|
|
Bulan Februari 2001
|
|
Para Lutung yang Kedodoran
Nama
lutung sudah begitu akrab di Pulau Jawa sampai ada pujangga yang
menganyam cerita pantun: Lutung Kasarung. Pantun Sunda dari
Galuh (Ciamis kuno) ini sampai sekarang masih hidup di alam maya.
Bagaimana wujud lutung itu yang sebenarnya di alam nyata?
Minda Kahiyangan mendarat di Gunung Cupu. Agar dapat bergerak tanpa
alangan dalam hutan, ia menjelma menjadi lutung. Ia berhasil bertemu
dengan putri itu, Purbasari Ayu Wangi namanya, dan mengabdi padanya
sebagai body guard.
Selama hidup dalam hutan, Purbasari menerima petunjuk banyak sekali
dari Sunan Ambu melalui para pembantu yang mengiringinya, mengenai
tugas kewajiban wanita, seperti tabah menghadapi cobaan, berladang
menghasilkan pangan, bertenun dengan tekun, dan berdandan dengan
sopan.
Pada suatu hari, lutung kasarung (jadi-jadian) itu bosan
menyembunyikan jati dirinya, dan menjelma menjadi manusia. Kesetiaan
mengabdi dari lutung dan rasa terima kasih dari putri, membuat
persahabatan mereka bersemi menjadi cinta, dan berlanjut ke pelaminan.
Keduanya hidup rukun sampai kaken-kaken ninen-ninen, setelah
naik tahta menggantikan Purbararang, kakak Purbasari, yang sementara
itu lengser keprabon karena sudah tua.
Para sastrawan Sunda menafsirkan cerita pantun itu sebagai kiasan
muda-mudi yang menjalani tapabrata (pembayatan) sebelum kembali
ke masyarakat mapan lagi.
Keponakan hanuman
Para lutung yang tidak kasarung tetapi benar-benar hidup di alam
nyata, merupakan suku kera yang kepala dan mukanya seperti anjing,
sampai dikelompokkan sebagai Cercopithecidae (kera anjing).
Caranya berjalan pun dengan keempat kaki seperti anjing.
Di Pulau Jawa, suku kera anjing mencakup dua marga: Presbytis
(alias Pithecus) yang berbulu halus, dan Trachypithecus
(kera kasar) yang bulunya memang kasar jarang-jarang. Kita menyebutnya
lutung kalau warna bulu ini hitam kusam, dan budeng kalau hitamnya
lebih kelam.
Berbeda dengan jenis-jenis kera lain yang lebih rapi, rambut kepala
budeng, Presbytis cristata, selalu acak-acakan, sampai memberi
kesan kera jorok. Begitu juga rambut kepala lutung, Trachypithecus
auratus.
Seekor keponakan jauh yang hidup di India, Semnopithecus entellus,
terkenal sebagai kera hanuman. Tubuhnya tidak abu-abu, tetapi
"putih tua". Cuma muka, ujung tangan, dan ujung kakinya
hitam seperti gosong bekas terbakar. Walmiki memberi penjelasan, itu
karena raja mereka (pendiri dinasti hanuman) dulu pernah terbakar
ketika menyelamatkan Dewi Shinta dari istana Rahwanaraja, dalam epos
Ramayana.
Kelompok kedodoran
Para lutung di hutan Pulau Jawa hidup dalam kelompok, 10 sampai 20
ekor anggota. Mereka mendiami pepohonan hutan daerah atasan. Begitu
fajar menyingsing, ketua kelompok sudah mulai mengajak seluruh anggota
mencari makan. Daun-daunan, bunga-bungaan, dan biji-bijian yang
umumnya memang terdapat di daerah atasan pepohonan.
Di bawah pimpinan pak ketua, mereka mampu menjelajahi daerah seluas 30
ha atau lebih. Daerah yang sama juga mungkin dijelajahi kelompok lain,
tetapi bentrokan fisik selalu dicegah dengan teriakan nyaring dari
salah satu ketuanya, "Hooeee! Kita di sini, nooooh!"
Kenyang makan, mereka perlu istirahat dan tidur-tiduran, untuk memberi
kesempatan kepada perut agar mencernakan makanan dengan tenang. Mirip
sapi yang memamah biak rumput dalam perut berbuku-buku. Tapi perut
lutung tidak serumit perut sapi susunannya.
Nanti kalau sudah menjelang magrib, berangkat lagi mereka menjelajahi
hutan yang masih ada pucuk daun dan buah-buahannya. Kadang juga buah
pisang di kebun orang tepi hutan. Baru setelah gelapnya malam tiba,
mereka tidur di pohon-pohon tinggi yang aman dari sergapan macan
kumbang dan harimau dahan.
Karena hidup vegetaris, gerakannya serba kedodoran, tidak selincah
kaum kera lainnya. Air mukanya juga memelas. Terutama kalau sedang
hujan, dan mereka menunggu cuaca baik kembali, sambil duduk di atas
dahan dengan kedua tangannya ditaruh di atas kepala. Pasrah!
Walaupun begitu, pada hari cerah yang mataharinya bersinar terang, pak
ketua mampu menggauli beberapa ekor istrinya. Anak-anaknya yang betina
akan tetap tinggal bersama kelompok, walaupun sudah dewasa. Akan
tetapi anak jantan biasanya bergabung dengan para pemuda kelompok lain
untuk membentuk geng bergajulan. Dalam pencarian nafkah
sehari-hari, mereka mengembara di dekat kelompok lain di luar kelompok
keluarga asalnya. Suatu saat nanti, ia menantang pak ketuanya yang
sudah rapuh sakit-sakitan masuk angin untuk meraih kedudukan sebagai
ketua baru. Kalau berhasil, ia membuat kelompok keluarga baru dengan
menggauli gadis lutung yang bersedia dibawa kawin lari.
Surili lebih lincah
Berbeda sekali dengan lutung surili, Presbytis comata (alias aygula)
yang hidup sebagai binatang omnivora. Selain makan tumbuh-tumbuhan,
juga demen makan binatang, seperti anak burung dan telur yang belum
menetas dalam sarang. Jagung di ladang juga sering menjadi sasaran,
sampai menimbulkan kerugian besar bagi umat manusia. Pemerintah
menyatakan surili dan lutung-lutung yang lain sebagai binatang yang
merugikan dalam undang-undang perburuan tahun 1940. Mereka boleh
diburu dengan surat izin yang berwajib, asal tidak memakai senjata api
dan senjata angin.
Keharusan meminta izin berburu ini dimaksudkan agar pemerintah
penerbit surat dapat menjaga populasi lutung di suatu kesatuan
pemangkuan hutan (daerah hutan) tertentu, jangan sampai dihabiskan
masyarakat tanpa kendali. Sebab, walaupun lutung itu mengganggu
sebagai hama pertanian, namun tidak berarti bahwa mereka boleh
ditumpas sampai ludes, tidak ada yang menyisa bagi anak cucu dan
cicit-cicit. Para hama juga berperan penting dalam daur hidup suatu
lingkungan.
Di daerah Malang pernah beredar berita bahwa para lutung di hutan
Gunung Panderman diburu orang untuk dijual dagingnya kepada tukang
soto dan tongseng. Soto lutung laku keras di warung-warung kaki lima
pasar kaget. Perburuannya dilakukan tanpa izin siapa-siapa. Sayang!
Gerombolan surili lebih besar daripada lutung, terdiri dari beberapa
keluarga tua dan muda. Masing-masing dengan kepala keluarga yang hanya
beristri satu. Mirip gerombolan hanuman di hutan Ramnagar, Nepal
Selatan, yang multisuami (ingat Intisari April 1997).
Gerombolan dipimpin oleh seekor Pak Surili yang paling tua sebagai
semacam kepala suku. Ia membawahi beberapa kepala keluarga lain yang
lebih muda.
Walaupun tidur mereka dalam hutan, tetapi pencarian nafkahnya kadang
juga sampai ke ladang jagung di huma-huma pinggir hutan. Di bawah
pimpinan kepala suku yang berteriak panjang nyaring, seluruh rombongan
turun dari pepohonan mengikuti jejaknya, menggarong buah yang tidak
mereka tanam. Di telinga mereka, teriakan panjang itu seperti aba-aba,
"Majuuuut!"
Biasanya para bapak yang kuat-kuat turun lebih dulu, diikuti para ibu.
Di antaranya ada yang diganduli anak di dadanya. Supaya gaetannya
lebih "pakem", ekor Nak Surili masih digantolkan ke ekor Bu
Surili.
Sementara ikut makan jagung curian, Raja Surili tempo-tempo berdiri
tegak dan lingak-linguk (melihat kian kemari) kalau-kalau ada
manusia datang mengganggu. Begitu ia melihat orang datang di kejauhan,
segera ia berteriak nyaring dan pendek, tetapi berulang kali. Nadanya
ketakutan. Kontan semua warga surili mengambil langkah seribu ke arah
hutan. Boleh dikatakan dalam sekejap semua sudah terbirit-birit,
sambil mencopet tongkol jagung di sana-sini yang masih ketinggalan
belum disikat.
Kalau orang yang mengejarnya sudah dekat sekali, barulah tongkol
jagung copetan terakhir dibuang. Soalnya, surili terpaksa memakai
kedua tangannya untuk menggaet pohon yang terdekat.
Baru setelah masuk ke dalam kerimbunan hutan daun-daunanlah, ia
betul-betul aman. Sebab, orang yang mengejar biasanya malu kalau harus
memanjat pohon seperti kera. (Slamet Soeseno) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||