globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Februari 2001

Intisari berduka cita atas meninggalnya Bapak Slamet Soeseno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Adu Banteng Menguji Nyali 

Corrida de Toros, bagi orang Spanyol bukan sekadar sport, apalagi tontonan iseng. Bukan pula sekadar pembantaian banteng oleh manusia (atau sebaliknya).

Bagi orang-orang yang tak akrab dengan tradisi ini, cukup sulit untuk menghilangkan kesan sadistis saat menonton adu banteng. Ngeri. Namun, mengapa ia bertahan, bahkan tak menunjukkan tanda-tanda bakal menyingkir dari lubuk sanubari para penggemarnya di Spanyol, Portugal, Prancis Selatan, dan negara-negara Amerika Latin? Ernest Hemingway pun pernah mencatat rekaman pengamatannya tentang kehidupan matador dan konflik-konflik yang terjadi dalam kejiwaan mereka dalam The Dangerous Summer. Dalam novel itu ia melukiskan betapa matador dan banteng sama-sama perkasa.

Dibuka dengan veronica

Acaranya dibuka dengan prosesi meriah. Para matador mengenakan jas pendek, rompi dan celana ketat sebatas lutut. Bordiran rumit dari benang emas, perak, dan sutra menghiasi kostum mereka. Khusus untuk prosesi, jubah satin yang juga dihiasi bordiran indah menggelantung megah di pundak. Kemejanya berenda-renda, kaus kakinya merah muda, sepatu hitam dengan sol rata. Topinya hitam dari sutra.

Selain matador, para asistennya - disebut banderillero dan picador - ikut berparade. Saat prosesi selesai, walikota melemparkan kunci pintu kandang banteng. Sang banteng masuk arena. Lalu seorang banderillero mengibaskan muleta (kain berwarna nila) hanya dengan satu tangan untuk memancing reaksi banteng. Ini gunanya agar matador mengamati apakah banteng ini punya kecenderungan lebih suka menyerang dengan salah satu tanduk saja, atau kedua-duanya. Setelah itu, barulah matador masuk ke arena.

Biasanya, ia akan mulai dengan gerakan-gerakan veronica. Muleta dikibaskan perlahan dengan kedua tangan dari arah si banteng, tanpa ia sendiri pindah posisi. Begitu terus sampai banteng kian dekat, begitu dekat, sehingga muleta cukup dikibaskan memutari pinggangnya sendiri. Gerakan yang sebenarnya merupakan jurus dasar yang harus dikuasai seorang matador ini indah di mata, karena mendekati gerakan menari. Bayangkanlah apa yang kita lakukan kalau kita berdekatan dengan seekor banteng ganas! Boro-boro menari. Karena matador melakukannya dengan begitu indah, penonton dibuat lupa betapa dekat ia pada risiko ditanduk.

Sementara itu para picador masuk. Dari atas kuda tunggangan, mereka menusuk banteng dengan harpun mirip tombak, menandai dimulainya babak awal, dari tiga babak berturut-turut yang dimulai dengan pertarungan, lalu penancapan banderilla (sejenis harpun) oleh para banderillero, atau oleh picador. Pertunjukan dituntaskan dengan menghabisi banteng.

Dalam babak pertarungan, matador berupaya menyebabkan lawannya capek sehingga kehilangan stamina. Caranya antara lain dengan membuat si banteng sering menggelengkan kepala. Luka akibat tancapan banderilla yang terus-menerus mencucurkan darah juga cara lain membuat kondisinya melemah.

Namun, yang biasanya dinantikan penonton adalah saat matador melancarkan tusukan fatal untuk menghabisi lawannya. Yang dipandang terbaik tentu dengan satu tusukan. Pertunjukan disebut recibiendo, hebat sekali, bila karena perhitungan yang matang dan keberaniannya, matador berhasil menancapkan pedang pas di saat ia berhadapan muka dengan si banteng, justru ketika banteng sedang menerjang ke arahnya.

Karena kesempatan hanya dihitung dalam detik, tusukan itu harus langsung kena sasaran (jantung) dan (konon, ini indahnya) dilakukan hanya beberapa saat sebelum tanduk si banteng menyentuh tubuh matador. Begitu tusukan dituntaskan dan sukses, matador sedikit menepi untuk memberi ruang bagi jatuhnya banteng, tertelungkup seolah menyembah pasrah kalah di hadapan sang matador!

Bisa dibayangkan tepuk sorak penonton membahana menikmati ekspresi visual yang begitu nyata tentang siapa penakluk, siapa yang ditaklukkan. Namun, karena cara ini amat tinggi risikonya, amat jarang dipraktikkan.

Bagaimana bila tusukan yang diharapkan fatal, ternyata tak berhasil melumpuhkan? Para picador segera datang untuk menyembelih leher banteng yang malang itu.

Ada sekolahnya

Salah satu kunci pemuas penonton adalah mengetahui waktu yang tepat untuk membunuh banteng. Tidak terlalu cepat, tidak pula terlambat. Bisa dibayangkan perasaan seorang matador yang berhasil memuaskan penonton, saat tepuk tangan 20.000 – 30.000 penonton memenuhi stadion. Seakan tak cukup, topi, kantung kulit untuk botol anggur, bahkan sebatang paha daging asap pun bisa berlompatan ke udara sebagai ungkapan kegembiraan!

Namun, tak jarang bukannya matador, tapi banteng yang berjaya. Seorang matador apes bisa ditanduk untuk dilemparkan ke udara dan ditanduk lagi berulang kali! Tak langka pula matador terluka sampai harus diboyong ke klinik di arena, bahkan dioperasi di rumah sakit. Ngeri? Justru, untuk menjadi matador hebat kesanggupan untuk menanggung rasa sakit termasuk salah satu prasyarat yang harus dipenuhi. Kalau berhasil, mereka dipuja bak bintang sepak bola. Gajinya jangan ditanya.

Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk belajar menggunakan muleta untuk memancing si banteng. Dengan disiplin dan dedikasi tinggi, seorang calon matador mempelajari seluk-beluk banteng, dari ukuran, bentuk tubuh, dan pelbagai ragam bentuk tanduk.

Banteng aduan pun bukan sembarang banteng. Mereka dipelihara di farm-farm khusus, dan memang dipelihara dengan makanan spesial dan latihan-latihan khusus agar tumbuh menjadi banteng ganas nan liar, mulai usia tiga tahun. Pantaslah kalau harga seekornya mencapai puluhan juta rupiah. Bentuk tanduk termasuk ikut menentukan harganya.

Seorang calon matador mulai belajar di sekolah khusus ketika ia berusia 12 - 13 tahun. Umum terjadi, darah matador mengalir dalam keluarga. Semangat dan keberanian seorang matador diturunkan ke anaknya yang meneruskan profesi bapaknya. Di sekolah matador anak belajar bagaimana memegang tanduk-tandukan dari kayu, bagaimana mengibaskan muleta dengan terampil dan sedap dipandang. Kemudian pelbagai metode membunuh si banteng. Karena itu penyuka tontonan sadis ini bisa berkilah, adu banteng bukanlah sekadar pembantaian, melainkan sebuah bentuk seni.

Matador-matador baru terus dilahirkan. Salah satunya, sedang ngetop sekarang, disebut El Juli. Matador yang baru 17 tahun ini tahun 1999 memecahkan rekor membunuh 135 banteng.

Seorang matador yang kemenangannya sudah diakui akan memutari arena diiringi para banderillero di tengah gemuruh sorak-sorai penonton. Bila penampilannya dinilai bagus, salah satu daun telinga banteng dipersembahkan sebagai tanda kemenangannya. Bila amat memuaskan, kedua daun telinga jadi haknya. Kalau recibiendo, selain dua daun telinga ia juga mendapat ekor! (LW)

Boks 1 : Sulitnya Memotret Adu Banteng

Boks 2: Mencari Kenikmatan di Ujung Tanduk

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej