|
|
Bulan Februari 2001
|
|
AWAS! BAHAYA TUMBUHAN OBAT Selama
ini tumbuhan tertentu dipercaya tidak berbahaya bila dikonsumsi,
terutama tumbuhan obat. Akibatnya, pemakaiannya menjadi tidak
terkontrol. Padahal pada tanaman tertentu konsumsi melebihi batas
justru mengganggu kesehatan.
Padahal tidak seratus persen benar bila dinyatakan semua tumbuhan aman
untuk dikonsumsi. Sampai batas-batas tertentu, mungkin benar. Akan
tetapi bila sudah melampaui batas, justru bahaya yang akan tampil.
Pepatah "berhentilah makan sebelum kenyang" sangat relevan
dalam hal ini. Tumbuhan obat akan memberikan hasil bila dikonsumsi
secukupnya untuk tujuan pengobatan. Namun jangan beranggapan, karena
aman dan ingin cepat sembuh, segala macam bahan tumbuhan lalu
dikonsumsi tanpa mendalami sifat dan mengontrol dosis atau jumlah yang
digunakan.
Penyebab kanker dan kerusakan DNA
Contoh klasik yang dapat diambil sebagai perbandingan adalah dalam
penggunaan dringo (Acorus calamus ). Secara tradisional dringo
kerap digunakan sebagai bahan penenang dan untuk mengatasi stres.
Dringo memiliki kandungan senyawa bioaktif asaron, yang terdiri atas
dua isomer, ƒÑ(alfa)- dan ƒÒ (beta)-asaron. Senyawa ini memiliki
struktur kimia mirip dengan senyawa golongan amfetamin dan ekstasi.
Dalam dosis rendah dringo dapat memberikan efek relaksasi pada otot
dan menimbulkan efek sedatif (penenang) terhadap sistem saraf pusat.
Namun, jika digunakan dalam dosis tinggi malah memberikan efek
sebaliknya, yaitu meningkatkan aktivitas mental atau populer disebut
psikoaktif. Bahkan ƒÒ (beta)-asaron dringo merupakan salah satu
senyawa alami yang potensial sebagai karsinogenik atau pemicu
timbulnya kanker.
Penggunaan dringo dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko
timbulnya kanker jika antibodi yang ada di tubuh tidak bisa
mengeliminasi efek karsinogenik dringo. Hasil penelitian di
laboratorium terhadap hewan uji coba memperlihatkan, dringo dapat
menimbulkan efek genotoksik, yaitu bersifat racun yang dapat
mengakibatkan perubahan genetik dari sel, sehingga kerap kali sel-sel
tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali menjadi tumor atau
kanker.
Di samping itu, dringo juga dapat menyebabkan penumpukan cairan di
perut, menyebabkan depresi, mengakibatkan perubahan pada jantung dan
hati, serta dapat menimbulkan efek berbahaya pada usus. Berdasarkan
fakta ilmiah itu, maka dalam beberapa tahun belakangan ini Federal
Drugs of Administration (FDA) - Ditjen POM-nya Amerika Serikat - telah
melarang penggunaan dringo secara internal karena lebih banyak
kerugian yang ditimbulkan daripada manfaatnya.
Pemanfaatan biji pinang (Areca catecu), yang secara tradisional
telah digunakan secara luas sejak ratusan tahun lalu, juga memiliki
potensi bahaya bagi tubuh. Penggunaan paling populer adalah kegiatan
menyirih dengan bahan campuran biji pinang, daun sirih, dan kapur. Ada
juga yang mencampurnya dengan tembakau. Diperkirakan, populasi
pengguna biji pinang secara berkala dalam berbagai bentuk sediaan
mencapai sekitar 500 juta orang.
Biji pinang mengandung arekolin, senyawa alkaloid aktif, yang bila
digunakan berlebihan justru membahayakan kesehatan. Senyawa ini sangat
potensial sehingga harus digunakan dalam jumlah kecil. Sebanyak 2 mg
arekolin murni sudah dapat menimbulkan efek stimulan yang kuat,
sehingga dosis yang dianjurkan tidak melebihi 5 mg untuk sekali pakai.
Penggunaan serbuk biji sebaiknya tidak lebih dari 4 g. Jika digunakan
pada dosis 8 g, akan segera berakibat fatal.
Arekolin bersifat sebagai sitotoksik dan sistatik kuat. Secara in
vitro (dalam tabung reaksi), penggunaan arekolin dengan
konsentrasi 0,042 mM (milimol) mengakibatkan penurunan daya hidup sel
serta penurunan kecepatan sintesis DNA dan protein. Arekolin juga
menyebabkan terjadinya kegagalan glutationa, yaitu sejenis
enzim yang berfungsi melindungi sel dari efek merugikan.
Biji pinang juga mengandung senyawa golongan fenolik dalam jumlah
relatif tinggi. Selama proses pengunyahan biji pinang di mulut,
spesies oksigen reaktif (radikal bebas) akan terbentuk dari senyawa
fenolik itu. Adanya kapur sirih yang menciptakan kondisi pH alkali
akan lebih merangsang pembentukan oksigen reaktif itu. Oksigen reaktif
inilah salah satu penyebab terjadinya kerusakan DNA atau genetik sel
epitelial dalam mulut.
Kerusakan dapat berkembang menjadi fibrosis submukosa, yaitu salah
satu jenis kanker mulut, yang telah menjangkiti sekitar 0,5% pengguna
biji pinang. Selain berakibat jelek terhadap mulut, tanin biji pinang
juga dapat menimbulkan luka pada mulut dan usus, yang jika dibiarkan
dapat berakhir pada munculnya kanker.
Kandungan berbahaya lain pada biji pinang adalah senyawa turunan
nitroso, yaitu N-nitrosoguvakolina, N-nitrosoguvasina,
3-(N-nitrosometilamino) propionaldehida dan 3-(N-nitrosometilamino)
propionitrile. Keempat turunan nitroso ini merupakan senyawa bersifat
sitotoksik (meracuni sel) dan genotoksik (meracuni gen) pada sel epithelial
buccal, dan juga dapat menyebabkan terjadinya tumor pada pankreas,
paru-paru, hidung, dan hati. Pada hewan percobaan, senyawa nitroso
biji pinang juga terbukti dapat menyebabkan efek diabetogenik atau
pemunculan diabetes secara spontan.
Para penderita asma juga harus ekstrahati-hati terhadap biji pinang.
Ia dapat menimbulkan efek kontraksi pada saluran pernapasan, yang
berasosiasi dengan kambuhnya serangan asma. Inhalat dua jenis alkaloid
dari biji pinang yaitu arekolin (5,2 mg/ml) dan metakolin (1,6 mg/ml)
dapat menyebabkan kontraksi saluran pernapasan, yang ditandai
berkurangnya volume pengeluaran udara dari saluran pernapasan sebesar
20% pada penderita asma. Bahkan, ada beberapa pasien asma yang
mengalami penurunan volume pengeluaran udara sebesar 30%, 150 menit
setelah mengunyah biji pinang.
Interaksi negatif dengan obat sintetis
Tumbuhan obat juga bisa menimbulkan masalah kesehatan bila dikonsumsi
bersama obat sintetis. Meskipun semula penggunaan itu dimaksudkan
untuk memperoleh efek penyembuhan lebih signifikan dalam waktu relatif
pendek. Akan tetapi, penggabungan itu boleh saja dilakukan sepanjang
sudah diyakini bahwa obat sintetis yang digunakan tidak memberikan
hasil interaksi yang malah merugikan kesehatan.
Salah satu contohnya, penggunaan biji pinang dalam waktu bersamaan
dengan obat sintetis yang mengandung flupentiksol, prosiklidina,
flufenazina, prednison, dan salbutamol, dapat menimbulkan efek jaw
tremor. Selain itu dapat juga mengakibatkan terjadinya kekakuan,
akithesia, serangan asma, dan bradikinesia, yaitu produksi bradikinin
yang berlebihan sehingga menimbulkan alergi (kulit bentol-bentol dan
gatal).
Contoh lain, Gingko biloba jika berinteraksi dengan aspirin
(obat yang berpotensi sebagai penghilang rasa sakit) dapat menimbulkan
hyphema (perdarahan dalam rongga anterior mata) secara spontan.
Jika ekstrak Gingko biloba dalam tubuh berinteraksi dengan
parasetamol yang banyak terdapat pada obat penurun demam, dapat
menimbulkan efek sampingan bilateral subdural haematoma
(penimbunan darah di dalam rongga subdural yang berasal dari kedua
pembentuk rongga yakni duramater dan araknoid).
Beberapa pasien yang menggunakan bahan tersebut secara bersamaan
dilaporkan terserang subarachnoid haemorrhage (perdarahan
intrakranial ke dalam ruang subaraknoid) dan subdural haematoma
(penimbunan darah di dalam rongga subdural). Jika interaksi terjadi
antara ekstrak Gingko biloba dengan warfarin, akan timbul intracerebral
haemorrhage (perdarahan dalam serebrum), sedangkan interaksi
dengan obat-obatan mengandung diuretik thiazina akan berakibat
munculnya hipertensi atau darah tinggi.
Dua tumbuhan obat yang dipercaya sebagai aprodisiak, yaitu ginseng (Panax
spp.) dan ginseng siberia (Eleutherococcus senticoccus)
juga dapat menimbulkan efek negatif jika berinteraksi dengan obat
sintetis. Interaksi ginseng dengan obat-obatan mengandung fenelzina
dapat menimbulkan sakit kepala, tremor, dan mania. Ekstrak ginseng
juga dapat meningkatkan pengaruh alkohol karena ekstrak ginseng dapat
meningkatkan aktivitas dari enzim alkohol dehidrogenase dan aldehida
dehidrogenase.
Sedangkan interaksi ekstrak ginseng siberia dengan digoxin (suatu
glikosida kardiotonik berupa kristal jernih sampai putih dengan rumus
kimia C41H64O14) dapat meningkatkan
konsentrasi digoxin dalam tubuh, sehingga dosis yang terdapat dalam
tubuh atau bagian tubuh tertentu lebih tinggi dari dosis yang
semestinya dibutuhkan.
Dalam liquorice atau kayu manis cina (Glycyrrhiza glabra)
yang sangat populer dalam campuran obat tradisional Cina terdapat
senyawa glisirizina, yang jika berinteraksi dengan prenidsolona akan
menyebabkan terjadinya penurunan penyebaran plasma dan meningkatkan
konsentrasi prenidsolona dalam plasma. Interaksi dengan obat
kontrasepsi oral akan menimbulkan hipertensi, edema (pembengkakan
jaringan karena peningkatan jumlah cairan dalam jaringan), dan
hipokaemia. Efek ini timbul karena obat kontrasepsi oral dapat
meningkatkan kesensitifan penggunanya terhadap asam glisirizin pada
ekstrak liquorice. Dilaporkan, wanita lebih sensitif terhadap liquorice
daripada pria.
Interaksi ekstrak St. John's wort (Hypericum perforatum), yang
dewasa ini banyak terdapat dalam food supplement impor untuk
menjaga kesehatan wanita, dengan beberapa senyawa obat sintetis
inhibitor percepatan serotonin seperti trazodona, sertralina, dan
nefazodona dapat menimbulkan sindroma serotonin sedang. Ekstrak
tumbuhan ini juga dapat meningkatkan konsentrasi teofilina di dalam
tubuh bila digunakan secara bersamaan.
Sebaliknya, jika digunakan bersama siklosporin, malah dapat mengurangi
konsentrasi siklosporin dalam serum sehingga menyebabkan tidak
efektifnya penggunaan antibiotik tersebut. Jika dikombinasikan dengan
kontrasepsi oral seperti etinilestradiol atau desogestrol, dapat
mengakibatkan perdarahan. Sedangkan interaksi asam jawa (Tamarindus
indica) dengan aspirin dapat meningkatkan kemampuan aspirin
sehingga efek aspirin bisa menjadi lebih kuat dari yang dibutuhkan.
Untuk itu, dalam menggunakan obat-obatan, food supplement,
ataupun ramuan tradisional untuk menunjang kesehatan tubuh sangat
perlu dipahami sifat-sifat dari bahan itu. Tidak semua tumbuhan obat
aman untuk dikonsumsi, apalagi dalam jumlah tidak terkontrol. Jika
menggunakan bahan tumbuhan secara bersamaan dengan obat-obat sintetis,
hendaknya terlebih dahulu memahami sifat bahan tumbuhan dan membaca
secara teliti bahan aktif dari obat sintetis itu.
Dari sini bisa diketahui apakah penggunaan kedua bahan itu secara
bersamaan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Perlu juga
diketahui, suatu tumbuhan dalam dosis tertentu dapat memberikan
manfaat untuk menunjang kesehatan. Akan tetapi pada dosis lebih tinggi
mungkin saja bahan itu bersifat racun bagi sel-sel atau organ di dalam
tubuh. (Andria Agusta, Lab. Fitokimia, Puslitbang Biologi-LIPI,
Bogor) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||