|
|
Bulan Februari 2001
|
|
Buenos
Aires, Kota Kelahiran Tango
Meski menjadi bagian dari negara Amerika Latin, Buenos Aires selalu
dideskripsikan kental dengan aroma Eropa. Tidak salah. Karena sebagian
besar populasinya keturunan imigran dari Spanyol dan Italia yang
datang ke Argentina di akhir abad XIX - awal abad XX. Ada juga bangsa
lain, meski minoritas, seperti Jerman, Inggris, Yahudi dari Eropa
Tengah dan Tengah, dan Timur Tengah.
Sejak tahun 1930-an, sebagian besar imigran datang ke kota itu dari
utara Argentina, dengan populasi utamanya kaum Mestizo (keturunan
campuran Indian dan Eropa). Kini jumlah kaum Mestizo sekitar
seperempat atau sepertiga populasi di wilayah metropolitan.
Muat 16 mobil berjajar
Dari Indonesia, untuk mencapai Amerika Selatan bisa dari beberapa
arah, namun kami lewat Afrika Selatan. Sebagai gambaran tentang
jaraknya, saya telah mencatat waktu terbang. Dari Kualalumpur ke
Yohannesburg kami terbang 9 jam 30 menit, dari Yohanesburg dilanjutkan
ke Capetown sekitar 1 jam 45 menit. Selanjutnya waktu terbang dari
Capetown sampai Buenos Aires adalah 8 jam 15 menit. Betapa pun, karena
kami menginap di Capetown, penerbangan yang hampir sepanjang 20 jam
itu tidak terlalu melelahkan.
Tiba di Buenos Aires saat hari sudah gelap, kami langsung disuguhi
suasana kota di waktu malam. Itulah kali pertama kami melewati Avenida
9 de Julio, konon jalan terlebar di dunia. Lebar tepatnya tidak
disebut, tetapi cukup untuk menampung 16 mobil berjajar. Itupun belum
termasuk jalur pinggir seperti jalur lambat kita. Konon, waktu membuat
jalan itu gedung-gedung di sepanjang pinggir jalan itu dibabat habis.
Sepanjang jalan yang membelah kota dari utara ke selatan itu terdapat
banyak jalur penyeberangan. Buku panduan wisata pun merekomendasikan
untuk mencoba menyeberangi dengan memanfaatkan jalur penyeberangan dan
median pembagi jalan. Rasanya, sulit dibayangkan, tapi tentu menjadi
pengalaman tak terlupakan.
Kabarnya tiap bulan Oktober pohon-pohon di pinggir jalan tidak lagi
punya daun, tapi penuh bunga ungu. Beruntung meski datang bulan
Februari, kami masih melihat beberapa pohon berhiaskan bunga ungu,
meski tidak penuh betul. Ada juga pohon yang memamerkan bunga merah
jambunya.
Gedung opera yang juga kami lewati, semarak dengan lampu-lampu hias
nan indah. Konon gedung dengan kapasitas 2.500 tempat duduk dan 500
tempat berdiri itu dilengkapi akustik yang bagus sekali. Opera Aida
lengkap dengan kuda-kuda naik pentas pernah tampil di sana.
Gedung Pemerintah-nya nge-pink
Keesokan harinya kami melakukan wisata kota. Sebelum berangkat kami
mendapat saran untuk tidak menukar dolar AS dengan Peso. Bila
berbelanja langsung saja membayar dengan dolar AS. Penyebabnya, kalau
kami masih punya sisa Peso, tidak bisa ditukar kembali ke dalam dolar
AS. Karena mengikuti Currency Board System (CBS)-nya Steve Hanke,
secara resmi AS $ 1 = 1 Peso. Akibatnya segelas Coca-Cola harganya
bisa AS $ 3.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah katedral, terletak di sebuah
taman yang tidak terlalu luas, yakni Main Square atau Plaza de Mayo.
Di lapangan itu ada tugu peringatan Liberty kemerdekaan dari Spanyol
tanggal 25 Mei 1810.
Plaza de Mayo (Mayo Square) yang didirikan atas inisiatif Juan de
Garay tahun 1580 menjadi saksi atas semua peristiwa politik di
Argentina. Bangunan berbeda dari periode berbeda ada di sekitarnya,
yakni gedung pemerintahan nasional atau Gedung Merah Jambu, Cabildo
atau balai kota, Katedral Metropolitan, dan gedung bank.
Katedral Metropolitan sering diidentikkan sebagai Monumen Sejarah
Nasional. Selain menyaksikan altar gaya barok dari akhir abad XVIII,
pengunjung dapat menjenguk mausoleum liberator Argentina Jenderal San
Martin yang diukir oleh pemahat Prancis Alberto Ernest Carrier
Belleuse.
Bangunan bank yang menempati satu blok penuh benar-benar merupakan masterpiece
arsitektur. Bangunan yang ada sekarang diselesaikan tahun 1944, meski
konstruksinya dimulai tahun 1941 di bawah arahan arsitek Alejandro
Bustilla. Interior kubah, di atas lantai utama, disebut sebagai yang
terbesar di dunia dari segi ukuran dan berat. Dalam Hole of Soul, di
lantai dua, terdapat 11.290 peti besi.
Pada sisi lain taman tampak Gedung Merah Jambu, kantor kepresidenan,
yang warnanya memang merah muda. Gedung ini berwarna demikian sejak
tahun 1810, zaman Primera Junta (the first council).
Menurut pemandu kami, ada tiga versi, mengapa warnanya merah jambu
sampai sekarang. Yang pertama, konon itu labur putih tercampur darah,
versi berikut karena reaksi kimia jamur dan, yang terakhir, karena
tahun 1850 ada dua partai yang terus bertengkar. Maka Presiden
Sarmiento tahun 1873 mengambil keputusan untuk mewarnai kantornya
dengan campuran kedua warna partai itu.
Merah ialah warna dari kaum federal dikepalai oleh Juan Manuel de
Rosas dan putih ialah warna dari oposisi, kaum unitarian. Sayang,
biarpun warna kantor kepresidenan sudah merah jambu, pertikaian tetap
berlangsung. Pemandu kami percaya pada versi kedua, namun dalam buku
panduan resmi hanya disebut versi ketiga.
Plaza de Mayo sampai kini masih menjadi tempat kegiatan politik.
Setiap Kamis pukul 15.00 di taman plaza yang lantainya bergambar tutup
kepala para oma berunjuk rasa karena anak-anak mereka dibunuh dan cucu
mereka diambil di zaman rezim militer tahun 1970 - 1983. Para oma yang
berdemo mengenakan tutup kepala dengan bagian belakang bertuliskan
nama-nama cucu mereka.
Akibat tragedi kemanusiaan itu, tak sedikit anak kehilangan orang tua.
Ada sebagian dari anak bernasib malang itu yang diadopsi. Beberapa
orang tua angkat menuturkan pada mereka tentang kisah pahit yang
sebenarnya, yang mengubah nasib anak-anak itu. Tragedi itu sendiri
telah dibuat film yang saya lihat sepotong dalam televisi.
Museum jalanan
Kunjungan berikutnya adalah La Boca, daerah pelabuhan. Wilayah ini
berciri khas imigran Eropa, terutama Italia, yang berdatangan antara
1860 dan 1910. Karenanya daerah itu juga disebut Piccola Italia
(Italia kecil). Selanjutnya kami diajak ke jalan tidak terlalu panjang
yang disulap menjadi museum seni terbuka.
Sambil menyusurinya kami menonton beraneka kegiatan seni. Ada kelompok
yang main musik di sudut jalan, ada banyak lukisan dipamerkan,
sementara di ujung lain ada pria mencat dirinya dengan warna perak. Ia
berpose diam kaku layaknya patung. Salah seorang dari kelompok kami
mendekatinya, lalu berpose dengan "patung" itu seakan-akan
sedang menari tango. Hebatnya, sang "patung" tak sedikit pun
tergelitik untuk bergoyang. Di daerah penuh kafe itu juga terdapat
beberapa rumah bordil. Tapi, La Boca -lah tempat cikal bakal tari
tango.
Caminito atau museum jalanan itu diinaugurasi tahun 1959. Ide nama
Caminito datang dari pelukis terkenal Quinquela Martin (1890-1977).
Anak keluarga miskin itu diadopsi pedagang arang batu. Ternyata ia
tidak berminat untuk meneruskan usaha ayah angkatnya, karena lebih
suka menjadi seniman.
Tak hanya Caminito, Quinquela Martin pula yang punya gagasan membangun
ciri mencolok La Boca, yaitu rumah-rumah yang dicat warna-warni.
Tujuan sang seniman adalah mengubah tempat itu menjadi jalanan yang
sibuk dan hidup dengan warna-warni khas, bukannya sekadar sebagai
jalan pintas. De la Rivrea Theater di daerah itu pun dibangun di atas
tanah sumbangan Martin. Maradona, yang Desember 2000 diganjar gelar
Pemain Terbaik Abad Ini, juga memulai kariernya sebagai pemain
sepakbola di stadion daerah ini.
"The Thinker" cetakan
San Telmo menjadi daerah kunjungan berikutnya. Dulu daerah itu dihuni
keluarga aristokrat sampai meletus wabah sakit kuning tahun 1871.
Terpaksa penghuninya pindah ke utara.
Waktu berlalu. Imigran baru pun tiba. Rumah-rumah besar itu kemudian
dihuni oleh orang-orang yang hidup bebas dan miskin. Baru di tahun
1970 ada sekelompok orang yang menemukan kembali keindahan karya
arsitektur yang berharga itu. Biarpun masih agak kumuh, keindahannya
masih tampak sampai sekarang. Sayang kami tidak datang pada hari
Minggu saat ada San Telmo Market di Dorrego Square. Biasanya di sana
ditawarkan barang antik, karya seni, pertunjukan artis jalanan, dan
pasangan yang memberi show tango gratis.
Dalam perjalanan keliling kota di salah satu taman saya melihat patung
"The Thinker" yang sedang termenung karya terkenal pematung
Prancis Rodin (1840 - 1917). Saya sempat terheran-heran karena
menjumpai sesuatu yang tidak saya perkirakan. Lebih mengherankan si
pemandu mengatakan, itu soal kecil. Di Buenos Aires ada sekitar lima
'The Thinker'. Soalnya, patung itu terbuat dari perunggu dan tinggal
dicetak, katanya lagi.
Kami juga menjumpai jam "Big Ben" hadiah dari pemerintah
Inggris. Menara gaya Renaissance itu tingginya sekitar 70 m.
Makam Evita Peron sederhana
Lain San Telmo lain Recoleta, daerah elit yang mengkombinasi tempat
jalan kaki, dengan restoran, toko dan butik tingkat tinggi, dengan
bangunan dan patung gaya Prancis. Pokoknya mirip Paris. Tak heran bila
ada yang mengatakan wilayah ini adalah potongan dari Paris. Recoleta
adalah nama dari ordo Fransiskan Recoleta yang mempunyai biara di sana
pada permulaan abad ke 18. Kami sempat menikmati hidangan di sebuah
restoran di sana.
Namun, yang lebih mengesankan adalah pemakaman Recoleta. Mula-mula
tanah pemakaman itu milik gereja dan biara Recoletos, tetapi sekarang
sudah milik kotapraja. Pemakaman yang terdiri atas empat blok itu
dibuka tahun 1822, dan merupakan yang tertua di Buenos Aires. Banyak
patung dan kubahnya dibuat oleh seniman lokal maupun luar negeri yang
terkenal di dunia.
Tujuan utama kami ke sana melihat tempat peristirahatan terakhir Evita
Peron. Dibandingkan banyak "mausoleum" lain dalam kompleks
itu, pemakaman keluarga Duarte tidak ada apa-apanya. Hanya seperti
ruangan marmer hitam biasa dengan nama Familia Duarte di depan.
Padahal, konon sebenarnya Evita bukan anak sah tuan Duarte, tetapi
anak dari pembantu Juana Ibarburen. Seharusnya ia memakai nama ibunya,
tetapi karena berkuasa ia mengganti namanya menjadi Duarte. Selain
Evita, di situ juga disemayamkan ibu dan saudaranya.
Evita lahir tahun 1919, dan meninggal tahun 1952 karena kanker.
Sebagai istri Peron ia sering main Robin Hood. Pernah ia meminta 5.000
sepeda untuk dibagi-bagikan kepada kaum miskin. Akibatnya, banyak
pabrik bangkrut karena cara itu. Dalam perjalanan kami juga banyak
melihat gedung-gedung, konon, hadiah Peron kepada isterinya, yang
dijadikan bermacam-macam kantor.
Tokoh-tokoh lain yang dimakamkan di situ, di antaranya raja pers
Argentina, keluarga Paz yang kaya raya, tetapi tidak mempunyai anak.
Selain meninggalkan rumah bagus di kota, makam Paz dihiasi pahatan
besar menggambarkan anak-anak. Banyak pintu makam terbuat dari kaca
atau jeruji, sehingga orang bisa melihat ke dalam. Ada yang mempunyai
ruang bawah tanah dalam dengan tangga turun, tetapi ada juga yang peti
bagusnya jelas kelihatan dari luar. Ada yang setiap minggu diberi
bunga mawar segar. Sayang gang-gang di tempat pemakaman itu sempit
sehingga sulit untuk membuat foto yang bagus.
Kunjungan ke Buenos Aires malam itu diakhiri dengan menonton tango beneran,
di gedung tidak terlalu megah di daerah La Boca. Tango menorehkan
kesan makin kuat, bahwa Beunos Aries memang kota kesenian. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||