkahnya kadang juga sampai ke ladang jagung di huma-huma pinggir hutan. Di bawah pimpinan kepala suku yang berteriak panjang nyaring, seluruh rombongan turun dari pepohonan mengikuti jejaknya, menggarong buah yang tidak mereka tanam. Di telinga mereka, teriakan panjang itu seperti aba-aba, "Majuuuut!"

Biasanya para bapak yang kuat-kuat turun lebih dulu, diikuti para ibu. Di antaranya ada yang diganduli anak di dadanya. Supaya gaetannya lebih "pakem", ekor Nak Surili masih digantolkan ke ekor Bu Surili.

Sementara ikut makan jagung curian, Raja Surili tempo-tempo berdiri tegak dan lingak-linguk (melihat kian kemari) kalau-kalau ada manusia datang mengganggu. Begitu ia melihat orang datang di kejauhan, segera ia berteriak nyaring dan pendek, tetapi berulang kali. Nadanya ketakutan. Kontan semua warga surili mengambil langkah seribu ke arah hutan. Boleh dikatakan dalam sekejap semua sudah terbirit-birit, sambil mencopet tongkol jagung di sana-sini yang masih ketinggalan belum disikat.

Kalau orang yang mengejarnya sudah dekat sekali, barulah tongkol jagung copetan terakhir dibuang. Soalnya, surili terpaksa memakai kedua tangannya untuk menggaet pohon yang terdekat.

Baru setelah masuk ke dalam kerimbunan hutan daun-daunanlah, ia betul-betul aman. Sebab, orang yang mengejar biasanya malu kalau harus memanjat pohon seperti kera. (Slamet Soeseno)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej