|
|
Bulan Februari 2001
|
|
Adu Banteng Menguji Nyali Corrida de Toros, bagi orang Spanyol bukan sekadar sport, apalagi tontonan iseng. Bukan pula sekadar pembantaian banteng oleh manusia (atau sebaliknya). Bagi
orang-orang yang tak akrab dengan tradisi ini, cukup sulit untuk
menghilangkan kesan sadistis saat menonton adu banteng. Ngeri. Namun,
mengapa ia bertahan, bahkan tak menunjukkan tanda-tanda bakal
menyingkir dari lubuk sanubari para penggemarnya di Spanyol, Portugal,
Prancis Selatan, dan negara-negara Amerika Latin? Ernest Hemingway pun
pernah mencatat rekaman pengamatannya tentang kehidupan matador dan
konflik-konflik yang terjadi dalam kejiwaan mereka dalam The
Dangerous Summer. Dalam novel itu ia melukiskan betapa matador dan
banteng sama-sama perkasa.
Dibuka dengan veronica
Acaranya dibuka dengan prosesi meriah. Para matador mengenakan jas
pendek, rompi dan celana ketat sebatas lutut. Bordiran rumit dari
benang emas, perak, dan sutra menghiasi kostum mereka. Khusus untuk
prosesi, jubah satin yang juga dihiasi bordiran indah menggelantung
megah di pundak. Kemejanya berenda-renda, kaus kakinya merah muda,
sepatu hitam dengan sol rata. Topinya hitam dari sutra.
Selain matador, para asistennya - disebut banderillero dan picador
- ikut berparade. Saat prosesi selesai, walikota melemparkan kunci
pintu kandang banteng. Sang banteng masuk arena. Lalu seorang banderillero
mengibaskan muleta (kain berwarna nila) hanya dengan satu
tangan untuk memancing reaksi banteng. Ini gunanya agar matador
mengamati apakah banteng ini punya kecenderungan lebih suka menyerang
dengan salah satu tanduk saja, atau kedua-duanya. Setelah itu, barulah
matador masuk ke arena.
Biasanya, ia akan mulai dengan gerakan-gerakan veronica. Muleta
dikibaskan perlahan dengan kedua tangan dari arah si banteng, tanpa ia
sendiri pindah posisi. Begitu terus sampai banteng kian dekat, begitu
dekat, sehingga muleta cukup dikibaskan memutari pinggangnya
sendiri. Gerakan yang sebenarnya merupakan jurus dasar yang harus
dikuasai seorang matador ini indah di mata, karena mendekati gerakan
menari. Bayangkanlah apa yang kita lakukan kalau kita berdekatan
dengan seekor banteng ganas! Boro-boro menari. Karena matador
melakukannya dengan begitu indah, penonton dibuat lupa betapa dekat ia
pada risiko ditanduk.
Sementara itu para picador masuk. Dari atas kuda tunggangan,
mereka menusuk banteng dengan harpun mirip tombak, menandai dimulainya
babak awal, dari tiga babak berturut-turut yang dimulai dengan
pertarungan, lalu penancapan banderilla (sejenis harpun) oleh
para banderillero, atau oleh picador. Pertunjukan dituntaskan
dengan menghabisi banteng.
Dalam babak pertarungan, matador berupaya menyebabkan lawannya
capek sehingga kehilangan stamina. Caranya antara lain dengan membuat
si banteng sering menggelengkan kepala. Luka akibat tancapan banderilla
yang terus-menerus mencucurkan darah juga cara lain membuat kondisinya
melemah.
Namun, yang biasanya dinantikan penonton adalah saat matador
melancarkan tusukan fatal untuk menghabisi lawannya. Yang dipandang
terbaik tentu dengan satu tusukan. Pertunjukan disebut recibiendo,
hebat sekali, bila karena perhitungan yang matang dan keberaniannya,
matador berhasil menancapkan pedang pas di saat ia berhadapan muka
dengan si banteng, justru ketika banteng sedang menerjang ke arahnya.
Karena kesempatan hanya dihitung dalam detik, tusukan itu harus
langsung kena sasaran (jantung) dan (konon, ini indahnya) dilakukan
hanya beberapa saat sebelum tanduk si banteng menyentuh tubuh matador.
Begitu tusukan dituntaskan dan sukses, matador sedikit menepi untuk
memberi ruang bagi jatuhnya banteng, tertelungkup seolah menyembah
pasrah kalah di hadapan sang matador!
Bisa dibayangkan tepuk sorak penonton membahana menikmati ekspresi
visual yang begitu nyata tentang siapa penakluk, siapa yang
ditaklukkan. Namun, karena cara ini amat tinggi risikonya, amat jarang
dipraktikkan.
Bagaimana bila tusukan yang diharapkan fatal, ternyata tak berhasil
melumpuhkan? Para picador segera datang untuk menyembelih leher
banteng yang malang itu.
Ada sekolahnya
Salah satu kunci pemuas penonton adalah mengetahui waktu yang tepat
untuk membunuh banteng. Tidak terlalu cepat, tidak pula terlambat.
Bisa dibayangkan perasaan seorang matador yang berhasil memuaskan
penonton, saat tepuk tangan 20.000 – 30.000 penonton memenuhi
stadion. Seakan tak cukup, topi, kantung kulit untuk botol anggur,
bahkan sebatang paha daging asap pun bisa berlompatan ke udara sebagai
ungkapan kegembiraan!
Namun, tak jarang bukannya matador, tapi banteng yang berjaya.
Seorang matador apes bisa ditanduk untuk dilemparkan ke udara dan
ditanduk lagi berulang kali! Tak langka pula matador terluka sampai
harus diboyong ke klinik di arena, bahkan dioperasi di rumah sakit.
Ngeri? Justru, untuk menjadi matador hebat kesanggupan untuk
menanggung rasa sakit termasuk salah satu prasyarat yang harus
dipenuhi. Kalau berhasil, mereka dipuja bak bintang sepak bola.
Gajinya jangan ditanya.
Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk belajar menggunakan muleta
untuk memancing si banteng. Dengan disiplin dan dedikasi tinggi,
seorang calon matador mempelajari seluk-beluk banteng, dari ukuran,
bentuk tubuh, dan pelbagai ragam bentuk tanduk.
Banteng aduan pun bukan sembarang banteng. Mereka dipelihara di
farm-farm khusus, dan memang dipelihara dengan makanan spesial dan
latihan-latihan khusus agar tumbuh menjadi banteng ganas nan liar,
mulai usia tiga tahun. Pantaslah kalau harga seekornya mencapai
puluhan juta rupiah. Bentuk tanduk termasuk ikut menentukan harganya.
Seorang calon matador mulai belajar di sekolah khusus ketika ia
berusia 12 - 13 tahun. Umum terjadi, darah matador mengalir dalam
keluarga. Semangat dan keberanian seorang matador diturunkan ke
anaknya yang meneruskan profesi bapaknya. Di sekolah matador anak
belajar bagaimana memegang tanduk-tandukan dari kayu, bagaimana
mengibaskan muleta dengan terampil dan sedap dipandang. Kemudian
pelbagai metode membunuh si banteng. Karena itu penyuka tontonan sadis
ini bisa berkilah, adu banteng bukanlah sekadar pembantaian, melainkan
sebuah bentuk seni.
Matador-matador baru terus dilahirkan. Salah satunya, sedang ngetop
sekarang, disebut El Juli. Matador yang baru 17 tahun ini tahun 1999
memecahkan rekor membunuh 135 banteng.
Seorang matador yang kemenangannya sudah diakui akan memutari arena
diiringi para banderillero di tengah gemuruh sorak-sorai
penonton. Bila penampilannya dinilai bagus, salah satu daun telinga
banteng dipersembahkan sebagai tanda kemenangannya. Bila amat
memuaskan, kedua daun telinga jadi haknya. Kalau recibiendo,
selain dua daun telinga ia juga mendapat ekor! (LW)
Boks 1 : Sulitnya
Memotret Adu Banteng
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||